- Beranda
- Berita dan Politik
Rencana Chattra Borobudur, Semua Pihak Harus Satu Suara
...
TS
SunDaimond
Rencana Chattra Borobudur, Semua Pihak Harus Satu Suara
Bloomberg Technoz, Jakarta - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar menekankan pentingnya kesepahaman bersama dalam rencana pemasangan chattra adaptasi pada stupa induk Candi Borobudur. Menurutnya, setiap keputusan yang menyangkut situs warisan dunia harus mengedepankan persatuan bangsa dan kepentingan nasional.
Ia menekankan, perbedaan pandangan dalam strategi isu seperti pemasangan chattra perlu disikapi dengan dialog terbuka dan sikap saling menghormati. Irene mengajak seluruh pihak untuk menyingkirkan ego sektoral dan membangun satu kesepakatan bersama demi kepentingan bangsa.
"Mari kita kesampingkan ego masing-masing dan keluar dari ruangan ini dengan satu suara. Apa pun kesepakatan akhirnya, itu harus menjadi simbol kekuatan kita sebagai bangsa," kata Irene dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (16/1).
“Candi Borobudur adalah titipan kepada kita, bukan milik kita sebagai manusia. Tugas kita bersama adalah memastikan keberadaannya memberi dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat, terutama yang tinggal di sekitarnya,” ujar Irene menambahkan.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Bimas Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, menegaskan bahwa setiap kebijakan terkait pemasangan chattra dilakukan melalui proses yang matang dan penuh kehati-hatian. Ia memastikan seluruh tahapan mempertimbangkan aspek administratif, spiritual, serta prinsip pelestarian cagar budaya.
Laporan Prediktif terhadap Proses Regulasi, Konservasi, dan Tata Kelola Warisan Dunia
Young Buddhist Association Indonesia menyusun laporan ini sebagai bentuk kontribusi intelektual dan tanggung jawab moral generasi muda Buddhis dalam menjaga kesinambungan Candi Borobudur sebagai warisan dunia. Laporan ini tidak dimaksudkan untuk mendukung atau menolak pemasangan Chattra secara apriori, melainkan untuk memetakan secara rasional kemungkinan, risiko, dan konsekuensi dari setiap tahapan prosedural yang saat ini diwajibkan oleh pemerintah.
Menggunakan pendekatan analisis prediktif berbasis kecerdasan buatan Claude.ai model Opus 4.5, laporan ini mengolah data resmi terakhir dari Kementerian Agama, termasuk tujuh prosedur yang harus dilalui sebelum keputusan final dapat diambil. Tujuannya adalah menyediakan gambaran ke depan yang lebih jernih, terukur, dan berbasis data bagi para pengambil kebijakan, pemangku kepentingan, serta masyarakat luas.
Melalui laporan ini, YBA mendorong agar keputusan terkait Borobudur tidak lahir dari dorongan simbolik semata, tekanan opini sesaat, atau romantisasi sejarah, tetapi dari proses yang matang, transparan, dan selaras dengan prinsip konservasi, ilmu pengetahuan, serta tanggung jawab Indonesia di mata dunia.

Pendahuluan: Sebuah Paradoks Konservasi di Abad ke-21
Wacana pemasangan kembali chattra (payung susun) di puncak stupa induk Candi Borobudur bukan sekadar persoalan teknis konstruksi, melainkan sebuah manifestasi dari ketegangan fundamental dalam dunia pelestarian warisan budaya modern: pertentangan antara material authenticity (keaslian material) yang dijunjung tinggi oleh arkeologi klasik dan living heritage (warisan hidup) yang diperjuangkan oleh komunitas keagamaan. Usulan penggunaan “Desain Chattra B”—sebuah struktur perunggu seberat 800 kg dengan pendekatan adaptif—menandai titik balik strategis dari upaya-upaya sebelumnya yang terjebak dalam dogma rekonstruksi batu.
Candi Borobudur, sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (Nomor Inskripsi 592), terikat pada protokol ketat yang diatur dalam Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention. Setiap intervensi fisik pada monumen ini tidak hanya dinilai dari keindahan visualnya, tetapi dari dampaknya terhadap Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value atau OUV). Sejarah mencatat bahwa Borobudur telah mengalami pemugaran masif, terutama di bawah arahan Theodoor van Erp (1907-1911) dan kampanye UNESCO (1973-1983). Namun, isu chattra tetap menjadi “bab yang belum selesai” (unfinished chapter). Van Erp sendiri, yang awalnya merekonstruksi chattra dari serpihan batu yang ditemukan, akhirnya memutuskan untuk menurunkannya kembali karena keraguan akan akurasi bentuk aslinya.

Dokumen perencanaan terbaru yang mengajukan desain “Chattra B” mencoba memecahkan kebuntuan ini dengan tidak lagi mengklaim sebagai “rekonstruksi arkeologis” dari bentuk abad ke-9, melainkan sebagai “adaptasi fungsi” untuk memenuhi kebutuhan spiritual masa kini. Laporan ini akan membedah validitas pendekatan tersebut melalui simulasi tujuh fase persetujuan yang diwajibkan, dengan menggunakan lensa teori konservasi internasional (Piagam Venice, Piagam Burra, Dokumen Nara) dan preseden komparatif global.
Kerangka Teoretis: Mendefinisikan Ulang Intervensi
Keberhasilan atau kegagalan proposal Chattra B sangat bergantung pada ketepatan dalam membingkai narasi konservasi. Dalam leksikon UNESCO, perbedaan terminologi antara “rekonstruksi”, “restorasi”, dan “adaptasi” memiliki konsekuensi hukum dan etis yang sangat berbeda.
Hegemoni Doktrin Arkeologis: Piagam Venice dan Larangan Rekonstruksi
Restoration of Monuments and Sites). Pasal ini secara tegas menyatakan bahwa “segala pekerjaan rekonstruksi harus dikesampingkan a priori,” kecuali untuk anastylosis—yaitu penyusunan kembali bagian-bagian asli yang terdislokasi. Masalah mendasar pada upaya sebelumnya yang menggunakan batu andesit rekonstruksi Van Erp adalah data material. Studi terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2023 dan 2024 mengonfirmasi bahwa persentase batu asli yang dapat diverifikasi dalam susunan chattra Van Erp hanyalah sekitar 42%.1 Dalam logika konservasi ketat, menyusun kembali sebuah struktur di mana 58% materialnya adalah batu baru atau tidak teridentifikasi, sambil mengklaimnya sebagai “bentuk asli”, adalah bentuk pemalsuan sejarah (historical falsification). Jika proposal Chattra B diajukan dengan narasi “mengembalikan bentuk asli Borobudur,” ia akan segera membentur tembok penolakan ini. Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) secara konsisten menggunakan argumen ini untuk menjaga integritas data arkeologis candi.
Celah Strategis: Piagam Burra dan Konsep Adaptasi
Namun, desain Chattra B yang menggunakan material perunggu (bukan batu) membuka peluang interpretasi baru yang lebih fleksibel. Strategi ini memanfaatkan Pasal 1.9 dari Piagam Burra (The Australia ICOMOS Charter for Places of Cultural Significance), yang mendefinisikan Adaptasi sebagai “memodifikasi suatu tempat agar sesuai dengan penggunaan yang ada atau penggunaan yang diusulkan”.
Dalam konteks ini, Candi Borobudur dipandang bukan sebagai “monumen mati” atau sekadar objek studi arkeologi, melainkan sebagai “situs hidup” (living heritage) bagi umat Buddha.
Pemasangan chattra dibingkai sebagai upaya memfasilitasi fungsi religius yang berkelanjutan. Penggunaan perunggu menjadi kunci legitimasi karena memenuhi persyaratan Pasal 12 Piagam Venice: “Penggantian bagian yang hilang harus… dapat dibedakan dari yang asli (distinguishable from the original) agar restorasi tidak memalsukan bukti artistik atau sejarah”.
Dengan menggunakan logam yang jelas berbeda tekstur dan warnanya dari batu andesit kuno, intervensi ini secara visual jujur menyatakan: “Saya adalah tambahan dari abad ke-21, bukan sisa dari abad ke-9.” Ini memberikan apa yang disebut dalam teori konservasi sebagai contemporary stamp (stempel kekinian), yang paradoksnya justru lebih dapat diterima secara etika konservasi dibandingkan upaya meniru batu lama yang bisa menipu pengunjung.
●
●
●
Disingkat
Katedral Bagrati, Georgia: Model “Intervensi Modern” (Gagal/Delisting)

Ini adalah mimpi buruk setiap manajer situs warisan dunia. Katedral Bagrati (abad ke-11) direkonstruksi dari reruntuhan.
Pemerintah Georgia menggunakan pilar beton bertulang dan cladding batu baru untuk membangun kembali badan gereja agar bisa digunakan untuk ibadah.
UNESCO menilai penggunaan teknologi modern (beton) yang tertanam permanen dan mengubah profil reruntuhan asli telah menghancurkan autentisitas situs. Akibatnya, Bagrati dihapus dari Daftar Warisan Dunia pada 2017.
● Pelajaran: Jangan gunakan beton atau struktur permanen modern yang menyatu dengan struktur asli (irreversible). Jika Chattra B memerlukan pengecoran beton di dalam stupa induk untuk menahan beban 800 kg, Borobudur berisiko mengalami nasib sama seperti Bagrati. Solusi harus 100% reversibel (bisa dicopot tanpa bekas).
Ts komentar :
Segala sesuatu tidak abadi, Bahkan Candi Borobudur juga tidak kekal dan abadi
Pendapat pribadi tidak setuju penambahan "Chattra Borobudur" karena ada pemboran pada batuan lapuk dan tua ini, juga, tidak ada nya konsultasi ke pihak UNESCO tentang penambahan "Chattra" pada candi borobudur ini.
Ada Resiko sangat besar terhadap Delisting "Candi Borobudur" sebagai "WARISAN BUDAYA DUNIA" oleh UNESCO itu sangat masuk akal dan nyata. Terus ada Rasa malu karena tidak dapat menjaga cagar budaya peninggalan masa lalu.
Diubah oleh SunDaimond 02-02-2026 21:10
0
473
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
694.9KThread•58.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya