- Beranda
- Stories from the Heart
Buku Harian Seorang Indigo
...
TS
monikahastono
Buku Harian Seorang Indigo

WELCOME TO MY THREAD
Haloo, sebelumnya ane buat thread di The Lounge.. tapi sehubungan dengan banyaknya cerita yang akan ane post, ane jadi pindahin semuanya ke sfth

Tadinya mau pake ID klonengan tapi waktu mau bikin ga bisa-bisa. Woyes pake id yg sudah ada aja.
Ane mau cerita pengalaman ane sebagai seorang yang bisa melihat dan merasakan hal yang tidak semua orang bisa merasakan. Di thread ini ane tuangin semua pengalaman ane. Tidak ada cerita klimaks ataupun anti klimaks karena murni pengalaman ane. Jadi, tiap hari pasti ada aja ceritanya. Tapi ane tuangin yang bener-bener berkesan buat ane.
Well, awalnya ane ragu mau share ini. Karena suatu hari ane pernah minta saran sm kakek ane yang bisa punya hal yang kaya gini juga dan beliau juga bisa mengartikan mimpi.
Kakek ane bilang, jangan sampai orang lain tahu kelebihan kamu ini. Akan memungkinkan bahaya.
Bukannya ane mau melanggar pesan kakek ane, tapi... Ane kadang mau mengungkap semua apa yang ane rasain selama hidup 23 tahun ini.
Spoiler for "YOU DIDN'T SEE WHAT I SAW":
Terima kasih atas kesetiaannya pantengin thread ane hehe. Rate, cendol, share and bookmark please! 

RUMAH HANTU
Spoiler for Rumah Hantu:
IBU
Spoiler for Ibuku:

Diubah oleh monikahastono 12-04-2019 17:21
Menthog dan 24 lainnya memberi reputasi
25
227.9K
668
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
monikahastono
#159
#1
Aku adalah remaja supel dengan teman bejibun. Saat syukuran ulang tahunku yang ke 20 tahun. Aku turut mengundang teman-temanku. Teman dekat maupun teman nongkrong. Temanku membawa teman lainnya. Dan dari situ aku mengenal huda. Teman dari temanku. Beberapa kali aku nongkrong dirumah huda. Karena memang kebanyakan teman-temannya menjadikan rumah huda sebagai base camp. Huda mempunyai 2 rumah. Satu rumah kakak lelakinya, bang Yung. Dan satunya adalah rumah ka Pipit, kakak perempuannya. Total mereka 4 bersaudara. Ka Frida, kakaknya huda mengajakku ikut latihan dance. Tak disangka, kamipun akrab hingga team kami on stage di Airman Hotel Sultan. Dari situ aku kini sering nongkrong bersama teman-teman huda. Juga temanku.
Mereka asik. Tak mengenal perbedaan. Ada Daus, pria dengan tato love di jari kanannya dan hate di jari kirinya. Juga Moller, salah satu joker kita. Si pelawak yang sangat bloon. Dengan keluguannya menghibur kita semua. Tak ayal dia sering menjadi bulan bulanan lantaran gingsulnya di gigi kelinci.
Sehari dua hari aku main ke rumah Huda di kediaman Bang Yung, aku merasa banyak aura negative. Rumah bang yung terdapat 2 lantai. Lantai kedua tidak pernah ada yang berani tidur disana. Bahkan saking tidak adanya anggota keluarga yang mau tidur dilantai 2, kini lantai 2 hanyalah gudang. Maklum, perumahan di daerah H. Nawi tidak semegah rumah berlantai 2 biasanya. Tapi tidak terlalu kecil. Cukup.
Semakin hari kami saling mengenal, hingga suatu hari aku berkenalan dengan Andes. Perempuan yang sering sekali kesurupan.
Semua temanku ini sudah mengetahui aku mempunyai kelebihan lain. Mereka tidak mencibirku melainkan menjadikanku sebagai mama loren gadungan. Membaca rumah, membaca tempat tongkrongan baru dan terkadang membaca warung dagang makanan yang laris tapi terlihat sepi olehku.
Saat berkenalan dengan Andes, aku merasa bahwa cewek satu ini sangat disukai dengan makhluk-makhluk ghaib. Lantaran saat aku pergi bersamanya, banyak makhluk yang melihat kearahnya terus menerus. Makhluk itu tak berani mendekat, tetapi memperhatikan dari jauh. Pernah suatu ketika aku pergi ke rumah bang Yung bersama Andes, ternyata pintu terkunci dan aku menelepon Huda. "Bocah-bocah pada dimana lay". "Sini, pada dirumah ka Pipit". "Oohh yaudah,otw".
Saat aku menelepon Huda, tubuh Andes terlihat seperti setengah melayang menuju pagar rumah Huda. Aku menariknya dan refleks aku berkata "Astagfirullah Ndes. Awas!!!"
Sesosok kuntilanak dengan rambut panjang dan gaun putihnya keluar dari pagar dan terbang dengan cepatnya melewati Andes. Sepanjang jalan tidak ada orang. Maklum, saat itu masih pukul 9 malam akan tetapi jalanan di depan rumah Bang Yung sudah sangat sepi. Padahal itu adalah bagian dari kota metropolitan. H. Nawi. Yang terkenal ramai dan tembusan ke arah Pondok Indah. Dari situ aku menyadari banyak hal negative dari rumah itu. Akan ada kisah selanjutnya yang akan lebih mencekam dari ini. Dan salah satunya adalah, nyawa.
Mereka asik. Tak mengenal perbedaan. Ada Daus, pria dengan tato love di jari kanannya dan hate di jari kirinya. Juga Moller, salah satu joker kita. Si pelawak yang sangat bloon. Dengan keluguannya menghibur kita semua. Tak ayal dia sering menjadi bulan bulanan lantaran gingsulnya di gigi kelinci.
Sehari dua hari aku main ke rumah Huda di kediaman Bang Yung, aku merasa banyak aura negative. Rumah bang yung terdapat 2 lantai. Lantai kedua tidak pernah ada yang berani tidur disana. Bahkan saking tidak adanya anggota keluarga yang mau tidur dilantai 2, kini lantai 2 hanyalah gudang. Maklum, perumahan di daerah H. Nawi tidak semegah rumah berlantai 2 biasanya. Tapi tidak terlalu kecil. Cukup.
Semakin hari kami saling mengenal, hingga suatu hari aku berkenalan dengan Andes. Perempuan yang sering sekali kesurupan.
Semua temanku ini sudah mengetahui aku mempunyai kelebihan lain. Mereka tidak mencibirku melainkan menjadikanku sebagai mama loren gadungan. Membaca rumah, membaca tempat tongkrongan baru dan terkadang membaca warung dagang makanan yang laris tapi terlihat sepi olehku.
Saat berkenalan dengan Andes, aku merasa bahwa cewek satu ini sangat disukai dengan makhluk-makhluk ghaib. Lantaran saat aku pergi bersamanya, banyak makhluk yang melihat kearahnya terus menerus. Makhluk itu tak berani mendekat, tetapi memperhatikan dari jauh. Pernah suatu ketika aku pergi ke rumah bang Yung bersama Andes, ternyata pintu terkunci dan aku menelepon Huda. "Bocah-bocah pada dimana lay". "Sini, pada dirumah ka Pipit". "Oohh yaudah,otw".
Saat aku menelepon Huda, tubuh Andes terlihat seperti setengah melayang menuju pagar rumah Huda. Aku menariknya dan refleks aku berkata "Astagfirullah Ndes. Awas!!!"
Sesosok kuntilanak dengan rambut panjang dan gaun putihnya keluar dari pagar dan terbang dengan cepatnya melewati Andes. Sepanjang jalan tidak ada orang. Maklum, saat itu masih pukul 9 malam akan tetapi jalanan di depan rumah Bang Yung sudah sangat sepi. Padahal itu adalah bagian dari kota metropolitan. H. Nawi. Yang terkenal ramai dan tembusan ke arah Pondok Indah. Dari situ aku menyadari banyak hal negative dari rumah itu. Akan ada kisah selanjutnya yang akan lebih mencekam dari ini. Dan salah satunya adalah, nyawa.
jenggalasunyi dan verity13 memberi reputasi
4
