Aku benar-benar tidak berani bergerak, bahkan untuk sekedar menarik napas yang dalam. Setiap gerakan yang aku akan lakukan terasa sangat beresiko. Aku takut, takut mereka tahu bahwa ada aku yang sedang bersembunyi di balik ambulan yang sedang terparkir ini. Sosok-sosok yang menyeramkan itu terlih...
Tepat jam dua dini hari, akhirnya kita sampai di Makam Gawir Jurig, mobil yang kita kendarai harus menembus jalanan yang berliku dan berbelok tajam, beberapa kali aku harus berhati-hati karena jalanan yang kita lewati adalah punggung gunung dengan jurang yang ada di sisi kiri jalan. Kabut tebal k
Usep yang tadi turun terlebih dahulu akhirnya berjalan melewati warung dan keluar melewati pintu belakang untuk masuk ke dalam kamar mandi yang letaknya terpisah dari warung yang berada di depan. Kamar mandi yang ada di belakang warung itu terlihat kecil dan sempit, hanya ada satu cahaya lampu lima
Suara sirine ambulan terdengar ketika aku masih berdiri di kamar mayat yang dingin dan kelam dengan lampu yang redup di sekelilingnya. Terlihat pula, Bunga yang masih berdiri tanpa pernah bergerak satu jengkal pun dari tempatnya, dan Usep yang berdiri bersamaku hanya menatap amplop coklat yang ada
Jujur, aku sendiri masih bingung dengan hal ini sehingga aku hanya bisa terdiam, mengantar jenazah ini sepertinya akan berbeda dengan apa yang sering aku lakukan ketika menjadi sopir ambulan. Namun, di tengah-tengah kebingungan itu, Pak Rizal kembali berkata kepadaku dengan senyuman tipisnya. “Ak
Aku ingat, malam itu begitu dingin, angin malam berhembus kencang, menerpa jendela-jendela rumah sakit yang tampak usang di bawah cahaya bulan. Sebuah ruangan kecil di sudut rumah sakit yang kini aku tempati sebagai tempat bertugas, terasa semakin sempit dan mencekam. Aku tertidur di dalam sebua
https://s.kaskus.id/images/2026/01/06/1454678_20260106025347.png KEMBALI LAGI DENGAN JURIGCIWIDEY KALI INI KITA AKAN MENEMANI 2 SUPIR JENAZAH YANG HARUS MENGANTARKAN JENAZAH MISTERIUS SEBELUM MULAI, AGAN-AGAN BISA BACA JUGA CERITA ANE YANG LAIN YA RARASUKMA, DESA KOLONG MAYIT (SEDANG PROSES ADAPATA
Aku ingat, malam itu begitu dingin, angin malam berhembus kencang, menerpa jendela-jendela rumah sakit yang tampak usang di bawah cahaya bulan. Sebuah ruangan kecil di sudut rumah sakit yang kini aku tempati sebagai tempat bertugas, terasa semakin sempit dan mencekam. Aku tertidur di dalam sebu
Sekarang, aku kembali berada di dalam rumah sakit, bukan rumah sakit lama yang terbengkalai itu, tapi rumah sakit Wangsa Medika yang baru. Ruangan yang aku tempati ini benar-benar asing, dindingnya tampak bersih dengan cat putih yang terang, lalu ada aroma antiseptik yang lembut dengan cahaya lamp
Aku benar-benar tidak mengerti atas apa yang terjadi di depan sana, aku hanya bisa melihat Dayat dan Bu Rina saling berteriak dengan wajah yang panik pada saat itu. Sebuah firasat buruk yang tadi sempat aku rasakan ketika di dalam lorong bawah tanha itu, kini menjadi kenyataan, dan aku harus sege...
Sepertinya, belati dan semua kekacauan ini harus diakhiri oleh keluarga Wangsa. Yang berarti, Pak Wijaya harus ikut dalam hal ini. Dia tidak bisa diam saja melihat semua teror yang ada di dalam rumah sakit ini, menghindar memang satu-satunya cara, apalagi kini dia mengelola Rumah Sakit Wangsa Medi
Detak jantungku sendiri berdetak dengan kencang ketika melihat pemandangan yang ada di dalam ruangan ini. Sebenarnya, apa yang terjadi di dalam ruangan ini pada masa lalu. Aku hanya bisa diam dan melihat sebuah saksi bisu dari sebuah tragedi yang menjadi teror bagi rumah sakit itu hingga sekarang