- Beranda
- Stories from the Heart
[CERPEN] Batu Menjadi Roti
...
TS
aurora..
[CERPEN] Batu Menjadi Roti
![[CERPEN] Batu Menjadi Roti](https://s.kaskus.id/images/2026/02/01/9481769_20260201023919.png)
Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Andre selalu berjalan seperti pusat medan magnet di lorong SMA negeri itu. Setiap langkahnya mantap, bahunya tegap, dan wajahnya, yang terlalu tampan untuk ukuran remaja laki-laki, seakan diciptakan untuk poster film. Rambut low fade keritingnya jatuh sempurna walau hanya dengan ke barbershop murah, kulitnya sawo matang cerah, hidungnya mancung lurus, sorot matanya tenang tetapi penuh percaya diri. Andre tahu betul mengapa orang-orang menoleh. Sejak hari pertama masuk sekolah itu, Andre tidak hanya dikenal karena keluarganya yang kaya raya, tetapi juga karena tubuhnya yang, entah bagaimana, tampak terlalu kekar tanpa pernah benar-benar berolahraga rutin.
Ayahnya seorang CEO properti, ibunya pemilik jaringan butik. Rumah mereka seperti hotel yang luas, sunyi, dan selalu wangi. Andre tumbuh dengan semua hal yang orang lain impikan, mulai gawai terbaru, sepatu bermerek, hingga mobil ber-AC dingin dengan sopir, tanpa pernah benar-benar berjuang untuk mendapatkannya. Di kamar ber-AC yang selalu rapi, Andre belajar satu pelajaran yang kelak mengakar kuat, bahwa dunia selalu memberi apa yang ia mau, cepat atau lambat, dan seringkali tanpa syarat.
Di sekolah, pujian datang seperti hujan. Siswi-siswi berbisik saat Andre lewat, beberapa siswi lainnya pura-pura menjatuhkan buku agar bisa menatapnya lebih lama.
Pak Damar, guru olahraga, pernah bercanda.
“Ini anak kayaknya dari tahap embrio sudah siap jadi atlet.” canda Pak Damar
Andre tertawa kecil. Ia menerima pujian itu seperti menerima udara. Wajar, tanpa rasa heran.
Pada suatu pagi, kelas X-7 dijadwalkan pelajaran Olahraga. Lapangan sekolah panas, matahari menyengat, dan suara peluit cumiakkan telinga.
“Push-up 100 kali!” titah Pak Damar, sambil menatap murid-muridnya satu per satu
Keluhan terdengar di mana-mana. Ada seorang anak laki-laki yang meringis, ada anak perempuan yang mengeluh sakit di pergelangan tangannya, ada pula yang tertawa gugup. Satu per satu, murid-murid mulai menurunkan tubuh mereka, keringat mereka mengucur bahkan sebelum hitungan push-up mencapai 20 kali. Tangan mereka gemetar, napas mereka terengah-engah.
Andre bergerak naik turun dengan santai. Ia mengatur napas seperti orang yang sedang menghitung langkah. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, wajah Andre nyaris tidak berubah. Di hitungan 50, beberapa temannya sudah melemah. Di hitungan 80, hanya segelintir anak yang bertahan. Saat Andre menyelesaikan hitungan 100, Andre bangkit, menepuk debu di tangannya, dan tersenyum tipis.
“Udah, Andre?” tanya Pak Damar dengan wajah heran
Andre mengangguk.
“Kurang, Pak.” jawab Andre angkuh
Tawa kecil terdengar, tetapi ada juga kemarahan kecil dari temannya. Andre menoleh ke arah teman-temannya yang terkapar.
“Halah, 100 kali aja ngos-ngosan. Yang kuat, dong. Jangan sok lemah,” ucap Andre dengan ringan, seolah kata itu tidak membawa beban apa pun
Beberapa murid tersinggung. Wajah mereka memerah, mata mereka menyipit. Namun, tidak ada yang berani membalas. Andre terlalu kuat, baik secara fisik, maupun dalam pikirannya sendiri. Harga diri Andre seperti tembok tinggi yang tidak bisa dipanjat siapa pun.
Kejadian itu bukan yang terakhir. Beberapa minggu kemudian, saat jam pulang sekolah, kekacauan terjadi di depan gerbang. Seorang guru Biologi, Bu Rina, sedang berjalan ke parkiran ketika tiga orang perampok menghampirinya. Salah satu perampok itu mengeluarkan senjata api, yang lain merampas tas. Teriakan pecah. Murid-murid berlarian. Panik menguasai udara.
Andre berdiri mematung sesaat. Lalu, tanpa berpikir panjang, Andre melangkah maju.
“Woi!” teriak Andre
Ketiga perampok itu menoleh. Andre menyerang dengan kecepatan yang membuat orang-orang kagum. Satu pukulan ke rahang, satu tendangan ke perut, satu bantingan yang membuat tulang belakang beradu dengan aspal. Dalam hitungan menit, ketiga perampok itu terkapar dan merintih kesakitan.
Polisi datang, ambulans menyusul. Bu Rina selamat dari perampokan berkat Andre. Andre semakin dipuji dan dielu-elukan di sekolah. Video kejadian itu menyebar. Andre menjadi legenda sekolah.
Namun, di balik sorak-sorai itu, ada bisik-bisik yang pedas.
“Andre itu sombong.”
“Sok hebat.”
“Merasa paling jago.”
Andre mendengar semua bisik-bisik itu, dan ia menertawakannya.
“Ck, iri tanda tak mampu,” gumam Andre pelan
Waktu semakin berlalu. Prestasi Andre stabil, hidupnya mulus. Hingga suatu sore, di rumahnya yang sunyi, Andre merasakan sesuatu yang asing. Kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya berkunang-kunang. Andre mencoba berdiri, tetapi lantai seakan bergoyang. Tubuhnya kejang-kejang, jatuh menghantam lantai granit yang dingin.
Andre terbangun di rumah sakit dengan bau antiseptik menusuk hidung. Wajah orang tuanya pucat. Dokter berbicara panjang, istilah-istilah medis yang asing meluncur. CT scan. MRI. Kata-kata yang tidak pernah Andre dengar kini menjadi pusat hidupnya.
“Kamu sakit glioblastoma, atau kanker otak,” ucap dokter itu akhirnya, pelan tetapi tegas
Andre tidak mengerti sepenuhnya, tetapi Andre menangkap satu hal, bahwa penyakit ini serius. Sangat serius.
Keluarganya, yang terbiasa membeli solusi, bergerak cepat. Mereka menolak kemoterapi dengan alasan khawatir akan efek samping. Seorang kenalan merekomendasikan pengobatan alternatif di klinik abal-abal di luar kota. Mahal, eksklusif, dan instan menurut klaim.
“Kami sudah membayar sangat mahal,” ucap ibunya Andre, seolah uang adalah jaminan kesembuhan
Andre ikut. Andre ingin cepat sembuh. Ia tidak mau terlihat lemah. Ia tidak mau berani berproses.
Minggu-minggu berlalu. Kanker yang ia derita tidak membaik. Sakit kepalanya semakin sering. Suatu malam, Andre kembali kejang, kali ini lebih parah. Andre dirawat di ICU. Mesin-mesin berbunyi. Selang-selang menempel di tubuhnya. Andre koma selama satu bulan.
Saat Andre terbangun, dunia terasa asing. Otot-ototnya menyusut. Tangannya kurus, kakinya gemetar. Andre mencoba duduk, tetapi gagal. Napasnya pendek. Harga dirinya yang dulu kokoh kini hancur.
Di hari ketiga kesadarannya, seorang gadis berjalan masuk ke ruang ICU. Rambutnya diikat sederhana, seragam sekolahnya rapi tetapi lusuh. Anak itu membawa buku dongeng tipis. Andre mengenalnya. Ia adalah Lisa, teman sekelas Andre, gadis dari keluarga miskin yang sering duduk di pojok, jarang bicara, dan tidak pernah ikut mengagung-agungkan Andre.
“Hai, Andre,” ucap Lisa dengan nada lembut
“Aku boleh duduk di sini?”
Andre mengangguk lemah.
Lisa membuka buku itu.
“Aku mau ceritakan kamu dongeng,” ucap Lisa
“Kalau kamu nggak keberatan.”
Andre menatap langit-langit.
“Terserah.” ucap Andre datar
Lisa mulai bercerita tentang seorang pria kuat di masa lampau, di tahun yang sangat jauh. Pria itu konon bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, mulai dari mengubah air menjadi anggur merah, hingga menyembuhkan wanita yang menderita menstruasi tanpa henti selama 12 tahun. Banyak orang kagum dan memuja pria itu.
“Suatu hari,” cerita Lisa
“Pria itu sangat lapar. Ada bisikan yang menyuruhnya memamerkan kekuatannya, yaitu mengubah batu menjadi roti. Tapi, pria itu menolak. Katanya, kalau manusia hanya fokus mengenyangkan perut, manusia lupa menguatkan batin. Kekuatan fisik bisa membuat orang sombong, tapi tanpa mental yang kuat, manusia rapuh.” lanjut Lisa
Lisa menutup buku.
“Dongeng itu selalu aku ingat,” ucap Lisa pelan
“Kekuatan itu bukan soal bisa atau tidak, tapi soal mau berproses atau tidak.”
Andre menelan ludah. Kata-kata itu menembus sesuatu yang selama ini ia bangun rapat-rapat. Ia teringat ejekannya. Terbayang akan wajah-wajah temannya yang ia rendahkan. Ia sadar, selama ini ia hidup dengan jalan pintas, menolak penderitaan, dan menolak proses.
Air matanya mengalir tanpa Andre sadari.
Hari-hari berikutnya, Andre mulai berubah. Ia menerima kenyataan. Ia mau menjalani operasi yang disarankan dokter, yaitu menanamkan wafer karmustin di dalam kepalanya. Biayanya besar. Keluarganya sudah banyak kehilangan uang. Saat kabar itu menyebar, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Donasi datang dari teman-teman sekolahnya, bahkan dari anak-anak yang pernah Andre ejek.
Andre menangis saat mendengar itu.
Operasi penanaman wafer karmustin dilakukan di Singapura. Prosesnya panjang, dengan pemulihan yang melelahkan. Andre harus belajar berjalan lagi, mengangkat benda ringan, menerima rasa sakit. Ia tidak lagi menjadi orang terkuat di sekolah. Andre hanya seorang remaja yang sedang berjuang.
Tiga tahun berlalu. Andre dinyatakan sembuh dari kankernya. Andre kembali ke sekolah, lalu lulus SMA. Andre tidak lagi sombong. Andre belajar mendengarkan. Andre juga mulai belajar menghargai proses.
Lisa selalu ada untuk menemani Andre. Mereka berdua tumbuh bersama, dewasa bersama. Bertahun-tahun kemudian, Andre dan Lisa akhirnya duduk di pelaminan, menggenggam tangan Lisa.
Andre tersenyum, bukan senyum orang yang merasa paling kuat, melainkan senyum seseorang yang akhirnya berani berproses.
TAMAT
@bukhorigan @pabuaranwetan @itkgid
hellowaufa375 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
1.1K
7
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya