- Beranda
- Stories from the Heart
Pujaan Hati
...
TS
c4punk1950...
Pujaan Hati

Quote:
BAB 1: PERTEMUAN DI BAWAH HUJAN
Langit Jakarta sore itu seolah tumpah. Hujan deras turun tanpa ampun, mengubah jalanan protokol menjadi sungai aspal yang macet total. Di bahu jalan yang agak gelap, sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik terparkir dengan lampu darurat yang berkedip lesu.
Di dalamnya, Wati duduk dengan gelisah. Ia berkali-kali mencoba menghidupkan mesin mobilnya, namun hanya suara batuk mesin yang terdengar. Ia menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya di setir yang dibalut kulit premium.
"Sempurna," gumamnya sinis. "Andi tidak mengangkat telepon, supir sedang izin pulang kampung, dan sekarang aku terjebak di antah berantah."
Wati melirik jam tangan Cartier di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam tujuh malam. Andi, suaminya, pasti sudah berada di ruang kerjanya yang kedap suara, tenggelam dalam angka-angka saham dan laporan tahunan, tak peduli apakah istrinya sudah sampai di rumah atau belum.
Tiba-tiba, kaca jendela mobilnya diketuk pelan. Wati terlonjak kaget. Di luar, seorang pria berdiri dengan jaket lusuh yang sudah basah kuyup. Pria itu memberi isyarat agar Wati menurunkan kaca jendela sedikit.
Dengan ragu dan sedikit takut, Wati menurunkannya hanya beberapa sentimeter.
"Mobilnya mogok, Nyonya?" tanya pria itu. Suaranya berat namun terdengar sopan, mengalahkan deru hujan.
"I-iya. Sepertinya mesinnya kepanasan atau ada masalah dengan akinya," jawab Wati gugup.
Pria itu tersenyum tipis, memperlihatkan gurat wajah yang tegas dan tampan meski rambutnya berantakan karena air. "Boleh saya bantu periksa? Saya mengerti sedikit soal mesin. Daripada Nyonya menunggu derek di cuaca seperti ini, bisa berjam-jam."
Wati menimbang sejenak. Melihat wajah pria itu yang tampak jujur, ia akhirnya membuka kap mobil dari dalam. Pria itu, yang tak lain adalah Budi, segera bekerja. Ia membiarkan tubuhnya dihajar hujan deras demi memeriksa mesin mobil asing itu.
Sepuluh menit berlalu. Budi kembali ke jendela Wati, menyeka air dari matanya.
"Coba nyalakan lagi, Nyonya. Ada kabel yang longgar, sepertinya terkena guncangan tadi."
Wati memutar kunci kontak. Vroom! Mesin mobil itu menderu halus. Wajah Wati seketika cerah. Ia segera meraih tas tangannya, mengambil dompet, dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu rupiah.
"Terima kasih banyak. Ini... tolong terima sebagai tanda terima kasihku," ucap Wati sambil menyodorkan uang itu melalui celah jendela.
Budi menatap uang itu, lalu menatap Wati. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum. "Simpan saja uangnya, Nyonya. Saya tidak butuh uang Anda. Saya hanya tidak tega melihat seorang wanita sendirian di tengah badai begini. Bahaya."
Wati terpaku. Selama ini, dunianya selalu berputar pada transaksi. Andi memberinya uang jika ia butuh sesuatu, dan orang-orang menghormatinya karena apa yang ia miliki. Baru kali ini ada seseorang yang menatapnya bukan sebagai "Istri Andi yang kaya", tapi sebagai manusia yang butuh bantuan.
"Tapi baju Anda basah kuyup..." Wati merasa bersalah.
"Hanya air, nanti juga kering," sahut Budi ringan. "Nama saya Budi. Hati-hati di jalan, Nyonya. Jalannya licin."
Budi baru saja hendak melangkah pergi ketika Wati tiba-tiba bersuara.
"Nama saya Wati."
Budi menoleh, mengangguk hormat, lalu menghilang di balik kegelapan malam dan tirai hujan. Wati terdiam di dalam mobilnya yang kini hangat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, jantungnya berdegup dengan cara yang berbeda—bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang ia sendiri belum bisa jelaskan.
BAB 2: SANGKAR EMAS YANG DINGIN
Gerbang besi otomatis setinggi tiga meter terbuka perlahan, menyambut sedan hitam Wati masuk ke pelataran rumah megah bergaya klasik modern di kawasan Menteng. Lampu-lampu taman yang temaram menerangi pilar-pilar kokoh, namun bagi Wati, rumah itu lebih mirip sebuah monumen sunyi daripada tempat tinggal.
Wati melangkah masuk. Lantai marmer Italia yang dingin menyapa telapak kakinya. Seorang pelayan segera menghampiri.
"Nyonya, Bapak sudah di ruang kerja. Beliau berpesan agar Nyonya langsung makan malam sendiri, Bapak masih ada rapat virtual dengan kolega di London," lapor pelayan itu dengan kepala tertunduk.
Wati menghela napas. "Terima kasih, Bi. Saya tidak lapar."
Ia menaiki tangga menuju ruang kerja suaminya. Di balik pintu jati yang tertutup rapat, terdengar suara bariton Andi yang sedang berbicara dengan nada tegas dalam bahasa Inggris. Wati mengetuk pintu pelan, lalu masuk tanpa menunggu jawaban.
Andi duduk di balik meja kerja mahoni yang luas. Di depannya terdapat tiga layar monitor yang menampilkan grafik saham dan wajah-wajah pria asing. Ia hanya melirik Wati sekilas tanpa memutus pembicaraannya.
"Wait a moment, George," ucap Andi pada layar, lalu menekan tombol mute. Ia menatap Wati dengan datar. "Kenapa baru pulang? Dan kenapa rambutmu sedikit basah?"
"Mobilku mogok di jalan, Mas. Untung ada seseorang yang membantu," jawab Wati, berharap ada sedikit rasa khawatir di mata suaminya.
Andi mengerutkan kening, tapi bukan karena cemas. "Mogok? Besok aku suruh orang bengkel ambil. Pakai saja mobil yang satu lagi. Lain kali kalau ada masalah, telepon supir kantor, jangan biarkan orang asing menyentuh mobil kita. Berbahaya bagi reputasi."
"Reputasi? Aku hampir terjebak dua jam di tengah hujan deras, Mas. Aku bisa saja dirampok!" suara Wati sedikit meninggi.
Andi menghela napas panjang, seolah keluhan istrinya adalah gangguan kecil yang menyebalkan. Ia meraih sebuah kotak beludru kecil dari laci meja dan menggesernya ke arah Wati.
"Buka itu. Aku membelikannya saat di Singapura kemarin. Berlian blue sapphire edisi terbatas. Pakai itu untuk gala bisnis besok malam. Aku ingin kau tampil sempurna sebagai istriku."
Wati membuka kotak itu. Kilau berlian itu sangat menyilaukan, namun terasa sedingin es.
"Terima kasih, Mas," ucap Wati lirih.
"Ya sudah, sana istirahat. Aku masih sibuk. Jangan tunggu aku tidur," tutup Andi sembari kembali menyalakan mikrofon dan larut dalam dunianya lagi.
Wati keluar dari ruangan itu dengan perasaan hampa. Ia masuk ke kamar mandi, menyalakan pancuran air hangat, dan membiarkan uap memenuhi ruangan. Namun, pikirannya justru melayang kembali ke jalanan yang gelap dan basah tadi.
Ia teringat senyum Budi. Pria itu tidak memberinya berlian, bahkan bajunya pun compang-camping. Tapi cara Budi menatapnya tadi terasa lebih tulus daripada cara Andi menatapnya selama lima tahun pernikahan mereka.
Wati menyentuh lehernya yang kosong. Berlian itu masih tergeletak di kotak di atas meja rias. Di titik itu, Wati menyadari sesuatu yang menakutkan: kekayaan suaminya mungkin bisa membeli segalanya, tapi tidak bisa membeli rasa hangat yang baru saja ia rasakan dari seorang pria asing di pinggir jalan.
BAB 3: PESAN SINGKAT YANG MEMATIKAN
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden sutra di kamar Wati, namun suasana hatinya tetap mendung. Di atas meja rias, kartu nama mungil yang ia temukan di dasbor mobilnya—kartu nama bengkel kecil tempat Budi bekerja—seolah memanggil-manggilnya. Budi sempat meninggalkan kartu itu semalam, berjaga-jaga jika mesin mobilnya bermasalah lagi sebelum sampai rumah.
Wati memandangi deretan angka di kartu itu. Jari-jarinya gemetar saat membuka aplikasi pesan di ponselnya.
"Ini Wati, yang semalam mobilnya mogok. Saya hanya ingin memastikan, apa Anda sampai di rumah dengan selamat? Baju Anda sangat basah semalam."
Wati segera membalikkan ponselnya, jantungnya berdegup kencang seperti remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali. "Apa yang aku lakukan?" bisiknya pada diri sendiri. Ia adalah istri seorang konglomerat, tidak seharusnya ia mengirim pesan pada seorang mekanik jalanan.
Lima menit berlalu. Ponselnya bergetar.
Budi: "Selamat pagi, Nyonya. Saya sehat. Hanya sedikit flu, tapi sudah biasa. Senang mendengar mobil Anda baik-baik saja."
Membaca kata "flu", perasaan bersalah sekaligus perhatian muncul di benak Wati. Tanpa berpikir panjang, ia membalas lagi.
"Saya merasa bertanggung jawab. Bisa kita bertemu? Saya ingin membawakan sesuatu sebagai ucapan terima kasih yang lebih layak."
Budi: "Tidak perlu, Nyonya. Bantuan saya tulus."
Wati: "Tolong, Budi. Sekali saja. Di kafe kecil dekat bengkel Anda jam 4 sore ini?"
Ada jeda cukup lama sebelum Budi akhirnya membalas dengan satu kata singkat: "Baik."
Sore harinya, Wati meminta supirnya mengantarnya ke sebuah butik, namun setelah supir itu pergi, ia diam-diam memesan taksi daring menuju alamat bengkel yang tertera di kartu nama tersebut. Ia melepaskan semua perhiasannya dan hanya mengenakan gaun sederhana agar tidak terlalu mencolok.
Kafe itu sangat kecil dan panas, jauh dari standar restoran bintang lima yang biasa ia kunjungi. Budi sudah menunggu di sana, mengenakan kaos polos bersih yang membungkus tubuh atletisnya. Wajahnya yang ganteng tampak lebih segar, meski hidungnya sedikit memerah karena flu.
"Nyonya Wati," sapa Budi sambil berdiri.
"Panggil Wati saja," ucap Wati sambil duduk di kursi plastik yang keras. Ia meletakkan sebuah kantong kecil berisi obat-obatan import dan vitamin mahal di meja. "Ini untuk flumu."
Budi menatap kantong itu, lalu menatap mata Wati. "Anda terlalu baik untuk orang seperti saya."
"Dan kau terlalu tulus untuk dunia yang biasa aku tinggali," balas Wati jujur.
Percakapan yang awalnya kaku perlahan mencair. Budi bercerita tentang hidupnya yang sederhana di pinggiran kota, tentang mimpinya memiliki bengkel sendiri, dan bagaimana ia menikmati kopi tubruk di pagi hari. Wati mendengarkan dengan takjub. Baginya, mendengar seseorang berbicara tentang "mimpi" dan "kebahagiaan sederhana" adalah hal yang sangat mewah.
Tanpa terasa, dua jam berlalu. Bagi Wati, berbicara dengan Budi terasa seperti menghirup oksigen segar setelah sekian lama tercekik dalam debu emas rumah tangganya.
"Aku harus pulang," ucap Wati berat hati.
"Suami Anda pasti menunggu," ujar Budi pelan, ada nada getir yang terselip di sana.
Wati tersenyum pahit. "Dia tidak pernah menungguku. Dia hanya menunggu laporan keuangan."
Saat mereka berdiri untuk berpisah, tangan Budi tak sengaja menyentuh jemari Wati saat hendak menggeser kursi. Sentuhan itu singkat, namun aliran listriknya seolah membakar jiwa mereka berdua. Mereka saling bertatapan, menyadari bahwa pesan singkat tadi pagi telah membuka pintu menuju sesuatu yang berbahaya—sesuatu yang disebut cinta terlarang.
BAB 4: RAHASIA DI KAFE PINGGIRAN
Hari-hari berikutnya bagi Wati adalah sebuah kepura-puraan yang melelahkan. Di depan Andi, ia tetap menjadi istri pajangan yang sempurna—menghadiri jamuan makan malam, tersenyum pada kamera, dan mengenakan gaun-gaun desainer seharga ratusan juta. Namun, pikirannya selalu tertinggal di sebuah kafe kecil beratap seng di sudut kota yang kumuh.
Wati mulai mengatur jadwal pertemuannya dengan Budi dengan sangat rapi. Ia memanfaatkan waktu di mana Andi sedang bermain golf atau rapat di luar kota.
Sore itu, mereka kembali bertemu di tempat yang sama. Suasana kafe itu riuh dengan suara knalpot motor yang melintas, namun bagi mereka, dunia terasa sunyi.
"Kenapa kau kembali lagi, Wati?" tanya Budi sambil menyesap kopi hitamnya. "Hidup kita ini seperti minyak dan air. Tidak seharusnya kau ada di sini, menghirup asap knalpot bersamaku."
Wati menatap tangannya yang halus di atas meja kayu yang bopeng. "Di sini aku bisa bernapas, Budi. Di rumah, oksigenku terasa mahal tapi menyesakkan. Semalam Andi baru saja membelikan lukisan seharga satu miliar, tapi dia bahkan tidak tahu kalau aku sedang sedih karena mawar di taman mati."
Budi menatap wajah Wati dengan lekat. Ada luka yang tersembunyi di balik riasan wajahnya yang sempurna. "Uang memang bisa membangun istana, tapi dia tidak bisa membangun kehangatan di dalamnya."
"Lalu, apa yang membuatmu bahagia, Budi? Dengan hidup yang... sesederhana ini?" tanya Wati penasaran.
Budi terkekeh pelan, suara tawanya terdengar renyah dan jujur. "Bisa makan tiga kali sehari, melihat ibu saya tersenyum di kampung saat saya kirim uang, dan... duduk di sini menatapmu. Itu lebih dari cukup."
Pipi Wati merona merah. Belum pernah ada pria yang mengatakannya sefrontal itu tanpa maksud tersembunyi.
"Kau tahu," lanjut Budi, suaranya merendah, "setiap kali kau pulang dan masuk ke mobil mewah itu, aku selalu merasa seperti pencuri. Aku mencuri waktu dari pria yang punya segalanya, padahal aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan padamu."
Wati memberanikan diri meraih tangan Budi. Telapak tangan pria itu kasar, penuh dengan bekas luka kecil akibat pekerjaan mesin, sangat kontras dengan tangan Andi yang selalu bersih dan berbau sanitaiser.
"Kau menawarkan sesuatu yang tidak dia punya, Budi," bisik Wati. "Kau menawarkan dirimu yang asli. Bukan jabatanmu, bukan hartamu."
Tiba-tiba, ponsel Wati bergetar di atas meja. Layarnya menampilkan nama: Suamiku.
Wati tersentak, refleks melepaskan tangan Budi. Ketakutan menyergapnya. Ia melihat ke sekeliling kafe, merasa seolah-olah ada mata yang mengawasi dari balik kaca-kaca toko yang kusam.
"Halo, Mas?" suara Wati bergetar saat mengangkat telepon.
"Kau di mana? Aku di depan butik, supir bilang kau sudah pergi satu jam yang lalu dengan taksi," suara Andi terdengar curiga dan tajam di ujung telepon.
Wati melirik Budi yang kini menunduk, menyadari posisinya. "Aku... aku sedang di toko buku, Mas. Aku butuh referensi untuk dekorasi taman. Aku akan segera ke sana."
Wati menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia menatap Budi dengan tatapan penuh permohonan maaf. "Aku harus pergi."
"Pergilah," ucap Budi pelan tanpa melihat ke arahnya. "Kembalilah ke tempatmu yang seharusnya."
Wati pergi dengan terburu-buru, meninggalkan Budi yang terpaku menatap sisa kopi di gelasnya. Di dalam taksi menuju pusat kota, Wati menangis dalam diam. Ia menyadari bahwa rahasia ini mulai menjadi beban yang berat, namun ia juga tahu bahwa ia tidak sanggup jika harus berhenti menemui Budi.
BAB 5: SENTUHAN YANG BERBAHAYA
Dua minggu telah berlalu sejak insiden telepon dari Andi. Bukannya menjauh, rasa takut kehilangan justru membuat Wati semakin nekat. Ia merindukan Budi seperti pecandu yang merindukan dosisnya. Baginya, Budi adalah pelarian dari hidupnya yang serba mekanis.
Sore itu, hujan kembali membasuh kota, namun kali ini Wati tidak menemui Budi di kafe. Ia nekat mendatangi kontrakan sempit Budi di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu motor. Ia turun dari taksi di ujung gang, membiarkan gaun sutra mahalnya terkena cipratan air parit yang keruh.
Saat pintu kayu yang mulai lapuk itu diketuk, Budi terperangah. Ia baru saja selesai mandi, hanya mengenakan kaos dalam dan celana kain panjang.
"Wati? Kenapa kau ke sini? Ini tempat kumuh, tidak pantas untukmu," ucap Budi panik sambil mencoba merapikan ruangan satu petak itu yang hanya berisi kasur tipis, sebuah lemari kecil, dan kipas angin yang berderit.
"Aku tidak peduli, Budi," suara Wati parau. Ia masuk dan menutup pintu, membiarkan suara hujan di luar menjadi latar belakang kesunyian di antara mereka. "Andi pergi ke London selama seminggu. Tapi meski dia di rumah pun, aku merasa sendirian."
Budi menatap Wati yang tampak rapuh. "Kau bermain api, Wati. Kalau Andi tahu, dia akan menghancurkanku, dan dia akan membuangmu."
"Biarkan saja dia membuangku!" seru Wati, air mata mulai mengalir. "Aku lelah berpura-pura bahagia di depan kamera. Aku lelah menjadi perhiasan yang hanya dipajang saat dia butuh pengakuan dari kolega bisnisnya."
Budi melangkah mendekat. Ia ingin menghibur, tapi ia tahu jarak di antara mereka terlalu lebar. Namun, melihat Wati yang hancur, pertahanannya runtuh. Ia mengulurkan tangannya yang kasar, menyentuh pipi Wati dengan sangat lembut—seolah takut kulit wanita itu akan lecet karena sentuhannya.
"Jangan menangis," bisik Budi. "Pria sepertiku tidak sanggup melihat wanita sepertimu terluka karena aku."
Wati memejamkan mata, menikmati kehangatan tangan Budi. Sentuhan itu berbeda. Tidak ada tuntutan, tidak ada paksaan. Hanya ada ketulusan. Wati kemudian menggenggam tangan Budi dan menariknya lebih dekat.
"Budi, kenapa tanganmu yang kasar ini terasa jauh lebih nyaman daripada sutra di rumahku?" bisik Wati di depan dada Budi.
Budi terdiam, nafasnya memburu. Aroma parfum mahal Wati memenuhi ruangan sempit itu, beradu dengan bau sabun murah yang dipakai Budi. Di bawah sinar lampu bohlam 5 watt yang temaram, Budi memberanikan diri memeluk Wati.
Itu adalah pelukan pertama mereka. Sebuah pelukan yang melanggar semua norma dan batas kasta. Bagi Budi, memeluk Wati terasa seperti menggenggam mimpi yang ia tahu akan segera hilang saat fajar tiba. Sedangkan bagi Wati, pelukan itu adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar "hidup".
"Aku mencintaimu, Budi," ucap Wati lirih.
Budi tertegun. Kata-kata itu terasa seperti beban yang sangat berat di pundaknya. "Kau mencintai ide tentang kebebasan, Wati. Bukan mencintai kemiskinanku."
"Tidak, aku mencintaimu," tegas Wati sambil mendongak, menatap mata tajam Budi.
Budi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menunduk dan mencium kening Wati dengan lama. Itu adalah sentuhan yang berbahaya, sebuah janji tanpa masa depan yang mulai mengikat mereka dalam jaring-jaring dosa yang sulit dilepaskan.
#Bersambung
Part 1
Part 2
Part 3
Terima kasih yang sudah membaca thread ini sampai akhir, bila ada kritik silahkan disampaikan dan semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat dan merdeka. See u next thread.


"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2026
referensi : Gemini
Pic : google







"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2026
referensi : Gemini
Pic : google





Diubah oleh c4punk1950... 08-05-2026 11:14
jenggalasunyi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
516
6
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya