- Beranda
- Media Indonesia
Dana Pensiun: Kenapa Literasinya Naik, Inklusinya Turun?
...
TS
sy15
Dana Pensiun: Kenapa Literasinya Naik, Inklusinya Turun?
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan literasi keuangan sektor dana pensiun memang meningkat dari 27,55% menjadi 27,79%. Namun, indeks inklusi dana pensiun justru turun dari 5,62% menjadi 5,37%. Kenapa begitu? Karena peserta dana pensiun yang mengambil manfaat pensiun semakin banyak, sedangkan kepesertaan baru dana pensiun tidak sebanyak yang pensiun, Literasinya naik, inklusinyaturun namanya dana pensiun.
Karena itu, sebagai bahan diskusi bersama, mungkin perlu “duduk berssama” terkait arah strategis peningkatan kepesertaan dan aset kelolaan dana pensiun. Sekalipun semuanya sudah tertuang di atas kertas melalui Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Dana Pensiun 2024-2028. Ada baiknya dokumen tersebut dibaca Kembali dan dicermatin, mau ke mana dana pensiun di Indonesia?
Di sisi lain, upaya mendorong perusahaan dan individu ikut program pensiun sukarela (seperti DPLK) harus terus disosialisasikan, apapun keadaannya. Edukasi dan sosialisasi jangan kalah dengan sikap apatis atau cara “bertahan untuk menolah” dana pensiun. Edukasi public dan literasi pensiun harus terus disuarakan. Sebab faktanya, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia hanya mengandalkan transferan dari anaknya (ADB, 2024). Untuk menggenjot kepesertaan dana pensiun, memang integrasi pensiun dengan sistem pengupahan di HR atau platform digital harus segera direalisasikan. Agar dana pensiun lebih mudah proses pembayaran iurannya. Bahkan dana pensiun harus lebih kreatif, untuk inovasi produk yang menarik generasi muda dan sektor informal. Karena dana pensiun selama ini dianggap”terlalu asyik” dengan administratif dan terkesan “jadul”.
Penelitian dana pensiun yang dilakukan Syarifudin Yunus, Ketua Dewan Pengawas DPLK Sinarmas Asset Managemnet dan Asesor LSP Dana Pensiun menyebut: saat ini 89% pekerja belum punya dana pensiun dan 80% pekerja tidak mengandalkan dana pensiun dari tempatnya bekerja, hanya 20% pekerja yang berharap mendapat dana pensiun dari tempatnya bekerja. Artinya, potensi dana pensiun untuk berkembang masih sangat besar Sayangnya, saat ini banyak pekeraj “tidak tahu” dan “tidak paham” dana pensiun. Patut diduga, rendahnya kepemilikan dana pensiun disebabkan oleh 1) ketidak-tahuan tentang dana pensiun, 2) ketidaktersediaan dana untuk mengikuti dana pensiun, atau 3) tidak tersedianya akses untuk membeli dana pensiun. Penelitian dana pensiun yang bertujuan untuk mendeskripsikan data dan informasi pemahaman pekerja di Jakarta tentang dana pensiun ini telah terbit di jurnal sains ekonomi dan edukasi AKSIOMA pada Februari 2025 (link: https://manggalajournal.org/index.php/AKSIOMA/article/view/981/1239).
“Penelitian saya mengungkap, ada dua faktor penting yang harus ditingkatkan oleh pelaku dana pensiun yaitu edukasi secara berkelanjutan dan ketersediaan akses digital. Agar peserta baru bertambah, aset kelolaan dana pensiun meningkat” ujar Syarifudin Yunus, Peneliti dana pensiun DPLK SAM dan LSP Dana Pensiun (29/7/2025)
Regulasi sudah menyesuaikan dengan lahirnya POJK 27/2023, POJK 35/2024, dan POJK 34/2024, tinggal implementasinya di lapangan. Tinggal, edukasi tentang pentingnya manfaat berkala untuk ketahanan finansial pensiun dan digitalisasi pemassaran dan sistem pembayaran di dana pensiun harus terus diwujudkan.
Ada tantangan besar di dana pensiun sata ini, adalah meningkatkan kepesertaan dana pensiun di Indoneisa, baik sektor formal maupun informal. Memang tugas berat dana pensiun, untuk mengubah dari tidak paham menjadi paham pentingnya dana pensiun. Tapi jauh lebih berat bila tidak paham tapi punya dana pensiun, kok bisa? Salam #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM

Kenapa dana pensiun?
0
110
1
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Media Indonesia
31.9KThread•4.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya