Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue akan membahas tentang kuda terbang Korea Utara (Cheollima)

.
Tahun Baru China 2026 menandai dimulainya Tahun Kuda, sebuah siklus zodiak yang sejak ribuan tahun lalu dimaknai sebagai lambang kekuatan, kecepatan, daya juang, dan mobilitas sosial dalam peradaban Asia Timur. Kuda tidak hanya dipandang sebagai hewan transportasi atau penopang militer, melainkan juga sebagai simbol kultural dan mitologis yang mewakili cita-cita manusia.
Dalam konteks ini, menarik untuk menyoroti Cheollima, kuda terbang yang menjadi lambang negara Korea Utara. Cheollima bukan sekadar simbol propaganda modern, melainkan figur yang memiliki akar panjang dalam mitologi dan sastra klasik Tiongkok, lalu diadaptasi secara politis dan ideologis oleh Korea Utara pada abad ke-20.
Thread ini bertujuan membahas Cheollima secara ilmiah tetapi tetap netral (
tanpa unsur pro terhadap negara atau ideologi tertentu, menempatkannya dalam tradisi mitologi Asia Timur, serta membandingkannya dengan simbol nasional lain seperti Garuda Pancasila di Indonesia. Thread ini disusun khusus sebagai refleksi kultural menyambut Tahun Kuda 2026.
Quote:
Asal Usul Cheollima dalam Tradisi Tiongkok Kuno
Istilah
Cheollima dalam bahasa Korea berasal dari istilah Tionghoa Qianlima (千里马), yang secara harfiah berarti “kuda seribu li”. Dalam satuan jarak tradisional, satu li kira-kira setara dengan 400 sampai 500 meter, sehingga Qianlima digambarkan sebagai kuda yang mampu berlari ratusan kilometer hanya dalam satu hari.
Konsep ini telah dikenal sejak periode Negara-Negara Berperang hingga Dinasti Han, dan muncul dalam berbagai teks klasik Tiongkok. Salah satu konteks paling penting adalah penggunaan Cheollima sebagai perumpamaan bakat luar biasa yang belum tentu dikenali oleh masyarakat atau penguasa.
Dalam kajian sastra Tiongkok klasik, Qianlima sering dikaitkan dengan figur Bo Le, seorang ahli kuda legendaris yang mampu mengenali kuda unggul. Tanpa Bo Le, seekor Qianlima hanya akan dianggap sebagai kuda biasa. Dengan demikian, Qianlima tidak hanya berbicara tentang kecepatan fisik, tetapi juga tentang potensi, pengakuan, dan kepemimpinan visioner (Spring, 1988; Henry, 1987).
Quote:
Kuda Terbang dan Imajinasi Mitologis Asia Timur
Selain Qianlima, mitologi Tiongkok juga mengenal figur Tianma (天马) atau “kuda langit”, yang sering digambarkan sebagai kuda surgawi dengan kemampuan melampaui kuda biasa. Dalam seni Dinasti Han, Tianma kadang digambarkan seolah melayang, memberi kesan kemampuan terbang atau bergerak di luar hukum alam biasa.
Para sejarawan budaya menilai bahwa figur-figur ini merepresentasikan cita-cita manusia terhadap keinginan melampaui batas, kecepatan kemajuan, dan hubungan antara kekuasaan duniawi manusia dan utusan untuk memelihara alam sekitar (Loewe, 2006). Dari titik inilah, konsep kuda luar biasa menyebar ke berbagai wilayah Asia Timur, termasuk ke Semenanjung Korea.
Quote:
Transformasi Cheollima di Korea Utara
Cheollima mulai memperoleh makna politik yang kuat di Korea Utara sejak akhir 1950-an. Setelah Perang Korea (1950 sampai 1953), negara tersebut menghadapi kehancuran infrastruktur dan krisis ekonomi berat. Dalam situasi ini, Kim Il Sung memperkenalkan Gerakan Chollima (Chollima Undong) sebagai kampanye nasional untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan industri.
Cheollima dijadikan perumpamaan negara Korea Utara, bahwa rakyat diharapkan bekerja dan berproduksi “secepat Cheollima”.
Menurut Armstrong (2013), simbol Cheollima digunakan untuk membangun etos kerja revolusioner, menekankan pengorbanan bersama, kecepatan, dan kesetiaan ideologis. Cheollima kemudian diabadikan secara monumental melalui Patung Cheollima di Pyongyang, yang menggambarkan kuda bersayap dengan dua figur manusia (seorang pekerja kasar dan seorang petani) di punggungnya.
Dalam konteks ini, Cheollima berfungsi sebagai simbol kecepatan pembangunan, representasi nasionalisme sosialis, dan alat legitimasi ideologis negara.
Quote:
Tahun Kuda dan Relevansi Cheollima
Dalam kalender China, Tahun Kuda secara tradisional diasosiasikan dengan energi aktif, ambisi, ketekunan, serta perjalanan dan mobilitas.
Cheollima, sebagai kuda mitologis yang melampaui batas kecepatan normal, sangat selaras dengan filosofi Tahun Kuda. Kuda ini mencerminkan gagasan bahwa kemajuan dicapai melalui dorongan, disiplin, dan visi kolektif, sebuah pesan yang secara historis terus digaungkan oleh Korea Utara.
Memperingati Tahun Baru China 2026, Cheollima dapat dipahami bukan hanya sebagai simbol ideologi, tetapi juga sebagai bagian dari warisan mitologi Asia Timur yang lebih luas.
Quote:
Perbandingan dengan Garuda di Indonesia
Indonesia memiliki
Garuda Pancasila sebagai lambang negara, makhluk mitologis yang berasal dari ajaran agama Hindu, khususnya dalam cerita Mahabharata dan Ramayana. Burung Garuda melambangkan kekuatan, keagungan, perlindungan, dan kedaulatan NKRI.
Jika Garuda adalah burung mitologis dari tradisi India yang diadopsi oleh Indonesia, berarti Cheollima adalah kuda mitologis dari tradisi Tiongkok yang diadopsi oleh Korea Utara. Keduanya menunjukkan pola serupa, yaitu dari mitologi lintas budaya, menjadi adaptasi nasional, lalu menjadi simbol negara modern. Hal ini menegaskan bahwa lambang negara tidak pernah lahir dalam ruang hampa, melainkan merupakan hasil hubungan panjang antara mitologi, sejarah, dan politik.
Quote:
Cheollima Bukan Simbol Propaganda
Meski sering dikaitkan dengan propaganda, Cheollima juga dapat dimaknai sebagai simbol budaya yang lebih luas. Cheollima melambangkan pandangan Asia Timur tentang keunggulan dan potensi, hubungan antara bakat dan pengakuan, dan pemikiran tentang percepatan sejarah dan pembangunan.
Dengan memahami Cheollima secara historis dan mitologis, kita dapat melihat kuda ini bukan hanya sebagai lambang negara Korea Utara, melainkan sebagai manifestasi modern dari simbol mitologi kuno yang telah hidup selama ribuan tahun.
Quote:
PENUTUP
Cheollima adalah contoh menarik bagaimana mitologi kuno dapat hidup kembali dalam wujud simbol negara modern. Berakar dari sastra klasik Tiongkok, berkembang dalam imajinasi Asia Timur, dan kemudian dimaknai ulang oleh Korea Utara, Cheollima menunjukkan betapa kuatnya simbol kuda dalam budaya manusia.
Dalam rangka memperingati Tahun Baru China 2026 (Tahun Kuda), Cheollima mengingatkan kita bahwa di balik setiap lambang negara, terdapat lapisan sejarah, mitologi, dan filosofi yang jauh lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.
Quote:
SUMBER
Armstrong, C. K. (2013).
Tyranny of the Weak: North Korea and the World, 1950–1992. Cornell University Press.
Corfield, J. (2014).
Historical Dictionary of Pyongyang. Anthem Press.
Henry, E. (1987). The motif of recognition in early China.
Harvard Journal of Asiatic Studies,
47(1), 5–30.
Loewe, M. (2006).
The Government of the Qin and Han Empires. Hackett Publishing.
Spring, M. K. (1988). Fabulous horses and worthy scholars in ninth-century China.
T’oung Pao,
74(1–3), 1–59.
@pabuaranwetan @sahabat.006 @bukhorigan