- Beranda
- Heart to Heart
(Diary Miss Rora) Perjuangan Gue Berdarah-darah Menyelesaikan Thesis S2
...
TS
aurora..
(Diary Miss Rora) Perjuangan Gue Berdarah-darah Menyelesaikan Thesis S2

Sumber Gambar:Koleksi pribadi gue
Selamat malam Gan/Sist semuanya
. Izinkan gue, Miss Rora, curhat malam ini. Bukan berarti gue sok lemah, tetapi lebih ke catatan perjuangan gue yang benar-benar membentuk gue secara fisik, mental, dan keimanan.
Jadi, Miss Rora selama ini kuliah S2 di salah satu kampus swasta di Semarang. Jurusannya nggak usah gue jelasin, karena kalian semua pasti sudah tahu
. Topik tesis gue mungkin terdengar super sederhana buat sebagian orang, karena cuma validasi metode analisis kromatografi densitometri untuk mengukur kadar BKO parasetamol dalam sampel jamu painkiller, terus dikonfirmasi pakai FTIR.
Namun, di balik judul yang terlalu sederhana itu, ada cerita berdarah-darah yang nggak pernah Miss Rora bayangkan sebelumnya.
Buat yang belum tahu, BKO itu adulteran obat sintetis yang secara ilegal ditambahkan ke dalam produk jamu atau obat tradisional supaya efeknya terasa cepat. Padahal, menurut aturan resmi di Indonesia, jamu nggak boleh mengandung obat sintetis.
Menurut BPOM, penambahan BKO dalam jamu itu salah besar, karena dapat membahayakan kesehatan, apalagi kalau dikonsumsi berkepanjangan. Dalam berbagai peringatan masyarakat, BPOM sering menemukan parasetamol (obat demam dan sakit kepala), asam mefenamat (obat sakit gigi), sildenafil (obat lem4h 5y4hw4t), bahkan siproheptadin (obat penggemuk) dalam jamu yang beredar bebas di Indonesia.
Secara ilmiah, parasetamol adalah painkiller sekaligus penurun demam yang aman jika digunakan sesuai dosis. Namun, jika dikonsumsi berlebihan atau tanpa pengawasan, bisa bikin liver rusak. Penelitian oleh Lee, William M. (2004) menjelaskan kalau overdosis parasetamol merupakan salah satu penyebab utama kerusakan liver akut (Lee, 2004).
Dari situ, gue merasa topik tesis ini relevan. Bukan cuma buat syarat kelulusan, melainkan karena ada urgensi kesehatan masyarakatnya, dan urgensi religius juga (menanamkan sikap berintegritas tinggi dan berani membela kebenaran).
November 2025
Sesuai proposal tesis, Miss Rora harus mengambil 10 sampel jamu pereda nyeri dari wilayah Kota dan Kabupaten Semarang. Kriterianya jelas, jamunya kudu jamu sakit kepala, nyeri haid, sakit gigi, atau nyeri otot tanpa izin edar BPOM.
Miss Rora berpikir ini gampang, tetapi ternyata nggak
. Awalnya, Miss Rora keliling pasar tradisional di kawasan Kota Semarang sampai Kabupaten Semarang. Hasilnya bikin gue capek sendiri. Jamu yang banyak dijual itu jamu pelangsing, jamu stamina pria, atau jamu sakit gigi tetapi punya izin edar BPOM. Hampir nggak ada jamu sakit kepala atau sakit gigi yang tanpa izin edar BPOM.
Secara teori sih, jamu painkiller memang kategori yang lebih riskan ditambahkan BKO karena orang yang minum ingin rasa sakit itu cepat hilang. Laporan BPOM tahun-tahun sebelumnya juga menemukan bahwa kategori lain seperti jamu stamina pria atau pelangsing wanita sering terpapar BKO.
Akhirnya, dengan berat hati dan setelah diskusi dengan dosen pembimbing, Miss Rora mencari sampel melalui toko online, tetapi tetap dengan batasan bahwa distribusi jamu harus wilayah Semarang. Dan puji Tuhan banget, gue dapat 10 sampel jamu painkiller dengan merk berbeda di toko online, yang gue beri kode A sampai J
. Langkah ini harus dicatat dalam metodologi, karena sumber sampel jamu bisa mempengaruhi interpretasi data.
Desember 2025
Desember itu bulan skrining awal jamu. Gue melakukan identifikasi awal pakai kromatografi densitometri dengan pembanding larutan parasetamol baku (bukan baku milik BPOM, tapi baku analytical grade), terus konfirmasi spektrum sampel vs baku pakai FTIR.
Buat yang nggak tahu, gue kasih tahu ya
. FTIR itu metode spektroskopi berbasis getaran molekul. Menurut Stuart, Barbara (2004), FTIR bisa dipakai untuk identifikasi gugus fungsi melalui pola serapan khas dalam spektrum cahaya inframerah. Dari 10 sampel jamu painkiller, cuma 3 sampel yang menunjukkan indikasi positif parasetamol. Cuma 3 Gan
. Di titik ini, dosen pembimbingnya Miss Rora (sebut saja bapak A dan ibu B) masih meminta gue mencari tambahan sampel jamu positif parasetamol sampai total harus ada 5 sampel yang positif parasetamol.
Jujur, di situ mental gue hampir hancur
. Sudah capek-capek cari 10 sampel jamu painkiller, gue masih disuruh cari lagi dan belum tentu dapat. Secara epidemiologis pun, nggak semua produk pasti mengandung BKO. Nggak ada jaminan bakalan ada banyak jamu painkiller yang mengandung BKO.
Gue mulai overthinking, soalnya waktunya terus berjalan, sedangkan targetnya April 2026 adalah jadwal ujian tertutup.
Untungnya, ibu B akhirnya ngasih Miss Rora keringanan. Tiga sampel positif dianggap cukup secara data dan metode, selama datanya valid dan pembahasannya kuat. Di situlah Miss Rora merasa bersyukur karena gue sedikit ditolongin.
Januari 2026
Mulai masuk Januari 2026, Miss Rora fokus melakukan pengukuran dengan kromatografi densitometri. Metode ini bekerja dengan cara memisahkan campuran senyawa di plat khusus, lalu mengukur ketebalan bercak menggunakan densitometer.
Menurut ICH dalam pedoman Q2(R1), validasi metode analisis harus mencakup parameter seperti linearitas, presisi, akurasi, LOD, dan LOQ (ICH, 2005).
Miss Rora melakukan replikasi 9 kali untuk masing-masing sampel C, E, dan F.
Hasilnya Gan, sampel C kadarnya 1,289% b/b. Bentuk sampel C kapsul, dibuat oleh perusahaan fiktif di Jawa Tengah (nggak ada di dunia nyata, cuma boongan), klaim sakit gigi, bobot satu dosis sekitar 500 mg. Kalau dihitung, 1,289% dari 500 mg itu sekitar 6,445 mg parasetamol per kapsul. Sampel E kadarnya 0,00922% b/b. Bentuk sampel E bubuk, home industry, bobot satu dosis sekitar 6 gram. Bobot total parasetamol di sampel E sekitar 0,553 mg per dosis. Sampel F kadarnya 0,00741% b/b. Bentuk sampel F bubuk, home industry, bobot satu dosis sekitar 6 gram. Bobot total parasetamol di sampel F sekitar 0,4446 mg per dosis.
Secara ilmu kedokteran, dosis aman parasetamol dewasa biasanya 500–1000 mg per kali minum (Brunton et al., 2018). Artinya kadar parasetamol pada sampel E dan F sangat kecil, belum sampai dosis terapeutik. Namun, tetap saja, keberadaan parasetamol itu salah dan nggak boleh ada dalam jamu.
Yang bikin gue berpikir panjang adalah sampel C. Walaupun parasetamolnya hanya sekitar 6,4 mg, tetap saja ini indikasi positif pencampuran BKO
. Februari 2026
Bulan Februari adalah fase paling teknis penelitian gue, yaitu validasi metode. Hasilnya campur aduk Gan, beberapa hasilnya ada yang bikin gue kecewa
. Spesifisitas: Lumayan spesifik, walaupun ada dua Rf (jarak pemisahan parasetamol) yang saling tumpang tindih antara jamu positif parasetamol sama jamu negatif parasetamol.
Presisi: 0,22%–2,64%, artinya masih dalam batas yang bisa diterima.
Akurasi: 79,75%–130,125%, dan ini yang bikin gue kecewa Gan/Sist
. Linieritas: 0,93084, dan ini juga bikin gue kecewa
. LOD: 122 ng/totolan.
LOQ: 370 ng/totolan.
Menurut pedoman ICH Q2(R1), nilai linieritas untuk metode kuantitatif kudu hampir mendekati 1 untuk menunjukkan linearitas yang baik. Akurasi ideal biasanya berada pada rentang 80–120% tergantung konsentrasi. Jadi, jujur saja, metode penelitian gue masih belum sempurna.
Di tengah proses itu, unit KLT di kampus gue juga sempat direnovasi. Untungnya cuma kendala kecil, walaupun percobaan gue sempat tertunda 2 hari.
Jujur saja, Miss Rora sempat nyalahin diri sendiri. Kenapa linearitas nggak bagus? Apa gara2 rentang konsentrasinya kurang tepat? Atau gara2 fase geraknya perlu dioptimasi lagi? Namun, waktu gue juga terbatas, jadi mau nggak mau, gue harus realistis.
Setelah libur Idul Fitri, rencananya adalah ujian tertutup. Ini pendadaran utama, cuma ada dosen pembimbing dan penguji sebagai penentu utama kelulusan. Setelah itu ujian terbuka, dihadiri teman-teman sekelas dan adik tingkat S1. Jujur saja, yang bikin TS deg-degan nggak cuma pertanyaan teknis, tetapi kemungkinan kalau gue bakal ditanya, kenapa linearitas gue nggak memenuhi syarat? Gimana caranya gue bertanggung jawab atas akurasi yang sampai 130%? Terus, apakah metode ini layak pakai untuk analisis rutin?
Selain ujian, sebagai syarat yudisium, ada kewajiban publikasi minimal jurnal SINTA 4. Artinya, Miss Rora harus meracik ulang data ini biar bisa jadi jurnal yang layak terbit. Di fase ini gue belajar satu hal penting, bahwa hasil penelitian itu nggak selalu sempurna. Buku teks selalu terlihat rapi. Secara teori, linieritas 0,999. Akurasi antara 98-102%. Presisi di bawah 2%. Namun, di dunia nyata, ada variasi biologis, variasi matriks sampel, keterbatasan alat, dan yang jelas adalah keterbatasan manusia (karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, bukan milik manusia).
Miss Rora juga jadi sadar, bahwa isu BKO dalam jamu itu beneran nyata. Penelitian-penelitian sebelumnya di Indonesia juga menunjukkan temuan serupa pada berbagai kategori jamu (BPOM RI, 2023).
Di dunia ini, Miss Rora cuma setitik debu kecil yang nggak sempurna. Namun, gue tetap berusaha untuk jadi sosok yang berintegritas dan takut akan Tuhan. Gue berdoa, semoga penelitian gue tentang BKO ini bisa menjadi kontribusi kecil untuk menegakkan sikap jujur dan takwa kepada Tuhan, serta berani membela kebenaran.
GanSist semuanya, perjalanan gue memperjuangkan tesis dan yudisium belum selesai. Bulan April masih ada ujian tertutup dan terbuka. Setelah itu gue harus publikasi jurnal, dan terakhir gue harus melewati yudisium.
Miss Rora yang selalu butuh pertolongan Tuhan ini cuma bisa minta doa, semoga gue bisa lulus ujian tertutup, semoga bisa melewati ujian terbuka dengan penuh percaya diri, semoga jurnalnya tembus SINTA 4, dan semoga gue bisa cepat yudisium tanpa revisi berkepanjangan.
Thread ini akan gue update setiap kali ada perkembangan
. Terima kasih sudah baca threadnya sampai habis. Kadang, yang bikin mahasiswa bisa cepat lulus ujian tesis itu bukan cuma data dan statistik, melainkan juga dukungan moral.
Quote:
@aliezrei @pabuaranwetan @multimedia.ptrt
rinandya dan 4 lainnya memberi reputasi
5
164
8
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Heart to Heart
23.3KThread•41.6KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya