TS
si.matamalaikat
Cuma Butuh Waktu 5 Jam, Begini Rincian Penangkapan Nicolas Maduro
Quote:
Pada Jumat malam, 2 Januari, sampai Sabtu dini hari tanggal 3 Januari; Amerika telah melakukan invasi terhadap Venezuela. Dalam operasi tersebut, Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya berhasil ditangkap. Misi menangkap Maduro diberi kode nama Operation Absolute Resolve.
Tak berselang lama, militer Amerika melakukan konferensi pers dan memberi rincian pelaksanaan operasi tersebut. Di sini TS hanya akan membahas teknisnya dan tidak akan membahas hal yang berkaitan tentang politik atau Donald Trump di dalamnya. Jadi mari kita mulai dari fase awal.
Fase Pertama: Pengumpulan Data Intelijen

Sumber: Wikimedia Commons
Bagi Agan yang mengikuti operasi militer Amerika dari era 80-an, pasti sudah paham, kalau peran intelijen itu sangat penting. Bahkan dalam film bertema militer, anggota intelijen CIA selalu ditampilkan. Dan tentu dalam operasi di Venezuela, agen CIA juga terlibat.
Sudah jadi rahasia umum jika militer Amerika itu sangat memperhatikan detail apa pun terkait target yang akan mereka serang. Kita ambil contoh penangkapan Maduro. Mereka minta data lengkap mulai dari aktifitas sehari-hari sampai denah rumah Maduro.
CIA pun perlu waktu beberapa bulan untuk mengumpulkan data-data tersebut. Datanya pun cukup lengkap. CIA bahkan mengetahui makanan favorit Maduro, pakaian yang dikenakan, ke mana pria itu pergi, denah rumahnya, sampai hewan apa saja yang dipelihara. Setelah seluruh data terkait Maduro diserahkan dan dianggap sudah lengkap, misi penangkapan tak langsung dilakukan.
Selama berbulan-bulan pasukan khusus AS kemudian berlatih memakai replika rumah Maduro, untuk memastikan misi penangkapan tersebut berhasil dan tidak ada nyawa personel yang melayang. Setelah latihan dirasa cukup dan informasi intelijen sudah lengkap, tiba saatnya untuk eksekusi.
Fase Kedua: Memastikan Rute Penerbangan yang Aman Bagi Helikopter

Salah satu MH-47 Chinook dari unit ternama US Army, yakni Night Stalker (160th Special Operations Aviation Regiment). Unit ini juga terlibat dalam misi di Venezuela. Sumber: Departemen Pertahanan AS
Ketika hari operasi penangkapan tiba, seluruh unit militer Amerika dilibatkan. Mulai dari USAF, US Navy, US Marine sampai US Army. Hal pertama yang dilakukan adalah memastikan rute penerbangan yang aman bagi helikopter yang membawa anggota pasukan khusus. Helikopter dipilih karena lokasi target berada di area perkotaan yang padat penduduk.
Karena Venezuela dibekali sistem pertahanan udara canggih buatan Rusia, seperti S-300VM dan Buk-M2E. Maka Amerika perlu melumpuhkan keduanya melalui peperangan (gangguan) elektronik.
Amerika membawa satu EC-130H Compas Call milik USAF dan enam EA-18G Growler milik US Navy selama misi penangkapan Maduro. Kedua pesawat ini punya peran penting dalam membutakan radar pelacak Venezuela. Misi ini dikenal sebagai SEAD (Suppression of Enemy Air Defenses).
US Cyber Command dan US Space Command juga punya peran penting untuk melumpuhkan jaringan komunikasi Venezuela, berupa sistem Komando dan Kontrol (C2). Ini adalah jaringan komunikasi antara pangkalan militer dan komando pusat di jantung ibu kota Caracas.
Ketika sistem radar lumpuh, giliran F-35 dan F-22 masuk arena pertempuran, tugas mereka menembus wilayah udara Venezuela tanpa terdeteksi. Lalu mengumpulkan data penargetan pada sistem pertahanan udara yang memancarkan sinyal.
F-35 dan F-22 mampu untuk melaksanakan misi SEAD (Suppression of Enemy Air Defenses)sekaligus misi DEAD (Destruction of Enemy Air Defenses) tanpa terdeteksi. Misi SEAD untuk melumpuhkan sistem pelacak (radar) lawan, sementara misi DEAD untuk menghancurkan sistem pertahanan udara.
Misi DEAD yang dilakukan Amerika berhasil, karena salah satu Buk-M2E Venezuela gosong terkena serangan udara. Setelah sistem udara dilumpuhkan, helikopter yang membawa personel pasukan khusus dapat leluasa terbang menuju Caracas.

Satu Buk-2ME Venezuela terkena serangan udara. Sumber: @visionergeo via X
Dari uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa lumpuhnya pertahanan udara Venezuela adalah kekalahan telak di bidang peperangan elektronika dan siber. Sistem pertahanan udara itu sudah tidak berfungsi ketika digunakan.
Amerika berhasil mencapai superioritas di ranah informasi dan elektronika, atau gampangnya, Amerika sukses melakukan serangan yang tidak terlihat (The Invisible Strike).
Fase Ketiga: Penangkapan Nicolas Maduro

Sumber: @WhiteHouse via X
Berdasarkan konferensi pers Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine, pesawat yang terlibat dalam misi di Venezuela mulai lepas landas dari 20 pangkalan berbeda di darat dan laut di seluruh belahan bumi bagian barat. Secara total, ada 150 pesawat yang terdiri dari pesawat pembom (B-1), pesawat tempur (F-35, F-22, F/A-18), pesawat intelijen, pengintaian, pengawasan (E-2 Hawkeye EC-130H, EA-18G), helikopter (CH-47, AH-64, AH-1Z) serta berbagai jenis drone berada di langit Venezuela saat Operation Absolute Resolve.
Aset udara yang disebut di atas mulai memasuki wilayah Venezuela pada pukul 01.01 waktu setempat. Saat menuju Venezuela melintasi laut, mereka terbang di atas ketinggian 30 meter dari perairan. Sementara para prajurit yang ikut dalam operasi kali ini berusia paling muda 20 tahun dan 49 tahun untuk yang paling tua.
Karena sistem udara sudah dilumpuhkan, helikopter yang membawa pasukan khusus berhasil mendaratkan pasukan di tujuan. Salah satu helikopter sempat terkena tembakan saat sampai di lokasi tujuan, tapi tidak alami kerusakan parah. Helikopter itu masih bisa digunakan selama sisa misi dan berhasil kembali ke pangkalan.
Saat pasukan Amerika masuk ke rumah Maduro. Sang presiden dan istrinya Cilia Flores sedang tertidur. Mereka dibangunkan dan dibawa ke luar rumah. Helikopter segera dipanggil untuk membawa keduanya.
Sempat terjadi beberapa baku tembak untuk membela diri saat pasukan mulai mundur dari Venezuela. Pasukan berhasil mengevakuasi diri dan kembali ke pangkalan peluncuran terapung mereka di USS Iwo Jima. Tidak ada personel yang kehilangan nyawa dalam misi ini. Hanya saja ada beberapa yang alami luka tembak.

Maduro kini telah ditahan di salah satu penjara di New York. Sumber: @nexta_tv via X
Pukul 03.29 pagi waktu setempat, Maduro dan istrinya sudah dibawa memakai helikopter dan terbang di atas perairan menuju kapal serbu amfibi US Navy, USS Iwo Jima (LHD-7) di Karibia. Total waktu untuk menyelesaikan misi ini hanya 5 jam saja. Keduanya ditahan di New York dan akan segera menghadapi dakwaan.
Saat operasi berlangsung, tim intelijen udara dan darat memberikan pembaruan secara real-time kepada pasukan di darat, guna memastikan pasukan dapat dengan aman menavigasi lingkungan yang kompleks tanpa risiko yang tidak perlu, pasukan tetap terlindungi oleh pesawat, helikopter dan drone yang terbang di atas mereka.
KESIMPULAN
Dari sudut pandang militer, apa yang dilakukan Amerika adalah sebuah keberhasilan besar. Karena mampu menyelesaikan misi dalam waktu singkat serta tanpa kehilangan nyawa pasukan. Serangan ke Venezuela juga menunjukan jika peperangan elektronik serta siber adalah hal penting dalam operasi militer di era modern.
Selain itu, kunci utama keberhasilan Amerika dalam menangkap Maduro adalah CIA. Tanpa data yang mereka kumpulkan, mustahil misi bisa berlangsung dalam waktu yang cepat. Hal ini kembali membuktikan jika lembaga intelijen punya peran tak tergantikan dalam setiap operasi militer Amerika di penjuru planet bumi.
Sekian pembahasan kali ini, TS hanya memberikan informasi dari sudut pandang militer dan pertahanan sebagai tambahan wawasan bagi pembaca sekalian. Semoga bisa bermanfaat, sampai jumpa

Referensi: 1| 2 | 3
fachri15 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.8K
28
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Militer
20.4KThread•10.6KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya
