Sumber Gambar:Koleksi pribadi gue
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam GanSist semuanya!
Berbelanja pada dasarnya adalah aktivitas netral. Berbelanja bisa menjadi kebutuhan, hiburan sesaat, bahkan sarana sosial. Namun, dalam konteks psikologi modern, belanja juga dapat bergeser menjadi perilaku candu ketika dilakukan secara kompulsif, sulit dikendalikan, dan menimbulkan dampak negatif pada keuangan, emosi, serta hubungan sosial.
Fenomena kecanduan belanja (atau dikenal sebagai
compulsive buying disorder), lebih sering dilaporkan pada perempuan, bukan karena perempuan lebih lemah, melainkan karena perempuan lebih sering menjadi target pemasaran emosional, dan hidup dalam tekanan sosial yang menghubungkan antara harga diri dengan penampilan dan kepemilikan (Dittmar, 2005).
Dalam
Superwoman Series seri #10 ini, fokus pembahasannya bukanlah menyalahkan perempuan, melainkan memberi kerangka praktis dan ilmiah untuk lepas dari masalah kecanduan belanja. Kerangka itu dirangkum dalam satu kata kunci, yaitu
LEPAS.
LEPAS bukan sekadar akronim, melainkan pendekatan menyeluruh yang menyentuh tubuh, emosi, kognisi, dan perilaku finansial.
Quote:
Memahami Kecanduan Belanja dari Sudut Pandang Ilmiah
Secara ilmu kedokteran saraf dan jiwa, kecanduan belanja melibatkan sistem penghargaan otak, khususnya pelepasan dopamin. Sensasi senang saat membeli barang baru sering kali bersifat sementara, diikuti rasa bersalah atau penyesalan, lalu muncul dorongan untuk mengulang perilaku yang sama (Black, 2007).
Yang perlu dipahami, kecanduan belanja bukan sekadar masalah uang, tetapi juga:
1) Pengendalian emosi yang kurang baik
2) Mekanisme pelarian dari rasa marah atau kesepian
3) Pola pikir impulsif yang terbentuk berulang
Oleh karena itu, solusi yang efektif tidak cukup hanya dengan komitmen untuk berhenti, melainkan memerlukan intervensi perilaku yang rapih.
Quote:
LEPAS, Cara Untuk Lepas Dari Kecanduan Belanja
L: Lari Sprint 100 Meter
Ketika dorongan belanja mulai muncul, otak sebenarnya sedang mengalami lonjakan impuls. Salah satu cara paling efektif untuk memutus siklus ini adalah aktivitas fisik intensitas tinggi dalam waktu singkat, seperti lari sprint 100 meter.
Secara ilmiah, olahraga intensitas tinggi bisa menurunkan sifat impulsif sesaat, mengalihkan fokus otak dari stimulus belanja, dan melancarkan peredaran darah ke korteks prefrontal (bagian otak yang berperan dalam kontrol impuls).
Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik singkat namun intens dapat menurunkan keinginan impulsif, termasuk keinginan untuk boros (Best et al., 2014).
Lari sprint di sini bukan tentang prestasi atletik, melainkan alat biologis untuk menunda keputusan. Dalam psikologi perilaku, menunda impuls selama beberapa menit saja sering cukup untuk membuat dorongan tersebut melemah.
E: Empati Harus Ditingkatkan
Kecanduan belanja sering kali berakar pada fokus berlebihan pada pemenuhan diri secara instan. Meningkatkan empati (baik pada diri sendiri maupun orang lain) dapat menjadi penyeimbang yang kuat.
Empati pada diri sendiri berarti mengakui emosi tanpa menghakimi dan menyadari bahwa belanja bukan solusi jangka panjang.
Empati pada orang lain berarti menyadari bahwa uang memiliki nilai sosial dan memahami dampak konsumsi berlebihan pada lingkungan dan masyarakat.
Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa peningkatan empati seseorang berhubungan dengan penurunan perilaku pemborosan impulsif, karena seseorang mulai mempersepsikan uang sebagai alat tukar ekonomi, bukan pelarian (Piff et al., 2012).
Dengan empati, berbelanja tidak lagi menjadi pelepas rasa sedih atau marah, melainkan keputusan sadar.
P: Push-Up 30 Kali
Push-up adalah olahraga sederhana, tetapi menuntut konsistensi dan ketahanan. Dalam konteks kecanduan belanja, push-up berfungsi sebagai latihan disiplin diri sekaligus penyehat badan.
Secara fisiologis, push-up bisa meningkatkan kekuatan otot dan kepercayaan diri, merangsang pelepasan endorfin yang sehat, serta mengurangi ketergantungan pada dopamin instan dari berbelanja.
Secara psikologis, rutinitas push-up membantu membangun
self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa diri sendiri mampu mengendalikan perilaku (Bandura, 1997).
Ketika tubuh terbiasa menyelesaikan tantangan kecil seperti 30 kali push-up, otak akan belajar bahwa kepuasan bisa datang dari usaha, bukan dari pembelian barang.
A: Angkat Beban
Angkat beban bukan hanya tentang otot, melainkan tentang perumpamaan tanggung jawab. Dalam olahraga ini, seorang perempuan belajar bahwa beban harus diangkat dengan teknik, kesabaran, dan progres bertahap.
Dalam konteks kecanduan belanja, beban melambangkan tanggung jawab finansial, progres bertahap melatih kesabaran, dan konsistensi mengajarkan tentang nilai sebuah pertumbuhan jangka panjang.
Penelitian menunjukkan bahwa latihan kekuatan berhubungan dengan peningkatan penguasaan diri dan penurunan perilaku kecanduan ringan (Oaten & Cheng, 2006).
Dengan mengangkat beban, perempuan belajar bahwa kekuatan sejati adalah kemampuan untuk menahan diri, bukan kemampuan membeli.
S: Sisihkan Uang untuk Ditabung
Langkah terakhir dalam LEPAS adalah yang langkah yang paling konkret, yaitu menyisihkan uang untuk ditabung. Menabung bukan tentang nominal, melainkan tentang kebiasaan.
Secara perilaku, menabung bisa:
1) Mengubah tujuan dalam menggunakan uang, dari kepuasan instan ke tujuan jangka panjang
2) Memberi rasa aman keuangan
3) Mengurangi kecemasan yang sering memicu belanja impulsif
Studi dalam ekonomi perilaku menunjukkan bahwa kebiasaan menabung, meski kecil, dapat menurunkan perilaku pemborosan kompulsif, karena seseorang merasa memiliki kontrol atas masa depan (Thaler & Benartzi, 2004).
Menabung adalah pernyataan diam-diam bahwa diri sendiri di hari esok lebih penting daripada dorongan hari ini.
Quote:
Mengapa LEPAS Efektif untuk Perempuan?
Pendekatan LEPAS menyentuh lima aspek utama:
1) Tubuh (lari, push-up, angkat beban)
2) Emosi (empati)
3) Kognisi (penundaan impuls)
4) Perilaku (kebiasaan sehat)
5) Finansial (menabung)
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip intervensi perilaku modern yang menekankan perubahan kecil, konsisten, dan terintegrasi.
Dalam konteks perempuan super, LEPAS adalah simbol bahwa perempuan modern tidak perlu memusuhi dirinya sendiri untuk berubah. Yang dibutuhkan hanyalah disiplin, kesadaran, dan keberanian untuk konsisten.
Quote:
Lepas Bukan Berarti Kehilangan
Lepas dari kecanduan belanja bukan berarti kehilangan kesenangan, gaya, atau identitas perempuan. Justru sebaliknya, lepas berarti:
1) Mendapatkan kembali kendali diri
2) Menemukan kepuasan yang lebih sehat
3) Menjadi perempuan yang tangguh, bukan emosional
Dan seperti semua seri thread Superwoman, pesan utamanya tetap sama, bahwa perempuan kuat bukan perempuan yang punya segalanya, melainkan perempuan yang paling mampu mengendalikan diri.
Salam Superwoman

.
Quote:
SUMBER
Akun Y*ut*be Pria Seratus Persen (tetapi diadaptasi dengan gaya wanita)
Bandura, A. (1997).
Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman.
Best, J. R., et al. (2014). Short-term aerobic exercise improves executive function.
Journal of Clinical and Experimental Neuropsychology,
36(9), 913–926.
Black, D. W. (2007). Compulsive buying disorder: A review of the evidence.
World Psychiatry,
6(1), 14–18.
Dittmar, H. (2005). Compulsive buying—A growing concern?
Journal of Consumer Behaviour,
4(6), 391–403.
Oaten, M., & Cheng, K. (2006). Longitudinal gains in self-regulation from regular physical exercise.
British Journal of Health Psychology,
11(4), 717–733.
Piff, P. K., et al. (2012). Higher social class predicts increased unethical behavior.
Proceedings of the National Academy of Sciences,
109(11), 4086–4091.
Thaler, R. H., & Benartzi, S. (2004). Save more tomorrow™: Using behavioral economics to increase employee saving.
Journal of Political Economy,
112(S1), S164–S187.
@bingsunyata @bukhorigan @aldo12