- Beranda
- Stories from the Heart
[CERPEN RELIGI] Elegi Untuk Pemberi Hidup
...
TS
aurora..
[CERPEN RELIGI] Elegi Untuk Pemberi Hidup
Langit Jakarta sore itu berwarna jingga pucat, seolah terbakar ambisi yang tidak pernah padam. Dari jendela lantai tiga ruko kecilnya, Sandra memandangi jalanan yang macet, klakson yang bersahutan, dan manusia-manusia yang berjalan cepat seperti sedang dikejar waktu.
Usia Sandra 25 tahun. Di usia yang bagi sebagian orang adalah masa pencarian tujuan hidup, Sandra sudah memimpin sebuah usaha pakaian wanita bernama Krasnaya Outfits. Brand berbahasa Rusia itu Sandra bangun sejak ia lulus kuliah. Modalnya adalah modal nekat, dan modal doa-doa ibunya yang kini terasa semakin jauh.
“Sandra, kamu itu perempuan. Kalau kamu nggak sukses sekarang, nanti orang bilang apa?” ucap tantenya, suaranya masih terngiang
“Adikmu sudah kerja di bank. Kamu jangan sampai kalah. Masa bisanya cuma jualan baju online?” sindir sepupu laki-lakinya
Sandra tidak pernah benar-benar peduli pada omongan orang. Namun, entah sejak kapan, kalimat-kalimat itu berubah menjadi sumber tekanan. Sandra mulai bekerja bukan lagi karena cinta pada desain, melainkan karena ingin membuktikan bahwa ia mampu.
Sandra bangun pukul 4 pagi, bukan untuk salat Subuh, melainkan untuk mengecek pesanan. Sandra tidur pukul 1 malam, bukan karena tahajud, melainkan karena ia sibuk menghitung margin keuntungan.
Doa-doa yang dulu Sandra biasa lantunkan perlahan tergantikan notifikasi.
Aldo menyadari hal itu lebih dahulu.
***
Aldo, 26 tahun, adalah sahabat masa kuliah Sandra. Mereka pernah sama-sama mengerjakan tugas desain bisnis hingga pagi. Aldo bukan pengusaha, karena ia bekerja sebagai konsultan digital marketing. Wajahnya tenang, tubuhnya cukup berisi, tatapannya teduh.
Malam itu, mereka duduk di sebuah kedai kopi sederhana.
“Kamu kelihatan capek, Sandra,” ucap Aldo
Sandra hanya tersenyum tipis.
“Capek itu kunci sukses.” ucap Sandra
“Terus, kalau ibadah?” tanya Aldo pelan
Sandra menghela napas.
“Aldo, tolong jangan bikin aku marah. Aku lagi ngejar target. Aku nggak punya waktu buat diskusi begituan.” ucap Sandra
Aldo tidak tersinggung. Ia hanya menatap Sandra lama, seolah melihat sesuatu yang retak.
“Berapa target kamu minggu ini?” tanya Aldo
Sandra menegakkan punggungnya.
“Sepuluh juta rupiah.” jawab Sandra dengan angkuh
Aldo terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada tenang.
“Kalau kamu nggak dapat 10 juta dalam satu minggu, kamu berhenti jualan dulu sementara. Beribadah dengan benar dulu, baru mikir jualan.” ucap Aldo tegas
Sandra tertawa kecil.
“Apa hubungannya?” tanya Sandra
“Kamu lebih takut sama kegagalan bisnis daripada takut sama Allah.” jawab Aldo
Ucapan itu seperti tamparan, tetapi hati Sandra menolaknya dengan gengsi.
“Deal,” ucap Sandra
Aldo mengangguk.
“Deal.” ucap Aldo
Sandra pulang malam itu dengan dada membara. Tantangan itu seperti bensin bagi ambisinya.
***
Hari pertama, penjualan Sandra masih biasa saja.
Hari kedua, penjualan mulai menurun.
Hari ketiga, hanya dua potong dress yang terjual.
Sandra mulai gelisah.
“Kenapa sih? Modelnya kan bagus. Fotonya juga bagus,” gumam Sandra
Sandra mulai melakukan promosi besar-besaran. Diskon 50%. Flash sale setiap jam. Giveaway. Endorse ke akun-akun kecil.
Hari keempat, bukan keuntungan yang datang, melainkan komplain.
“Kak, kok di-DM terus sih?”
“Spam banget.”
“Unfollow aja deh.”
Sandra tidak peduli. Sandra mulai mengirim pesan promosi ke ratusan nomor yang ia dapat dari database lama. Ia masuk ke grup-grup WhatsApp tanpa izin dan menyebar katalog.
Sandra semakin bersemangat mempromosikan produk seperti orang kalap.
Hari kelima, akunnya dilaporkan.
Hari keenam, beberapa pelanggan mengancam akan melapor ke polisi karena terganggu.
Hari ketujuh pagi hari, polisi datang ke rukonya.
***
Sandra gemetar saat dirinya dibawa ke kantor polisi.
“Saudari Sandra, Anda dilaporkan atas dugaan pelanggaran Undang-Undang ITE karena spamming promosi tanpa izin dan mengganggu kenyamanan publik.”
Sepuluh juta rupiah kini terasa tidak berarti. Yang ada hanya rasa malu. Sandra ditahan sementara, menunggu proses lebih lanjut.
Di sel tahanan perempuan yang pengap dan berbau lembap, Sandra duduk memeluk lutut. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Aku cuma mau sukses…” bisik Sandra
Namun, dalam keheningan itu, Sandra menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan, bahwa sudah lama ia tidak berbicara pada Allah. Bukan karena ia tidak percaya, melainkan karena terlalu sibuk.
***
Dua hari kemudian, Aldo datang menjenguk. Pria itu berdiri di balik jeruji besi dengan ekspresi yang tidak menghakimi.
“Kamu datang ke sini buat bilang aku kalah?” tanya Sandra lirih
Aldo menggeleng.
“Aku datang buat bilang kalau kamu lupa.” jawab Aldo
Sandra menunduk.
“Sandra, kamu lebih takut pada manusia. Takut dibilang gagal. Takut dianggap kalah. Takut tidak sukses. Tapi, kamu tidak takut ketika meninggalkan salat.”
Kata-kata itu membuat dada Sandra sesak.
“Orang yang takut kepada Allah,” lanjut Aldo pelan
“Akan berani menghadapi manusia. Sebab, ia tahu bahwa yang menentukan rezeki itu bukan manusia, tapi Allah.”
Sandra terisak.
“Aku panik, Aldo. Aku takut gagal.”
“Dan ketakutan itu membuat kamu melanggar batas.”
Sandra menutup wajahnya.
“Aku merasa kosong,” ucap Sandra jujur
Aldo tersenyum lembut.
“Kosong itu bukan karena bisnismu gagal. Kosong itu karena kamu jauh dari Pemberi Hidup.”
Pemberi Hidup. Kata itu terasa asing sekaligus familiar.
***
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sandra berwudu dengan air yang mengalir pelan di kamar mandi penjara.
Sandra menunaikan salat dengan tangan gemetar. Tak ada sajadah mewah. Tak ada ruangan ber-AC. Hanya lantai dingin dan cahaya lampu redup. Namun, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, hatinya terasa sedikit lapang.
Setelah salat, Sandra duduk bersandar pada dinding. Seorang narapidana wanita lain memberinya selembar kertas dan pena.
“Tulis aja kalau kamu sedang sedih,” ucap perempuan itu
Sandra menatap kertas kosong itu lama-lama. Lalu, Sandra mulai menulis puisi karyanya sendiri.
***
Elegi Untuk Pemberi Hidup
Ya Rabbana…
Aku mengejar bayang-bayang dunia
Hingga lupa cahaya-Mu menyala di dada
Ku kejar tepuk tangan manusia
Hingga tuli pada bisik-Mu yang setia
Aku hitung rupiah demi rupiah
Tapi tak pernah hitung nikmat-Mu yang melimpah
Aku takut pada cela dan hina
Tapi tak takut saat jauh dari-Mu tanpa rasa
Kini, di ruang sempit tanpa jendela
Kau bukakan langit luas di jiwa
Ku hapus ambisi yang berdebu
Ku tanam rindu hanya pada-Mu.
Jika dunia fana ini tempat aku singgah
Jadikan aku hamba yang tak lagi goyah
Karena Engkaulah Pemberi Hidup sejati
Yang hidupkan hati yang telah mati
***
Sandra membaca ulang puisinya dengan mata basah. Tidak panjang. Tidak rumit. Namun, setiap katanya terasa seperti pengakuan.
Sandra tidak pernah menyangka, bahwa ruang sempit itu justru menjadi tempat dirinya menemukan kembali arah hidupnya.
Puisi itu awalnya hanya dibaca oleh beberapa narapidana. Salah satu dari mereka diam-diam memotretnya dan mengunggahnya ke media sosial setelah bebas.
Dalam dua hari, puisi itu viral. Tagar #ElegiUntukPemberiHidup menjadi trending. Banyak orang membagikan kisah mereka, entah itu tentang target, ambisi, lembur, atau tentang salat yang ditinggalkan.
Aldo memperlihatkan berita itu saat kunjungan berikutnya.
“Puisi kamu menyentuh banyak orang,” puji Aldo tulus
Sandra terdiam.
“Aku menulis puisi ini untuk Allah, bukan untuk viral.” ucap Sandra
“Justru itu, Sandra,” jawab Aldo
“Ketika kamu nggak lagi mencari manusia, Allah yang akan menggerakkan manusia.”
Sandra tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu membuktikan apa pun.
***
Beberapa minggu kemudian, kasus Sandra diselesaikan dengan denda dan peringatan keras. Sandra akhirnya dibebaskan.
Ketika Sandra keluar dari gerbang penjara, langit terasa berbeda. Bukan karena warnanya berubah, melainkan karena caranya memandang berubah.
Sandra tidak langsung membuka toko. Sandra pulang ke rumah orang tuanya.
Malam itu, Sandra duduk di kamar, membuka kembali laptopnya. Banyak pesan masuk, bukan pesanan baju, melainkan undangan untuk berbicara tentang keseimbangan hidup.
Sandra menutup laptopnya pelan, lalu mengambil mukena. Air matanya jatuh ketika Sandra bersujud.
“Ya Allah,” bisik Sandra
“Aku ingin sukses, tapi bukan dengan melupakan-Mu.” lanjutnya
Beberapa bulan kemudian, Sandra kembali berjualan. Namun, kali ini berbeda. Sandra menetapkan jam kerja yang wajar. Ia menutup toko saat waktu salat tiba. Sandra tidak lagi panik jika penjualan menurun.
Aldo suatu sore datang ke ruko yang kini terasa lebih tenang.
“Target 10 juta lagi?” tanya Aldo sambil tersenyum
Sandra tertawa kecil.
“Rezeki itu bonus, Do. Damai itu tujuan.”
Aldo mengangguk puas.
Di rak pajangan, Sandra memajang satu bingkai kecil berisi puisinya. Bukan sebagai pengingat kegagalan, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia bisa tersesat, tetapi juga bisa kembali.
***
Sandra pernah mengira, bahwa keberanian itu adalah tentang menantang pasar. Namun, kini, Sandra tahu, bahwa keberanian sejati adalah tentang mengalahkan ego. Sandra pernah mengira bahwa penjara adalah akhir dari segalanya. Namun, kini, Sandra tahu, penjara itu justru awal kebebasan batinnya. Dan setiap kali Sandra membaca kembali bait terakhir puisinya, ia tersenyum.
“Karena Engkaulah Pemberi Hidup sejati, yang hidupkan hati yang telah mati.”
Di sanalah, elegi itu berubah menjadi harapan. Bukan lagi sebatas penyesalan seorang wanita ambisius, melainkan doa seorang umat Allah yang akhirnya pulang.
TAMAT
@itkgid @aldo12 @multimedia.ptrt
Usia Sandra 25 tahun. Di usia yang bagi sebagian orang adalah masa pencarian tujuan hidup, Sandra sudah memimpin sebuah usaha pakaian wanita bernama Krasnaya Outfits. Brand berbahasa Rusia itu Sandra bangun sejak ia lulus kuliah. Modalnya adalah modal nekat, dan modal doa-doa ibunya yang kini terasa semakin jauh.
“Sandra, kamu itu perempuan. Kalau kamu nggak sukses sekarang, nanti orang bilang apa?” ucap tantenya, suaranya masih terngiang
“Adikmu sudah kerja di bank. Kamu jangan sampai kalah. Masa bisanya cuma jualan baju online?” sindir sepupu laki-lakinya
Sandra tidak pernah benar-benar peduli pada omongan orang. Namun, entah sejak kapan, kalimat-kalimat itu berubah menjadi sumber tekanan. Sandra mulai bekerja bukan lagi karena cinta pada desain, melainkan karena ingin membuktikan bahwa ia mampu.
Sandra bangun pukul 4 pagi, bukan untuk salat Subuh, melainkan untuk mengecek pesanan. Sandra tidur pukul 1 malam, bukan karena tahajud, melainkan karena ia sibuk menghitung margin keuntungan.
Doa-doa yang dulu Sandra biasa lantunkan perlahan tergantikan notifikasi.
Aldo menyadari hal itu lebih dahulu.
***
Aldo, 26 tahun, adalah sahabat masa kuliah Sandra. Mereka pernah sama-sama mengerjakan tugas desain bisnis hingga pagi. Aldo bukan pengusaha, karena ia bekerja sebagai konsultan digital marketing. Wajahnya tenang, tubuhnya cukup berisi, tatapannya teduh.
Malam itu, mereka duduk di sebuah kedai kopi sederhana.
“Kamu kelihatan capek, Sandra,” ucap Aldo
Sandra hanya tersenyum tipis.
“Capek itu kunci sukses.” ucap Sandra
“Terus, kalau ibadah?” tanya Aldo pelan
Sandra menghela napas.
“Aldo, tolong jangan bikin aku marah. Aku lagi ngejar target. Aku nggak punya waktu buat diskusi begituan.” ucap Sandra
Aldo tidak tersinggung. Ia hanya menatap Sandra lama, seolah melihat sesuatu yang retak.
“Berapa target kamu minggu ini?” tanya Aldo
Sandra menegakkan punggungnya.
“Sepuluh juta rupiah.” jawab Sandra dengan angkuh
Aldo terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada tenang.
“Kalau kamu nggak dapat 10 juta dalam satu minggu, kamu berhenti jualan dulu sementara. Beribadah dengan benar dulu, baru mikir jualan.” ucap Aldo tegas
Sandra tertawa kecil.
“Apa hubungannya?” tanya Sandra
“Kamu lebih takut sama kegagalan bisnis daripada takut sama Allah.” jawab Aldo
Ucapan itu seperti tamparan, tetapi hati Sandra menolaknya dengan gengsi.
“Deal,” ucap Sandra
Aldo mengangguk.
“Deal.” ucap Aldo
Sandra pulang malam itu dengan dada membara. Tantangan itu seperti bensin bagi ambisinya.
***
Hari pertama, penjualan Sandra masih biasa saja.
Hari kedua, penjualan mulai menurun.
Hari ketiga, hanya dua potong dress yang terjual.
Sandra mulai gelisah.
“Kenapa sih? Modelnya kan bagus. Fotonya juga bagus,” gumam Sandra
Sandra mulai melakukan promosi besar-besaran. Diskon 50%. Flash sale setiap jam. Giveaway. Endorse ke akun-akun kecil.
Hari keempat, bukan keuntungan yang datang, melainkan komplain.
“Kak, kok di-DM terus sih?”
“Spam banget.”
“Unfollow aja deh.”
Sandra tidak peduli. Sandra mulai mengirim pesan promosi ke ratusan nomor yang ia dapat dari database lama. Ia masuk ke grup-grup WhatsApp tanpa izin dan menyebar katalog.
Sandra semakin bersemangat mempromosikan produk seperti orang kalap.
Hari kelima, akunnya dilaporkan.
Hari keenam, beberapa pelanggan mengancam akan melapor ke polisi karena terganggu.
Hari ketujuh pagi hari, polisi datang ke rukonya.
***
Sandra gemetar saat dirinya dibawa ke kantor polisi.
“Saudari Sandra, Anda dilaporkan atas dugaan pelanggaran Undang-Undang ITE karena spamming promosi tanpa izin dan mengganggu kenyamanan publik.”
Sepuluh juta rupiah kini terasa tidak berarti. Yang ada hanya rasa malu. Sandra ditahan sementara, menunggu proses lebih lanjut.
Di sel tahanan perempuan yang pengap dan berbau lembap, Sandra duduk memeluk lutut. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Aku cuma mau sukses…” bisik Sandra
Namun, dalam keheningan itu, Sandra menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan, bahwa sudah lama ia tidak berbicara pada Allah. Bukan karena ia tidak percaya, melainkan karena terlalu sibuk.
***
Dua hari kemudian, Aldo datang menjenguk. Pria itu berdiri di balik jeruji besi dengan ekspresi yang tidak menghakimi.
“Kamu datang ke sini buat bilang aku kalah?” tanya Sandra lirih
Aldo menggeleng.
“Aku datang buat bilang kalau kamu lupa.” jawab Aldo
Sandra menunduk.
“Sandra, kamu lebih takut pada manusia. Takut dibilang gagal. Takut dianggap kalah. Takut tidak sukses. Tapi, kamu tidak takut ketika meninggalkan salat.”
Kata-kata itu membuat dada Sandra sesak.
“Orang yang takut kepada Allah,” lanjut Aldo pelan
“Akan berani menghadapi manusia. Sebab, ia tahu bahwa yang menentukan rezeki itu bukan manusia, tapi Allah.”
Sandra terisak.
“Aku panik, Aldo. Aku takut gagal.”
“Dan ketakutan itu membuat kamu melanggar batas.”
Sandra menutup wajahnya.
“Aku merasa kosong,” ucap Sandra jujur
Aldo tersenyum lembut.
“Kosong itu bukan karena bisnismu gagal. Kosong itu karena kamu jauh dari Pemberi Hidup.”
Pemberi Hidup. Kata itu terasa asing sekaligus familiar.
***
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sandra berwudu dengan air yang mengalir pelan di kamar mandi penjara.
Sandra menunaikan salat dengan tangan gemetar. Tak ada sajadah mewah. Tak ada ruangan ber-AC. Hanya lantai dingin dan cahaya lampu redup. Namun, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, hatinya terasa sedikit lapang.
Setelah salat, Sandra duduk bersandar pada dinding. Seorang narapidana wanita lain memberinya selembar kertas dan pena.
“Tulis aja kalau kamu sedang sedih,” ucap perempuan itu
Sandra menatap kertas kosong itu lama-lama. Lalu, Sandra mulai menulis puisi karyanya sendiri.
***
Elegi Untuk Pemberi Hidup
Ya Rabbana…
Aku mengejar bayang-bayang dunia
Hingga lupa cahaya-Mu menyala di dada
Ku kejar tepuk tangan manusia
Hingga tuli pada bisik-Mu yang setia
Aku hitung rupiah demi rupiah
Tapi tak pernah hitung nikmat-Mu yang melimpah
Aku takut pada cela dan hina
Tapi tak takut saat jauh dari-Mu tanpa rasa
Kini, di ruang sempit tanpa jendela
Kau bukakan langit luas di jiwa
Ku hapus ambisi yang berdebu
Ku tanam rindu hanya pada-Mu.
Jika dunia fana ini tempat aku singgah
Jadikan aku hamba yang tak lagi goyah
Karena Engkaulah Pemberi Hidup sejati
Yang hidupkan hati yang telah mati
***
Sandra membaca ulang puisinya dengan mata basah. Tidak panjang. Tidak rumit. Namun, setiap katanya terasa seperti pengakuan.
Sandra tidak pernah menyangka, bahwa ruang sempit itu justru menjadi tempat dirinya menemukan kembali arah hidupnya.
Puisi itu awalnya hanya dibaca oleh beberapa narapidana. Salah satu dari mereka diam-diam memotretnya dan mengunggahnya ke media sosial setelah bebas.
Dalam dua hari, puisi itu viral. Tagar #ElegiUntukPemberiHidup menjadi trending. Banyak orang membagikan kisah mereka, entah itu tentang target, ambisi, lembur, atau tentang salat yang ditinggalkan.
Aldo memperlihatkan berita itu saat kunjungan berikutnya.
“Puisi kamu menyentuh banyak orang,” puji Aldo tulus
Sandra terdiam.
“Aku menulis puisi ini untuk Allah, bukan untuk viral.” ucap Sandra
“Justru itu, Sandra,” jawab Aldo
“Ketika kamu nggak lagi mencari manusia, Allah yang akan menggerakkan manusia.”
Sandra tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu membuktikan apa pun.
***
Beberapa minggu kemudian, kasus Sandra diselesaikan dengan denda dan peringatan keras. Sandra akhirnya dibebaskan.
Ketika Sandra keluar dari gerbang penjara, langit terasa berbeda. Bukan karena warnanya berubah, melainkan karena caranya memandang berubah.
Sandra tidak langsung membuka toko. Sandra pulang ke rumah orang tuanya.
Malam itu, Sandra duduk di kamar, membuka kembali laptopnya. Banyak pesan masuk, bukan pesanan baju, melainkan undangan untuk berbicara tentang keseimbangan hidup.
Sandra menutup laptopnya pelan, lalu mengambil mukena. Air matanya jatuh ketika Sandra bersujud.
“Ya Allah,” bisik Sandra
“Aku ingin sukses, tapi bukan dengan melupakan-Mu.” lanjutnya
Beberapa bulan kemudian, Sandra kembali berjualan. Namun, kali ini berbeda. Sandra menetapkan jam kerja yang wajar. Ia menutup toko saat waktu salat tiba. Sandra tidak lagi panik jika penjualan menurun.
Aldo suatu sore datang ke ruko yang kini terasa lebih tenang.
“Target 10 juta lagi?” tanya Aldo sambil tersenyum
Sandra tertawa kecil.
“Rezeki itu bonus, Do. Damai itu tujuan.”
Aldo mengangguk puas.
Di rak pajangan, Sandra memajang satu bingkai kecil berisi puisinya. Bukan sebagai pengingat kegagalan, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia bisa tersesat, tetapi juga bisa kembali.
***
Sandra pernah mengira, bahwa keberanian itu adalah tentang menantang pasar. Namun, kini, Sandra tahu, bahwa keberanian sejati adalah tentang mengalahkan ego. Sandra pernah mengira bahwa penjara adalah akhir dari segalanya. Namun, kini, Sandra tahu, penjara itu justru awal kebebasan batinnya. Dan setiap kali Sandra membaca kembali bait terakhir puisinya, ia tersenyum.
“Karena Engkaulah Pemberi Hidup sejati, yang hidupkan hati yang telah mati.”
Di sanalah, elegi itu berubah menjadi harapan. Bukan lagi sebatas penyesalan seorang wanita ambisius, melainkan doa seorang umat Allah yang akhirnya pulang.
TAMAT
@itkgid @aldo12 @multimedia.ptrt
skinnyhooper dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.6K
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya