Masih sambil menutupi wajah dengan kedua tangan, gua lantas berdiri, dan berjalan menuju ke sofa. Tentu saja sambil sesekali mengintip melalui sela-sela jari. Nggak mau Marshall menyadari kalau saat ini kedua pipi gua mulai merona akibat kata-katanya barusan. Gua duduk di sofa, meraih bantal keci...
Besoknya, sementara Marshall berangkat ke studio, gua tinggal di apartemennya; sendirian. Kali ini gua nggak merasa kesepian walau sendiri, karena tau kalau nanti Marshall bakal kembali pulang ke dalam pelukan gua. Gua tengah asyik berbaring di sofa sambil ngemil keripik pisang dingin dan menonto...
Sudah hampir lebih dari seminggu, gua sama sekali nggak keluar dari apartemen. Hanya berdiam diri dalam kegelapan, duduk menatap kosong ke arah layar televisi yang mati. Sementara, beberapa porsi makanan tersedia diatas meja di depan gua. Baru tadi Reni datang untuk mengecek kondisi gua. Ia membe...
Cukup lama Aldina tertidur di pangkuan gua, mungkin merasa nyaman. Saking nyamannya, ia bahkan sempat berbalik dan merubah posisi beberapa kali. Mengabaikan gua yang kini mulai terasa pegal dan kesemutan. Perlahan gua mengangkat kepalanya dengan kedua tangan lalu memindahkannya ke atas bantal kecil
https://s.kaskus.id/images/2024/06/10/6448808_20240610092150.jpg Ia lalu berdiri, masuk ke dalam kamarnya. Lalu kembali beberapa saat berikutnya. Kemudian melemparkan sebuah kartu ke arah gua. Gua meraih kartu yang kini tergeletak di lantai, kartu dengan sebuah tulisan ‘access card’ berwarna ...
“... Kalau nggak ingin merasakan kehilangan, jangan memiliki” Gua menggumam pelan, tanpa menatap ke arah Aldina yang jadi lawan bicara. Sementara Aldina hanya terdiam, sambil menundukan kepala. Ia mendengus kesal, meletakkan cangkir kopi di lantai, kemudian berdiri, meraih tas yang tergeletak...
Tiba di apartemen, gua melempar tas ke sudut ruangan kemudian menjatuhkan diri di atas sofa. Duduk dalam kegelapan yang pekat, sengaja nggak ingin menyalakan lampu. Ingin merenung dan meratapi diri sambil terus mengingat ucapan Marshall tadi; ‘Kalau nggak ingin merasakan kehilangan, jangan memi...
Gua yang sejak tadi nggak begitu peduli dengan film termasuk jalan cerita beserta aktor-aktornya, kini merasa terlalu nyaman bersandar di bahu Marshall, lalu tanpa sadar gua pun jatuh tertidur. Sorot lampu yang menyilaukan mata membuat gua terbangun. Kondisi studio sudah terang benderang, layar b...
Di parkiran, gua langsung membuka pintu mobil sisi penumpang, masuk dan langsung duduk. Sementara, Marshall lalu memutari mobil dan masuk melalui pintu sisi pengemudi. “Gua yang bawa?” Tanyanya. “Iya, kan lo yang ngajak” Jawab gua singkat. “Kan tadinya lo nggak mau” Ucapnya seraya mul...
Gua duduk menatap ke arah layar televisi yang membisu. Entah sudah berapa hari ini gua kembali merasakan kegelisahan yang luar biasa, terserang cemas dan rasa takut. Takut merasa sendirian, takut diabaikan, takut membuat kesalahan. Layar ponsel yang tergeletak diatas meja masih berpendar, menampi...
Gua berdiri, dan berlari ke arahnya. Di dalam lift, kami hanya berdiri dalam diam seperti sebelum-sebelumnya. Begitu pula saat berjalan di lorong apartemen, ia berjalan lebih dulu sementara gua mengikutinya dari belakang. Seperti biasan, ia berjalan sambil ujung jarinya meniti tepian dinding tanpa
“Kayaknya sekarang gantian gua yang rindu sama lo” Ucap gua pelan, tanpa berani menatap ke arahnya. “Hahaha, Mampus…” Serunya, seraya menggulung mie dengan menggunakan garpu tinggi-tinggi. Setelah meniupnya beberapa kali, ia mulai menyuapnya masuk ke dalam mulut. Sambil terus mengunyah,...
Gua duduk di balkon apartemen, menatap langit yang hitam merasakan hembusan angin malam yang semakin lama semakin dingin. Sementara, pikiran gua masih berkutat seputar Aldina segala keanehannya. Teringat kembali Momen saat ia memanggil gua datang hanya untuk membantu anaknya menggambar, momen dim...
“Nanti lo malah nggak mau ketemu sama gua lagi” Jawabnya. Mendengar ucapannya barusan gua yakin kalau tujuan dia bicara waktu itu memang hanya ingin membuat sakit hati. “Oke, berarti emang tujuan lo ngomong gitu cuma buat nyakitin gua” Ucap gua. “...” Aldina nggak merespon, ia hanya t...
Tiba-tiba, terasa sentuhan di lengan kiri gua, sebuah sentuhan hangat. Gua berpaling dan mendongak. Marshall terlihat membungkuk di sebelah gua, tengah berusaha membuat gua berdiri dengan menarik lengan. Masih sambil terus menatapnya, gua ikut berdiri. Dengan cepat, ia meraih tangan dan membawa gu
“Dia.. Dia bahkan sampe sekarang belum menerima permintaan maaf gua dengan proper, Ren” “...” “... Coba, Coba lo bayangin deh ada di posisi gua, dan harus menghadapi pukimak satu itu” Gua menambahkan, bicara menggebu-gebu ke Reni. Sementara Reni kini terlihat santai dan mulai tersenyu...
Ada perasaan yang campur aduk begitu gua membaca pesannya tersebut. Perasaan yang belum pernah gua rasakan sebelumnya, perasaan yang aneh. Gua lantas turun dari pagar besi dan berlari untuk menyusulnya. Dengan cepat gua meraih bahunya, membuatnya berhenti lalu berpaling. Kini kami berdua saling b...
20 menit berikutnya gua sudah duduk di kursi menghadap ke sebuah jendela raksasa di sebuah salon kecantikan. Salon langganan gua. “Tumben cuma Creambath aja kak?” Tanya seorang Hair Stylist yang biasa menangani gua. “Nggak sekalian diwarnai seperti biasa” Tambahnya. Gua terdiam sesaat, ke...
Gua lalu mulai bercerita tentang kejadian kemarin kepadanya. Di sela-sela bercerita, Reni terlihat sesekali mengangguk dan tak henti-hentinya tersenyum. Gua yang mempertanyakan arti dari senyumannya itu lantas menepuk bahunya; protes. “Kenapa sih, lo malah senyum-senyum gitu?” Tanya gua. “G...
Gua berdiri menatap ke arah Marshall yang tengah berbincang seru dengan Anggi sambil sesekali ia membetulkan cara Anggi memegang pensil warna yang selalu keliru. Lalu terdengar Anggi, dengan gayanya yang polos bercerita tentang kondisi Papah dan Mommy-nya yang berpisah ke Marshall. Sesuatu yang s...