- Beranda
- The Lounge
Cara Menambah Reps Push Up Tanpa Kelelahan, Cobain Gan!!
...
TS
aurora..
Cara Menambah Reps Push Up Tanpa Kelelahan, Cobain Gan!!

Sumber Gambar:Koleksi pribadi gue
Shalom Aleichem!
Selamat pagi kalian semuanya!

Pada kesempatan yang sangat berharga ini, izinkan gue, Miss Rora, untuk bercerita
.Cerita ini bukan tentang atlet profesional, bukan juga tentang laki-laki yang sejak kecil hobi olahraga. Ini cerita tentang gue, gadis sederhana yang dulu saat masih kecil menganggap push up sebagai “obat” dari orang tua gue kalau gue sakit batuk pilek (katanya biar peredaran darah gue lancar dan penyakit gue sembuh), bukan sebagai cara membentuk otot. Namun, justru dari pengalaman yang sangat pribadi, penuh kecewa, rasa marah, dan perasaan sedih terpendam, gue menemukan satu cara yang secara ilmiah masuk akal untuk menambah repetisi push up tanpa cepat merasa lelah, terutama bagi pemula.
Thread ini gue tulis dengan tetap berlandaskan ilmu pengetahuan. Jadi, bukan sekadar motivasi kosong. Mudah-mudahan, tulisan gue ini bisa jadi bahan renungan sekaligus inspirasi yang bermanfaat.
Awal Push up Gue
Gue mulai rutin push up bukan karena gue ingin punya lengan besar. Jujur saja, awalnya karena otak gue terlalu penuh. Ada masa di hidup gue di mana semua rasa kecewa terasa menumpuk, cita-cita gue banyak yang nggak tercapai, tekanan mental yang bikin gue ingin menangis saja, rasa marah yang harus gue pendam, dan depresi yang nggak punya tempat untuk dikeluarkan. Gue ini bukan tipe orang yang mudah marah. Menangis pun gue tahan, karena gue punya empati. Gue nggak ingin orang lain ikut sedih hanya karena lihat gue menangis.
Hingga pada suatu malam, gue turun ke lantai kamar. Tanpa target, tanpa stopwatch. Gue cuma ingin push up sebentar. Namun, yang aneh, malam itu repetisi push up gue ternyata jauh lebih banyak dari biasanya. Nggak ada napas pendek atau kepala pusing yang sering muncul (gue kalau datang bulan sering anemia, sedangkan saat itu gue sedang datang bulan dan anemia ringan). Napas gue memang agak pendek, tetapi bukan karena kelelahan yang memaksa gue berhenti olahraga. Setelah gue selesai push up, badan gue memang capek, tetapi perasaan gue justru terasa lebih ringan.
Awalnya, gue pikir ini cuma sugesti. Namun, kejadian yang serupa terus terulang. Setiap kali gue melakukan push up sambil “mengingat” hal-hal yang membuat gue ingin marah atau menangis saja, tenaga gue seperti lebih “keluar”. Gue nggak merasa mudah lelah. Dari situ, gue mulai penasaran. Ini kebetulan, atau ada penjelasan ilmiahnya?
Emosi Bukan Musuh Olahraga
Dalam budaya manusia, emosi negatif sering dianggap sebagai sesuatu yang harus ditekan. Sedih jangan ditunjukkan. Kecewa simpan saja. Padahal, dalam psikologi olahraga, emosi nggak selalu menjadi penghambat tenaga. Justru sebaliknya, emosi negatif tertentu dapat meningkatkan keluaran tenaga jika dikelola dengan tepat.
Penelitian klasik dalam psikologi olahraga menunjukkan bahwa tingkat arousal emosional (kesiapan fisiologis dan mental) berpengaruh langsung terhadap performa fisik (Lane & Terry, 2000). Emosi seperti marah atau kecewa dapat meningkatkan aktivasi sistem saraf simpatik, karena detak jantung naik, aliran darah ke otot meningkat, dan fokus menyempit ke satu tugas.
Dalam konteks push up, ini berarti tubuh berada dalam kondisi “siap kerja”. Saat kecewa, gue tidak perlu menangis, dan tidak perlu membentak atau menggerutu. Gue cuma butuh mengingat. Mengingat dengan sadar, tetapi terkontrol. Setiap dorongan ke atas adalah satu kalimat kecewa yang nggak pernah gue ucapkan. Setiap turunan adalah napas yang menahan emosi.
Tentang “Psyching-Up”
Dalam literatur olahraga, ada istilah psyching-up. Ini adalah strategi mental untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan sesaat sebelum atau saat melakukan aktivitas fisik. Bentuknya bisa berupa berbicara kepada diri sendiri (monolog), membayangkan, atau meningkatkan emosi tertentu.
Tod, Iredale, dan Gill (2003) dalam Journal of Sports Sciences menjelaskan bahwa psyching-up dapat meningkatkan produksi gaya otot secara signifikan, terutama pada latihan kekuatan. Intinya, otot tidak hanya digerakkan oleh serat otot, tapi juga oleh sistem saraf pusat. Semakin kuat sinyal sarafnya, semakin besar tenaga yang bisa dikeluarkan.
Menggunakan ingatan emosional, termasuk depresi atau kekecewaan, sebenarnya adalah salah satu bentuk membayangkan dan emotional arousal. Bedanya, ini sangat pribadi. Tidak dibuat-buat. Tidak perlu afirmasi berlebihan.
Bagi pemula, ini sangat penting, karena keterbatasan pemula sering kali bukan di otot, tetapi di perceived fatigue, rasa lelah yang muncul lebih cepat dari kapasitas fisik sebenarnya.
Mengapa Nggak Cepat Lelah?
Pertanyaan pentingnya, kalau tenaga yang keluar lebih besar, kenapa kita nggak cepat lelah?
Jawabannya ada pada cara otak memproses rasa lelah.
Rasa lelah bukan hanya sinyal dari otot, melainkan juga hasil interpretasi otak. Ekkekakis (2009) menjelaskan bahwa ambang batas kelelahan sangat dipengaruhi oleh faktor perasaan dan pikiran. Ketika fokus kita sepenuhnya terserap oleh sesuatu yang mengecewakan atau membuat kita menangis, otak “menggeser” fokus dari sinyal tidak nyaman.
Dalam kasus gue, fokus gue bukan pada hitungan repetisi atau rasa berdebar di dada. Fokus gue adalah pada rasa kecewa atau depresi yang sedang gue “lampiaskan”. Push up menjadi media gue untuk ekspresi kekecewaan, bukan sekadar latihan fisik.
Selain itu, aktivitas fisik intensitas sedang hingga tinggi terbukti meningkatkan pelepasan endorfin dan neurotransmiter seperti dopamin dan serotonin, yang berperan dalam regulasi suasana hati dan pengurangan rasa sakit (Dishman, 1997). Sehingga, dalam hal ini, ada efek ganda. Pertama, kemarahan meningkatkan tenaga. Kedua, latihan meningkatkan emosi positif.
Cara Menerapkannya Dengan Aman dan Bertanggung Jawab
Metode ini bukan tentang memelihara depresi atau kekecewaan supaya tumbuh subur. Justru sebaliknya, untuk mengalihkan dan melampiaskan emosi negatif melalui hal yang positif.
Langkah-langkah yang gue lakukan:
1. Pemanasan tetap wajib
Kemarahan bukan pengganti fisiologi. Otot tetap butuh pemanasan agar aman.
2. Pilih satu set utama
Setiap set nggak boleh dilakukan dengan intensitas emosional tinggi. Cukup satu atau dua set.
3. Diingat, bukan dihayati berlebihan
Ingat peristiwa yang sangat mengecewakan atau membuat loe menangis, tetapi loe harus tetap sadar kalau loe sedang berolahraga.
4. Sinkronkan napas dan gerakan
Dorongan ke atas sebagai pelampiasan emosi, turunan sebagai kontrol emosi.
5. Hentikan jika koordinasi mulai rusak
Saat koordinasi otak mulai berantakan, hentikan. Metode ini bukan alasan untuk mengorbankan keselamatan.
Bagi pemula seperti gue sendiri, cara ini sering membantu menembus “batas kekuatan” tanpa harus memaksakan tenaga secara brutal.
Catatan Penting tentang Kesehatan Mental
Gue perlu menegaskan satu hal, jika perasaan sedih atau marah sudah mengganggu fungsi hidup sehari-hari, olahraga bukanlah pengganti bantuan profesional. Aktivitas fisik memang terbukti meningkatkan kesehatan mental (Biddle & Asare, 2011), tetapi bukan satu-satunya solusi.
Anggap saja push up di sini sebagai pelampiasan, bukan tempat pelarian permanen.
PENUTUP
Buat gue, push up akhirnya bukan tentang olahraga doang. Repetisi memang naik, tetapi yang lebih penting, gue belajar bahwa olahraga bisa menjadi bahasa ketika tangisan atau kemarahan nggak bisa keluar. Ilmu pengetahuan mendukung pengalaman ini, karena kekecewaan, jika dikelola, dapat menjadi bahan bakar untuk olahraga, bukan sebagai penghambat.
Jadi, kalau Agan atau Sista sedang menambah reps push up, masih pemula (terutama bagi perempuan), dan merasa cepat kehabisan tenaga, mungkin masalahnya bukan di otot. Bisa jadi masalahnya di hati dan pikiran kalian. Dan kadang, yang dibutuhkan bukan tenaga yang lebih banyak baru, melainkan keberanian untuk mengelola isi hati sendiri, lalu melampiaskannya ke lantai, satu repetisi demi satu repetisi.
Semoga tips ini bermanfaat untuk kalian
. Quote:
@itkgid @pabuaranwetan @aldo12
mokorevolusi dan 7 lainnya memberi reputasi
8
1.4K
13
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•107.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya