“Karena jika Fira benar-benar tak mengingat gua lagi, apakah keberadaan gua di masa lalu Fira masih berarti?” Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala. Jika terus memaksa untuk melanjutkan, gua takut malah menghancurkan kehidupannya yang sekarang. Hidupnya yang sudah penuh tawa. Sepertiny...
Gua masih berdiri dalam diam sambil menggenggam erat lukisan yang terbalut lembaran koran. Mata ini masih terus memandang ke arah Fira yang kini semakin jauh, lalu hilang di antara padatnya jalan raya. Ada berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Satu perasaan yang sudah pernah gua rasaka...
Tim penuntut beserta Dokter Soelarno menyusul keluar dari ruang sidang begitu dewan komite pergi. Kini hanya kami yang berada di sana. Gua, Reynard, Mrs. Martin, Pak Menteri beserta pengawalnya dan beberapa petugas panitera. Reynard menepuk bahu gua; “Good job…” Ucapnya lalu berdiri di sebe...
Sore itu, Gua duduk di salah satu kursi kayu berwarna hitam di pelataran sebuah pub yang berada tepat di depan Queen Square. Angin sore yang dingin berhembus pelan, membawa serta aroma khas musim gugur yang bercampur dengan bau asap rokok dan makanan dari dalam pub. Di seberang sana berdiri bangu...
Tangan gua bergetar saat memegang lembaran kertas yang berisi surat penolakan pengajuan ijin praktek yang waktu itu sempat diajukan dengan bantuan Ncek. Yang sengaja gua ajukan agar bisa melakukan operasi terhadap Fira. Bukan, bukan karena kecewa. Tapi, karena merasa marah luar biasa. Apalagi set...
Gua berdiri di depan pintu ruang operasi yang baru saja gua tinggalkan. Menatap kosong ke lantai, mengatur napas yang terasa lebih berat dari biasanya. Nggak hanya karena kelelahan fisik, tapi karena ada sesuatu yang lain—sesuatu yang menekan dari dalam dada gua. Sementara Dokter-dokter lain ma...
“Shall we continue?” Tanya gua ke yang lain. Dokter Kristop mengangguk, lalu disusul oleh anggukan darai yang lain kecuali Dokter Deden. Ia terlihat kepayahan. Maklum, sudah lama ia nggak lagi menangangi operasi dengan durasi sepanjang ini. Gua mendekat dan berbisik; “Istirahat aja Dok…...
Sebelum operasi di mulai, gua menyempatkan diri kembali menemui Fira yang masih dalam pengaruh sedative ringan. Sedative yang bikin dia nggak terlalu tersiksa dengan kejangnya yang sering datang karena otot-otot nya yang lemas. Membuatnya kini bisa diajak sedikit berkomunikasi. Ingin memberitahu ...
Jantung gua berdetak cepat, ada sensasi aneh di dalam dada. Sementara, terasa hangat di kedua pipi. Ragu, gua menyeka pipi dengan punggung tangan dan menatapnya. Melihat punggung tangan yang basah, gua mengucek salah satu mata; terasa basah. Jujur saja, gua cukup terkejut dengan apa yang terjadi....
“Tapi, sekarang Nat nya cuti. Mau ngelahirin doi…” Ncek memberikan informasi. “Too much information… Like i care” Balas gua. “Hahaha, Sekarang yang handle Fira Dokter Adhi. Lo kenal nggak?” Tanya Ncek. “Lo kenal?” Gua balik bertanya. “Nggak, baru juga denger namanya…” Ja...
“Do me a favor…” pinta gua ke Ncek. “What?” Tanyanya tanpa memalingkan pandangannya dari jalan. “Kalo suatu saat lo nggak dapet forward email dari gue tentang kondisi Fira. Bisa kan lo cek langsung?” Ncek berdecak, lalu menghela napasnya. “Kalo lo segitu khawatirnya kenapa harus p...
Belum jauh gua keluar dari gerbang komplek perumahan tempat Fira tinggal. Tiba-tiba, ponsel gua berdering. Awalnya, gua menebak kalau Fira yang menelpon, mungkin ia sudah rindu. Tapi, saat melihat layar ponsel yang menampilkan deretan angka-angka tak bernama, gua langsung mengernyitkan dahi. Lalu...
Sulit untuk menyukainya. Tapi, ternyata lebih sulit melupakannya. Dan, gua memilih untuk nggak melupakannya. Seandainya takdir mempertemukan kami kembali di situasi yang berbeda dan gua masih menyimpan perasaan yang sama, gua tentu mau mengulang lagi masa itu. Tapi, seandainya nasib mengatakan se...
Begitu turun dari mobil, gua langsung berlari, menyusuri trotoar sempit kembali ke arah gang sekolah. Dari kejauhan terlihat Lian sibuk berbincang dengan para siswa sekolah gua di warung rokok tempat yang biasa digunakan nongkrong. Ia yang menyadari kehadiran gua, lantas berdiri dan berjalan mend...
Gua menggeser pagar dengan perlahan, lalu berjalan mengendap seperti maling, meraih gagang pintu dan memutarnya perlahan. “Kreek…” Kegelapan ruang tamu menyambut gua. Masih dengan mengendap, gua berjalan sambil meraba dinding, berusaha nggak menyenggol apapun yang bisa menghasilkan suara. ...
Terngiang di kepala gua ucapan dari Dokter Ricky tadi, tentang sosoknya. “Dia itu anomali… Sebagai seorang dokter, dia itu terbaik dari yang terbaik di bidangnya. Tapi, sebagai seorang manusia dia justru selalu merasa serendah-rendahnya manusia…” Apa yang bikin sosok yang gua kagumi ini m...
“… Nanti, di pertemuan dokter berikutnya. Minta untuk tes MRI ya. Biar lebih jelas kondisinya. Kondisi yang jelas bikin diagnosa tegak sempurna. Diagnosa yang tegak bikin treatment-nya jadi tepat. Treatment yang tepat bikin kemungkinan sembuh semakin besar…” “Siap, Dok!!” Seru gua. Ob...
Kondisi jalan yang cukup ramai bikin ia nggak perlu pusing mencoba menahan laju mobilnya agar deru-nya nggak mengganggu. Beruntung mall yang kami tuju berlokasi nggak begitu jauh dari rumah sakit. Hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit hingga akhirnya kami tiba di salah satu mall mewah di daerah...
Dokter Ricky, beralih ke gua lalu bertanya; “Hi Fira, udah pernah di test EEG sebelumnya?” Tanyanya. Gua menatap ke arah Lian dengan pandangan bingung. ‘Kok dia bisa tau?’. Lian yang seakan bisa membaca ekspresi gua lantas bicara; “Aku tau kok…” Ucapnya lirih. “Anjir!” Gumam gua...