Kaskus

Story

faizal46Avatar border
TS
faizal46
Senja yang Akhirnya Mendengar
Senja yang Akhirnya Mendengar

Sore itu, taman kota diliputi cahaya temaram. Langit jingga seolah tahu—ada sesuatu yang indah sedang berlangsung. Di bangku kayu yang sedikit berdecit, duduk seorang pria paruh baya. Wajahnya berbinar. Bukan karena cuaca, tapi karena hatinya sedang musim semi. Setelah sekian lama… akhirnya, ia punya kekasih.

Terlalu lama ia menanti. Bahkan, mungkin terlalu lama—hingga waktu pun sudah lama men-unfollow-nya.

Entah mengapa ia menyendiri selama itu. Padahal wajahnya… standar SNI. Tak berlebihan, tak kekurangan. Aman. Netral. Ramah bagi semua kalangan. Tapi rupanya, bukan rupa yang jadi soal—melainkan keberanian. Dan mungkin… nasip.

Ya, nasip. Dengan "p". Karena menurutnya, kata itu terdengar lebih terhormat dan tidak merendahkan. Lebih bijak, lebih filosofis. Lebih... pasrah tapi tetap ngotot.

Kini, sang kekasih menatapnya lembut. “Ceritakanlah tentang dirimu. Aku ingin mengenalmu seutuhnya,” pintanya, dengan suara selembut daun jatuh di atas bantal sutra.

Pria itu membalas tatapan itu. Lebih lembut dari pagi. Bahkan lebih lembut dari sesuatu yang paling lembut yang bisa dibayangkan manusia normal—atau bahkan manusia halus.

“Benarkah kamu mau mendengar?” tanyanya, ragu-ragu.

Wanita itu tersenyum—sebuah senyum 7000 kalori. Dahsyat, tapi syahdu. Manis, Hangat, tapi tidak bikin keringetan.

“Tentu saja, sayang,” jawabnya penuh makna.

Pria itu membelai pipi kekasihnya dengan haru. “Tak pernah ada yang mau mendengarku sebelumnya,” bisiknya lirih, seolah setiap kata itu hasil fermentasi emosi bertahun-tahun.

Lalu, dengan gerakan yang seolah sudah ia latih sejak lama di depan kaca—ia berdiri. Satu tangan masuk ke saku celana, tangan satunya bergerak ekspresif, mengikuti irama batin yang menggema. Ia menatap langit senja, menyesap aura dramatis, lalu mulai membuka kisahnya.

“Malam itu… saat para tetangga tertidur pulas, ibuku mengerang kesakitan.”

Mata wanita itu langsung terbelalak. Ia tak menyangka pembuka cerita akan se-ekstrem ini.

“Terus?” tanyanya, agak gelisah, namun tetap penasaran.

Pria itu berbalik, menatap kekasihnya dengan serius, lalu berkata dengan suara berat penuh makna, “Lahirlah aku.”

Wanita itu terdiam. Matanya membesar. “Kau yakin… menceritakan sejak kamu lahir?” tanyanya dengan nada setengah panik. Senyum 7000 kalorinya seketika mencair, seperti es krim yang jatuh di aspal jam dua siang.

Pria itu mengangguk mantap. Penuh keyakinan. “Tentu. Karena semuanya… bermula dari sana.”

Wanita itu menatapnya bingung. Antara ingin tertawa, berdiri, atau pura-pura diserang lebah. Tapi ia memilih bertahan.

“Baiklah,” ujarnya pasrah. “Tapi tolong… jangan terlalu dramatis, ya?”

Pria itu tersenyum. Sebuah senyum “terlambat”—karena dramanya sudah naik ke panggung, duduk di kursi utama, dan menolak turun.

“Setelah aku lahir,” lanjutnya, “hal pertama yang aku dengar adalah suara petir. Dunia seperti sedang mengadakan konser rock, dan aku… aku adalah bintang tamunya.”

Wanita itu memejamkan mata. “Ya ampun… kamu serius…”

Namun ia tak menyela lagi. Karena entah bagaimana, di balik kisah yang konyol dan penuh tikungan ini, ada sesuatu yang terasa sungguh-sungguh. Tulus. Jujur.

Dan untuk pertama kalinya, ia ingin mendengar kisah seseorang dari awal. Dari halaman pertama. Karena cinta, sejatinya, bukan hanya tentang hadir di pertengahan cerita—tapi tentang keberanian membaca semuanya.

Dengan penuh kasih, dia berkata, “Ceritakanlah semua, sayang...”

“Baiklah,” jawab pria itu mantap. “Aku sudah meringkasnya menjadi 12 sesi. Masing-masing terdiri dari 12 serial...”

Mata wanita itu berkaca-kaca. Dengan suara bergetar, ia menarik napas panjang…

“Aku siap marathon, sayang...”

…dan saat itu juga, sekelebat bayangan melintas di belakang mereka. Begitu cepat, hingga bahkan ekor mata mereka pun merasa insecure.

Tap tap tap!

Lompatan cepat seorang ninja bernama Kira membelah senja. Tiap lompatan bukan sekadar tenaga otot—melainkan hasil pemadatan udara ekstrem di bawah telapak kakinya. Dorongan ledakan mikro itu membuat tubuhnya melesat, nyaris tanpa jejak.

“Sial… hampir saja. Apa-apaan orang itu? Berdiri bergaya teater di tengah jalan…” gumam Kira, melirik pria berpose dramatis itu.

Ia melesat lagi.

Kira adalah ninja terkenal di klannya. Prestasinya di atas rata-rata. Tapi ia terusir, dicap sebagai ‘anak setengah iblis’.

Ya, benar. Ia memang setengah iblis.

Ibunya, seorang ninja pemburu iblis, justru jatuh cinta pada buruan sendiri—seorang iblis tampan dengan senyum yang bisa melelehkan pelatihan militer.

Hasil dari one night stand yang sangat tidak direkomendasikan manual shinobi—lahirlah Kira.

Ibunya meninggal dengan kata-kata terakhir yang melegenda di kalangan para ninja perempuan:

“Semua laki-laki itu iblis!! Tapi yang satu itu… astaga, enam pack-nya.”

Tap tap tap!

Kira melesat bagai petir yang lagi buru-buru bayar utang. Tangannya masih bersinar biru, makin terang—tanda iblis sialan itu sudah sangat dekat.

“Di mana kau bersembunyi, bocah setan?” geramnya. “Aku punya jadwal padat, dan berburu sampah kayak kau bukanlah hiburan terbaikku.”

Dari bayangan reruntuhan, iblis itu muncul. Tubuhnya kurus, matanya redup, tapi senyumannya seperti seseorang yang tahu terlalu banyak rahasia buruk.

“Kira,” kata iblis itu dengan suara serak penuh teka-teki. “Kau terus mengejarku, seolah aku ini hadiah lotre.”

Kira menyeringai, melenturkan jari-jari tangan iblisnya. Portal biru sudah berputar perlahan.

“Kalau kau hadiah lotre, kau lotre yang kena pajak 99 persen,” sindirnya. “Jadi, sebelum kau mulai pidato panjang macam politisi kampanye, sebaiknya kita langsung loncat ke bagian di mana aku mengirim pantatmu ke dimensi iblis.”

Iblis itu tertawa kecil, lalu mengangkat satu tangan. Dari kegelapan muncul sosok lain—seseorang yang seharusnya tak ada di sini.

Ayahnya.

Kira terdiam. Tatapan dinginnya berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Tidak mungkin…” bisiknya.

Iblis itu menyeringai, seperti penjual kopi tahu pelanggan sudah kecanduan.

“Kau pikir hanya aku yang berasal dari dunia iblis?”

Kira menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya pelan.

“Baiklah. Jadi begini ceritanya… aku bangun pagi dengan satu tujuan: bantai iblis. Tapi ternyata ada plot twist. Dan sekarang aku terjebak dalam sinetron keluarga supernatural?”

Ia menatap ayahnya, lalu iblis itu, lalu kembali ke ayahnya.

“Boleh aku tahu… sejak kapan hidupku seperti skrip drama yang ditulis oleh penulis mabuk?”

Kira masih berdiri di tempatnya, menatap pria yang—sejujurnya—tak pernah masuk dalam rencana harinya.

Ayahnya.

Tapi bukan sekadar ayah biasa.

Di dunia iblis, ada hirarki. Ada yang kelas rendah, ada yang elit, ada yang berstatus legenda. Tapi di atas semua itu, ada satu kategori yang bahkan para iblis sendiri enggan menyebutnya terlalu sering.

Iblis yang tak bisa diklasifikasikan.

Dan ayah Kira termasuk di sana.

SIDL (Standar Iblis Dimensi Lain) hanyalah batas bawah. Kalau iblis rata-rata itu seperti pegawai magang di neraka, maka ayahnya ini CEO yang bahkan Tuhan pun mungkin malas ribut dengannya.

Kira mencengkram pelipisnya, seakan ingin memijat rasa pusing yang tiba-tiba datang.

“Bagaimana bisa… dari sekian banyak iblis yang bertebaran, kau yang jadi ayah gue?” katanya, penuh frustrasi. “Apa sistem dunia ini lagi nge-bug? Tuhan lupa update patch realita?”

Ayahnya hanya tersenyum kecil, penuh ketenangan seorang entitas yang tahu terlalu banyak hal.

“Kira,” katanya, suaranya berat seperti gema di dalam ruang tak berbatas. “Kau terlalu sibuk memburu para iblis kelas teri. Saatnya kau memahami—ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perburuan.”

Kira mendengus. “Oh, keren. Sudah mulai masuk babak ‘pengakuan misterius’. Harusnya kita duduk di kursi megah di ruangan gelap biar lebih dramatis.”

Iblis yang tadi Kira kejar bahkan mulai mundur perlahan, seolah ikut merasa bahwa situasi ini mulai di luar kapasitasnya.

Kira melipat tangannya, mata masih menyipit tajam.

“Jadi, mau ngomong apa, bapak? Mau bilang kalau sejak lahir aku sudah masuk rencana besar? Kalau takdir gue ternyata lebih dari sekadar ninja yang ngamuk-ngamuk tiap malam?”

Ayahnya mengangguk, tapi ada sedikit senyum di wajahnya.

“Kau selalu bicara dengan nada kasar, nak.”

Kira tertawa kecil. “Kasar, tapi elegan. Itu beda.”

Ayahnya melangkah maju, hingga cahaya biru dari tangan Kira nyaris menyentuh kulitnya. Tapi tidak ada reaksi. Tidak ada portal.

Kira langsung mengernyit.

“… Tanganku nggak bereaksi?”

Ayahnya kini benar-benar tersenyum.

“Tentu saja tidak.”

Kira melangkah mundur pelan. “Kenapa tanganku nggak bereaksi?” ulangnya pelan.

Ayahnya melangkah mendekat. “Kau belum tahu, Kira,” ucapnya dengan tenang. “Tubuhmu tidak hanya separuh iblis…”

Kira langsung mengangkat tangan, memotong kalimat itu.

“Berhenti. Jangan bilang bagian selanjutnya. Aku udah cukup trauma dari masa kecil karena ulang tahun gue selalu diwarnai mimpi buruk dan potongan puzzle darah.”

Ayahnya tersenyum kecil. “Oke, fair point.”

Lalu ia menjentikkan jari.

Ceklik.

Tiba-tiba dunia di sekeliling mereka beku. Angin berhenti bertiup. Daun gugur tertahan di udara seperti ilustrasi buku anak-anak yang tersendat printer-nya. Bahkan pasangan absurd di bangku taman—yang barusan hampir memulai sesi telenovela 144 episode—membeku dengan pose dramatis.

Kira menyipitkan mata.

“Manipulasi waktu? Kayak di film-film?” gumamnya.

Ayahnya menggeleng. “Bukan waktu. Kesadaran.”

Kira langsung mendengus. “Oke, creepy. Lanjut.”

Sang ayah menatap langit, yang kini seolah jadi layar putih tempat pikirannya diproyeksikan.

“Kau adalah… persilangan. Tapi bukan sembarangan. Kau bukan hanya separuh iblis. Kau juga…”

Ia berhenti sejenak.

“Setengah manusia?” Kira menebak, malas.

Ayahnya menggeleng.

“Setengah… Pendengar.”

Kira mematung.

“Maaf. Apa?”

“Pendengar. Makhluk kuno dari dimensi liminal yang hidup dari... cerita. Dari kata. Dari narasi yang dipercaya dan diucapkan.”

Kira menatapnya dengan ekspresi antara skeptis dan migrain.

“Jadi maksudmu… aku setengah iblis, setengah—apa tadi?—penyerap podcast dari dunia lain?”

“Pendengar,” ulang ayahnya sabar. “Makhluk yang mampu mengubah kenyataan dengan memahami kisah-kisah. Mereka tak menciptakan… mereka mengafirmasi. Realitas membentuk diri berdasarkan cerita yang mereka serap, pahami, dan... percayai.”

Kira memijit pelipisnya. “Ya ampun… jadi sekarang realita ini tergantung siapa yang paling aktif di Goodreads?”

Ayahnya tertawa kecil.

“Kau mewarisi kemampuan itu, Kira. Itulah mengapa tanganmu tak bereaksi padaku. Aku tidak hanya iblis. Aku juga—Pendengar Tua. Yang terakhir dari generasi pertama. Dan kau…”

“…yang berikutnya,” gumam Kira, akhirnya menyambung.

Mereka diam. Lama. Sampai tiba-tiba terdengar suara yang asing.

“Kira…”

Kira langsung menoleh.

Itu suara wanita.

Dan bukan suara sembarangan. Suara yang selama ini hanya ia dengar dalam mimpi-mimpi aneh yang berbau lavender dan kesepian.

Dari balik bayangan, muncul sosok perempuan muda berambut sebahu. Matanya bercahaya lembut. Pakaiannya seperti perpaduan antara pelindung tempur dan... selimut nostalgia.

“Siapa kamu?” tanya Kira.

Wanita itu tersenyum.

“Aku—Narasi. Penjaga Kata. Penyeimbang Antara Cerita dan Kenyataan.”

Kira mengangkat satu alis. “Oke. Ini makin aneh. Tapi jujur aja, kamu jauh lebih enak dilihat daripada Bapak saya.”

Narasi mendekat. “Kau sedang dicari, Kira. Oleh banyak pihak. Ada yang ingin merebut kemampuanmu, ada yang ingin menghapusmu dari cerita ini...”

“...dan ada yang ingin menjadikanku karakter utama?” seloroh Kira setengah serius.

“Tidak,” jawab Narasi tenang. “Ada yang ingin menulismu ulang.”

Deg.

Kira menatap tangannya.

Cahaya biru itu kini berdenyut.

Ayahnya menyela, “Kau punya pilihan, Kira. Mau menjadi yang ditulis… atau menjadi yang menulis.”

Narasi menatapnya. “Apa kau siap… untuk menulis ulang takdirmu sendiri?”

Kira terdiam.

Lalu, dengan suara pelan, ia berkata, “Boleh nanya dulu satu hal?”

Narasi dan ayahnya menatapnya.

Kira menarik napas panjang.

“Kalau aku ini setengah iblis, setengah Pendengar… kenapa suara nyanyian gue tetep fales?”

Sunyi.

Lalu…

Narasi terkekeh.

Ayahnya geleng-geleng.

Dan waktu pun perlahan berjalan kembali, seolah dunia ikut tertawa pelan.



Di ujung bangku taman, pria paruh baya itu masih menceritakan kisah masa kecilnya. Wanita di sampingnya terkantuk-kantuk, tapi ia bertahan.

Karena entah kenapa, senja hari itu… seperti ikut mendengar.

Kira melangkah lunglai melewati gerbang taman kota. Udara pagi menusuk lembut seperti cucian basah yang kelamaan dijemur. Kira baru saja kembali dari pertempuran antar dimensi. Luka-luka kecil menghiasi tubuhnya, tapi batinnya yang paling lelah.

“Dunia ini… tenang, damai, tidak ada yang aneh,” gumamnya lega.

Lalu matanya menangkap mereka. Di bangku taman yang sama sejak sore kemarin, duduk pasangan itu—pria paruh baya dan kekasihnya. Masih dalam posisi yang nyaris tidak berubah.

“…lalu waktu SD, aku pernah jatuh cinta sama kakak kelas. Tapi bukan karena dia cantik… karena dia suka makan tiwul,” kata pria itu sambil mengangkat tangan seperti sedang orasi.

Kira tertegun.

“...INI ORANG MASIH NGE-CERITA?!”

Wanita di sebelahnya terlihat seperti korban banjir emosi. Rambutnya berantakan, eyeliner-nya sudah migrasi ke pipi, dan ia menatap kosong ke rerumputan seolah sedang memikirkan cara kabur ke dimensi lain.

Kira mendekat, penasaran tapi juga waspada.

“Hei… maaf, kalian... masih di sini?” tanyanya.

Pria itu menoleh senang. “Wah! Penonton baru! Duduk, duduk. Tadi baru masuk babak ke-9 dari 12 sesi. Kau suka kisah cinta tragis tapi absurd? Aku punya!”

the end
bukhoriganAvatar border
bukhorigan memberi reputasi
1
28
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.8KAnggota
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.