- Beranda
- Stories from the Heart
Buku Harian Seorang Indigo
...
TS
monikahastono
Buku Harian Seorang Indigo

WELCOME TO MY THREAD
Haloo, sebelumnya ane buat thread di The Lounge.. tapi sehubungan dengan banyaknya cerita yang akan ane post, ane jadi pindahin semuanya ke sfth

Tadinya mau pake ID klonengan tapi waktu mau bikin ga bisa-bisa. Woyes pake id yg sudah ada aja.
Ane mau cerita pengalaman ane sebagai seorang yang bisa melihat dan merasakan hal yang tidak semua orang bisa merasakan. Di thread ini ane tuangin semua pengalaman ane. Tidak ada cerita klimaks ataupun anti klimaks karena murni pengalaman ane. Jadi, tiap hari pasti ada aja ceritanya. Tapi ane tuangin yang bener-bener berkesan buat ane.
Well, awalnya ane ragu mau share ini. Karena suatu hari ane pernah minta saran sm kakek ane yang bisa punya hal yang kaya gini juga dan beliau juga bisa mengartikan mimpi.
Kakek ane bilang, jangan sampai orang lain tahu kelebihan kamu ini. Akan memungkinkan bahaya.
Bukannya ane mau melanggar pesan kakek ane, tapi... Ane kadang mau mengungkap semua apa yang ane rasain selama hidup 23 tahun ini.
Spoiler for "YOU DIDN'T SEE WHAT I SAW":
Terima kasih atas kesetiaannya pantengin thread ane hehe. Rate, cendol, share and bookmark please! 

RUMAH HANTU
Spoiler for Rumah Hantu:
IBU
Spoiler for Ibuku:

Diubah oleh monikahastono 12-04-2019 17:21
Menthog dan 24 lainnya memberi reputasi
25
227.9K
668
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
monikahastono
#10
Menutup Mata Batin
Sepertinya ayahku mulai khawatir dengan keadaanku saat ini. Aku jadi sering tidur malam dan apabila ada yang mengikutiku, aku langsung sakit panas. Aku sembuh bila aku sudah minum air doa dari mang aji.
Ayahku sungguh sosok ayah yang sangat memperhatikan anaknya.
Ayahku mempunyai ide untuk menutup mata batinku agar aku dapat hidup tenang. Tersebutlah Mbah Karwo (Nama disamarkan) dia tinggal di meruya ilir.
Setelah ayahku memberitau maksudnya untuk mengajakku ke Purworejo bersama dengan Mbah Karwo. Aku tidak mau karena tidak pernah datang ke tempat itu. Akupun menentang kalau kalau hal ini berbau mistis. Berdoa hanya kepada Allah yang satu.
Singkat cerita aku pergi ke Purworejo dengan menggunakan mobil pribadi. Mbah Karwo menempuh perjalanan dengan kereta. Karena rumah Mbah Karwo berada di meruya ilir. Nalarku tak sampai. Mengapa tidak kita pergi saja ke tempat Mbah Karwo di meruya ilir ? Kenapa harus jauh ke Purworejo ? Pandanganku kosong nanar jauh ke luar jendela mobil.
Mungkin ada jawaban sesampainya aku di sana.
Kami tiba disana malam hari. Aku, ayah dan adikku tidur di rumah Mbah Karwo di Purworejo.
Aku ingat, waktu itu malam satu suro. Di depan rumah Mbah Karwo ada pertunjukkan wayang semalam suntuk. Aku tak mempedulikan. Mata ini teramat kantuk. Ayah bilang, besok malam kita akan ke petilasan Pangeran. Aku lupa, nama pangeran itu. Mungkin jika ada yang tinggal di Purworejo, paham. Ada petilasan siapa.
Malam itupun tiba. Aku pergi ke petilasan bersama Mbah Karwo. Kami semua diperintahkan berdoa memohon kepada YME walaupun yang ada didepan kami adalah bangunan kecil berbentuk setengah lingkaran. Lagi lagi aku tersedot ke dunia beberapa waktu silam. Aku melihat orang sedang membangun sesuatu tetapi sebuah tempat yang kecil. Aku sadar, sepertinya 7 orang ini akan membangun bangunan kecil berbentuk setengah lingkaran ini. Mereka terlihat seperti mengawasi sekitar. Tak ada yang berbicara, hanya bekerja. Ada 1 orang yang berbisik kepada satu orang lainnya. Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan pria itu. Sekelilingnya adalah banyak pohon pohon dan gelap. Mungkin waktu itu adalah malam.
Saat aku tersadar, aku melihat adik dan ayahku memejamkan mata seraya berdoa. Aku yang tidak suka akan hal ini mencoba safari mata.
Aku melihat dikiriku. Seorang pria berdiri menggunakan pakaian seperti orang yang akan menghadiri kontes Ibu Kartini 21 April.
Aku perjelas penglihatanku. Rupa yang sangat kalem, adem seperti artis Dude Herlino tapi dengan bentuk wajah yang oval. Tirus.
Bajunya hitam mirip dengan pagar bagus dipernikahan adat jawa. Tetapi kharismanya terlihat mengagumkan. Dengan tangan diperut seperti paduan suara kampus yang mengiringi wisudawan saat prosesi wisuda. Dia tidak memakai celana melainkan sarung rapat berwarna coklat dengan corak keemasan. Kepala dihiasi blangkon kaku. Badan yang tegap dan perawakan tinggi. Aku tak bisa memalingkan pandanganku terhadapnya. Aku terus memandanginya tapi dia tidak jua pergi. Aku kembali melihat adik dan ayahku. Sesaat kemudian aku melihat tempat makhluk itu berdiri. Ternyata dia masih berdiri disana. Tidak merubah pose yang sebelumnya. Tangannya masih seperti kelompok paduan suara. Pergelangan tangan kirinya digenggam menggunakan tangan kanan. Diletakkan persis dibawah pusar.
Tak terasa Mbah Karwopun selesai. Seiring dengan itu, pria itu juga hilang.
Kamipun pulang ke rumah Mbah Karwo. Aku ditanya, "lihat apa saja ndo?". Aku ceritakan apa yang aku lihat.
Dia terkekeh tertawa kecil. "Ganteng yaa cowoknya ? Lhaa iku sing jeneng e Pangeran."
Terjawab sudah semua itu.
Mbah Karwo mendekat padaku. Dia berbisik, "bismillah ndo".
Dia mengusapkan tangannya ke mataku. Dimulai dari ubun-ubun kepalaku. Berakhir dihidungku.
"Wis, saiki sampean wis ra iso ndelok sing aneh-aneh."
Manjur ternyata! Aku sudah tidak bisa melihat dan merasakan itu semua. Hidupku juga tidak ada rasa kecemasan. Tapi itu semua hanya berlangsung satu bulan. Aku melihat lagi wanita menembus tembok kelas kampus. Aku hanya bisa bilang, "Yaaahh. Gini lagi."
Ayahku sungguh sosok ayah yang sangat memperhatikan anaknya.
Ayahku mempunyai ide untuk menutup mata batinku agar aku dapat hidup tenang. Tersebutlah Mbah Karwo (Nama disamarkan) dia tinggal di meruya ilir.
Setelah ayahku memberitau maksudnya untuk mengajakku ke Purworejo bersama dengan Mbah Karwo. Aku tidak mau karena tidak pernah datang ke tempat itu. Akupun menentang kalau kalau hal ini berbau mistis. Berdoa hanya kepada Allah yang satu.
Singkat cerita aku pergi ke Purworejo dengan menggunakan mobil pribadi. Mbah Karwo menempuh perjalanan dengan kereta. Karena rumah Mbah Karwo berada di meruya ilir. Nalarku tak sampai. Mengapa tidak kita pergi saja ke tempat Mbah Karwo di meruya ilir ? Kenapa harus jauh ke Purworejo ? Pandanganku kosong nanar jauh ke luar jendela mobil.
Mungkin ada jawaban sesampainya aku di sana.
Kami tiba disana malam hari. Aku, ayah dan adikku tidur di rumah Mbah Karwo di Purworejo.
Aku ingat, waktu itu malam satu suro. Di depan rumah Mbah Karwo ada pertunjukkan wayang semalam suntuk. Aku tak mempedulikan. Mata ini teramat kantuk. Ayah bilang, besok malam kita akan ke petilasan Pangeran. Aku lupa, nama pangeran itu. Mungkin jika ada yang tinggal di Purworejo, paham. Ada petilasan siapa.
Malam itupun tiba. Aku pergi ke petilasan bersama Mbah Karwo. Kami semua diperintahkan berdoa memohon kepada YME walaupun yang ada didepan kami adalah bangunan kecil berbentuk setengah lingkaran. Lagi lagi aku tersedot ke dunia beberapa waktu silam. Aku melihat orang sedang membangun sesuatu tetapi sebuah tempat yang kecil. Aku sadar, sepertinya 7 orang ini akan membangun bangunan kecil berbentuk setengah lingkaran ini. Mereka terlihat seperti mengawasi sekitar. Tak ada yang berbicara, hanya bekerja. Ada 1 orang yang berbisik kepada satu orang lainnya. Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan pria itu. Sekelilingnya adalah banyak pohon pohon dan gelap. Mungkin waktu itu adalah malam.
Saat aku tersadar, aku melihat adik dan ayahku memejamkan mata seraya berdoa. Aku yang tidak suka akan hal ini mencoba safari mata.
Aku melihat dikiriku. Seorang pria berdiri menggunakan pakaian seperti orang yang akan menghadiri kontes Ibu Kartini 21 April.
Aku perjelas penglihatanku. Rupa yang sangat kalem, adem seperti artis Dude Herlino tapi dengan bentuk wajah yang oval. Tirus.
Bajunya hitam mirip dengan pagar bagus dipernikahan adat jawa. Tetapi kharismanya terlihat mengagumkan. Dengan tangan diperut seperti paduan suara kampus yang mengiringi wisudawan saat prosesi wisuda. Dia tidak memakai celana melainkan sarung rapat berwarna coklat dengan corak keemasan. Kepala dihiasi blangkon kaku. Badan yang tegap dan perawakan tinggi. Aku tak bisa memalingkan pandanganku terhadapnya. Aku terus memandanginya tapi dia tidak jua pergi. Aku kembali melihat adik dan ayahku. Sesaat kemudian aku melihat tempat makhluk itu berdiri. Ternyata dia masih berdiri disana. Tidak merubah pose yang sebelumnya. Tangannya masih seperti kelompok paduan suara. Pergelangan tangan kirinya digenggam menggunakan tangan kanan. Diletakkan persis dibawah pusar.
Tak terasa Mbah Karwopun selesai. Seiring dengan itu, pria itu juga hilang.
Kamipun pulang ke rumah Mbah Karwo. Aku ditanya, "lihat apa saja ndo?". Aku ceritakan apa yang aku lihat.
Dia terkekeh tertawa kecil. "Ganteng yaa cowoknya ? Lhaa iku sing jeneng e Pangeran."
Terjawab sudah semua itu.
Mbah Karwo mendekat padaku. Dia berbisik, "bismillah ndo".
Dia mengusapkan tangannya ke mataku. Dimulai dari ubun-ubun kepalaku. Berakhir dihidungku.
"Wis, saiki sampean wis ra iso ndelok sing aneh-aneh."
Manjur ternyata! Aku sudah tidak bisa melihat dan merasakan itu semua. Hidupku juga tidak ada rasa kecemasan. Tapi itu semua hanya berlangsung satu bulan. Aku melihat lagi wanita menembus tembok kelas kampus. Aku hanya bisa bilang, "Yaaahh. Gini lagi."
johny251976 dan 7 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
