- Beranda
- Stories from the Heart
Buku Harian Seorang Indigo
...
TS
monikahastono
Buku Harian Seorang Indigo

WELCOME TO MY THREAD
Haloo, sebelumnya ane buat thread di The Lounge.. tapi sehubungan dengan banyaknya cerita yang akan ane post, ane jadi pindahin semuanya ke sfth

Tadinya mau pake ID klonengan tapi waktu mau bikin ga bisa-bisa. Woyes pake id yg sudah ada aja.
Ane mau cerita pengalaman ane sebagai seorang yang bisa melihat dan merasakan hal yang tidak semua orang bisa merasakan. Di thread ini ane tuangin semua pengalaman ane. Tidak ada cerita klimaks ataupun anti klimaks karena murni pengalaman ane. Jadi, tiap hari pasti ada aja ceritanya. Tapi ane tuangin yang bener-bener berkesan buat ane.
Well, awalnya ane ragu mau share ini. Karena suatu hari ane pernah minta saran sm kakek ane yang bisa punya hal yang kaya gini juga dan beliau juga bisa mengartikan mimpi.
Kakek ane bilang, jangan sampai orang lain tahu kelebihan kamu ini. Akan memungkinkan bahaya.
Bukannya ane mau melanggar pesan kakek ane, tapi... Ane kadang mau mengungkap semua apa yang ane rasain selama hidup 23 tahun ini.
Spoiler for "YOU DIDN'T SEE WHAT I SAW":
Terima kasih atas kesetiaannya pantengin thread ane hehe. Rate, cendol, share and bookmark please! 

RUMAH HANTU
Spoiler for Rumah Hantu:
IBU
Spoiler for Ibuku:

Diubah oleh monikahastono 12-04-2019 17:21
Menthog dan 24 lainnya memberi reputasi
25
227.7K
668
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
monikahastono
#414
#4
Huda sangat menyayangi ibunya, saat sakit dia selalu menemani dirumah saat dia tidak ada jam mata kuliah. Sampai saat ada salah satu teman kita terjerumus dengan nikmatnya bintang 5 yang berpenghasilan kapal pesiar beserta mobil dengan yang platnya sama di foto. MLM. Huda pun berniat menyembuhkan ibunya dengan membeli produk kesehatan tersebut. Anak-anak patungan untuk mengurangi beban huda. Tapi nihil, ibunda Huda sudah berada disamping ilahi. Semoga arwah beliau tenang disana.
Huda bercerita, bahwa ibunya terkadang diganggu kuntilanak depan rumahnya. Terkadang histeris ketakutan dan berteriak sejadi-jadinya. Merasa tak tenang saat sakitnya.
Aku melihat kedepan, memang masih ada kuntilanak itu. Tepat di samping telepon umum bekas, dia mematung. Menunduk dengan kain yang lurus, lurus, lusuh dan beberapa noda-noda tanah.
Saat bercerita mengenai ibunya, Huda spontan bertanya.
“Mon, nyokap gue masih ada disini ngga coba lo liatin deh”
Aku mencoba membuka mata batin menjadi lebih tajam. Lebih tajam lagi, dan lebih tajam lagi.
Nampak seorang wanita dengan rambut pendek, ada uban di bagian-bagian tertentu. Tidak semua rambutnya putih. Bahu yang agak menurun, terlihat muka yang ketakutan, was-was, seperti menunggu seseorang. Wanita yang baru pertama kali aku lihat karena biasanya aku hanya melihat sosok hitam tinggi di depan rumahnya. Kini ada ibu dengan perawakan tua, tangan mengepal dan dilekatkannya di dada. Gesture tubuh yang menunjukkan dia ingin melindungi diri, seperti kedinginan tapi beliau tidak menggigil.
Kontak batin, aku bertanya kepada wanita itu.
“Assalamualaikum, ibu siapa ?”
Perlu aku beritahu, saat aku melakukan kontak ini. Badanku berada bersama huda di dalam. Sedangkan diriku yang lain, mungkin jiwaku, berada di luar mengamati ibu itu.
“Assalamualaikum…. Bu…. Apa bisa denger saya ?”
Mungkin aku belum terlalu kuat untuk berkomunikasi, tapi harapan Huda bertemu dengan ibunya membuatku semakin keras mencoba berkomunikasi dengannya.
“Ibuuuu……” Aku sedikit menyentuh tangganya.
Saat ingin ku gapai tangannya, dia menggangkat kepalanya.. Melihat ke arahku, dan menggeleng sambil menyerngitkan alisnya.
Tak bisa mendapatkan jawaban dari beliau, langsung aku bertanya kepada Huda.
“Da, nyokap lo rambutnya pendek sebahu ya ?”
“Iya mon, kok lo tau ?” Dari posisinya yang duduk, Huda sambil setengah berdiri menanggapi pertanyaanku.
“Ada ubannya dikit, tapi ngga banyak Cuma beberapa helai ya ?”
“Iya mon, iya” Huda mulai berkaca-kaca.
“Pake daster coklat bunga-bunga ?” Lanjutku, memastikan.
“Iya monnnn iya. Yaa Allaahhh itu baju terakhir waktu Almarhum meninggal mon.” Dia tersentak dan aku melihat air matanya banjir di pelupuk mata. Rasa rindu yang teramat sangat. Rasa memori yang terus-terusan berulang tentang Ibu. Seakan mengingatkannya kembali saat-saat pertemuan terakhir dengan ibunya.
“Nyokap gue dimana monnnn. Nyokap gue dimana. Kasih tau gue, gue mau ketemu”
“Itu Da, di luar”
Serempak semua keluar. Saat itu yang aku ingat, ada Huda, Bang Yung, Moller, Ka Frida (Kakak dari Huda), Ka Pipit (Kakak dari Huda), Moller dan Daus.
Disana aku berbicara dengan ragaku juga.
“Ibu, ini ada yang mau ketemu”
Tidak ada apa-apa. Bahkan angin malampun tak berhembus saat itu. Semua hening, menanti dan berharap sesuatu terjadi. Depan rumah Huda ada tembok dengan cat hijau, tersampir kain. Maaf, bukan kain. Mungkin bisa dibilang perlak bayi yang berwarna merah dengan baliknya hitam.
“LO GA USAH BOHONG MON ! MANA NYOKAP GUEEE ??” Aku tersentak mendengar Huda berbicara seperti itu.
“Itu di situ daaa.” Sambil menunjuk, aku membela diri.
Aku bingung, bagaimana aku menjelaskannya. Aku teringat, bagaimana jika aku dikucilkan kembali dengan hal yang sama. Hal yang seperti ini.
Semua menunggu, ka Pipit menenangkan Huda. Secara tiba-tiba perlak itu terangkat seperti di sibakkan. Tidak mungkin angin berhembus. Dan jikalau ada angin yang menerbangkannya, perlak tebal itu tidak bisa hanya terkibas oleh hembusan angin.
“Tuhh kannn apa gue bilang.”
“ Itu nyokap lo da.”
“Maahhhh ini Huda mahhh.” Suara parau keluar dari mulutnya.
Ka Pipit, Bang Yung, Ka Frida, berlinangan air mata.
“Mon, nyokap gue ngomong ga ? Tanyain dong dia apa kabar” Huda menambahkan pembicaraan dengan suaranya yang parau dan makin parau.
Aku berkomunikasi dengan beliau.
“Da, kata nyokap lo. Jangan suka berantem. Kuliah yang bener. Mamah sayang sama kalian. Mamah mau liat Bapak.”
Semua terdiam sejenak. Aku berinisiatif untuk mengirimkan beliau alfatihah.
“Alfatihah khususon *********** binti ********* Alfatihah….”
Semua khusyuk dengan hafalan masing-masing.
“Makasih yaa mon”
“Iyaa da, sama-sama. Gue seneng bisa bantuin lo. Lo yang sabar yaa.”
“Iyaa, bakal gue inget pesen nyokap. Dia bilang, kuliah yang bener. Waktu nyokap ga ada, emang gue masih kuliah mon. Sekarang, lo tau sendiri keadaan gue.”
“Iya da, gue paham.”
Kami semua masuk kedalam dan kembali bercerita-cerita hingga pukul 2 pagi. Mengantuk, aku pun pamit pulang. Yang lain menginap seperti biasa di rumah Huda.
Tante, apa kabar disana ? Tante udah tenang kan ? Sekarang ka Frida udah kerja, Ka Mega (kakak Huda) udh nikah dan punya rumah sendiri. Bang Yung udah lumayan jualannya, kadang suka main ke tempat ka Mega. Huda, dia makin gila tanteeeeeee wkwkkwk.
Huda bercerita, bahwa ibunya terkadang diganggu kuntilanak depan rumahnya. Terkadang histeris ketakutan dan berteriak sejadi-jadinya. Merasa tak tenang saat sakitnya.
Aku melihat kedepan, memang masih ada kuntilanak itu. Tepat di samping telepon umum bekas, dia mematung. Menunduk dengan kain yang lurus, lurus, lusuh dan beberapa noda-noda tanah.
Saat bercerita mengenai ibunya, Huda spontan bertanya.
“Mon, nyokap gue masih ada disini ngga coba lo liatin deh”
Aku mencoba membuka mata batin menjadi lebih tajam. Lebih tajam lagi, dan lebih tajam lagi.
Nampak seorang wanita dengan rambut pendek, ada uban di bagian-bagian tertentu. Tidak semua rambutnya putih. Bahu yang agak menurun, terlihat muka yang ketakutan, was-was, seperti menunggu seseorang. Wanita yang baru pertama kali aku lihat karena biasanya aku hanya melihat sosok hitam tinggi di depan rumahnya. Kini ada ibu dengan perawakan tua, tangan mengepal dan dilekatkannya di dada. Gesture tubuh yang menunjukkan dia ingin melindungi diri, seperti kedinginan tapi beliau tidak menggigil.
Kontak batin, aku bertanya kepada wanita itu.
“Assalamualaikum, ibu siapa ?”
Perlu aku beritahu, saat aku melakukan kontak ini. Badanku berada bersama huda di dalam. Sedangkan diriku yang lain, mungkin jiwaku, berada di luar mengamati ibu itu.
“Assalamualaikum…. Bu…. Apa bisa denger saya ?”
Mungkin aku belum terlalu kuat untuk berkomunikasi, tapi harapan Huda bertemu dengan ibunya membuatku semakin keras mencoba berkomunikasi dengannya.
“Ibuuuu……” Aku sedikit menyentuh tangganya.
Saat ingin ku gapai tangannya, dia menggangkat kepalanya.. Melihat ke arahku, dan menggeleng sambil menyerngitkan alisnya.
Tak bisa mendapatkan jawaban dari beliau, langsung aku bertanya kepada Huda.
“Da, nyokap lo rambutnya pendek sebahu ya ?”
“Iya mon, kok lo tau ?” Dari posisinya yang duduk, Huda sambil setengah berdiri menanggapi pertanyaanku.
“Ada ubannya dikit, tapi ngga banyak Cuma beberapa helai ya ?”
“Iya mon, iya” Huda mulai berkaca-kaca.
“Pake daster coklat bunga-bunga ?” Lanjutku, memastikan.
“Iya monnnn iya. Yaa Allaahhh itu baju terakhir waktu Almarhum meninggal mon.” Dia tersentak dan aku melihat air matanya banjir di pelupuk mata. Rasa rindu yang teramat sangat. Rasa memori yang terus-terusan berulang tentang Ibu. Seakan mengingatkannya kembali saat-saat pertemuan terakhir dengan ibunya.
“Nyokap gue dimana monnnn. Nyokap gue dimana. Kasih tau gue, gue mau ketemu”
“Itu Da, di luar”
Serempak semua keluar. Saat itu yang aku ingat, ada Huda, Bang Yung, Moller, Ka Frida (Kakak dari Huda), Ka Pipit (Kakak dari Huda), Moller dan Daus.
Disana aku berbicara dengan ragaku juga.
“Ibu, ini ada yang mau ketemu”
Tidak ada apa-apa. Bahkan angin malampun tak berhembus saat itu. Semua hening, menanti dan berharap sesuatu terjadi. Depan rumah Huda ada tembok dengan cat hijau, tersampir kain. Maaf, bukan kain. Mungkin bisa dibilang perlak bayi yang berwarna merah dengan baliknya hitam.
“LO GA USAH BOHONG MON ! MANA NYOKAP GUEEE ??” Aku tersentak mendengar Huda berbicara seperti itu.
“Itu di situ daaa.” Sambil menunjuk, aku membela diri.
Aku bingung, bagaimana aku menjelaskannya. Aku teringat, bagaimana jika aku dikucilkan kembali dengan hal yang sama. Hal yang seperti ini.
Semua menunggu, ka Pipit menenangkan Huda. Secara tiba-tiba perlak itu terangkat seperti di sibakkan. Tidak mungkin angin berhembus. Dan jikalau ada angin yang menerbangkannya, perlak tebal itu tidak bisa hanya terkibas oleh hembusan angin.
“Tuhh kannn apa gue bilang.”
“ Itu nyokap lo da.”
“Maahhhh ini Huda mahhh.” Suara parau keluar dari mulutnya.
Ka Pipit, Bang Yung, Ka Frida, berlinangan air mata.
“Mon, nyokap gue ngomong ga ? Tanyain dong dia apa kabar” Huda menambahkan pembicaraan dengan suaranya yang parau dan makin parau.
Aku berkomunikasi dengan beliau.
“Da, kata nyokap lo. Jangan suka berantem. Kuliah yang bener. Mamah sayang sama kalian. Mamah mau liat Bapak.”
Semua terdiam sejenak. Aku berinisiatif untuk mengirimkan beliau alfatihah.
“Alfatihah khususon *********** binti ********* Alfatihah….”
Semua khusyuk dengan hafalan masing-masing.
“Makasih yaa mon”
“Iyaa da, sama-sama. Gue seneng bisa bantuin lo. Lo yang sabar yaa.”
“Iyaa, bakal gue inget pesen nyokap. Dia bilang, kuliah yang bener. Waktu nyokap ga ada, emang gue masih kuliah mon. Sekarang, lo tau sendiri keadaan gue.”
“Iya da, gue paham.”
Kami semua masuk kedalam dan kembali bercerita-cerita hingga pukul 2 pagi. Mengantuk, aku pun pamit pulang. Yang lain menginap seperti biasa di rumah Huda.
Tante, apa kabar disana ? Tante udah tenang kan ? Sekarang ka Frida udah kerja, Ka Mega (kakak Huda) udh nikah dan punya rumah sendiri. Bang Yung udah lumayan jualannya, kadang suka main ke tempat ka Mega. Huda, dia makin gila tanteeeeeee wkwkkwk.
Diubah oleh monikahastono 21-04-2016 17:51
jenggalasunyi memberi reputasi
2
