- Beranda
- Stories from the Heart
Buku Harian Seorang Indigo
...
TS
monikahastono
Buku Harian Seorang Indigo

WELCOME TO MY THREAD
Haloo, sebelumnya ane buat thread di The Lounge.. tapi sehubungan dengan banyaknya cerita yang akan ane post, ane jadi pindahin semuanya ke sfth

Tadinya mau pake ID klonengan tapi waktu mau bikin ga bisa-bisa. Woyes pake id yg sudah ada aja.
Ane mau cerita pengalaman ane sebagai seorang yang bisa melihat dan merasakan hal yang tidak semua orang bisa merasakan. Di thread ini ane tuangin semua pengalaman ane. Tidak ada cerita klimaks ataupun anti klimaks karena murni pengalaman ane. Jadi, tiap hari pasti ada aja ceritanya. Tapi ane tuangin yang bener-bener berkesan buat ane.
Well, awalnya ane ragu mau share ini. Karena suatu hari ane pernah minta saran sm kakek ane yang bisa punya hal yang kaya gini juga dan beliau juga bisa mengartikan mimpi.
Kakek ane bilang, jangan sampai orang lain tahu kelebihan kamu ini. Akan memungkinkan bahaya.
Bukannya ane mau melanggar pesan kakek ane, tapi... Ane kadang mau mengungkap semua apa yang ane rasain selama hidup 23 tahun ini.
Spoiler for "YOU DIDN'T SEE WHAT I SAW":
Terima kasih atas kesetiaannya pantengin thread ane hehe. Rate, cendol, share and bookmark please! 

RUMAH HANTU
Spoiler for Rumah Hantu:
IBU
Spoiler for Ibuku:

Diubah oleh monikahastono 12-04-2019 17:21
Menthog dan 24 lainnya memberi reputasi
25
227.9K
668
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
monikahastono
#204
Cerita#3
Selain kejadian mistis, ibuku sering kali didatangi oleh orang yang sangat mengherankan. Persis kasusnya adalah kakek tua di depan pagar hijau pinggir jalan itu. Aku mendeskripsikannya dengan sangat jelas, kalau saja ada yang tinggal di daerah depok beji atau ciganjur. Rute angkot 105. Karena apa yang aku tuangkan ini adalah murni kehidapanku.
Kembali ke cerita tentang ibuku. Saat itu, tahun dimana masih ada wartel. Orang-orang menelepon mengantri dari 4 bilik yang disediakan. Akupun tak luput mencoba teknologi baru dan zaman baru. Dimana wartel kini sudah menjamur di pinggiran ibu kota. Dengan tempat yang nyaman. Air conditioner, wangi yang khas saat kita mengangkat gagang telepon. Juga lantai yang bersih.
Selepas aku mengaji, aku dan teman-temanku selalu singgah di wartel "Toledo". Dekat dengan tempatku mengaji dan dekat dari rumahku. Berada di perempatan jalan membuat wartel ini tidak pernah sepi pelanggan. Hingga suatu hari sepulang aku mengaji, seperti biasa aku mampir di warung telepon tersebut. Mungkin karena aku tak kunjung pulang, ibuku menyambangi wartel untuk menyuruhku pulang. Kebetulan ibuku juga ingin menelepon sanak saudara ayahku.
Saat ingin membayar, ada kakek-kakek masuk ke wartel itu berbicara kepada ibuku dengan bahasa jawa barat. Aku hanya memperhatikan dari luar karena aku sedang bersama teman-temanku. Kira-kira begini percakapannya.
"Bu. Rumahnya dekat dari sini ?"
"Iya pak deket bgt itu yg setelah portal. Bapak mau telepon siapa ? Bisa ga ? Mau saya bantu ?:
"Ngga, bapak cuma ngadem. Abis enak disini. Dingin."
Karena yang menjaga wartel adalah saudaraku, kakek tersebut tidak diusir karena dirasa tidak mengganggu. Percakapanpun berlanjut.
"Eneng kalo ada lelue dirumahnya. Jangan dimatiin yahh. Nyaho lelue teu ?"
"Lelue apaan pak ?"
"Itu, kaki seribu. Ulat yang banyak kakinya"
"Oohh itu. Iya saya tau."
"Itu jangan dimatiin yah. Bawa rejeki. Disiram aja."
"Iyaa ki. Duluan ya ki mau pergi ini sama anak saya."
Selang 2 minggu kemudian, benar-benar ada lelue dirumah. Tetapi, spesifiknya ada di kamar mandi. Kamar mandi ibu di dalam kamar dan kamar mandi di luar. Berhari-hari lelue itu datang. Banyak sekitar 20an. Mengingat cerita ibu, kami penghuni rumah hanya menyiramnya dengan air. Sungguh tepat dugaan kakek itu karena dia bilang disiram saja. Benar saja, semua lelue itu hanya ada di kamar mandi. Di kamar ataupun di ruangan tidak ada satupun. Akupun heran. Apabila sudah aku siram, muncul kembali dan terus berulang. Dan yang paling mengherankan, tidak ada lubang di kedua kamar mandi. Disela sela ubinpun kami tidak pernah memergoki lelue itu keluar dari lubang.
3 bulan berlangsung seperti itu. Hingga pada suatu hari, ayahku dipindah tugaskan di bagian logistik dan dengan kenaikan upah. Sungguh rezeki yang sangat nyata.
Kembali ke cerita tentang ibuku. Saat itu, tahun dimana masih ada wartel. Orang-orang menelepon mengantri dari 4 bilik yang disediakan. Akupun tak luput mencoba teknologi baru dan zaman baru. Dimana wartel kini sudah menjamur di pinggiran ibu kota. Dengan tempat yang nyaman. Air conditioner, wangi yang khas saat kita mengangkat gagang telepon. Juga lantai yang bersih.
Selepas aku mengaji, aku dan teman-temanku selalu singgah di wartel "Toledo". Dekat dengan tempatku mengaji dan dekat dari rumahku. Berada di perempatan jalan membuat wartel ini tidak pernah sepi pelanggan. Hingga suatu hari sepulang aku mengaji, seperti biasa aku mampir di warung telepon tersebut. Mungkin karena aku tak kunjung pulang, ibuku menyambangi wartel untuk menyuruhku pulang. Kebetulan ibuku juga ingin menelepon sanak saudara ayahku.
Saat ingin membayar, ada kakek-kakek masuk ke wartel itu berbicara kepada ibuku dengan bahasa jawa barat. Aku hanya memperhatikan dari luar karena aku sedang bersama teman-temanku. Kira-kira begini percakapannya.
"Bu. Rumahnya dekat dari sini ?"
"Iya pak deket bgt itu yg setelah portal. Bapak mau telepon siapa ? Bisa ga ? Mau saya bantu ?:
"Ngga, bapak cuma ngadem. Abis enak disini. Dingin."
Karena yang menjaga wartel adalah saudaraku, kakek tersebut tidak diusir karena dirasa tidak mengganggu. Percakapanpun berlanjut.
"Eneng kalo ada lelue dirumahnya. Jangan dimatiin yahh. Nyaho lelue teu ?"
"Lelue apaan pak ?"
"Itu, kaki seribu. Ulat yang banyak kakinya"
"Oohh itu. Iya saya tau."
"Itu jangan dimatiin yah. Bawa rejeki. Disiram aja."
"Iyaa ki. Duluan ya ki mau pergi ini sama anak saya."
Selang 2 minggu kemudian, benar-benar ada lelue dirumah. Tetapi, spesifiknya ada di kamar mandi. Kamar mandi ibu di dalam kamar dan kamar mandi di luar. Berhari-hari lelue itu datang. Banyak sekitar 20an. Mengingat cerita ibu, kami penghuni rumah hanya menyiramnya dengan air. Sungguh tepat dugaan kakek itu karena dia bilang disiram saja. Benar saja, semua lelue itu hanya ada di kamar mandi. Di kamar ataupun di ruangan tidak ada satupun. Akupun heran. Apabila sudah aku siram, muncul kembali dan terus berulang. Dan yang paling mengherankan, tidak ada lubang di kedua kamar mandi. Disela sela ubinpun kami tidak pernah memergoki lelue itu keluar dari lubang.
3 bulan berlangsung seperti itu. Hingga pada suatu hari, ayahku dipindah tugaskan di bagian logistik dan dengan kenaikan upah. Sungguh rezeki yang sangat nyata.
bungamempesona dan 2 lainnya memberi reputasi
3
