Kaskus

News

mabdulkarimAvatar border
TS
mabdulkarim
Hilang 20 Hari Usai Rumah Gereja Disapu Bandang, Pendeta Lea Ditemukan Meninggal 3 Km
Hilang 20 Hari Usai Rumah dan Gereja Disapu Bandang, Pendeta Lea Ditemukan Meninggal 3 Km dari Rumah
Hilang 20 Hari Usai Rumah Gereja Disapu Bandang, Pendeta Lea Ditemukan Meninggal 3 Km
Tayang: Minggu, 14 Desember 2025 21:52 WIB | Diperbarui: Minggu, 14 Desember 2025 22:07 WIB
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Ayu Prasandi


zoom-inlihat fotoHilang 20 Hari Usai Rumah dan Gereja Disapu Bandang, Pendeta Lea Ditemukan Meninggal 3 Km dari Rumah
TRIBUN MEDAN/Fredy Santoso
Betty Trifena Ritonga, anak pendeta Lea Felanie (59) yang hilang terbawa banjir bandang di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, ketika diwawancarai sambil menunjukkan foto ibunya, Minggu (14/12/2025). Ia mengatakan ibunya sudah ditemukan meninggal dunia 3 Kilometer dari rumah, setelah 20 hari hilang.
A-
A+
TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN- Pendeta bernama Lea Felanie (59) yang hilang terbawa banjir bandang di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, akhirnya ditemukan.

Jenazahnya ditemukan sekitar 3 Kilometer dari tempat tinggalnya, atau sekitar pasar tradisional Tukka, sekira sore tadi, Minggu (14/12/2025).

Anak ketiga korban, Betty Trifena Ritonga mengatakan, usai ditemukan, pihaknya mendatangi rumah sakit.

"Puji tuhan. Mama kami sudah ditemukan hari ini di Pasar Tukka, sekitar 3 Kilometer dari rumah,"kata Betty Trifena Ritonga, Minggu (14/12/2025).

Betty mengatakan orang tuanya akan dimakamkan besok pagi, sekira pukul 09:30 WIB, di pemakaman depan gereja GPDI, Kelurahan Sibuluan Nalambok, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah.

"Mama sudah bersama bapa di surga. Akan dimakamkan besok pagi,"ungkapnya.

Sebelumnya, bencana banjir bandang disertai lumpur, kayu gelondongan, dan batu menghantam pemukiman warga di lorong 4, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (14/12/2025).

Pagi itu, kedua orang tua Betty yang merupakan pendeta, Lea Felanie (59) dan ayahnya Irwanner Muda Ritonga (57) sedang sarapan pagi.

Saat itu, hujan selama berhari-hari sudah melanda wilayah tersebut.

Sesudah sarapan, ibunya, Lea Felanie beres-beres dan ayahnya masih duduk.

Tak lama kemudian, ayahnya mendengar suara kayu menganghantam pintu gereja yang berdampingan dengan rumah mereka.

Begitu dilihat, kayu besar sudah merusak pintu rumah dari arah perbukitan.

Tak lama kemudian, air dan kayu semakin banyak datang dan pendeta Irwanner spontan melompat ke rumah sebelah menyelamatkan diri, sambil memanggil istrinya, Lea Felanie.

"Bapak melompat ke rumah sebelah dan manggil mama, ayok, sudah banjir,"ungkapnya.

Begitu ayahnya menyeberang, rumah mereka yang berdempetan dengan gereja langsung terbawa banjir bandang.

Begitu juga dengan ibunya yang masih berada di dalam rumah.

Sedangkan pendeta Irwanner Muda Ritonga, melompat lagi memanjat pohon bersama seorang anak kecil laki-laki.

Namun, pohon yang mereka panjat pun tumbang membuat keduanya sempat terhanyut ke seberang sungai.

Syukurnya, pendeta Irwanner dan seorang anak laki-laki itu selamat setelah naik ke perbukitan, lalu kembali menyebrang sungai ke pemukiman.

"Bapak selamat pun itu mukjizat, karena situasinya begitu parah."

https://medan.tribunnews.com/sumut-t...umah?page=all.

turut berduka cita


Kasih Ibu Sepanjang Masa, Lenne Rela Tak Makan Demi Susu Anak: Bu, Ada Susu Gak Bu
Hilang 20 Hari Usai Rumah Gereja Disapu Bandang, Pendeta Lea Ditemukan Meninggal 3 Km
Tayang: Minggu, 14 Desember 2025 17:31 WIB | Diperbarui: Minggu, 14 Desember 2025 17:31 WIB
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Ayu Prasandi


zoom-inlihat fotoKasih Ibu Sepanjang Masa, Lenne Rela Tak Makan Demi Susu Anak: Bu, Ada Susu Gak Bu
TRIBUN MEDAN/Fredy Santoso
Lenne (20) korban banjir yang tinggal di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, ketika diwawancarai, Minggu (14/12/2025). Ia menyebut, kebutuhan anak seperti popok dan susu menjadi prioritas.
A-
A+
TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN- Penyintas korban banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara masih terus berjuang.

Khususnya ibu hamil dan ibu yang memiliki anak dibawah lima tahun.

Pascabanjir 20 hari lalu, mereka masih berusaha mendapatkan susu untuk anak-anaknya.

Para ibu-ibu terlihat duduk di pinggir jalan berdebu bekas banjir, memperhatikan setiap kendaraan yang melintas.

Sebagian mereka, ada yang sambil menggendong anaknya.

Setiap kali mobil bak terbuka, maupun mobil boks lewat yang diperkirakan membawa bantuan selalu didekati.

Mereka menanyakan ada tidak susu yang dibawa untuk anak.

Beberapa diantaranya tampak berjalan pelan-pelan mendekati mobil.

Namun, jika tidak ada susu anak, ibu hamil mereka kembali menjauh.

Bahkan, mereka tidak memaksa, jika pun bantuan itu bukan untuk kampung mereka.

Salah satunya seorang ibu-ibu mengenakan kaus putih yang duduk di dalam kios.

Sambil mengayunkan anaknya yang tidur, saat mobil Puskesmas Kecamatan Tukka melintas membawa bantuan keperluan ibu-ibu dan anak, ia langsung berteriak.

"Bu, ada susu bu?"tanyanya.

Mobil yang dikemudikan Kepala Puskesmas Tukka dr Maruli Silalahi pun langsung berhenti.

Ibu-ibu hamil, menyusui dan memiliki anak balita langsung berkumpul.

Satu persatu mereka menerima paket berisi perlengkapan anak dan bayi yang dibagikan.

Salah satu penerima susu bubuk ialah Lenne, 20 tahun, yang sedang menggendong anak laki-laki berusia 1 tahun.

Wajah yang awalnya agak murung, langsung semringah, berseri-seri usai mendapat sekotak susu kotak warna merah.

Ia menyebut, kebutuhan ibu-ibu untuk anaknya di Kecamatan Tukka yang tidak mengungsi maupun mengungsi ialah susu dan popok.

"Kebutuhannya disini itu susu dan popok.
Itu saja yang terpenting untuk anak-anak,"kata Lenne, Minggu (14/12/2025).

Saat ditanya mengenai kebutuhan pribadinya, termasuk makanan bergizi, wajah Lenne kembali bersedih.

Seperti menahan tangis, ia menyebut keperluannya tak terlalu dipikirkan.

Baginya, kebutuhan anak diatas segalanya. Tak peduli ia makan atau tidak makan.

"Kebutuhan ibu tidak terlalu dipikirkan. Yang penting anak."

Diketahui, banjir bandang, longsor yang disertai lumpur, kayu-kayu gelondongan melanda Kabupaten Tapanuli Tengah pada Selasa 25 November lalu.

Khususnya di Kecamatan Tukka, adalah wilayah terparah bencana tersebut.

Berdasarkan data dari situs infobencana tapteng, di Kecamatan Tukka, ada 31 orang meninggal dunia dan 26 belum ditemukan atau hilang.


https://medan.tribunnews.com/sumut-t...k-bu?page=all.
Kawasan Tapanuli Tengah





ojol.jayaAvatar border
ojol.jaya memberi reputasi
1
316
4
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
695.1KThread58.9KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.