Kaskus

Story

sheva12121Avatar border
TS
sheva12121
Perjalanan Kembali
Bab 1 : Pertemuan yang Manis

Hujan pagi itu turun pelan, seperti bisik Tuhan yang tak ingin mengganggu siapa pun. Maya berdiri di beranda kecil rumah mereka, memandang tetes-tetes air yang menari di daun pohon mangga tua di halaman. Angin membawa aroma tanah basah bercampur wangi bunga melati yang merambat di pagar kayu. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara pagi mengisi paru-parunya yang terasa sesak sejak semalam.

Di dalam rumah, terdengar suara Reza yang sedang menggoda Lila. “Ayah gendong dong, gendong dong, siapa yang paling cantik di rumah ini?”Lila tertawa kecil, suara tawa anak tiga tahun yang masih polos, belum tahu bahwa dunia ini kadang menyimpan duri di balik bunga. “Lila! Lila yang paling cantik!” jawabnya dengan nada penuh keyakinan.

Maya tersenyum tipis. Senyum yang selalu ia pakai setiap pagi untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa hidup ini, meski tak sempurna, masih layak disyukuri.Ia masuk ke dalam, menutup pintu kaca geser dengan hati-hati agar tak terlalu berisik. Reza sudah berdiri di depan cermin kecil di ruang tamu, memasang dasi biru tua yang sudah agak kusam di ujungnya. Maya mendekat, tangannya secara otomatis merapikan kerah kemeja suaminya.“Masih basah rambutnya,” gumam Maya sambil menyentuh rambut Reza yang masih lembap setelah mandi. “Nanti masuk angin.”Reza menoleh, matanya yang cokelat gelap menangkap pandangan Maya. “Kamu yang paling ribet soal angin. Aku sudah besar, Maya.”“Besarmu masih ingat nggak kalau kemarin batuk seminggu gara-gara keluar rambut basah?” Maya mengambil handuk kecil dari gantungan, lalu menggosokkan ke rambut Reza dengan gerakan lembut.Reza tertawa pelan. “Iya, iya, Bu Dokter Maya.”Mereka saling pandang di cermin. Sekilas saja. Tapi cukup untuk mengingatkan Maya pada hari pertama mereka bertemu, sembilan tahun lalu, di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan raya.

Saat itu Reza masih mahasiswa semester akhir, rambutnya lebih panjang, dan senyumnya lebih lebar dari sekarang. Maya datang bersama teman-temannya, memesan es kopi susu yang kehabisan gula, lalu tertawa karena barista salah membuatkan es teh manis.Reza yang duduk di meja sebelah menoleh, lalu berkata dengan suara yang terlalu santai untuk seorang asing, “Kalau mau manis, tambahin gula aja, Mbak. Jangan tambahin drama.”Maya ingat betul bagaimana wajahnya langsung memanas. Bukan karena malu, tapi karena kesal. Siapa sih cowok ini, sok akrab sekali. Tapi entah kenapa, sejak saat itu, setiap kali melewati warung kopi itu, matanya selalu mencari-cari sosok yang sama.Dan Reza selalu ada di sana. Seolah-olah dia memang menunggu.

Hari itu berakhir dengan Reza menawarkan tumpangan pulang karena hujan deras tiba-tiba turun. Di dalam mobil tua berwarna silver yang baunya agak apek, Reza memutar kaset lawas milik ayahnya—lagu-lagu Ebiet G. Ade. Maya diam-diam menyukai pilihan itu. Mereka tak banyak bicara, tapi diam mereka terasa nyaman, seperti dua orang yang sudah saling mengenal lama.Sampai akhirnya Reza berkata, “Aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya aku nggak mau kamu turun dari mobil ini.”Maya menoleh. “Kenapa?”“Karena kalau kamu turun, aku takut besok nggak ketemu lagi.”Maya ingat betul bagaimana jantungnya berdegup kencang saat itu. Bukan karena kata-kata romantis yang indah, tapi karena kejujuran yang polos di baliknya.

Reza bukan tipe pria yang pandai bicara manis. Dia cuma orang yang apa adanya. Dan entah kenapa, justru itulah yang membuat Maya jatuh.Sembilan tahun kemudian, mereka sudah punya Lila. Rumah kecil di pinggiran kota ini adalah saksi bisu perjalanan mereka.

Dindingnya masih berwarna krem yang mulai mengelupas di sudut-sudut. Lantai keramiknya dingin di musim hujan. Dan di sudut ruang tamu, masih tergantung foto pernikahan mereka—Reza memakai jas sewaan yang agak kekecilan di bahu, Maya memakai gaun sederhana warna ivory yang dipinjam dari sepupu. Keduanya tersenyum lebar, mata mereka penuh harapan.Sekarang, harapan itu masih ada. Hanya saja, kadang terasa semakin jauh, seperti bintang yang dulu tampak dekat, tapi semakin lama semakin redup.“Mas, sarapan dulu,” kata Maya sambil menarik Reza ke meja makan.

Di atas meja sudah tersaji nasi goreng sisa semalam yang dipanaskan, telur ceplok, dan teh manis hangat. Sederhana. Tapi Maya selalu berusaha membuat sarapan terasa spesial, meski hanya dengan menata piring dengan rapi dan meletakkan sehelai daun kemangi di atas telur.Reza duduk, menghela napas panjang. “Hari ini meeting sama investor dari Surabaya. Kayaknya bakal pulang malam.”Maya hanya mengangguk. Ia sudah terbiasa mendengar kalimat itu. Dua tahun terakhir, sejak Reza membuka usaha kontraktor kecil-kecilan, pulang malam menjadi hal biasa. Kadang bahkan pulang subuh, lalu tidur sebentar sebelum berangkat lagi.“Jangan lupa makan siang,” ujar Maya pelan.“Iya, Bu.”Lila berlari kecil, naik ke pangkuan ayahnya. “Ayah pulang cepet ya, nanti kita main layangan.”Reza mencium kening Lila. “Pasti, Nak. Ayah usahain.”Maya memandang keduanya. Ada rasa hangat di dadanya, tapi juga ada sesuatu yang mengganjal. Seperti ada celah kecil di antara mereka yang semakin lama semakin lebar. Bukan karena mereka bertengkar. Bukan karena ada orang ketiga. Hanya karena... waktu. Waktu yang seolah terus berlari, sementara mereka berdua berjalan pelan, kelelahan.

Setelah Reza berangkat, Maya mengantar Lila ke taman kanak-kanak. Di perjalanan, Lila bercerita tentang temannya yang punya boneka baru. Maya mendengarkan sambil sesekali menimpali. Tapi pikirannya melayang.Ia ingat percakapan mereka semalam.“Mas, kita kapan liburan lagi?” tanya Maya sambil memijat pundak Reza yang kaku.Reza menggumam, matanya setengah tertutup. “Nanti kalau proyek ini kelar, ya. Janji.”“Janji yang sama seperti tahun lalu?”Reza membuka mata. “Maya... aku lagi usaha. Buat kita. Buat Lila.”“Aku tahu. Tapi aku juga butuh kamu di sini, Mas. Bukan cuma uang yang kamu bawa pulang.”Reza diam lama. Lalu ia menarik tangan Maya, mencium punggung tangannya. “Aku tahu aku kurang. Maaf ya.”Maya ingin marah. Ingin menangis. Tapi ia hanya mengangguk. Karena ia tahu, di balik semua itu, Reza memang mencintainya. Hanya saja, cara Reza mencintai adalah dengan bekerja sampai tulang terasa patah. Dan cara Maya mencintai adalah dengan menunggu, dengan sabar, dengan berharap suatu saat nanti semuanya akan kembali seperti dulu.

Setelah mengantar Lila, Maya pulang ke rumah. Rumah terasa sepi tanpa suara kecil Lila. Ia duduk di sofa, memandang foto pernikahan di dinding. Lalu ia berbisik pada dirinya sendiri,“Kamu masih sayang dia, Maya. Kamu masih sayang.”Tapi di sudut hati yang paling dalam, ada suara kecil yang bertanya,“Lalu kenapa rasanya... ada yang kurang?”Maya menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu. Ia bangkit, mengambil sapu, mulai membersihkan rumah. Gerakan menyapu selalu membuatnya tenang. Seperti menyapu debu-debu kecil di hati juga.

Siang itu, telepon berdering. Nomor tidak dikenal.“Halo?”“Bu Maya?”“Iya, dengan siapa?”“Saya Dimas, dari PT Karya Mandiri. Maaf mengganggu. Kami dapat rekomendasi dari Bapak Reza, katanya Ibu mau mencari pekerjaan paruh waktu?”Maya terdiam sejenak. Ia memang pernah bilang pada Reza ingin bekerja lagi, sekadar mengisi waktu, dan juga membantu keuangan keluarga. Tapi ia tak menyangka Reza benar-benar menghubungi kenalannya.“Iya... betul.”“Kalau berkenan, besok pagi Ibu bisa datang ke kantor kami? Posisinya administrasi proyek, jam 9 sampai 2 siang. Cocok untuk Ibu yang punya anak kecil.”Maya menarik napas. Ada perasaan campur aduk. Senang karena akhirnya bisa melakukan sesuatu di luar rumah. Tapi juga cemas.

Bagaimana kalau ia tak mampu? Bagaimana kalau ia malah menambah beban pikiran?“Tapi saya sudah lama nggak bekerja, Pak.”Dimas tertawa kecil di ujung telepon. Suaranya hangat, seperti secangkir teh jahe di pagi hujan.“Justru karena itu kami mau. Orang yang terlalu lama bekerja kadang lupa bagaimana rasanya menjadi manusia biasa. Kami butuh orang yang masih ingat arti kata ‘rumah’.”Maya tersenyum tanpa sadar.“Baiklah, besok saya datang.”“Terima kasih, Bu. Sampai jumpa besok.”Telepon ditutup.Maya memandang ponsel di tangannya. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya. Bukan cinta. Bukan juga harapan yang berlebihan. Hanya... rasa penasaran kecil. Seperti ketika seseorang membuka jendela di ruangan yang sudah lama tertutup.Ia menghela napas panjang, lalu kembali ke dapur. Ada nasi yang harus dimasak untuk makan malam. Ada baju Lila yang harus disetrika. Ada kehidupan yang harus dijalani.Dan di balik semua itu, tanpa ia sadari, sebuah pintu kecil baru saja terbuka.

Pintu yang kelak akan membawanya ke lorong yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

bukhoriganAvatar border
bukhorigan memberi reputasi
1
27
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.6KAnggota
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.