Aku kini hanya bisa berdiri di dalam ruangan, bayangan diriku muncul dari berbagai cermin yang memantul di berbagai sudut di dalam ruangan itu. Ketika Noni Belanda itu muncul secara perlahan, bayangan-bayanganku itu mulai berubah, aku hanya bisa menelan ludah ketika mereka semua menyeringai, dan b
Akhirnya, aku kembali ke lantai empat ini. Entah mengapa, leherku terasa sakit ketika aku kembali, bayangan tentang sosok itu yang melukai leherku dari dalam cermin, membuatku merasakan kembali rasa perih yang aku rasakan ketika aku kembali menginjak lantai ini. Padahal, tidak ada darah yang kel
BAB 22 - MENUJU SUBUH Setelah aku sedang beristirahat di pos, Pak Dudi akhirnya keluar dari dalam rumah sakit, dia menggerutu karena pintu lobi tertutup rapat, sehingga dia harus keluar dari ruang kebersihan sekarang. Aku yang mendengarkan dia menggerutu akhirnya terbangun di pos, dan Pak Dudi yan
BAB 21 - TERSENYUM Aku panik, benar-benar panik, Aku tahu Pak Dudi itu orang yang berani, tapi kita tidak boleh meremehkan apa yang ada di dalam sana. Aku takut kejadian yang menimpa Pak Tisna dan juga kakak terjadi lagi pada malam ini. Aku berlari dengan cepat menuju halaman lobi dengan jantu
Aku dan Pak Dudi pun akhirnya berjabat tangan, tubuhnya yang tegap itu membuat genggaman tangannya sangat kuat. Pak Dudi ini benar-benar berbeda dari Pak Tisna, posturnya benar–benar tegap, seragamnya bersih, dan dari caranya berdiri saja, dia sudah memancarkan aura disiplin dan percaya diri yang
mohon maaf, awalnya hari ini ane upload bab baru namun mendadak jam 12 siang tadi ada masalah yang harus saya selesaikan, dan hingga saat ini belum selesai. Sehingga sepertinya dipending ke besok untuk uploadnya ya
BAB 19 - BUKU CATATAN DAN PANGGILAN PUTUS ASA Di pagi itu, aku akhirnya berjalan di lorong rumah sakit yang agak sedikit terang karena sinar matahari. Apa yang aku alami pada saat itu membuat kepalaku benar-benar pusing. Aku tidak bisa berjalan dengan benar, punggungku terasa sakit dan kaku, dan
Entah apa yang terjadi ketika aku tidak sadarkan diri disana, namun ketika kedua mataku terpejam, aku tiba-tiba mendengar sebuah suara dari beberapa orang yang berjalan. Suaranya sangat menggema, sehingga membuat kedua mataku terbuka secara perlahan pada saat itu. Pertama kali aku membuka mata, l
Bruak! Aku tiba-tiba terjatuh, tepatnya ketika aku berlari dari arah pemakaman dan kembali ke koridor antara penghubung Gedung B dan Gedung A. Napasku benar-benar terasa berat, kedua lututku bergetar dengan hebat, dan aku tidak menyangka bahwa ada sesuatu yang membuatku langsung berlari seperti i
Kini, aku berdiri di depan pintu yang menjadi sebuah pintu keluar menuju pemakaman yang ada di Gedung B. Di kedua tanganku, ada sebuah termos kecil yang sudah diisi dengan air panas, lalu di dalam tas yang aku bawa, ada sekantong bubuk kopi hitam, beberapa batang rokok, dan peralatan lain yang ak