Kaskus

Entertainment

radityase09Avatar border
TS
radityase09
Dualitas Perfeksionis, Produktif atau Justru Menghambat?
Dualitas Perfeksionis, Produktif atau Justru Menghambat?

Gambaran perfeksionis

Perfeksionis.

Siapa yang selama ini menganggap perfeksionis sebagai trait atau karakter yang baik dalam diri seseorang?

Ada kalanya saya menganggap bahwa menjadi perfeksionis adalah kunci dalam meraih keberhasilan. Di benak saya, karakter ini identik dengan ketelitian, perhatian terhadap detail, tanggung jawab tinggi, komitmen, dan banyak hal baik lainnya.

Namun, lambat laun pandangan saya berubah. Perfeksionis tetap menjadi karakter yang baik, tapi juga menyimpan efek buruk jika dilakukan secara berlebihan. Seperti kutipan satu ini yang lumayan sering berseliweran, baik di sosmed maupun digunakan dalam buku yang kurang lebih berbunyi:

"Too much of anything is bad"

Seperti judul tulisan ini, pertanyaan pun muncul: Perfeksionis, produktif atau justru menghambat?

Selama bisa mengontrol perfeksionismenya di level yang tepat, terutama dalam lingkup kerja kelompok, maka manfaatnya luar biasa. Karena orang yang perfeksionis cenderung punya standar kerja yang jelas. Mereka tidak mudah puas dan rela bekerja lebih keras selama pekerjaan mereka punya mutu yang baik.

Tapi jika berlebih, wah efeknya juga tidak main-main.

Sedikit flashback ke jaman kuliah dulu, saya bertemu dengan orang paling perfeksionis yang pernah saya temui. Yaitu salah satu dosen di lab dimana saya melakukan penelitian untuk skripsi.

Beliau orang yang baik dan ramah, namun ketika jiwa perfeksionisnya muncul, maka egonya jadi sangat kuat. Beliau tidak akan peduli dengan standar orang lain, bahkan aturan lab pun dilanggar jika tidak sesuai dengan standar yang beliau miliki. Karena enggan mengalah, maka mahasiswa maupun peneliti lainnya (dosen maupun pihak luar yang mengujikan sample) yang harus berkompromi.

Walaupun standar beliau tidak salah atau menyalahi aturan lab, tapi pada akhirnya mengganggu aktivitas banyak pihak. Karena mau bagaimanapun, laboratorium adalah ruang untuk umum, bukan milik pribadi.

Tidak hanya berdampak ke orang lain, perfeksionisme yang berlebihan pun menghambat beliau sendiri. Dari dosen pembimbing saya, saya mendapatkan cerita bahwa saat mengejar gelar S2-nya dulu, beliau mengambil topik penelitian yang terlalu tinggi meski telah diperingatkan oleh pembimbingnya. Keputusan tersebut justru membuatnya terpuruk dan gagal menyelesaikan penelitian.

Tidak bisa dipungkiri, perfeksionis adalah karakter yang bernilai. Namun pada akhirnya manusia tetaplah makhluk sosial. Maka, kesadaran bahwa setiap orang punya standar masing-masing adalah hal yang mutlak. Karena itu, kemampuan untuk berkompromi sangatlah penting sebagai penyeimbang. Tidak hanya berkompromi pada orang lain, namun juga pada kemampuan diri sendiri.

Sedikit pengingat buat kita semua, bahwa boleh saja mengejar kesempurnaan selama kita tidak kehilangan diri sendiri.
Diubah oleh radityase09 08-01-2026 14:45
0
30
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread106.6KAnggota
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.