Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat pagi kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang salah satu tanda trauma psikis pada anak, yaitu perubahan kepribadian

.
Perubahan kepribadian pada anak sering kali dianggap sebagai fase tumbuh kembang atau kenakalan anak kecil. Namun, apakah normal jika perubahan itu terjadi terlalu cepat, terlalu ekstrem, dan tidak sesuai dengan pola perkembangan anak? Misalnya, anak yang biasanya lembut tiba-tiba menjadi sangat pemarah, atau anak yang selalu fokus tiba-tiba berubah menjadi tidak bisa diam, suka lari kesana kemari, dan sering ketinggalan barang. Atau, anak yang sebelumnya pendiam justru berubah menjadi sangat banyak bicara.
Sebagian orang tua menganggap perubahan anak yang sangat drastis seperti ini sebagai kenakalan atau kurangnya disiplin. Padahal, bisa jadi ada sesuatu yang lebih berat dan lebih serius yang sedang terjadi pada diri anak, yaitu trauma.
Thread ilmiah ini akan membahas bagaimana trauma dapat mengubah kepribadian anak secara drastis, apa saja tanda-tandanya, dan bagaimana langkah tepat bagi orang tua untuk mengenalinya sejak dini. Semuanya dibahas dengan bahasa yang santai supaya nyaman dibaca, tetapi tetap berbasis penelitian.
Quote:
Mengapa Trauma Bisa Mengubah Kepribadian Anak?
Trauma pada anak bisa berasal dari berbagai hal, mulai dari kekerasan fisik, tindakan medis tertentu, kehilangan orang yang dicintai, kecelakaan, perundungan, pertengkaran orang tua, bencana alam, hingga kejadian menakutkan yang mungkin dianggap terlalu ringan oleh orang dewasa. Menurut laporan dari
American Academy of Child & Adolescent Psychiatry (AACAP), pengalaman traumatis dapat memengaruhi sistem saraf anak, sehingga mengubah cara anak-anak bereaksi terhadap lingkungan, bahkan dalam jangka panjang.
Secara ilmiah, trauma memicu aktivasi berlebihan pada sistem stres anak, terutama pada bagian otak seperti amigdala (pusat stres) dan korteks prefrontal (pusat pengatur fokus dan pengambilan keputusan). Ketika aktivitas stres berlangsung terlalu lama, perkembangan otak bisa menjadi tidak seimbang. Itulah sebabnya, perilaku anak bisa berubah secara drastis bukan karena mereka nakal, melainkan karena otak mereka sedang memasuki mode bertahan hidup.
Quote:
Perubahan Kepribadian Yang Perlu Diwaspadai
1. Anak Yang Lembut Menjadi Pemarah Dan Kasar
Perubahan dari lembut menjadi pemarah merupakan tanda klasik trauma. Ini terjadi karena anak berada dalam mode “melawan atau kabur”, atau mode bertahan hidup. Setiap hal kecil bisa dianggap ancaman, sehingga respons anak-anak menjadi jauh lebih defensif.
Menurut penelitian dari
National Child Traumatic Stress Network (NCTSN), anak yang mengalami stres atau trauma berat cenderung menunjukkan
hyperarousal, yang terdiri dari mudah marah, cepat meledak, dan kesulitan mengendalikan emosi. Di usia kanak-kanak, kemampuan mengendalikan emosi memang belum matang. Ketika ditambah pengalaman traumatis, kontrol diri itu semakin terganggu.
Perilaku agresif bisa berupa memukul atau menendang tanpa sebab yang jelas, melawan figur otoritas, membanting barang, bahkan berkata kasar, bahkan jika sebelumnya tidak pernah.
Perubahan seperti ini bukan semata-mata kepribadian anak kurang ajar, melainkan bisa menjadi sinyal bahwa anak sedang dalam mode bertahan hidup.
2. Anak Yang Biasanya Fokus Menjadi Tidak Bisa Diam Dan Ceroboh
Banyak orang tua langsung mengira anak mengalami ADHD. Padahal, trauma juga dapat menimbulkan perubahan kepribadian yang terlihat sangat mirip dengan ADHD. Anak menjadi tidak bisa fokus, gelisah, lari-lari tanpa henti, impulsif, sering kehilangan atau ketinggalan barang (seperti pensil, buku, mainan), pura-pura tidak mendengarkan, dan pikiran anak seperti meloncat terus dengan cepat tanpa henti.
Menurut studi oleh Dr. Bessel van der Kolk (2014), trauma pada anak bisa mengacaukan kemampuan fokus dan kontrol impuls. Anak bisa tampak sangat hiperaktif, karena tubuhnya memproduksi hormon stres secara berlebihan. Ketika stres internal terlalu tinggi, fokus menjadi sulit dipertahankan.
Yang sering terjadi, anak cenderung sering dimarahi karena dianggap ceroboh atau tidak bisa diam. Padahal, tubuhnya sedang mencoba mengurangi kecemasan melalui gerakan terus-menerus.
3. Anak Yang Pendiam Menjadi Sangat Banyak Bicara
Perubahan yang satu ini sering tidak dianggap sebagai masalah. Orang tua mungkin justru senang karena anaknya lebih aktif atau lebih percaya diri. Namun, jika perubahan itu terlalu aneh dan ekstrem, itu artinya perlu diwaspadai.
Anak yang pendiam kemudian menjadi sangat cerewet bisa jadi sedang mengalami kecemasan internal. Mereka berbicara terus-menerus sebagai mekanisme coping, yaitu cara tubuh mengalihkan diri dari ingatan traumatis atau rasa tidak aman. Beberapa anak bahkan terlihat seperti berusaha menyenangkan semua orang sebagai bentuk pertahanan diri.
Penelitian dari
Child Mind Institute menunjukkan bahwa sebagian anak trauma berusaha menghindari perasaan negatif dengan berbicara berlebihan, bercanda berlebihan, atau bersikap terlalu ramah.
Quote:
Mengapa Orang Tua Sering Tidak Menyadari Trauma Pada Anak?
Sebab, anak-anak jarang bisa menyampaikan perasaan traumatis secara verbal. Anak-anak tidak bisa berkata bahwa dirinya pernah mengalami pengalaman mengerikan yang membuat mereka tertekan secara psikis.
Alih-alih, anak-anak berusaha melampiaskan rasa tertekan itu melalui perilaku.
Masalahnya, banyak orang tua justru menganggap perubahan ini sebagai kurang disiplin, kurang ajar, fase perkembangan, cari perhatian, atau sekadar ingin memberontak.
Padahal, perilaku anak adalah bahasa utama mereka sebelum kemampuan berbahasa secara verbal berkembang.
Selain itu, trauma tidak selalu berasal dari kejadian ekstrem seperti perundungan atau kekerasan fisik. Bagi anak, hal yang tampak terlalu sepele bagi orang dewasa bisa jadi sangat mengerikan bagi mereka. Misalnya, melihat orang tua bertengkar, mendengar ancaman, menjalani tindakan medis tertentu (misalnya diinfus), dipermalukan guru di kelas, dan diejek teman.
Trauma bersifat subyektif, karena apa pun yang membuat anak merasa sangat tidak aman bisa menjadi pemicu.
Quote:
Tanda Tambahan Bahwa Anak Mungkin Mengalami Trauma
Selain perubahan kepribadian yang terlalu drastis, ada juga gejala lain yang sering muncul, antara lain:
1. Kesulitan tidur atau mimpi buruk
2. Menghindari tempat atau orang tertentu
3. Perilaku yang kembali menjadi kekanak-kanakan (misalnya kembali mengompol padahal sudah bisa
toilet training)
4. Keluhan fisik tanpa penyebab medis, seperti sakit perut atau pusing
5. Kecanduan video game atau berolahraga berlebihan sebagai mekanisme pelarian
6. Mengalami kecemasan berlebihan
Jika 2 atau lebih gejala ini muncul bersamaan dengan perubahan kepribadian, kemungkinan bahwa anak mungkin sedang trauma cukup besar.
Quote:
Apa Yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
1. Jangan Langsung Menghakimi
Perubahan perilaku anak yang drastis tidak sama dengan perilaku nakal. Itu adalah sinyal. Cobalah melihat dari kacamata lain. Mungkin, anak sedang kesulitan, bukan membuat kesulitan.
2. Buka Ruang Aman Untuk Bercerita
Tidak perlu memaksa anak untuk mengakui trauma. Cukup sediakan ruang aman, misalnya dengan mendengarkan tanpa menginterupsi, tidak membentak, tidak menyudutkan, dan tidak mengurangi validitas perasaan anak. Biarkan anak merasa aman dulu.
3. Amati Pola Perubahan
Perubahan yang mendadak dan ekstrem lebih mungkin berkaitan dengan trauma psikis alih-alih perkembangan bertahap. Catat kapan perubahan mulai terjadi, dan dalam situasi apa perilaku semakin memburuk.
4. Konsultasi Dengan Profesional
Psikolog anak atau psikiater anak bisa membantu menilai apakah anak mengalami trauma, gangguan kecemasan, ADHD, atau masalah kejiwaan lainnya. Penanganan trauma biasanya menggunakan beberapa pendekatan, seperti:
1. Terapi bermain (
play therapy)
2. Terapi perilaku kognitif
3. Terapi pemrosesan trauma
4. Pendampingan orang tua
Kunjungan ke profesional bukan berarti ada yang salah dengan anak, melainkan bentuk dukungan.
Quote:
KESIMPULAN
Perubahan kepribadian anak yang sangat drastis bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Anak yang lembut berubah menjadi pemarah, anak yang fokus tiba-tiba menjadi tidak bisa diam dan pelupa, atau anak yang pendiam tiba-tiba berubah menjadi sangat cerewet bisa jadi sedang menghadapi trauma psikis yang tidak tersampaikan.
Dengan memahami bagaimana trauma bekerja, orang tua dapat lebih peka dan responsif. Ingat, perilaku anak adalah bahasa mereka. Jika perilakunya berubah, bisa jadi itu adalah cara mereka meminta tolong.
Menjadi orang tua bukan tentang mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana memberikan respons yang mendukung supaya anak bisa kembali merasa aman.
Quote:
SUMBER
American Academy of Child & Adolescent Psychiatry. (2019).
Children and Trauma. AACAP.
https://www.aacap.org/
Child Mind Institute. (2020).
Trauma in Children: Signs and Symptoms. Child Mind Institute.
https://childmind.org/
National Child Traumatic Stress Network. (2017).
Effects of Trauma on Children and Adolescents. NCTSN.
https://www.nctsn.org/
Van der Kolk, B. A. (2014).
The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. Viking Press.
@benche87 @riodgarp @itkgid