- Beranda
- Berita dan Politik
Heboh Tembok Ratapan Solo, Rumah Jokowi Ramai Didatangi Warga
...
TS
mabdulkarim
Heboh Tembok Ratapan Solo, Rumah Jokowi Ramai Didatangi Warga
Heboh Tembok Ratapan Solo, Rumah Jokowi Ramai Didatangi Warga

Selasa, 17 Februari 2026 | 12:46 WIB
WP
SM
Penulis: Wijayanti Putri | Editor: SMR
Warga mengantre di luar rumah pribadi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Jalan Kutai Utara, nomor 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo pascaditandai sebagai Tembok Ratapan Solo di Google Maps, Selasa (17/2/2026). (Beritasatu.com/Wijayanti Putri)
Solo, Beritasatu.com – Alamat rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Jalan Kutai Utara, nomor 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah ditandai sebagai “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps bikin heboh. Meski demikian, rumah itu tetap ramai dikunjungi masyarakat terutama pada momentum libur Imlek 2026.
Pantauan Beritasatu.com, Selasa (17/2/2026), puluhan masyarakat masih hilir mudik datang ke kediaman Jokowi untuk foto-foto sejak pagi. Tak sedikit dari mereka yang datang dari luar kota. Beberapa ada yang sabar menanti hingga bisa berfoto Bersama Jokowi.
Sebelumnya, Ajudan Jokowi AKBP Syarif Muhammad Fitriansyah mengatakan pascaviralnya nama “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps memang tidak ada pembatasan masyarakat yang ingin berkunjung ke kediaman Jokowi di Solo.
“Pembatasan pengunjung tidak ada, seperti biasa saja,” ujarnya.
Ia pun mengatakan sudah mengetahui adanya penamaan “Tembok Ratapan Solo” di alamat kediaman Jokowi. Namun hal itu menurutnya tak perlu disikapi secara berlebihan.
“Kami sudah mengetahui itu (‘Tembok Ratapan Solo’ Google Map). Kalau saya biasa saja,” ucapnya.
Sedangkan saat ditanya apakah Jokowi telah mengetahui perihal penamaan “Tembok Ratapan Solo” itu, Syarif mengaku belum tahu terkait hal tersebut. “Belum tahu beliau (Jokowi) sudah tahu apa tidak kejadian ini,” kata dia.
Sementara itu, dari sekian banyak masyarakat yang mendatangi kediaman Jokowi di Sumber, tampak politikus sekaligus legislator Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Solo, Herson Rikumau. Ia pun menyayangkan perubahan nama alamat rumah Jokowi di Google Maps yang sempat viral tersebut.
“Ya tentunya kami menyayangkan hal itu ya. Sampai kediaman Bapak Jokowi dikait-kaitkan dengan tembok ratapan, karena tentunya kan beda diksi ya. Dan hal ini pasti menimbulkan banyak asumsi-asumsi di tengah masyarakat. Padahal Pak Jokowi merupakan sosok yang menjadi inspirasi banyak orang dan salah satu tokoh berpengaruh di Indonesia,” pungkasnya.
https://www.beritasatu.com/nasional/...idatangi-warga
Pro Kontra Tahlilan di Rumah Jokowi: Guntur Romli Kritik Politisasi, Warga Membela

Selfi Sultan - Viral
Selasa, 17 Februari 2026 16:50 PM
Komentar Bagikan
Tangkapan layar yang viral
FAJAR.CO.ID — Video kegiatan tahlilan di depan rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) viral di media sosial dan memicu polemik. Sejumlah pihak menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk politisasi tradisi keagamaan, sementara pihak lain menyebutnya sebagai ekspresi doa yang wajar dan bagian dari budaya masyarakat.
Politikus Mohamad Guntur Romli yang juga kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) menilai tahlilan merupakan tradisi sakral yang tidak seharusnya ditarik ke dalam kepentingan politik praktis.
“Tahlilan adalah komposisi doa, zikir, tasbih, dan tahlil yang tujuannya meng-Esa-kan Allah. Jika digunakan untuk kepentingan politik atau pemujaan terhadap sosok tertentu, itu mencederai makna spiritualnya,” ujar Guntur dalam keterangannya.
Ia menambahkan, tradisi tahlilan selama ini menjadi bagian penting dari khazanah Islam Nusantara dan dijalankan dengan niat ibadah, bukan sebagai alat mobilisasi politik.
Warga: Doa adalah Hak dan Tradisi
Di sisi lain, sejumlah warga yang mengikuti kegiatan tersebut membantah tudingan politisasi. Mereka menyebut kegiatan itu sebagai doa bersama yang dilakukan secara sukarela.
“Saya datang karena ingin mendoakan dan bersilaturahmi. Tidak ada ajakan kampanye atau kepentingan politik,” kata salah satu peserta yang enggan disebut namanya.
Menurutnya, tahlilan adalah tradisi sosial-keagamaan yang biasa dilakukan di berbagai tempat, termasuk di kediaman tokoh masyarakat. “Selama isinya doa dan tidak ada seruan politik, rasanya sah-sah saja,” tambahnya.
Konteks dan Persepsi Publik Berperan
Publik menilai polemik ini muncul karena konteks lokasi dan figur yang terlibat. Rumah seorang tokoh nasional seperti Jokowi dinilai memiliki makna simbolik yang kuat, sehingga aktivitas apa pun di sekitarnya mudah ditafsirkan sebagai pesan politik.
Dalam ruang publik yang sensitif terhadap isu agama dan politik, simbol bisa lebih kuat dari niat sebenarnya. Di sinilah pentingnya transparansi dan kehati-hatian
Ia menekankan bahwa tudingan politisasi perlu dibuktikan dengan adanya ajakan politik eksplisit atau kepentingan elektoral yang jelas. Tanpa itu, kegiatan tersebut masih bisa dipandang sebagai ekspresi keagamaan warga.
Tradisi dan Politik yang Kerap Beririsan
Di Indonesia, agama dan politik memang sering kali beririsan. Tradisi seperti tahlilan bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga ruang sosial yang memperkuat kebersamaan. Namun, ketika dilakukan dalam konteks figur publik atau momentum politik tertentu, persepsi publik menjadi faktor yang menentukan.
Polemik ini pun kembali memunculkan perdebatan lama: sejauh mana aktivitas keagamaan dapat berlangsung di ruang yang memiliki dimensi politik, dan kapan ia dianggap melampaui batas menjadi alat kepentingan tertentu.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak keluarga Jokowi terkait viralnya video tersebut.
https://fajar.co.id/2026/02/17/pro-k...bela/?page=all
jadi objek wisata di Surakarta walaupun figur mantan presiden dihujat banyak kalangan terutama warganet Twitter.

Selasa, 17 Februari 2026 | 12:46 WIB
WP
SM
Penulis: Wijayanti Putri | Editor: SMR
Warga mengantre di luar rumah pribadi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Jalan Kutai Utara, nomor 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo pascaditandai sebagai Tembok Ratapan Solo di Google Maps, Selasa (17/2/2026). (Beritasatu.com/Wijayanti Putri)
Solo, Beritasatu.com – Alamat rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Jalan Kutai Utara, nomor 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah ditandai sebagai “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps bikin heboh. Meski demikian, rumah itu tetap ramai dikunjungi masyarakat terutama pada momentum libur Imlek 2026.
Pantauan Beritasatu.com, Selasa (17/2/2026), puluhan masyarakat masih hilir mudik datang ke kediaman Jokowi untuk foto-foto sejak pagi. Tak sedikit dari mereka yang datang dari luar kota. Beberapa ada yang sabar menanti hingga bisa berfoto Bersama Jokowi.
Sebelumnya, Ajudan Jokowi AKBP Syarif Muhammad Fitriansyah mengatakan pascaviralnya nama “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps memang tidak ada pembatasan masyarakat yang ingin berkunjung ke kediaman Jokowi di Solo.
“Pembatasan pengunjung tidak ada, seperti biasa saja,” ujarnya.
Ia pun mengatakan sudah mengetahui adanya penamaan “Tembok Ratapan Solo” di alamat kediaman Jokowi. Namun hal itu menurutnya tak perlu disikapi secara berlebihan.
“Kami sudah mengetahui itu (‘Tembok Ratapan Solo’ Google Map). Kalau saya biasa saja,” ucapnya.
Sedangkan saat ditanya apakah Jokowi telah mengetahui perihal penamaan “Tembok Ratapan Solo” itu, Syarif mengaku belum tahu terkait hal tersebut. “Belum tahu beliau (Jokowi) sudah tahu apa tidak kejadian ini,” kata dia.
Sementara itu, dari sekian banyak masyarakat yang mendatangi kediaman Jokowi di Sumber, tampak politikus sekaligus legislator Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Solo, Herson Rikumau. Ia pun menyayangkan perubahan nama alamat rumah Jokowi di Google Maps yang sempat viral tersebut.
“Ya tentunya kami menyayangkan hal itu ya. Sampai kediaman Bapak Jokowi dikait-kaitkan dengan tembok ratapan, karena tentunya kan beda diksi ya. Dan hal ini pasti menimbulkan banyak asumsi-asumsi di tengah masyarakat. Padahal Pak Jokowi merupakan sosok yang menjadi inspirasi banyak orang dan salah satu tokoh berpengaruh di Indonesia,” pungkasnya.
https://www.beritasatu.com/nasional/...idatangi-warga
Pro Kontra Tahlilan di Rumah Jokowi: Guntur Romli Kritik Politisasi, Warga Membela

Selfi Sultan - Viral
Selasa, 17 Februari 2026 16:50 PM
Komentar Bagikan
Tangkapan layar yang viral
FAJAR.CO.ID — Video kegiatan tahlilan di depan rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) viral di media sosial dan memicu polemik. Sejumlah pihak menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk politisasi tradisi keagamaan, sementara pihak lain menyebutnya sebagai ekspresi doa yang wajar dan bagian dari budaya masyarakat.
Politikus Mohamad Guntur Romli yang juga kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) menilai tahlilan merupakan tradisi sakral yang tidak seharusnya ditarik ke dalam kepentingan politik praktis.
“Tahlilan adalah komposisi doa, zikir, tasbih, dan tahlil yang tujuannya meng-Esa-kan Allah. Jika digunakan untuk kepentingan politik atau pemujaan terhadap sosok tertentu, itu mencederai makna spiritualnya,” ujar Guntur dalam keterangannya.
Ia menambahkan, tradisi tahlilan selama ini menjadi bagian penting dari khazanah Islam Nusantara dan dijalankan dengan niat ibadah, bukan sebagai alat mobilisasi politik.
Warga: Doa adalah Hak dan Tradisi
Di sisi lain, sejumlah warga yang mengikuti kegiatan tersebut membantah tudingan politisasi. Mereka menyebut kegiatan itu sebagai doa bersama yang dilakukan secara sukarela.
“Saya datang karena ingin mendoakan dan bersilaturahmi. Tidak ada ajakan kampanye atau kepentingan politik,” kata salah satu peserta yang enggan disebut namanya.
Menurutnya, tahlilan adalah tradisi sosial-keagamaan yang biasa dilakukan di berbagai tempat, termasuk di kediaman tokoh masyarakat. “Selama isinya doa dan tidak ada seruan politik, rasanya sah-sah saja,” tambahnya.
Konteks dan Persepsi Publik Berperan
Publik menilai polemik ini muncul karena konteks lokasi dan figur yang terlibat. Rumah seorang tokoh nasional seperti Jokowi dinilai memiliki makna simbolik yang kuat, sehingga aktivitas apa pun di sekitarnya mudah ditafsirkan sebagai pesan politik.
Dalam ruang publik yang sensitif terhadap isu agama dan politik, simbol bisa lebih kuat dari niat sebenarnya. Di sinilah pentingnya transparansi dan kehati-hatian
Ia menekankan bahwa tudingan politisasi perlu dibuktikan dengan adanya ajakan politik eksplisit atau kepentingan elektoral yang jelas. Tanpa itu, kegiatan tersebut masih bisa dipandang sebagai ekspresi keagamaan warga.
Tradisi dan Politik yang Kerap Beririsan
Di Indonesia, agama dan politik memang sering kali beririsan. Tradisi seperti tahlilan bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga ruang sosial yang memperkuat kebersamaan. Namun, ketika dilakukan dalam konteks figur publik atau momentum politik tertentu, persepsi publik menjadi faktor yang menentukan.
Polemik ini pun kembali memunculkan perdebatan lama: sejauh mana aktivitas keagamaan dapat berlangsung di ruang yang memiliki dimensi politik, dan kapan ia dianggap melampaui batas menjadi alat kepentingan tertentu.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak keluarga Jokowi terkait viralnya video tersebut.
https://fajar.co.id/2026/02/17/pro-k...bela/?page=all
jadi objek wisata di Surakarta walaupun figur mantan presiden dihujat banyak kalangan terutama warganet Twitter.
sweeper dan 8 lainnya memberi reputasi
7
726
24
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.8KThread•59.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya