- Beranda
- Berita dan Politik
Minta TPNPB-OPM Hentikan Teror, Ketua Adat Lapago: Sipil Wajib Dilindungi!
...
TS
mabdulkarim
Minta TPNPB-OPM Hentikan Teror, Ketua Adat Lapago: Sipil Wajib Dilindungi!
Minta TPNPB-OPM Hentikan Teror di Papua, Ketua Adat Lapago: Warga Sipil Wajib Dilindungi!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuatengah/foto/bank/originals/19-Januari-2026-do.jpg)
Tayang: Senin, 19 Januari 2026 21:45 WIT
Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat fotoMinta TPNPB-OPM Hentikan Teror di Papua, Ketua Adat Lapago: Warga Sipil Wajib Dilindungi!
Tribunnews.com
KECAMAN UNTUK OPM- Ketua Adat Lapago Jayapura Agus Rawa Kogoya memperingatkan TPN-OPM untuk berhenti menyasar warga sipil. Foto: istimewa
A-
A+
Ringkasan Berita:
Ketua Adat Lapago Jayapura Agus Rawa Kogoya memperingatkan TPN-OPM untuk berhenti menyasar warga sipil, Senin (19/1/2026).
Ia menegaskan perjuangan tidak boleh mengorbankan masyarakat tak bersenjata, terutama Orang Asli Papua yang sering jadi korban di Yahukimo.
Agus mendesak kelompok bersenjata menghormati HAM dan tidak menjadikan rakyat sebagai tameng demi menciptakan keamanan di Tanah Papua.
TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, JAYAPURA– Masyarakat adat di wilayah Lapago menolak terhadap segala bentuk taktik gerilya yang menjadikan warga sipil sebagai target kekerasan dalam konflik bersenjata di Papua.
Peringatan tegas tersebut disampaikan Ketua Adat Lapago Kota Jayapura, Agus Rawa Kogoya, menanggapi eskalasi gangguan keamanan yang kian mengkhawatirkan.
Agus mengingatkan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang mengatasnamkan dirinya TPNPB-OPM, yang beroperasi di seluruh wilayah Tanah Papua, segera menghentikan aksi intimidasi terhadap penduduk tak bersenjata.
Menurutnya perjuangan politik dalam bentuk apa pun akan kehilangan nilai moralnya apabila dilakukan dengan cara mengorbankan nyawa masyarakat sipil yang tidak bersalah.
Baca juga: Sinode GKI Kingmi Minta TPNPB-OPM Stop Lukai Warga Sipil Tak Berdaya di Yahukimo
Sebagai ketua lembaga adat dari tujuh wilayah adat besar di Tanah Papua, yaitu Jayawijaya, Lanny jaya, Tolikara, Nduga, Yalimo, Mamberamo Tengah, Yahukimo, Pegunungan Bintang dan Puncak ini, merasa sangat terpukul karena sebagian besar korban kekerasan bersenjata belakangan ini justruOrang Asli Papua (OAP).
"Perjuangan apa pun harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab karena aksi mencelakai masyarakat yang tidak bersalah bukanlah perjuangan]," tegas Agus lewat keterangan tertulisnya, Senin (19/1/2026).
Agusmenekankan bahwa masyarakat sipil tidak memiliki keterlibatan fungsional maupun taktis dalam konflik bersenjata yang sedang berlangsung.
Setiap pergerakan bersenjata diwajibkan untuk tetap menghormati batas-batasan hukum internasional dan nilai-nilai dasar Hak Asasi Manusia (HAM).
Baca juga: Waspada Virus Super Flu Serta Gejalanya, Puskesmas Timika Perketat Skrining Pasien
Apalagi warga yang bekerja sebagai petani, tenaga medis, hingga guru merupakan elemen sipil yang seharusnya dilindungi dan bukan dijadikan sasaran ancaman.
"Lawan dari perjuangan bersenjata bukanlah masyarakat sipil yang tidak memiliki senjata dan hanya ingin hidup dengan aman," jelas Agus.
Ia juga menyoroti secara khusus rangkaian peristiwa tragis yang merenggut nyawa warga sipil di wilayah Kabupaten Yahukimo.
Berdasarkan data catatan keamanan dan laporan resmi yang dihimpun dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Yahukimo menjadi salah satu wilayah dengan intensitas konflik yang tinggi.
Peristiswa tragis yang dilakukan TPNPB-OPM seperti penyerangan pekerja jembatan di Sungai Brazza pada Agustus 2021.
Baca juga: Keberadaan WNA di Nabire Jadi Sorotan, Politisi PAN: Perlu Ada Kantor Imigrasi
Lalu, penyerangan pekerja jalan infrastruktur PT Geoforce Indonesia yang membangun Trans Papua pada Oktober 2022 dan penembakan pesawat sipil di Bandara Dekai pada Maret 2023.
"Masih ada insiden lainnya yang dilakukan kelompok pengacau di Yahukimo," ungkap Agus.
Kejadian di Yahukimo dianggap sebagai potret kelam yang melukai hati masyarakat adat Papua karena mengabaikan hak hidup rakyat kecil.
Rangkaian aksi penembakan terhadap warga sipil di wilayah pegunungan tersebut harus menjadi pelajaran terakhir bagi seluruh kelompok faksi bersenjata.
Agus mengimbau agar TPNPB-OPM tidak lagi menjadikan rakyat Papua sebagai tameng atau korban demi kepentingan eksistensi kelompok tertentu.
Keselamatan rakyat harus menjadi prioritas tertinggi di atas ambisi ideologi mana pun yang sedang diperjuangkan di Bumi Cenderawasih.
"Jika benar berjuang untuk Papua, maka lindungilah rakyat Papua dan jangan sebaliknya justru menyakiti mereka," tegasnya.
Masyarakat adat berharap adanya jaminan keamanan yang nyata agar aktivitas sosial dan ekonomi di pedalaman Papua dapat kembali berjalan normal tanpa rasa takut.
Seluruh elemen adat di Papua kini terus memantau perkembangan situasi dan mendesak semua pihak untuk mengedepankan dialog daripada kontak senjata.
Upaya menciptakan perdamaian di Papua harus dimulai dengan penghentian total kekerasan terhadap penduduk sipil di setiap kabupaten yang menjadi zona konflik.
"Saya berharap peringatan ini didengar secara serius guna mencegah bertambahnya daftar panjang korban jiwa dari kalangan masyarakat tidak bersenjata," pungkas Agus. (*)
https://papuatengah.tribunnews.com/p...ungi?page=all.
Sinode GKI Kingmi Minta TPNPB-OPM Stop Lukai Warga Sipil Tak Berdaya di Yahukimo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuatengah/foto/bank/originals/19-Januari-2026-Tembak-sudahhh.jpg)
Tayang: Senin, 19 Januari 2026 14:46 WIT
Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat fotoSinode GKI Kingmi Minta TPNPB-OPM Stop Lukai Warga Sipil Tak Berdaya di Yahukimo
Tribunnews.com
KECAMAN UNTUK TPNPB-OPM- Sekretaris Umum Sinode GKI Kingmi Papua, Pdt Yones Wenda, mengecam keras aksi penembakan warga sipil oleh TPN-OPM di Yahukimo, Senin (19/1/2026). Foto: Istimewa
A-
A+
Ringkasan Berita:
Sekretaris Umum Sinode GKI Kingmi Papua, Pdt. Dr. Yones Wenda, mengecam keras aksi penembakan warga sipil oleh TPN-OPM di Yahukimo, Senin (19/1/2026).
Ia menegaskan rakyat kecil bukan lawan dan meminta kelompok bersenjata berhenti menyiksa sesama warga Papua demi kepentingan kelompok.
Pdt. Yones juga mendesak TNI-Polri menindak tegas pelaku guna menjamin keamanan aktivitas masyarakat di sana.
TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, JAYAPURA– Sinode GKI Kingmi melontarkan kecaman terhadap TPN-OPM yang kerap menebar terork penembakan bagi warga sipil di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Sekretaris Umum Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, Pdt Yones Wenda, menila serangan terhadap masyarakat sipil yang tidak bersenjata merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan secara moral maupun kemanusiaan.
Sebab itu, Pdt Yones Wenda mengimbau kelompok kriminal bersenjata (KKB) tersebut segera menghentikan segala bentuk teror di wilayah Yahukimo dan sekitarnya.
“Saya menghimbau dengan tegas kepada TPN-OPM, khususnya di Kabupaten Yahukimo, agar jangan lagi membunuh atau menyakiti masyarakat sipil,” ujar Pdt Yones Wenda di Jayapura, Senin (19/1/2026).
Ia menegaskan bahwa masyarakat sipil yang menjadi korban KKB selama ini sejatinya adalah warga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup dasar untuk keluarganya.
"Rakyat kecil yang tidak memiliki senjata lalu ditembak bukan lawan dalam konflik politik apa pun," beber Pdt Yones Wenda.
Pdt Yones Wenda juga menyoroti bahwa pola penyerangan terhadap warga lalu melarikan diri ke hutan hanya akan memperpanjang trauma masyarakat.
"Kalau betul-betul berani berjuang, berjuanglah dengan cara yang benar. Jangan ganggu masyarakat sipil karena mereka bukan lawan," tegasnya kembali.
Sinode Kingmi juga mempertanyakan arah perjuangan kelompok pengacau keamanan tersebut yang dinilai telah menyimpang jauh dari kepentingan rakyat Papua secara umum.
Tindakan menyiksa atau menghilangkan nyawa sesama orang Papua dianggap sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur dan tatanan kehidupan di Tanah Papua.
“Jangan cari nama dan kepentingan dengan cara menyiksa rakyat Papua sendiri,” pinta Pdt Yones Wenda.
Selain itu, Sinode GKI Kingmi juga menyoroti krisis kepemimpinan di dalam kelompok bersenjata tersebut yang berdampak pada jatuhnya korban dari kalangan rakyat kecil.
"Karena para tokoh besar perjuangan di masa lalu tidak pernah mengajarkan kekerasan yang menyasar penduduk sipil yang sedang beraktivitas sehari-hari," tuturnya.
Kondisi keamanan di Kabupaten Yahukimo saat ini membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan guna menjamin keselamatan nyawa warga.
Menyikapi eskalasi kekerasan yang terus meningkat, Pdt Yones Wenda mendesak aparat keamanan untuk mengambil langkah taktis dan penegakan hukum yang kuat.
"Saya mohon kepada TNI-Polri agar menindak tegas pelaku-pelaku yang mengganggu keamanan dan menyiksa masyarakat," pintanya.
Aparat keamanan diharapkan mampu memulihkan situasi agar aktivitas negara dan roda ekonomi masyarakat di pegunungan tetap berjalan normal.
Sinode Kingmi bersama seluruh tokoh agama di Papua merasa prihatin atas banyaknya darah warga sipil yang tertumpah dalam konflik bersenjata belakangan ini.
"Harus ada proses hukum yang transparan dan tegas terhadap para pelaku penembakan karena ini menjadi harapan utama agar keadilan bagi korban dapat segera terwujud," tandas Pdt Yones Wenda. (*)
https://papuatengah.tribunnews.com/p...kimo?page=all.
Gereja dan Pihak Adat sudah minta KKB jangan menyerang sipil. Berarti klaim target intel dibantah oleh mereka
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuatengah/foto/bank/originals/19-Januari-2026-do.jpg)
Tayang: Senin, 19 Januari 2026 21:45 WIT
Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat fotoMinta TPNPB-OPM Hentikan Teror di Papua, Ketua Adat Lapago: Warga Sipil Wajib Dilindungi!
Tribunnews.com
KECAMAN UNTUK OPM- Ketua Adat Lapago Jayapura Agus Rawa Kogoya memperingatkan TPN-OPM untuk berhenti menyasar warga sipil. Foto: istimewa
A-
A+
Ringkasan Berita:
Ketua Adat Lapago Jayapura Agus Rawa Kogoya memperingatkan TPN-OPM untuk berhenti menyasar warga sipil, Senin (19/1/2026).
Ia menegaskan perjuangan tidak boleh mengorbankan masyarakat tak bersenjata, terutama Orang Asli Papua yang sering jadi korban di Yahukimo.
Agus mendesak kelompok bersenjata menghormati HAM dan tidak menjadikan rakyat sebagai tameng demi menciptakan keamanan di Tanah Papua.
TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, JAYAPURA– Masyarakat adat di wilayah Lapago menolak terhadap segala bentuk taktik gerilya yang menjadikan warga sipil sebagai target kekerasan dalam konflik bersenjata di Papua.
Peringatan tegas tersebut disampaikan Ketua Adat Lapago Kota Jayapura, Agus Rawa Kogoya, menanggapi eskalasi gangguan keamanan yang kian mengkhawatirkan.
Agus mengingatkan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang mengatasnamkan dirinya TPNPB-OPM, yang beroperasi di seluruh wilayah Tanah Papua, segera menghentikan aksi intimidasi terhadap penduduk tak bersenjata.
Menurutnya perjuangan politik dalam bentuk apa pun akan kehilangan nilai moralnya apabila dilakukan dengan cara mengorbankan nyawa masyarakat sipil yang tidak bersalah.
Baca juga: Sinode GKI Kingmi Minta TPNPB-OPM Stop Lukai Warga Sipil Tak Berdaya di Yahukimo
Sebagai ketua lembaga adat dari tujuh wilayah adat besar di Tanah Papua, yaitu Jayawijaya, Lanny jaya, Tolikara, Nduga, Yalimo, Mamberamo Tengah, Yahukimo, Pegunungan Bintang dan Puncak ini, merasa sangat terpukul karena sebagian besar korban kekerasan bersenjata belakangan ini justruOrang Asli Papua (OAP).
"Perjuangan apa pun harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab karena aksi mencelakai masyarakat yang tidak bersalah bukanlah perjuangan]," tegas Agus lewat keterangan tertulisnya, Senin (19/1/2026).
Agusmenekankan bahwa masyarakat sipil tidak memiliki keterlibatan fungsional maupun taktis dalam konflik bersenjata yang sedang berlangsung.
Setiap pergerakan bersenjata diwajibkan untuk tetap menghormati batas-batasan hukum internasional dan nilai-nilai dasar Hak Asasi Manusia (HAM).
Baca juga: Waspada Virus Super Flu Serta Gejalanya, Puskesmas Timika Perketat Skrining Pasien
Apalagi warga yang bekerja sebagai petani, tenaga medis, hingga guru merupakan elemen sipil yang seharusnya dilindungi dan bukan dijadikan sasaran ancaman.
"Lawan dari perjuangan bersenjata bukanlah masyarakat sipil yang tidak memiliki senjata dan hanya ingin hidup dengan aman," jelas Agus.
Ia juga menyoroti secara khusus rangkaian peristiwa tragis yang merenggut nyawa warga sipil di wilayah Kabupaten Yahukimo.
Berdasarkan data catatan keamanan dan laporan resmi yang dihimpun dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Yahukimo menjadi salah satu wilayah dengan intensitas konflik yang tinggi.
Peristiswa tragis yang dilakukan TPNPB-OPM seperti penyerangan pekerja jembatan di Sungai Brazza pada Agustus 2021.
Baca juga: Keberadaan WNA di Nabire Jadi Sorotan, Politisi PAN: Perlu Ada Kantor Imigrasi
Lalu, penyerangan pekerja jalan infrastruktur PT Geoforce Indonesia yang membangun Trans Papua pada Oktober 2022 dan penembakan pesawat sipil di Bandara Dekai pada Maret 2023.
"Masih ada insiden lainnya yang dilakukan kelompok pengacau di Yahukimo," ungkap Agus.
Kejadian di Yahukimo dianggap sebagai potret kelam yang melukai hati masyarakat adat Papua karena mengabaikan hak hidup rakyat kecil.
Rangkaian aksi penembakan terhadap warga sipil di wilayah pegunungan tersebut harus menjadi pelajaran terakhir bagi seluruh kelompok faksi bersenjata.
Agus mengimbau agar TPNPB-OPM tidak lagi menjadikan rakyat Papua sebagai tameng atau korban demi kepentingan eksistensi kelompok tertentu.
Keselamatan rakyat harus menjadi prioritas tertinggi di atas ambisi ideologi mana pun yang sedang diperjuangkan di Bumi Cenderawasih.
"Jika benar berjuang untuk Papua, maka lindungilah rakyat Papua dan jangan sebaliknya justru menyakiti mereka," tegasnya.
Masyarakat adat berharap adanya jaminan keamanan yang nyata agar aktivitas sosial dan ekonomi di pedalaman Papua dapat kembali berjalan normal tanpa rasa takut.
Seluruh elemen adat di Papua kini terus memantau perkembangan situasi dan mendesak semua pihak untuk mengedepankan dialog daripada kontak senjata.
Upaya menciptakan perdamaian di Papua harus dimulai dengan penghentian total kekerasan terhadap penduduk sipil di setiap kabupaten yang menjadi zona konflik.
"Saya berharap peringatan ini didengar secara serius guna mencegah bertambahnya daftar panjang korban jiwa dari kalangan masyarakat tidak bersenjata," pungkas Agus. (*)
https://papuatengah.tribunnews.com/p...ungi?page=all.
Sinode GKI Kingmi Minta TPNPB-OPM Stop Lukai Warga Sipil Tak Berdaya di Yahukimo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuatengah/foto/bank/originals/19-Januari-2026-Tembak-sudahhh.jpg)
Tayang: Senin, 19 Januari 2026 14:46 WIT
Editor: Lidya Salmah
zoom-inlihat fotoSinode GKI Kingmi Minta TPNPB-OPM Stop Lukai Warga Sipil Tak Berdaya di Yahukimo
Tribunnews.com
KECAMAN UNTUK TPNPB-OPM- Sekretaris Umum Sinode GKI Kingmi Papua, Pdt Yones Wenda, mengecam keras aksi penembakan warga sipil oleh TPN-OPM di Yahukimo, Senin (19/1/2026). Foto: Istimewa
A-
A+
Ringkasan Berita:
Sekretaris Umum Sinode GKI Kingmi Papua, Pdt. Dr. Yones Wenda, mengecam keras aksi penembakan warga sipil oleh TPN-OPM di Yahukimo, Senin (19/1/2026).
Ia menegaskan rakyat kecil bukan lawan dan meminta kelompok bersenjata berhenti menyiksa sesama warga Papua demi kepentingan kelompok.
Pdt. Yones juga mendesak TNI-Polri menindak tegas pelaku guna menjamin keamanan aktivitas masyarakat di sana.
TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, JAYAPURA– Sinode GKI Kingmi melontarkan kecaman terhadap TPN-OPM yang kerap menebar terork penembakan bagi warga sipil di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Sekretaris Umum Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, Pdt Yones Wenda, menila serangan terhadap masyarakat sipil yang tidak bersenjata merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan secara moral maupun kemanusiaan.
Sebab itu, Pdt Yones Wenda mengimbau kelompok kriminal bersenjata (KKB) tersebut segera menghentikan segala bentuk teror di wilayah Yahukimo dan sekitarnya.
“Saya menghimbau dengan tegas kepada TPN-OPM, khususnya di Kabupaten Yahukimo, agar jangan lagi membunuh atau menyakiti masyarakat sipil,” ujar Pdt Yones Wenda di Jayapura, Senin (19/1/2026).
Ia menegaskan bahwa masyarakat sipil yang menjadi korban KKB selama ini sejatinya adalah warga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup dasar untuk keluarganya.
"Rakyat kecil yang tidak memiliki senjata lalu ditembak bukan lawan dalam konflik politik apa pun," beber Pdt Yones Wenda.
Pdt Yones Wenda juga menyoroti bahwa pola penyerangan terhadap warga lalu melarikan diri ke hutan hanya akan memperpanjang trauma masyarakat.
"Kalau betul-betul berani berjuang, berjuanglah dengan cara yang benar. Jangan ganggu masyarakat sipil karena mereka bukan lawan," tegasnya kembali.
Sinode Kingmi juga mempertanyakan arah perjuangan kelompok pengacau keamanan tersebut yang dinilai telah menyimpang jauh dari kepentingan rakyat Papua secara umum.
Tindakan menyiksa atau menghilangkan nyawa sesama orang Papua dianggap sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur dan tatanan kehidupan di Tanah Papua.
“Jangan cari nama dan kepentingan dengan cara menyiksa rakyat Papua sendiri,” pinta Pdt Yones Wenda.
Selain itu, Sinode GKI Kingmi juga menyoroti krisis kepemimpinan di dalam kelompok bersenjata tersebut yang berdampak pada jatuhnya korban dari kalangan rakyat kecil.
"Karena para tokoh besar perjuangan di masa lalu tidak pernah mengajarkan kekerasan yang menyasar penduduk sipil yang sedang beraktivitas sehari-hari," tuturnya.
Kondisi keamanan di Kabupaten Yahukimo saat ini membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan guna menjamin keselamatan nyawa warga.
Menyikapi eskalasi kekerasan yang terus meningkat, Pdt Yones Wenda mendesak aparat keamanan untuk mengambil langkah taktis dan penegakan hukum yang kuat.
"Saya mohon kepada TNI-Polri agar menindak tegas pelaku-pelaku yang mengganggu keamanan dan menyiksa masyarakat," pintanya.
Aparat keamanan diharapkan mampu memulihkan situasi agar aktivitas negara dan roda ekonomi masyarakat di pegunungan tetap berjalan normal.
Sinode Kingmi bersama seluruh tokoh agama di Papua merasa prihatin atas banyaknya darah warga sipil yang tertumpah dalam konflik bersenjata belakangan ini.
"Harus ada proses hukum yang transparan dan tegas terhadap para pelaku penembakan karena ini menjadi harapan utama agar keadilan bagi korban dapat segera terwujud," tandas Pdt Yones Wenda. (*)
https://papuatengah.tribunnews.com/p...kimo?page=all.
Gereja dan Pihak Adat sudah minta KKB jangan menyerang sipil. Berarti klaim target intel dibantah oleh mereka
daimond25 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
195
4
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.4KThread•59KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya