Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang penyebab sesungguhnya penyakit endometriosis

.
Kalau mendengar kata endometriosis, sebagian besar orang langsung mengaitkannya dengan teori klasik, yaitu aliran balik menstruasi atau
retrograde menstruation. Teori ini sudah lama diajarkan di bangku kuliah kedokteran, dan sering muncul di artikel kesehatan populer. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa penjelasan tersebut tidak cukup untuk menerangkan seluruh kasus endometriosis.
Faktanya, endometriosis adalah penyakit yang jauh lebih rumit. Bahkan, lesinya tidak hanya ditemukan di rongga perut, tetapi juga bisa muncul di paru-paru hingga bola mata. Lalu, kalau bukan semata-mata karena darah haid yang salah aliran, apa sebenarnya penyebabnya?
Mari kita bahas penyakit endometriosis berdasarkan literatur ilmiah yang terpercaya.
Quote:
Apa Itu Endometriosis?
Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan mirip endometrium (lapisan dalam rahim) tumbuh di luar rongga rahim. Jaringan ini tetap responsif terhadap hormon estrogen dan mengalami perubahan bersiklus setiap bulannya seperti endometrium normal.
Lokasi endometriosis yang paling sering yaitu ovarium, saluran telur, dan peritoneum (selaput rongga perut).
Namun, laporan medis menunjukkan bahwa jaringan endometriosis juga dapat ditemukan di paru-paru (endometriosis rongga dada), diafragma, otak, bahkan bola mata (kasus sangat langka).
Fenomena ini jelas tidak bisa dijelaskan hanya dengan teori aliran balik menstruasi.
Quote:
Teori Aliran Balik Menstruasi Itu Tidak Cukup
Teori
retrograde menstruation pertama kali dipopulerkan oleh Sampson pada awal abad ke-20. Menurut teori ini, darah menstruasi mengalir mundur melalui saluran telur ke rongga perut, membawa sel endometrium yang kemudian menempel dan tumbuh.
Masalahnya, sebagian besar perempuan mengalami aliran balik menstruasi, tetapi tidak semuanya mengalami endometriosis. Selain itu, teori ini sulit menjelaskan kasus endometriosis di paru-paru atau bola mata, serta tidak menjelaskan aspek molekuler dan imunologis penyakit ini.
Menurut Burney dan Giudice (2012), endometriosis adalah penyakit inflamasi kronis yang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, imunologis, dan hormonal, bukan sekadar fenomena mekanis aliran darah haid.
Quote:
Peranan Hormon Estrogen Dalam Endometriosis
Penelitian modern menunjukkan bahwa endometriosis adalah penyakit yang sangat bergantung pada estrogen.
Beberapa poin pentingnya, antara lain:
1) Lesi endometriosis menunjukkan aktivitas enzim aromatase tinggi, yaitu nama enzim yang mengubah androgen menjadi estrogen.
2) Terjadi aktivasi berlebihan reseptor estrogen (ER-β).
3) Aktivasi ini memicu produksi berbagai protein faktor pertumbuhan.
Bulun (2009) menjelaskan bahwa jaringan endometriosis memiliki lingkungan estrogen lokal yang tinggi, karena produksi estrogen terjadi langsung di dalam jaringan lesi tersebut. Artinya, jaringan endometriosis ini seperti memiliki pusat pembuatan estrogen sendiri.
Quote:
Faktor Pertumbuhan Endometrium Adalah Pemicu Sesungguhnya
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kelebihan aktivasi reseptor estrogen memicu peningkatan produksi berbagai growth factors, antara lain
Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF),
Transforming Growth Factor-beta (TGF-β) dan
Insulin-like Growth Factor (IGF).
Faktor-faktor ini menyebabkan proliferasi (pertumbuhan jaringan), angiogenesis (pertumbuhan pembuluh darah baru), dan jaringan ini tidak mempan dimatikan dengan apoptosis (kematian sel terprogram).
Akibatnya, jaringan endometriosis mampu bertahan hidup di luar rahim, membentuk suplai darah sendiri, dan tidak mempan dilawan dengan sistem imun.
Menurut Giudice dan Kao (2004), endometriosis lebih tepat dipahami sebagai gangguan molekuler dengan disfungsi hormon dan sistem imun, bukan sekadar implantasi sel akibat aliran balik menstruasi.
Quote:
Endometriosis di Paru-Paru dan Bola Mata
Kasus endometriosis paru-paru telah terdokumentasi dalam jurnal kedokteran. Gejalanya bisa berupa nyeri dada siklik, sesak napas saat menstruasi, dan batuk darah saat haid.
Bagaimana jaringan endometrium bisa sampai ke paru-paru? Penjelasan yang lebih masuk akal adalah, penyebaran melalui sistem limfatik, penyebaran melalui aliran darah, dan transformasi sel punca (
stem cell theory). Bahkan, terdapat laporan kasus endometriosis orbital (bola mata), meskipun sangat jarang. Jelas, teori aliran balik menstruasi tidak mampu menjelaskan fenomena ini secara memadai.
Quote:
Faktor Risiko Endometriosis yaitu Menarche Dini dan Belum Pernah Hamil
Wanita yang mengalami haid pertama sebelum usia 12 tahun memiliki risiko lebih tinggi terkena endometriosis. Mengapa? Karena paparan estrogen yang berlangsung lebih lama sepanjang hidup, jumlah siklus menstruasi yang lebih banyak, dan aktivasi reseptor estrogen yang lebih sering terjadi.
Selain itu, wanita yang belum pernah hamil (nulliparitas) juga memiliki risiko lebih tinggi. Kehamilan menekan ovulasi dan produksi estrogen bulanan secara bersiklus, sehingga mengurangi paparan hormon tersebut.
Menurut Missmer et al. (2004), faktor reproduktif seperti usia menarche dini dan tidak pernah melahirkan berkorelasi signifikan dengan peningkatan risiko endometriosis.
Quote:
Hubungan Endometriosis dengan Risiko Kanker Payudara
Menariknya, faktor risiko ini juga berkaitan dengan kanker payudara.
Wanita dengan menarche sebelum usia 12 tahun dan tidak pernah hamil memiliki paparan estrogen kumulatif lebih tinggi sepanjang hidup. Paparan estrogen yang tinggi merupakan faktor risiko utama kanker payudara.
Menurut
Collaborative Group on Hormonal Factors in Breast Cancer (2012), semakin dini usia menarche, semakin besar risiko kanker payudara. Kehamilan memiliki efek protektif, karena bersifat menurunkan jumlah siklus menstruasi seumur hidup.
Artinya, terdapat benang merah biologis antara aktivasi reseptor estrogen, pertumbuhan jaringan yang peka terhadap paparan hormon, dan risiko penyakit yang bergantung hormon estrogen.
Quote:
Peran Sistem Imun dan Inflamasi
Endometriosis juga melibatkan gangguan sistem imun. Pada wanita dengan endometriosis, ditemukan peningkatan sitokin proinflamasi, aktivasi makrofag berlebihan, dan gangguan pembersihan sel endometrium di luar rahim. Lingkungan inflamasi ini mendukung pertumbuhan lesi.
Burney dan Giudice (2012) menekankan bahwa endometriosis adalah penyakit inflamasi sistemik, bukan hanya gangguan lokal di rongga panggul.
Quote:
KESIMPULAN
Endometriosis bukan sekadar akibat darah haid yang mengalir mundur. Berdasarkan bukti ilmiah modern, penyakit endometriosis ini lebih tepat untuk dipahami sebagai penyakit inflamasi kronis yang bergantung pada estrogen, dipicu oleh aktivasi berlebihan reseptor estrogen, disertai peningkatan protein faktor pertumbuhan, serta dipengaruhi faktor genetik dan imunologis. Lesinya bahkan bisa muncul di paru-paru dan bola mata, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan sebatas teori aliran balik menstruasi.
Wanita dengan menarche sebelum usia 12 tahun dan belum pernah hamil memiliki risiko lebih tinggi, tidak hanya untuk endometriosis, tetapi juga kanker payudara, karena paparan estrogen kumulatif yang lebih panjang.
Quote:
SUMBER
Bulun, S. E. (2009). Endometriosis.
The New England Journal of Medicine,
360(3), 268–279.
Burney, R. O., & Giudice, L. C. (2012). Pathogenesis and pathophysiology of endometriosis.
Fertility and Sterility,
98(3), 511–519.
Collaborative Group on Hormonal Factors in Breast Cancer. (2012). Menarche, menopause, and breast cancer risk.
The Lancet Oncology,
13(11), 1141–1151.
Giudice, L. C., & Kao, L. C. (2004). Endometriosis.
The Lancet,
364(9447), 1789–1799.
Missmer, S. A., Hankinson, S. E., Spiegelman, D., Barbieri, R. L., Marshall, L. M., & Hunter, D. J. (2004). Reproductive history and endometriosis among premenopausal women.
Obstetrics & Gynecology,
104(5), 965–974.
@aldo12 @itkgid @multimedia.ptrt