Kaskus

News

mabdulkarimAvatar border
TS
mabdulkarim
Kabar Temuan Mayat Satu Truk di Tamiang, Pemrov Aceh Sebut Belum Teridentifikasi
Kabar Adanya Temuan Mayat Satu Truk di Aceh Tamiang Viral, Pemrov Aceh Sebut Belum Teridentifikasi
Kabar Temuan Mayat Satu Truk di Tamiang, Pemrov Aceh Sebut Belum Teridentifikasi
Alat berat dikerahkan untuk membuka akses dari Sumatera Utara menuju Aceh Tamiang, Selasa (2/12). (BNPB)

JawaPos.com – Kabar adanya penemuan mayat hingga satu truk di Aceh Tamiang viral di media sosial. Terkait adanya hal itu, Sekda Pemerintah Provinsi Aceh, M. Nasir mengatakan, jika temuan mayat hingga satu truk di Aceh Tamiang belum terverifikasi. Oleh karena itu, dia meminta masyarakat serta media untuk tidak menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya.

Nasir, menekankan pentingnya merujuk pada data resmi, agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah penanganan bencana yang masih berlangsung.

Dikutip dari Rakyat Aceh (Jawa Pos Group), Nasir menyatakan bahwa hingga Rabu (3/12), pemerintah tidak menerima laporan terkait temuan jenazah dalam jumlah besar seperti yang ramai beredar di media sosial. Ia pun mengingatkan bahwa informasi semacam itu dapat memperburuk kondisi psikologis warga yang sudah terdampak bencana.

“Itu berita yang belum teridentifikasi. Kita harus menenangkan masyarakat,” ujar Nasir kepada Harian Rakyat Aceh.

Ia menjelaskan, laporan yang diterima pemerintah dari Wakil Menteri Sosial yang sedang berada di Aceh Tamiang menunjukkan bahwa situasi di wilayah kota relatif terkendali. Namun, proses evakuasi korban di sejumlah titik masih berlangsung, sehingga pembaruan data terus dilakukan.

“Memang ada beberapa temuan mayat, dan itu sudah dievakuasi. Jumlah pastinya belum bisa kita sampaikan karena kita terus mengupdate di sini. Data kita untuk seluruh Aceh saat ini ada 305 korban meninggal dunia, jadi kalau dikabarkan jumlahnya besar sekali tentu tidak mungkin, karena semua itu terhitung dan terukur,” jelasnya.

Terkait penanganan logistik di Aceh Tamiang, Nasir menyebut situasinya kini lebih baik setelah bantuan dari Kementerian Sosial berhasil masuk melalui jalur darat dari Sumatera Utara. Menurutnya, wilayah tersebut sempat berada dalam kondisi “SOS”, sehingga perlu segera dikirim bantuan logistik.

"Alhamdulillah sudah tembus dan sudah masuk, sudah relatif aman untuk kondisi logistiknya," jelasnya.

Pemerintah Aceh juga menyiapkan pengiriman tambahan melalui kapal dari Aceh Utara untuk memperkuat pasokan kebutuhan dasar di wilayah tersebut.

“Jadi kita boom logistik supaya masyarakat di sana lebih terjamin menghadapi masa pemulihan ke depan,” kata Nasir.

Ia juga menambahkan, masih terdapat beberapa wilayah yang membutuhkan dukungan tambahan, terutama di Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, serta dua hingga tiga kecamatan di Aceh Utara. Meskipun beberapa di antaranya sudah dapat dijangkau, distribusi logistik masih perlu dipastikan merata.

"Tapi secara umum, mereka sudah tertangani secara distribusi logistiknya. Mungkin perlu kita cek lagi yang belum-belum dapat. Ini kita koordinasi terus nanti dengan posko pemerintah kabupaten/kota nya, untuk mereka mendata kembali, supaya distribusi logistik yang kita kirim dapat segera didistribusikan ke wilayah tersebut," kata Nasir.

Berdasarkan data sementara Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh per pukul 19.37 WIB, tercatat 305 orang meninggal dunia, 191 orang hilang, serta 1.435 korban luka ringan dan 403 luka berat. Bencana ini telah berdampak pada 18 kabupaten/kota, mencakup 229 kecamatan dan 3.310 gampong, dengan total 326.800 kepala keluarga atau 1.599.740 jiwa terdampak. Sebanyak 688.775 jiwa masih mengungsi di 898 titik pengungsian.

Kerusakan fasilitas umum akibat bencana ini juga meluas, mencakup 138 unit kantor, 51 tempat ibadah, 201 sekolah, empat pesantren, 204 fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas, serta 302 titik jalan dan 152 jembatan yang terdampak. Sementara itu, kerugian harta benda masyarakat turut besar, dengan 78.076 rumah rusak, 182 ekor ternak hilang, serta kerusakan lahan pertanian yang meliputi 55.404 hektare sawah dan 12.700 hektare kebun.

https://www.jawapos.com/nasional/016...ifikasi?page=2


banyak rumor di masyarakat apalagi lewat media Sosial




Terjebak Banjir 2 Hari, Ibu di Aceh Makan Padi Demi Menyusui Bayi
Kabar Temuan Mayat Satu Truk di Tamiang, Pemrov Aceh Sebut Belum Teridentifikasi
CNN Indonesia
Kamis, 04 Des 2025 10:02 WIB
Bagikan:


Penampakan banjir di Pidie Jaya Aceh. (AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang warga Pidie Jaya, Aceh, Meli Susialana terpaksa memakan padi agar bisa menyusui anaknya karena terjebak di rumah saat banjir terjadi.
Meli terjebak selama 2 hari 3 malam bersama keluarganya, termasuk seorang bayi berusia 10 bulan. Mereka harus menahan lapar karena tidak ada makanan di rumah.

"Enggak ada makan, kami puasa. Saya demi untuk ada ASI anak ini, padi saya makan, padi kami kupas, makan padi," kata Meli dalam tayangan CNN Indonesia TV, Kamis (4/12).

Untuk minum, Meli dan keluarga menampung air hujan. Mereka akhirnya bisa diselamatkan oleh Tim SAR.

Warga Pidie Jaya lainnya, Rita juga terjebak beberapa di rumah ketika banjir menerjang.

"Hari kedua kami terpaksa turun karena kasian sama anak-anak belum makan dan nangis," kata Rita.

Berdasar data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah menyebabkan 776 korban meninggal dunia dan 564 korban hilang dalam pencarian.

Pemerintah hingga saat ini masih belum menetapkan bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sebagai bencana nasional, meski sudah banyak desakan dari berbagai pihak.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno mengatakan meski belum ditetapkan sebagai bencana nasional, penanganan bencana sudah dilakukan secara nasional.

Pratikno menjelaskan seluruh kementerian/lembaga telah diperintahkan Presiden Prabowo untuk mengerahkan sumber daya maksimal.

"Seluruh kementerian/lembaga diperintahkan oleh Bapak Presiden termasuk TNI-Polri, BNPB dan semua komponen untuk mengerahkan sumber dayanya semaksimal mungkin menangani bencana di Sumatera. Jadi sekali lagi penanganannya benar-benar penanganan full kekuatan secara nasional," kata Pratikno di Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu (3/12).
https://www.cnnindonesia.com/nasiona...menyusui-bayi.




Banjir Surut, Warga Pidie Jaya Butuh Tandon Air dan Suplai Obat-obatan
Kabar Temuan Mayat Satu Truk di Tamiang, Pemrov Aceh Sebut Belum Teridentifikasi
Cut Nauval
By
Cut Nauval
4 Desember 2025
Bagikan

Seorang warga membersihkan kaki anaknya dengan air seadanya di depan posko pengungsian Desa Geunteng, Pidie Jaya, Rabu (3/12/2025). Keterbatasan air bersih menjadi masalah utama pasca-banjir bandang. (Foto/Cut Nauval D).
Pidie Jaya (Waspada Aceh) – Sekretaris Desa Geunteng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Barral Almuharram, mengatakan bahwa meski banjir sudah surut, kondisi desa masih sangat memprihatinkan. Lumpur tebal masih menutupi badan jalan dan permukiman.

“Sekarang yang kami hadapi bukan hanya banjirnya, tapi lumpur yang menimbun hampir seluruh desa. Jalan sedang dibersihkan dengan ekskavator, tapi prosesnya lambat karena lumpurnya sangat banyak,” ujarnya saat ditemui Waspadaaceh.com, di Desa Geunteng, Rabu (3/12/2024).

Ia menyebutkan bahwa 697 warga atau 220 KK masih mengungsi di empat titik posko. Kondisi mereka mulai menurun akibat cuaca yang berubah-ubah dan fasilitas pengungsian yang terbatas.

“Banyak warga demam dan kelelahan. Vitamin dan obat-obatan sangat terbatas, terutama untuk lansia,” katanya.

Barral menegaskan bahwa krisis air bersih menjadi masalah paling mendesak.

“Kita tidak punya tandon atau tempat penampungan air. Ketika bantuan air datang sekitar tiga ton sekali masuk kami kesulitan menyalurkannya ke empat posko karena tidak ada tempat penyimpanan,” ujarnya.

Selain itu, listrik padam total sehingga warga hanya mengandalkan genset dalam kapasitas terbatas.

“BBM sulit masuk ke desa, sehingga genset hanya hidup sesaat,” tambahnya.

Ia menyebutkan bahwa kebutuhan paling mendesak bagi warga Geunteng saat ini mencakup:
• alat berat untuk membersihkan lumpur di permukiman,
• air bersih dan tandon,
• masker untuk debu,
• obat-obatan, vitamin,
• matras dan selimut,
• pakaian layak,
• makanan siap saji.

“Setiap malam warga tidur apa adanya. Matras dan selimut sangat dibutuhkan. Banyak pakaian warga rusak tertimbun lumpur, kami mohon bantuan agar Geunteng bisa segera pulih. Warga sudah kelelahan, tapi tetap berusaha bertahan,” jelasnya. (*)

https://waspadaaceh.com/banjir-surut...i-obat-obatan/




Tim Medis Unhas ambil alih layanan medis di Pidie Jaya
Kabar Temuan Mayat Satu Truk di Tamiang, Pemrov Aceh Sebut Belum Teridentifikasi
Kamis, 4 Desember 2025 09:20 WIB waktu baca 2 menit
Tim Medis Unhas ambil alih layanan medis di Pidie Jaya
Tim medis Unhas terus memberikan penanganan medis bagi pasien terdampak bencana alam di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. ANTARA/HO-Unhas.
Makassar (ANTARA) - Tim Bantuan Medis Universitas Hasanuddin untuk wilayah terdampak banjir dan longsor di Aceh, mengambil alih layanan kesehatan di Kabupaten Pidie Jaya guna menggantikan tenaga medis yang telah bekerja tanpa henti pascabencana di daerah itu.

Ketua Tim Bantuan Medis Universitas Hasanuddin untuk wilayah terdampak banjir dan longsor di Aceh, dr. Muh Andry Usman, SpOT (K) dalam keterangannya diterima di Makassar, Kamis, mengatakan fasilitas rumah sakit di daerah tersebut masih berfungsi dengan baik sehingga pelayanan medis dapat tetap berjalan.

Namun, tenaga kesehatan setempat telah mengalami kelelahan akibat tingginya beban kerja. Untuk itu, tim medis dari Unhas dikerahkan guna menggantikan tenaga yang telah bekerja tanpa henti.

Menurut dr. Andry, ketersediaan obat-obatan dan alat medis masih mencukupi untuk sementara waktu. Meski demikian, bantuan tambahan segera sangat dibutuhkan karena persediaan diperkirakan tidak akan bertahan hingga satu minggu.

"Di sisi lain, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah listrik dan air bersih yang menjadi penunjang utama komunikasi serta operasional pelayanan. Pendistribusian listrik bergantung pada penggunaan genset, sementara ketersediaan bahan bakar solar semakin terbatas," kata dr. Andry menjelaskan.

Selain Pidie Jaya, dr. Andry memaparkan bahwa sejumlah wilayah lain yang juga terdampak masih sulit dijangkau karena akses darat terputus.

Evakuasi hanya dapat dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter, dengan kapasitas angkut yang sangat terbatas.

Sebagai bagian dari respons cepat, Departemen Orthopedi Unhas turut mengirim dua tenaga medis yang bergabung dengan tim kesehatan di KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Kapal tersebut berlabuh di perairan Sibolga, Sumatera Utara, dan menjadi pusat layanan untuk korban yang dievakuasi menggunakan helikopter sebelum mendapatkan penanganan lanjutan.

https://www.antaranews.com/berita/52...-di-pidie-jaya


kondisi Aceh



itkgidAvatar border
tf96065053Avatar border
ojol.jayaAvatar border
ojol.jaya dan 2 lainnya memberi reputasi
3
387
15
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
694.7KThread58.7KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.