Kaskus

News

mabdulkarimAvatar border
TS
mabdulkarim
Warga Minta Jalan Wamena-Jayapura Diputus Saja: Tak Menjawab Kesejahteraan Papua
Warga Malah Minta Jalan Wamena-Jayapura Diputus Saja: Tak Menjawab Kesejahteraan Papua Pegunungan
Warga Minta Jalan Wamena-Jayapura Diputus Saja: Tak Menjawab Kesejahteraan Papua
Tayang: Selasa, 10 Februari 2026 19:21 WIT
Penulis: Noel Iman Untung Wenda | Editor: Paul Manahara Tambunan


zoom-inlihat fotoWarga Malah Minta Jalan Wamena-Jayapura Diputus Saja: Tak Menjawab Kesejahteraan Papua Pegunungan
Tribun-Papua.com/Istimewa
JALAN TRANS PAPUA LUMPUH - Tampak kendaraan yang tertimbun longsor di Jalan Trans Papua Jayapura-Wamena, tepatnya di Kabupaten Yalimo. (Doc. Humas Polda Papua)

Laporan Wartawan Tribun-papua.com,Noel Iman Untung Wenda

TRIBUN-PAPUA.COM.WAMENA - Jalan seharusnya menjadi urat nadi kehidupan. Ia membuka akses, memangkas jarak, menurunkan biaya logistik, dan pada akhirnya menghadirkan harga barang yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Namun harapan itu tak sepenuhnya dirasakan warga Provinsi Papua Pegunungan, khususnya sejak dibangunnya jalan darat Jayapura–Wamena.

Meski kini jalan tersebut telah dilalui kendaraan roda empat, mulai dari truk hingga Triton pengangkut sembako dan bahan bakar minyak (BBM), kenyataan di lapangan justru menyisakan ironi.

Harga kebutuhan pokok di Wamena dan delapan kabupaten lainya di pegunungan nyaris tak bergerak turun bahkan cenderung tetap mahal.

Pantauan Tribun-Papua.com menunjukkan, sejak jalan darat belum difungsikan hingga bertahun-tahun setelah diperbaiki dan dioperasikan, harga barang relatif stagnan.

Air mineral kemasan merek Aqua ukuran sedang, misalnya, yang di Jayapura dijual sekitar Rp5.000 per botol, tetap dibanderol Rp10.000 bahkan di kabuoaten tetangga bisa mencapai Rp.20.000 di toko-toko wilayah pegunungan.

Kondisi ini tak berubah, baik sebelum maupun sesudah akses jalan diperbaiki.

Hal serupa terjadi pada sembako lainnya. Yang paling dirasakan masyarakat adalah harga BBM.

Di luar penyaluran resmi, bensin dan solar dijual dengan harga berkisar Rp20.000 hingga Rp25.000 per liter angka yang membebani warga di wilayah dengan tingkat pendapatan yang terbatas, di tengah isu satu harga yang sebelumnya dikumandangkan oleh mantan Presiden Jokowi di wilayah Papua.

Ironi kian terasa ketika melihat besarnya anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk perbaikan jalan.

Puluhan miliar rupiah telah dihabiskan, termasuk untuk menangani kerusakan dan longsor yang kerap terjadi di wilayah Jalan Baru Wamena-Jayapura.

Namun, hingga kini perbaikan infrastruktur tersebut belum berbanding lurus dengan penurunan harga barang di tingkat konsumen.

Di tengah kondisi itu, muncul dugaan bahwa jalur darat justru membuka ruang permainan harga oleh segelintir pelaku usaha.

Sebagian pengusaha besar, khususnya di sektor bahan bangunan, sembako, dan BBM, diduga memanfaatkan kelancaran distribusi untuk memperluas jaringan bisnis tanpa menurunkan harga.

Barang-barang dari Jayapura tak hanya masuk ke Wamena, tetapi juga langsung disalurkan ke sejumlah kabupaten tetangga, sementara harga di tingkat lokal tetap tinggi.

Sehingga dengan adanya pemutusan Jalan akibat longsor yang terjadi di kawasan Kali Kill Sabtu (7/2/2026), Kondisi ini di nilai tidak berdampak langsung pada aktivitas ekonomi di Papua Pegunungan, karena masyarakat masih merasa harga yang mencekik ekonomi mereka.

“Jalan putus sekalian lebih baik juga. Ada jalan trans tapi harga barang di Papua Pegunungan tidak pernah turun, malah tambah naik terus,” ujar Aktivis Papua Pegunungan, Bonny Lanny, dengan nada kecewa.

Bonny, yang dikenal vokal dalam isu hak tanah masyarakat adat, mengaku mengikuti perkembangan jalan darat tersebut sejak awal dibangun. Menurutnya, kondisi jalan kini sudah jauh membaik bahkan diperkirakan mencapai hampir 80 persen layak dilalui kendaraan pengangkut barang dalam jumlah besar.

“Barang yang dibawa ke Papua Pegunungan itu bukan sedikit. Tapi harga semen tidak pernah turun, BBM juga begitu bensin, solar. Beras dari Rp15.000 naik ke Rp20.000 dan sampai sekarang tidak pernah turun,” kata Bonny.

Ia mempertanyakan ke mana sebenarnya barang-barang tersebut terserap. Apakah hilang dalam rantai distribusi, ataukah ada permainan harga oleh para pengusaha.

Bonny juga menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten, terhadap harga barang yang masuk melalui jalur darat maupun udara.

“Pemerintah ini pantau atau tidak? Kalau tidak ada pengawasan, jalan ini hanya menguntungkan pengusaha-pengusaha besar. Kalau tidak ada dampak positif bagi masyarakat harga beras, BBM, semen turun lebih baik jalan itu ditutup saja,” tegasnya.

Selain itu, perdebatan soal manfaat jalan darat terus bergulir di ruang publik, beban mahalnya harga kebutuhan pokok paling nyata dirasakan oleh warga kecil di Wamena.

Salah satunya Mama Beti, seorang ibu rumah tangga yang setiap hari beraktivitas menjual pinang di pinggir jalan untuk menopang kebutuhan keluarga.

Di bawah dinginnya udara pegunungan, Mama Beti mengaku tak pernah merasakan perubahan berarti sejak jalan darat Jayapura–Wamena dibuka. Bagi dirinya, jalan itu hanya sekadar dilalui kendaraan, tanpa pernah menyentuh isi dapur keluarganya.

“Jalan darat ini sudah lama ada, tapi harga barang tetap kita beli mahal terus. Jadi kami juga bingung, jalan ini sebenarnya bisa turunkan harga atau tidak,” ujarnya lirih.

Warga Minta Jalan Wamena-Jayapura Diputus Saja: Tak Menjawab Kesejahteraan Papua
JALAN TRANS PAPUA LUMPUH - Kondisi Jalur vital Trans Papua yang menghubungkan Jayapura dan Wamena terputus total akibat bencana tanah longsor di Kabupaten Yalimo, Minggu (8/2/2026). (dok. Humas Polda Papua) (Tribun-Papua.com/Istimewa)

Mama Beti menuturkan, mahalnya harga barang di Wamena benar-benar mencekik kehidupan keluarga.

Apa lagi masyarakat Papua Pegunungan umumnya hidup secara komunal, bersama keluarga besar dalam satu rumah. Kondisi ini membuat kebutuhan pangan jauh lebih besar dibandingkan keluarga inti pada umumnya.

“Di Wamena sini keluarga banyak. Kalau beli beras satu dua kilo itu tidak cukup. Harus lima, enam sampai tujuh kilo baru semua bisa makan,” katanya.

Dengan harga beras yang kini mencapai Rp25.000 per kilogram, Mama Beti mengaku sering kali kewalahan. Penghasilannya dari menjual pinang tidak menentu—kadang laku, kadang sepi pembeli. Dalam kondisi seperti itu, kenaikan harga bahan pokok menjadi tekanan yang terus berulang dari tahun ke tahun.

“Kalau penghasilan tidak ada, orang tidak beli pinang, tapi harga barang tetap naik. Ini dari dulu sampai sekarang kami rasa penderitaan yang sama,” tuturnya.

Warga Minta Jalan Wamena-Jayapura Diputus Saja: Tak Menjawab Kesejahteraan Papua
Ratusan truk yang terjebak di ruas Jalan Trans Papua Jayapura-Wamena, terjebak akibat kerusakan jalan, Yalimo, Papua Peguunungan. (Istimewa) (Tribun-Papua.com/Istimewa)

Bagi Mama Beti, jalan darat yang digadang-gadang sebagai solusi logistik belum pernah benar-benar menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat kecil. Ia berharap pemerintah tidak hanya membangun dan memperbaiki jalan, tetapi juga hadir untuk mengawasi dan mengintervensi harga barang agar terjangkau.

“Harus pemerintah perhatikan. Jalan ini tidak boleh hanya jadi untung untuk orang besar, tapi harus bantu kami masyarakat kecil,” tegasnya.

Bagi warga Papua Pegunungan, jalan bukan sekadar aspal dan beton. Ia adalah simbol harapan akan hidup yang lebih layak.

Namun selama harga kebutuhan pokok tetap melambung, jalan Jayapura–Wamena seakan menjadi jalan panjang yang belum benar-benar sampai pada tujuan utamanya, kesejahteraan masyarakat. (*)

https://papua.tribunnews.com/news/12...ngan?page=all.



Evakuasi Korban Longsor di Jalan Trans Papua Jayapura-Wamena Terkendala Cuaca
Warga Minta Jalan Wamena-Jayapura Diputus Saja: Tak Menjawab Kesejahteraan Papua
Paulus Pulo - detikSulsel
Selasa, 10 Feb 2026 19:26 WIB

Foto: Longsor di jalan Trans Papua tepatnya di Kabupaten Yalimo. (Dok. Istimewa)
Yalimo - Proses evakuasi korban bencana tanah longsor di Jalan Tran Papua Jayapura-Wamena tepatnya di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, belum bisa dilaksanakan karena terkendala cuaca. Tim evakuasi sejauh ini juga belum bisa mendata korban jiwa akibat insiden itu.
"Curah hujan yang tinggi menjadi faktor penyebab lambatnya proses evakuasi," kata Kasat Lantas Yalimo, Ipda Muhammad Yusuf kepada detikcom, Selasa (10/2/2026).

Yusuf mengatakan, pendataan korban longsor yang terjadi di Jalan Trans Papua Jayapura-Wamena belum bisa dilakukan hingga Selasa (10/2). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak PT Hutama Karya masih dilakukan upaya pembongkaran material longsoran.

"Perkembangan situasi pasca kejadian tanah longsor yang terjadi beberapa titik di ruas jalan Trans Papua Jayapura-Wamena belum dilakukan," bebernya.

Ia menjelaskan beberapa titik sedang dilakukan upaya penggalian di antaranya dari arah Jayapura tepatnya di tanjakan Yahuli ke arah kali Kil. Penggalian juga dilakukan untuk arah dari Elelim.

"Para korban yang terdampak longsor baik kendaraan tertimbun material maupun kendaraan terjebak di ruas jalan tersebut hingga saat ini belum berhasil dievakuasi keluar," jelasnya.

Yusuf menambahkan akses jalan yang mengarah ke Jayapura maupun pengendara mengarah ke Wamena masih tertimbun longsor. Satu orang pengendara yang terseret material longsor juga telah ditemukan.

"Untuk korban pengendara Udin yang saat kejadian kendaraannya terseret material longsor dan kendaraan berhasil ditemukan terdampar di pinggiran kali Kil," bebernya.

Akibat insiden ini sejumlah kendaraan mengalami rusak berat. Kendaraan yang tersisa hanya bagian sasis dan mesin mobil, sedangkan bagian cabin dan bak mobil sudah hanyut terbawa arus.

"Kerugian akibat longsor untuk korban jiwa hingga saat ini diperoleh informasi belum ada. Sementara korban materiel belum dipastikan," tutupnya.


Diberitakan sebelumnya, Jalan Trans Papua di Kabupaten Yalimo, putus total akibat tanah longsor di enam titik. Selain itu ada sejumlah kendaraan yang dilaporkan tertimbun material longsor.

"Peristiwa ini dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan yang mengguyur kawasan tersebut sejak Sabtu hingga Minggu, sehingga menyebabkan kondisi tanah labil dan memicu longsor," ujar Kabid Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito kepada wartawan, Senin (9/2).

Peristiwa tanah longsor terjadi di wilayah Kabupaten Yalimo pada Minggu (8/2). Cahyo mengatakan akibat tanah longsor tersebut akses dari Jayapura ke Wamena dan sebaliknya terputus.

https://www.detik.com/sulsel/berita/...kendala-cuaca.



Kementerian PUPR Diminta Segera Atasi Longsor di Jalan Trans Papua
Warga Minta Jalan Wamena-Jayapura Diputus Saja: Tak Menjawab Kesejahteraan Papua
Selasa, 10 Feb 2026 18:16 WIT

Tampilkan Caption
Play
Baca Berita
JAYAPURA, Seputarpapua.com | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan meminta Kementerian PUPR dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Papua–Papua Pegunungan segera turun tangan melakukan perbaikan dan melakukan upaya evakuasi terhadap puluhan kendaraan yang terjebak longsor di Jalan Trans Papua rute Jayapura-Wamena.

Penjabat Sekda Papua Pegunungan, Dr. Wasuok Demianus Siep, mengatakan, Jalan Trans Papua rute Jayapura-Wamena bukan sekadar jalur transportasi darat, melainkan urat nadi perekonomian Papua Pegunungan.

Pasalnya, jalur ini menjadi penghubung utama distribusi barang dari Jayapura ke berbagai kabupaten di pegunungan, selain jalur udara yang terbatas dan mahal.

“Kami berharap pihak penanggung jawab baik Kementerian PUPR dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Papua–Papua Pegunungan segera turun tangan melakukan upaya nyata di lapangan agar kendaraan yang terjebak bisa dikeluarkan, sehingga tidak menimbulkan korban,” ujar Sekda Wasuok pada Selasa (10/2/2026).

Sekda menyebut, dengan adanya jalan darat, biaya logistik dapat ditekan sehingga harga kebutuhan pokok lebih terjangkau bagi masyarakat.

“Jalan ini sangat penting karena dapat menekan harga kemahalan yang terjadi di Papua Pegunungan. Oleh sebab itu, masalah longsor dan terjebaknya kendaraan harus segera diatasi dengan cepat dan tepat,” pintanya.

Sekda juga mengingatkan bahwa keterlambatan penanganan dapat berdampak luas, mulai dari terhambatnya distribusi bahan pokok, meningkatnya harga barang, hingga potensi risiko keselamatan bagi para sopir dan penumpang yang terjebak.

“Kita berdoa bersama agar tidak ada korban jiwa. Saat ini data-data riil terkait lokasi longsor dan dampaknya terus dikumpulkan untuk dilakukan langkah-langkah penanganan bencana,” tuturnya.

Sekda juga menyoroti bahwa longsor ini menunjukkan bahwa tantangan besar pembangunan infrastruktur di Papua Pegunungan.

Jalan Trans Papua yang membelah pegunungan dengan kondisi alam ekstrem membutuhkan perhatian serius agar tetap kokoh menghadapi curah hujan tinggi dan potensi bencana alam.

Keberlangsungan jalur ini bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keterhubungan antar wilayah di Papua.


Sebelumnya, hujan deras yang terjadi sejak Sabtu, 7 Februari 2026 sore hingga Minggu dini hari membuat longsor di ruas Jalan Trans Papua rute Jayapura-Wamena.

Akibat longsor itu, arus transportasi darat Jayapura-Wamena lumpuh total. Bahkan beberapa kendaraan dilaporkan tertimbun material longsor dan puluhan kendaraan lainnya terjebak di sepanjang ruas jalan, serta satu unit truk roda enam dilaporkan hanyut terbawa di Kali Kil.
https://seputarpapua.com/view/kement...ans-papua.html

Ini jalan nasional udah dibangun dari zaman dulu tetap nggak bisa nekan harga barang di Wamena
Tapi laporan Kompas bilang nurunin harga waktu 2021 di Wamena yang panjang jalannya 575 KM setara Jakarta ke Rembang atau Juwana
https://www.kompas.id/artikel/berkah...an-beban-warga

Warga Minta Jalan Wamena-Jayapura Diputus Saja: Tak Menjawab Kesejahteraan Papua


0
621
6
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
694.6KThread58.6KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.