- Beranda
- Stories from the Heart
Buku Harian Seorang Indigo
...
TS
monikahastono
Buku Harian Seorang Indigo

WELCOME TO MY THREAD
Haloo, sebelumnya ane buat thread di The Lounge.. tapi sehubungan dengan banyaknya cerita yang akan ane post, ane jadi pindahin semuanya ke sfth

Tadinya mau pake ID klonengan tapi waktu mau bikin ga bisa-bisa. Woyes pake id yg sudah ada aja.
Ane mau cerita pengalaman ane sebagai seorang yang bisa melihat dan merasakan hal yang tidak semua orang bisa merasakan. Di thread ini ane tuangin semua pengalaman ane. Tidak ada cerita klimaks ataupun anti klimaks karena murni pengalaman ane. Jadi, tiap hari pasti ada aja ceritanya. Tapi ane tuangin yang bener-bener berkesan buat ane.
Well, awalnya ane ragu mau share ini. Karena suatu hari ane pernah minta saran sm kakek ane yang bisa punya hal yang kaya gini juga dan beliau juga bisa mengartikan mimpi.
Kakek ane bilang, jangan sampai orang lain tahu kelebihan kamu ini. Akan memungkinkan bahaya.
Bukannya ane mau melanggar pesan kakek ane, tapi... Ane kadang mau mengungkap semua apa yang ane rasain selama hidup 23 tahun ini.
Spoiler for "YOU DIDN'T SEE WHAT I SAW":
Terima kasih atas kesetiaannya pantengin thread ane hehe. Rate, cendol, share and bookmark please! 

RUMAH HANTU
Spoiler for Rumah Hantu:
IBU
Spoiler for Ibuku:

Diubah oleh monikahastono 12-04-2019 17:21
Menthog dan 24 lainnya memberi reputasi
25
227.7K
668
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
monikahastono
#228
Cerita#4
Keanehan lain yang akan aku ceritakan disini juga tak jauh dari si kakek di wartel.
Hari itu, pelantikan ayahku disukabumi. Keluarga kecil kami antusias datang ke acara tersebut. Ayahku selama 3 bulan pendidikan disukabumi. Aku ibu dan adikku berangkat dari terminal lebak bulus menuju sukabumi. Menempuh waktu 5 jam aku sudah sampai di sukabumi. Rindu sekali aku dengan ayahku saat itu. Ibuku mengabarkan kalau kami sudah sampai sukabumi. Ibuku bilang ayahku sedang solat. Kami mencari masjid disana, kami ingin menunaikan ibadah dzuhur. Terlihat dari kejauhan sosok yang aku kenal sedang mengaitkan tali sepatu dipinggir pelataran masjid. Dia menunduk. Aku perhatikan dari jauh dan benar saja. Itu adalah ayahku. Sosok legam dengan tubuh tegap tak terlalu tinggi. Seorang pria yang selalu menyayangiku dengan segenap jiwanya. Dia bertaruh nyawa untuk menafkahi aku, ibu dan adikku. Pulang pagi, malam dan terkadang berhari-hari tidak pulang karena ikatan dinas.
Ayahku. Itu ayahku yang selama 3 bulan ini aku rindukan. Aku dan adikku berlari disusul ibuku berjalan cepat di belakang. Kami berangkulan seperti keluarga yang terpisah sangat lama. Terlihat ayahku berkaca-kaca menciumi adik dan aku. Ibuku dipeluknya. Terlihat tatapan permohonan maaf karena terlalu lama meninggalkan ibuku.
Hari pelantikanpun tiba. Asal kalian tahu, pelantikan di sukabumi itu adalah lapangan. Seperti lapangan bola. Sangat luas. Dipinggir lapangan, terdapat jalan 3 meteran, pemisah antara lapangan dan warung tempat ibu ibu dan anak menunggu pelantikan.
Sedikit gambaran. Terdapat jejeran warung yang berdempetan. Disekat dengan anyaman bambu. Semua serempak menyekat pembatas dengan anyaman bambu setinggi pinggang orang dewasa. Jadi kami bisa melihat dari satu warung ke warung lain tanpa berpindah. Deretan jalan dari warung tersebutpun hanya lurus saja. Tidak ada belokan atau tikungan. Yang ada hanya jauh sekali sekitar 50 meter baru ada belokan.
Selama menunggu, istri dan anak-anak calon dilantik bisa makan diwarung tersebut. Aku makan sate ayam kesukaanku, adikku makan roti. Sedang ibuku bercengkrama dengan kawan barunya sesama istri bayangkara lengkap dengan seragam merah muda. Dari kejauhan aku melihat ibuku sedang diajak bebicara oleh seorang ibu paruh baya. Mungkin sekitar umur 50an. Dengan tubuh rada gempal. Dia sepertinya sangat serius sekali. Aku melanjutkan makanku dengan nikmat. Beberapa saat kemudian dan tak lama juga aku langsung meminta uang ke ibuku untuk membayar. Teringat ibu tadi aku bertanya kepada ibuku.
"Itu tadi siapa mah ?"
"Itu, td dia minta ongkos mau pulang. Ngomong sunda mama ga terlalu paham"
"Lah mana orangnya mah ?" Aku melihat ke sekitar. Perasaan tak lama aku menghabiskan makananku, masa ibu itu sudah berada di belokan ? Sedang jika dia berjalan, akan terlihat jika ia menyusuri jalan. Warung yang kami singgahipun akan terlihat tanpa sekat yang menutupi.
Sekali lagi. Sungguh aneh.
Hari itu, pelantikan ayahku disukabumi. Keluarga kecil kami antusias datang ke acara tersebut. Ayahku selama 3 bulan pendidikan disukabumi. Aku ibu dan adikku berangkat dari terminal lebak bulus menuju sukabumi. Menempuh waktu 5 jam aku sudah sampai di sukabumi. Rindu sekali aku dengan ayahku saat itu. Ibuku mengabarkan kalau kami sudah sampai sukabumi. Ibuku bilang ayahku sedang solat. Kami mencari masjid disana, kami ingin menunaikan ibadah dzuhur. Terlihat dari kejauhan sosok yang aku kenal sedang mengaitkan tali sepatu dipinggir pelataran masjid. Dia menunduk. Aku perhatikan dari jauh dan benar saja. Itu adalah ayahku. Sosok legam dengan tubuh tegap tak terlalu tinggi. Seorang pria yang selalu menyayangiku dengan segenap jiwanya. Dia bertaruh nyawa untuk menafkahi aku, ibu dan adikku. Pulang pagi, malam dan terkadang berhari-hari tidak pulang karena ikatan dinas.
Ayahku. Itu ayahku yang selama 3 bulan ini aku rindukan. Aku dan adikku berlari disusul ibuku berjalan cepat di belakang. Kami berangkulan seperti keluarga yang terpisah sangat lama. Terlihat ayahku berkaca-kaca menciumi adik dan aku. Ibuku dipeluknya. Terlihat tatapan permohonan maaf karena terlalu lama meninggalkan ibuku.
Hari pelantikanpun tiba. Asal kalian tahu, pelantikan di sukabumi itu adalah lapangan. Seperti lapangan bola. Sangat luas. Dipinggir lapangan, terdapat jalan 3 meteran, pemisah antara lapangan dan warung tempat ibu ibu dan anak menunggu pelantikan.
Sedikit gambaran. Terdapat jejeran warung yang berdempetan. Disekat dengan anyaman bambu. Semua serempak menyekat pembatas dengan anyaman bambu setinggi pinggang orang dewasa. Jadi kami bisa melihat dari satu warung ke warung lain tanpa berpindah. Deretan jalan dari warung tersebutpun hanya lurus saja. Tidak ada belokan atau tikungan. Yang ada hanya jauh sekali sekitar 50 meter baru ada belokan.
Selama menunggu, istri dan anak-anak calon dilantik bisa makan diwarung tersebut. Aku makan sate ayam kesukaanku, adikku makan roti. Sedang ibuku bercengkrama dengan kawan barunya sesama istri bayangkara lengkap dengan seragam merah muda. Dari kejauhan aku melihat ibuku sedang diajak bebicara oleh seorang ibu paruh baya. Mungkin sekitar umur 50an. Dengan tubuh rada gempal. Dia sepertinya sangat serius sekali. Aku melanjutkan makanku dengan nikmat. Beberapa saat kemudian dan tak lama juga aku langsung meminta uang ke ibuku untuk membayar. Teringat ibu tadi aku bertanya kepada ibuku.
"Itu tadi siapa mah ?"
"Itu, td dia minta ongkos mau pulang. Ngomong sunda mama ga terlalu paham"
"Lah mana orangnya mah ?" Aku melihat ke sekitar. Perasaan tak lama aku menghabiskan makananku, masa ibu itu sudah berada di belokan ? Sedang jika dia berjalan, akan terlihat jika ia menyusuri jalan. Warung yang kami singgahipun akan terlihat tanpa sekat yang menutupi.
Sekali lagi. Sungguh aneh.
anwaranwar93 memberi reputasi
1
