- Beranda
- Stories from the Heart
Buku Harian Seorang Indigo
...
TS
monikahastono
Buku Harian Seorang Indigo

WELCOME TO MY THREAD
Haloo, sebelumnya ane buat thread di The Lounge.. tapi sehubungan dengan banyaknya cerita yang akan ane post, ane jadi pindahin semuanya ke sfth

Tadinya mau pake ID klonengan tapi waktu mau bikin ga bisa-bisa. Woyes pake id yg sudah ada aja.
Ane mau cerita pengalaman ane sebagai seorang yang bisa melihat dan merasakan hal yang tidak semua orang bisa merasakan. Di thread ini ane tuangin semua pengalaman ane. Tidak ada cerita klimaks ataupun anti klimaks karena murni pengalaman ane. Jadi, tiap hari pasti ada aja ceritanya. Tapi ane tuangin yang bener-bener berkesan buat ane.
Well, awalnya ane ragu mau share ini. Karena suatu hari ane pernah minta saran sm kakek ane yang bisa punya hal yang kaya gini juga dan beliau juga bisa mengartikan mimpi.
Kakek ane bilang, jangan sampai orang lain tahu kelebihan kamu ini. Akan memungkinkan bahaya.
Bukannya ane mau melanggar pesan kakek ane, tapi... Ane kadang mau mengungkap semua apa yang ane rasain selama hidup 23 tahun ini.
Spoiler for "YOU DIDN'T SEE WHAT I SAW":
Terima kasih atas kesetiaannya pantengin thread ane hehe. Rate, cendol, share and bookmark please! 

RUMAH HANTU
Spoiler for Rumah Hantu:
IBU
Spoiler for Ibuku:

Diubah oleh monikahastono 12-04-2019 17:21
Menthog dan 24 lainnya memberi reputasi
25
227.9K
668
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
monikahastono
#50
Pemandian Air Panas (Pacet)
Aku sering kali pulang ke kampung halaman ayahku di jawa timur. Tepatnya di mojokerto. Nenek dari ayahku berasal dari Trowulan. Saat liburan sekolah aku suka sekali meminta dan merajuk ayahku untuk pulang ke kampung halamannya. Tapi terkadang aku sedih, karena berbentur dengan ikatan dinas, ayahku jarang sekali turut serta jika aku pergi ke kampung halaman ayahku. Paling tidak hanya sekali setahun, yaitu saat lebaran aku pergi bersama ayahku.
Aku sering diajak pakde ku berpergian. Ke candi candi yang tersebar di trowulan, tempat nenekku. Disana ada peninggalan pemandian raja-raja. Akupun melihat masa lalu dimana banyak wanita-wanita cantik berpakaian kemben dan berselendang. Banyak mereka bermain air dan saat itu disana tumbuh banyak pohon rindang. Berbeda dengan sekarang, terlihat gersang dengan air yang berwarna hijau keruh.
Pak de ku selalu menjanjikan untuk mengajakku pergi ke pemandian air panas di Pacet. Aku sangat senang dan tak lupa aku menyiapkan segala sesuatunya. Ibuku pun turut menyiapkan perbekalan kami bermain air di Pacet.
Akupun bersiap tidur untuk kepergianku besok. Tapi sangat disayangkan. Saat bangun tidur badanku terasa berat dan kepalaku pusing. Aku demam saat itu. Aku jadi tidak enak, karenaku semuanya berantakan. Aku hanya mengurung diri dikamar, sedangkan ibuku membujukku untuk bermain bersama sepupuku. Aku tidak mau, hanya terbaring lemas karena demam. Tiga hari berikutnya saat aku sudah sembuh, pak de ku mengajakku pergi ke alun alun yang berada di pinggiran sungai Brantas. Sebagai anak kecil yang labil, akupun sudah ceria kembali.
Liburan semester selanjutnyapun seperti itu. Selalu dan selalu apabila aku ingin pergi ke pacet, aku selalu sakit. Sakit yang tidak pernah bisa diketahui. Langsung demam begitu saja atau terkadang ada suatu hal yang tidak memperbolehkan aku pergi ke Pacet. Singkat cerita saat aku kembali ke Mojokerto, aku mengunjungi kediaman tanteku. Bermain dengan sepupuku, Shela. Omku pun kembali mengajakku ke pemandian air panas tersebut. Saat semuanya sudah dipersiapkan untuk besok, sorenya aku terpeleset di ruang tengah rumah om ku. Tidak ada sesuatu cairan apapun yang membuat lantai tersebut licin. Bukan karena terasa seperti ada yang mendorong, tetapi karena sepertinya aku tergelincir sesuatu. Efeknya, aku tidak bisa berjalan selama dua hari. Kakiiku kaku dan selama dua hari selalu di urut oleh pak de ku. Sungguh diluar nalar.
Teringat semua kejadian itu manakala aku melihat di televisi. Pemandian air panas pacet longsor! Aku yang memastikan kepada sepupuku, mengiyakan bahwa pacet longsor. Tepat di pemandian yang akan aku datangi waktu waktu sebelumnya. Aku sangat kaget. Apa maksud dari semua ini, Aku hanya bersyukur mungkin aku diperingatkan oleh Allah SWT. Akupun terheran-heran dibuatnya.
Setelah kejadian longsor tersebut, aku kembali ke kampung halaman ayahku. Pak de ku kembali mengajakku ke pacet dan kali ini beliau berhasil membawaku ke pacet. Tapi sayang, aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Karena pemandian itu sekarang sudah ditutup. Akupun sampai sekarang masih penasaran bagaimana rupa pacet sebelum musibah itu. Dan tak lupa aku selalu bersyukur kepadaNya atas apa yang aku alami ini.
Aku sering diajak pakde ku berpergian. Ke candi candi yang tersebar di trowulan, tempat nenekku. Disana ada peninggalan pemandian raja-raja. Akupun melihat masa lalu dimana banyak wanita-wanita cantik berpakaian kemben dan berselendang. Banyak mereka bermain air dan saat itu disana tumbuh banyak pohon rindang. Berbeda dengan sekarang, terlihat gersang dengan air yang berwarna hijau keruh.
Pak de ku selalu menjanjikan untuk mengajakku pergi ke pemandian air panas di Pacet. Aku sangat senang dan tak lupa aku menyiapkan segala sesuatunya. Ibuku pun turut menyiapkan perbekalan kami bermain air di Pacet.
Akupun bersiap tidur untuk kepergianku besok. Tapi sangat disayangkan. Saat bangun tidur badanku terasa berat dan kepalaku pusing. Aku demam saat itu. Aku jadi tidak enak, karenaku semuanya berantakan. Aku hanya mengurung diri dikamar, sedangkan ibuku membujukku untuk bermain bersama sepupuku. Aku tidak mau, hanya terbaring lemas karena demam. Tiga hari berikutnya saat aku sudah sembuh, pak de ku mengajakku pergi ke alun alun yang berada di pinggiran sungai Brantas. Sebagai anak kecil yang labil, akupun sudah ceria kembali.
Liburan semester selanjutnyapun seperti itu. Selalu dan selalu apabila aku ingin pergi ke pacet, aku selalu sakit. Sakit yang tidak pernah bisa diketahui. Langsung demam begitu saja atau terkadang ada suatu hal yang tidak memperbolehkan aku pergi ke Pacet. Singkat cerita saat aku kembali ke Mojokerto, aku mengunjungi kediaman tanteku. Bermain dengan sepupuku, Shela. Omku pun kembali mengajakku ke pemandian air panas tersebut. Saat semuanya sudah dipersiapkan untuk besok, sorenya aku terpeleset di ruang tengah rumah om ku. Tidak ada sesuatu cairan apapun yang membuat lantai tersebut licin. Bukan karena terasa seperti ada yang mendorong, tetapi karena sepertinya aku tergelincir sesuatu. Efeknya, aku tidak bisa berjalan selama dua hari. Kakiiku kaku dan selama dua hari selalu di urut oleh pak de ku. Sungguh diluar nalar.
Teringat semua kejadian itu manakala aku melihat di televisi. Pemandian air panas pacet longsor! Aku yang memastikan kepada sepupuku, mengiyakan bahwa pacet longsor. Tepat di pemandian yang akan aku datangi waktu waktu sebelumnya. Aku sangat kaget. Apa maksud dari semua ini, Aku hanya bersyukur mungkin aku diperingatkan oleh Allah SWT. Akupun terheran-heran dibuatnya.
Setelah kejadian longsor tersebut, aku kembali ke kampung halaman ayahku. Pak de ku kembali mengajakku ke pacet dan kali ini beliau berhasil membawaku ke pacet. Tapi sayang, aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Karena pemandian itu sekarang sudah ditutup. Akupun sampai sekarang masih penasaran bagaimana rupa pacet sebelum musibah itu. Dan tak lupa aku selalu bersyukur kepadaNya atas apa yang aku alami ini.
johny251976 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup
