- Beranda
- Stories from the Heart
Sambel Terong di Osaka
...
TS
shabira.elnafla
Sambel Terong di Osaka
Sambel Terong di Osaka

Quote:
Sambel Terong di Osaka
Angin musim gugur berhembus tipis di Osaka. Lampion kertas di depan restoran kecil itu bergoyang perlahan, memantulkan cahaya kuning ke jalanan yang basah. Di bawah noren bertuliskan:
Warung Jawa-Rasa Ibu.
Orang-orang Jepang masuk dengan payung tertutup rapi, melepas sepatu, lalu duduk di kursi kayu sederhana. Mereka datang bukan untuk kemewahan. Mereka datang untuk sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan — sesuatu yang mereka sebut natsukashii, rasa rindu pada sesuatu yang bahkan bukan milik mereka.
Ironisnya, orang yang memasak di dapur justru tidak lagi tahu seperti apa rasa rindunya sendiri.
“シェフ、七番テーブルです。”
(Chef, meja tujuh.)
Arsen Wijaya menoleh dari kompor. Uap gudeg naik perlahan dari panci besar. Tangannya berhenti mengaduk. "Apa lagi?” tanyanya dalam bahasa Jepang datar.
Pelayan perempuan itu ragu. "Mereka bilang … rasanya berbeda dari biasanya.”
“Kurang manis?”
“Bukan.”
“Kurang asin?”
“Bukan juga …” Ia menunduk sedikit. "Mereka bilang … tidak hangat.”
Arsen tidak menjawab. Ia mengambil sendok kecil, mencicipi gudegnya. Santan tidak pecah. Nangka muda empuk. Gula jawa seimbang. Sempurna.
Namun setelah ditelan, tidak ada apa-apa. Tidak buruk. Tidak juga enak.
Seperti makanan yang dibuat oleh seseorang yang tahu caranya memasak … tapi tidak tahu untuk siapa ia memasak.
Ia meletakkan sendok. "Buat ulang.”
“Chef … ini sudah ketiga kali hari ini …”
“Buat ulang.” Tidak ada emosi.
Dan justru itu membuat dapur langsung sunyi.
Sudah seminggu ini semua menu berubah. Rawon terasa datar. Soto ayam kehilangan aroma.
Bahkan sambalnya … hanya pedas tanpa jiwa.
Pelanggan Jepang tetap sopan. Mereka tetap membungkuk dan berkata enak. Namun hampir semuanya menambahkan satu kalimat:
“Hari ini rasanya … sedikit jauh.”
Jauh.
Arsen tahu mereka benar.
Restoran tutup pukul sepuluh malam. Karyawan pulang satu per satu.
“お疲れ様でした。”
Arsen hanya mengangguk. Ia tinggal sendiri di dapur.
Lampu sebagian dimatikan. Hanya satu lampu kuning di atas meja kerja menyala. Ia membuka kulkas kecil. Tangannya berhenti pada satu bahan.
Terong ungu.
Ia tidak menjual menu itu di restoran. Tidak pernah.
Ia menggorengnya perlahan. Minyak berdesis. Aroma terong matang memenuhi ruangan. Kemudian ia mengambil cobek batu — satu-satunya benda yang ia bawa dari rumahnya di Indonesia bertahun-tahun lalu.
Cabai rawit. Bawang merah. Bawang putih. Garam.
Ia mengulek tanpa berpikir.
Tangannya bergerak sendiri, seperti mengingat sesuatu yang pikirannya sudah lupakan. Ia mencicipi.
Sendoknya berhenti di udara.
Rasanya benar. Persis.
Dan justru itu membuat dadanya sakit. Karena tetap saja … tidak sama.
Ingatan lama muncul begitu saja. Rumah kecil di kampung. Dinding semen belum dicat. Radio tua memutar lagu dangdut pelan. Kipas angin berdecit di sudut ruangan.
Seorang perempuan duduk di lantai dapur.
“Ibu capek nggak sih tiap hari masak begitu?” tanya Arsen remaja.
Perempuan itu tersenyum sambil mengipasi sambal di cobek. "Kalau kamu makan nambah, Ibu nggak capek.”
Arsen meringis. "Teman-temanku bawa bekal ayam goreng, roti, spaghetti. Aku tiap hari sambel terong. Malu, Bu.”
Tangan ibunya berhenti sesaat. Lalu ia berkata pelan. "Kalau nanti kamu sukses … kamu nggak usah makan ini lagi ya.”
Arsen tertawa. “Aku bakal jadi chef luar negeri. Masakannya bukan kayak gini.”
Ibunya hanya mengangguk. "Iya. Yang penting kamu makan enak.”
Di dapur Osaka, tangan Arsen gemetar. Sudah dua tahun sejak ibunya meninggal. Ia pulang hanya satu hari untuk pemakaman. Ia tidak membuka dapur. Tidak melihat kompor. Tidak duduk di lantai. Tidak mencicipi masakan terakhir di meja.
Ia kembali ke Jepang keesokan paginya karena alasan “pekerjaan”. Dan tidak pernah kembali lagi.
Malam itu ia tidak tidur. Pagi harinya, ia membeli tiket pesawat.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun … ia pulang.
Rumah itu lebih kecil dari yang ia ingat. Catnya mulai mengelupas. Halamannya dipenuhi rumput liar. Pintu kayu berderit saat ia buka. Bau rumah lama langsung menyambutnya, campuran kayu, tanah, dan sesuatu yang sangat ia kenal.
Dapur.
Ia berdiri di ambang pintu. Kompor minyak tanah masih di sana. Rak piring aluminium masih sama.
Dan di sudut lantai …
Cobek batu lain.
Ia duduk pelan.
Tangannya menyentuh lantai dingin. Tiba-tiba tenggorokannya sesak.
Tetangga sebelah datang membawa kunci lemari.
“Ibumu ninggalin ini buat kamu.”
Sebuah buku tulis kecil. Buku resep.
Arsen membukanya cepat. Halaman pertama, kosong. Halaman kedua, kosong. Semua halaman kosong.
“Kenapa …?”
Tetangga itu tersenyum sedih. "Ibumu nggak bisa nulis, Sen.”
Arsen diam.
“Dia selalu bilang mau nulis resep buat kamu. Tapi dia cuma hafal di tangan.”
Dunia terasa runtuh pelan.
Jadi selama ini … rasa itu tidak pernah ada di kertas. Rasa itu hanya ada saat ia duduk di lantai, menunggu ibunya selesai mengulek sambal.
Air mata semakin deras keluar dari kelopaknya.
Hari itu Arsen tidak langsung kembali. Ia tinggal beberapa hari. Setiap pasar pagi, iya membeli terong kecil seperti dulu. Arsen mencoba memasak.
Gagal. Kepedasan. Kegosongan. Keasinan.
Berkali-kali.
Sampai suatu sore, ia terlalu lelah dan duduk di lantai dapur. Ia makan sambel yang gagal itu dengan nasi hangat.
Dan tanpa sadar ia berkata pelan. "Bu … kepedasan …”
Kalimat yang dulu selalu ia ucapkan. Ia terdiam.
Tiba-tiba ia sadar. Selama ini ia mencoba mengingat takaran. Padahal yang dulu ia ingat bukan itu.
Yang ia ingat adalah:
ibunya meniup sambal karena takut lidahnya kepanasan, ibunya menyisihkan bagian ayam untuknya, jbunya selalu bilang sudah kenyang.
Padahal piring ibunya selalu paling sedikit.
Tangannya gemetar. Ia menangis. Untuk pertama kalinya sejak pemakaman.
Bukan karena ibunya sudah tidak ada. Tapi karena ia baru sadar …
ibunya selalu memasak bukan agar makanannya enak.
Ibunya memasak agar anaknya merasa pulang.
Beberapa minggu kemudian, Warung Jawa di Osaka buka kembali.
Menu baru ditulis kecil di papan:
Sambel Terong Kampung
Tidak plating cantik.
Tidak dekorasi modern.
Hanya nasi hangat, terong goreng, sambel di cobek kecil.
Hari pertama, seorang pelanggan Jepang mencicipi.
Ia diam lama. Lalu berkata pelan:
“… Hari ini hangat.”
Arsen tersenyum untuk pertama kalinya. Iya akhirnya mengerti.
Resep itu memang tidak pernah ditulis. Karena resepnya bukan cabai, garam, atau bawang. Resepnya adalah seseorang yang dulu selalu menunggu kita pulang dan berpura-pura tidak lapar agar kita bisa kenyang.
Dan di dapur kecil Osaka, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun,
masakan Arsen terasa seperti rumah.
[url=chat gpt]Sumber gambar[/url]
[url=tulisan author ]sumber tulisan[/url]
0
47
Kutip
1
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya