Sumber Gambar:Koleksi pribadi Miss Rora
Shalom Aleichem!
Selamat pagi Agan dan Sista semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Miss Rora, akan menjelaskan tentang 3 perilaku yang bikin “sungguh sulit hati biarkan”

.
Gan/Sist, dalam kehidupan sosial, tidak semua perilaku orang lain mudah kita terima begitu saja. Ada tipe-tipe orang tertentu yang membuat orang di sekitarnya merasa lelah secara emosional, frustrasi, bahkan kehilangan energi untuk terus bersikap positif. Dalam bahasa sehari-hari, Agan atau Sista mungkin mengatakan dengan kalimat “Sungguh sulit hati biarkan”.
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan emosional. Kalimat ini menggambarkan kondisi psikologis ketika seseorang terus-menerus memikirkan perilaku orang lain yang menyakitkan, tidak adil, atau tidak bertanggung jawab. Akibatnya, energi pikiran terkuras, pikiran sulit tenang, dan hubungan sosial menjadi tidak sehat.
Secara ilmiah, kondisi ini berkaitan dengan stres interpersonal dan konflik relasional. Penelitian menunjukkan bahwa stres akibat hubungan sosial yang bermasalah dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik (Cohen, 2004). Berikut ini tiga tipe orang yang sering membuat “sungguh sulit hati biarkan”, dilihat dari sudut pandang psikologi sosial dan kesehatan mental.
Quote:
1. Orang yang Beraninya Hanya kepada Orang yang Tidak Bisa Melawan
Tipe pertama adalah orang yang menunjukkan keberanian atau agresi hanya kepada pihak yang lebih lemah atau tidak mampu membela diri. Dalam psikologi, perilaku ini dikenal sebagai bullying atau agresi asimetris.
Mengapa perilaku ini terjadi? Menurut teori dominasi sosial, sebagian individu terdorong untuk mempertahankan hierarki kekuasaan dengan cara menekan pihak yang dianggap lebih lemah (Sidanius & Pratto, 1999). Orang seperti ini biasanya tidak benar-benar kuat. Mereka justru mencari target yang tidak berisiko untuk dilawan.
Perilaku ini sering muncul dalam lingkungan sekolah (senior terhadap junior atau antar teman sekelas), tempat kerja (atasan yang menyalahgunakan jabatan), dan lingkungan keluarga (anggota keluarga yang dominan terhadap yang lebih rentan).
Olweus (1993), pelopor riset bullying, menjelaskan bahwa pelaku bullying cenderung memiliki kebutuhan akan kontrol dan kekuasaan. Mereka mendapatkan kepuasan psikologis dari dominasi, bukan dari keadilan.
Korban agresi asimetris berisiko mengalami penurunan rasa percaya diri, kecemasan dan depresi, serta gangguan stres jangka panjang.
Penelitian oleh Hawker dan Boulton (2000) menunjukkan bahwa korban bullying memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan individu yang tidak mengalami bullying.
Yang membuat “sungguh sulit hati biarkan” adalah ketidakadilan yang terasa sangat jelas. Orang lain melihat ketimpangan, tetapi pelaku tetap merasa benar karena korbannya tidak melawan. Situasi ini menciptakan frustrasi kolektif.
Quote:
2. Orang yang Tidak Bisa Melindungi Orang Lain yang Disakiti
Tipe kedua bukan pelaku agresi, melainkan orang yang memilih diam ketika melihat ketidakadilan. Mereka mungkin memiliki kekuatan, posisi, atau pengaruh untuk membantu, tetapi memilih untuk tidak bertindak.
Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai
bystander effect. Penelitian klasik oleh Latané dan Darley (1970) menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang menyaksikan suatu kejadian, semakin kecil kemungkinan masing-masing orang untuk bertindak membantu.
Mengapa orang diam? Ada beberapa faktor yang memengaruhi, yaitu difusi tanggung jawab (merasa orang lain pasti akan membantu), takut konsekuensi sosial (khawatir akan dikucilkan), dan ketidakpastian (ragu apakah situasi tersebut benar-benar membutuhkan intervensi).
Namun, dari sisi korban, diamnya orang lain sering kali terasa seperti pengkhianatan. Studi oleh Twenge et al. (2001) menunjukkan bahwa penolakan sosial dan pengabaian dapat menimbulkan rasa sakit psikologis yang signifikan.
Ketika seseorang melihat orang lain disakiti dan tidak ada yang membela, akan muncul rasa marah, kecewa, dan kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan.
Hal inilah yang membuat hati sulit membiarkan. Bukan hanya karena adanya pelaku, melainkan karena sistem sosial seolah membiarkan ketidakadilan berlangsung.
Diam dalam situasi tertentu mungkin dianggap netral, tetapi dalam konteks ketidakadilan, diam sering kali berarti berpihak secara tidak langsung.
Quote:
3. Orang yang Selalu Menghilang dan Bersembunyi Saat Ada Masalah
Tipe ketiga adalah orang yang tidak pernah hadir ketika tanggung jawab dibutuhkan. Saat situasi berjalan lancar, mereka ada. Namun, ketika konflik muncul, mereka menghilang.
Dalam psikologi kepribadian, perilaku ini berkaitan dengan
avoidant coping, yaitu strategi menghindar dalam menghadapi stres (Carver & Connor-Smith, 2010).
Ciri-Ciri orang tipe ini, yaitu menghindari percakapan penting, tidak merespons pesan ketika ada konflik, menyalahkan keadaan tanpa mengambil tanggung jawab, dan mengalihkan pembicaraan ketika diminta klarifikasi
Strategi menghindar memang dapat mengurangi stres dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, perilaku ini justru memperburuk hubungan sosial dan meningkatkan konflik yang tidak terselesaikan.
Penelitian menunjukkan bahwa gaya pertahanan diri dengan cara menghindar berkaitan dengan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi dalam jangka panjang (Holahan et al., 2005).
Mengapa perilaku ini membuat orang lelah? Karena tanggung jawab menjadi timpang. Satu pihak terus berusaha menyelesaikan masalah, sementara pihak lain menghilang. Akibatnya, muncul beban emosional yang tidak seimbang.
Fenomena ini sering terjadi dalam hubungan pertemanan, hubungan kerja tim, hubungan romansa, dan hubungan keluarga. Ketika seseorang terus-menerus menghindar, pihak lain akan merasa sendirian dalam memikul konsekuensi. Inilah yang membuat hati sulit benar-benar membiarkan.
Quote:
Mengapa 3 Perilaku Ini Menguras Energi Mental?
Cohen (2004) menjelaskan bahwa stres interpersonal adalah salah satu prediktor kuat gangguan kesehatan mental. Konflik sosial yang tidak terselesaikan memicu respons stres kronis, yang berdampak pada peningkatan hormon stres, gangguan tidur, penurunan konsentrasi, dan gangguan sistem imun. Selain itu, konflik yang tidak memiliki resolusi menciptakan
rumination, yaitu kecenderungan untuk terus memikirkan kejadian menyakitkan berulang kali (Nolen-Hoeksema, 2000). Inilah yang membuat hati sulit membiarkan, karena pikiran terus kembali kepada ketidakadilan tersebut.
Quote:
Bagaimana Cara Menyikapinya Secara Sehat?
Meskipun kita tidak bisa mengubah semua orang, ada beberapa pendekatan psikologis yang dapat membantu:
1) Menetapkan batasan yang jelas
Assertiveness training terbukti membantu seseorang menjaga kesehatan psikologis dalam hubungan sosial (Speed et al., 2018).
2) Menghindari keterlibatan dalam dinamika tidak sehat
Tidak semua konflik perlu direspons secara emosional.
3) Mengembangkan empati tanpa mengorbankan diri
Memahami bahwa perilaku orang lain sering kali dipengaruhi oleh sikap yang tidak dewasa secara emosional.
4) Mencari dukungan sosial
Dukungan sosial terbukti menjadi faktor protektif terhadap stres (Cohen & Wills, 1985).
Quote:
PENUTUP
“Sungguh sulit hati biarkan” bukan sekadar ungkapan perasaan. Kalimat ini mencerminkan dinamika psikologis yang nyata dalam hubungan sosial.
Tiga tipe orang yang sering menjadi sumber kelelahan emosional adalah mereka yang hanya berani menyerang kepada pihak yang lemah, mereka yang diam saat ketidakadilan terjadi, dan mereka yang menghilang saat tanggung jawab dibutuhkan.
Memahami fenomena ini secara ilmiah membantu kita melihat bahwa respons emosional kita bukan kelemahan. Fenomena ini adalah reaksi wajar terhadap ketidakseimbangan sosial dan ketidakadilan.
Yang terpenting, menjaga kesehatan mental bukan berarti membiarkan perilaku yang tidak sehat, melainkan memilih respons yang lebih bijak dan adaptif.
Semoga thread ini bisa memberi wawasan baru, dan membantu Agan dan Sista memahami mengapa ada perilaku manusia tertentu yang begitu sulit untuk sekadar dibiarkan.
Quote:
SUMBER
Carver, C. S., & Connor-Smith, J. (2010). Personality and coping.
Annual Review of Psychology,
61, 679–704.
Cohen, S. (2004). Social relationships and health.
American Psychologist,
59(8), 676–684.
Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering hypothesis.
Psychological Bulletin,
98(2), 310–357.
Hawker, D. S. J., & Boulton, M. J. (2000). Twenty years’ research on peer victimization and psychosocial maladjustment.
Journal of Child Psychology and Psychiatry,
41(4), 441–455.
Holahan, C. J., Moos, R. H., Holahan, C. K., Brennan, P. L., & Schutte, K. K. (2005). Stress generation, avoidance coping, and depressive symptoms.
Journal of Consulting and Clinical Psychology,
73(4), 658–666.
Latané, B., & Darley, J. M. (1970).
The unresponsive bystander: Why doesn’t he help? New York: Appleton-Century-Crofts.
Nolen-Hoeksema, S. (2000). The role of rumination in depressive disorders.
Journal of Abnormal Psychology,
109(3), 504–511.
Olweus, D. (1993).
Bullying at school: What we know and what we can do. Oxford: Blackwell.
Sidanius, J., & Pratto, F. (1999).
Social dominance: An intergroup theory of social hierarchy and oppression. Cambridge University Press.
Speed, B. C., Goldstein, B. L., & Goldfried, M. R. (2018). Assertiveness training: A forgotten evidence-based treatment.
Clinical Psychology: Science and Practice,
25(1), e12216.
@aldo12 @itkgid @multimedia.ptrt