Kaskus

Story

frostgeeAvatar border
TS
frostgee
Re-create
Dua Rasa, Satu Hati

Hai, namaku Reza Putra Dinata, biasa dipanggil Nata. Usia 17 tahun, sebentar lagi lulus SMA, dan jujur, sampai sekarang aku masih nggak tahu mau kemana setelah ini. Semua orang bilang, di usia segini harus sudah punya rencana hidup, tapi bagi aku, rencana itu seperti hal yang samar. Kalau ditanya mau jadi apa, aku cuma bisa jawab, “Belum tahu.”

Tapi, satu hal yang pasti, aku tahu apa yang aku sukai: futsal. Setiap hari habis sekolah, aku langsung menuju lapangan, lepas sepatu, dan mulai main. Futsal bukan hanya sekadar hobi, lebih dari itu, futsal itu seperti pelarian, seperti cara untuk mengalihkan pikiranku dari segala kebingungan tentang masa depan. Tim futsalku adalah keluarga kedua, teman-teman yang selalu ada, baik di dalam maupun luar lapangan.

Namun, di balik segala kesibukan itu, ada satu hal yang aku abaikan, atau lebih tepatnya, enggan aku lihat. Itu adalah perasaan. Perasaan yang disimpan oleh dua orang yang cukup dekat denganku: Fio dan Raisha.

Fio adalah teman dekatku, tapi lebih dari sekadar teman biasa. Dia salah satu orang yang paling aku percaya, dan kami sudah cukup lama dekat, terutama sejak kami sering bareng-bareng latihan futsal. Fio itu cewek, tapi dia tuh nggak pernah ribet. Kadang kami main bareng, kadang ngobrol-ngobrol santai setelah latihan. Dia selalu ada kalau aku butuh teman, dan sebaliknya, aku juga selalu ada buat dia. Rasanya sih ya biasa aja, aku nggak pernah lihat dia lebih dari teman.

Sementara Raisha, teman sekelas yang juga nggak kalah dekat, dia adalah tipe cewek yang pendiam tapi super perhatian. Raisha sering bantu aku kalau ada tugas, dan kami sering ngobrol di sela-sela waktu istirahat, terutama kalau aku lagi capek mikirin latihan futsal atau tugas-tugas yang numpuk. Kami nggak pernah terlalu dekat, tapi cukup akrab. Rasanya, aku merasa nyaman dengan dia.

Tapi entah kenapa, aku nggak pernah sadar kalau keduanya—Fio dan Raisha—menyimpan perasaan lebih dari sekadar teman. Sampai akhirnya semuanya mulai terasa nggak bisa dipungkiri lagi.

Semuanya dimulai dengan ketidaksadaran. Aku yang terlalu sibuk dengan ekskul futsal, fokus mengejar bola, sampai-sampai nggak pernah lihat kalau ada dua cewek ini yang perlahan mulai menunjukkan rasa yang lebih. Satu hal yang aku sadar: mereka berdua nggak hanya peduli sama aku sebagai teman, tapi lebih dari itu. Dan saat aku baru menyadari hal itu, semuanya sudah rumit.

Fio, yang selalu santai dan nggak pernah nampakin perasaan, mulai berbuat hal-hal yang membuatku mikir: “Apa mungkin dia suka sama aku?” Tapi, nggak ada waktu buat mikirin itu. Aku masih sibuk dengan latihan, pertandingan, dan segala drama SMA yang enggak ada habisnya. Tentu saja, aku nggak tahu kalau Fio sebenarnya sudah lama memendam rasa.

Raisha juga begitu. Dia selalu ada, selalu mendengarkan, tapi aku cuma menganggap dia sebagai teman biasa. Baru setelah beberapa kejadian, aku baru sadar kalau ada lebih banyak perasaan yang terpendam dalam dirinya. Tapi lagi-lagi, aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan dengan perasaan yang aku rasa mulai timbul dalam diriku sendiri. Apakah aku punya perasaan untuk Fio? Atau mungkin Raisha?

Tapi, di tengah semua kebingunganku ini, aku tahu satu hal yang pasti: aku harus memutuskan. Karena jika aku terus-terusan mengabaikan perasaan mereka, aku bisa kehilangan dua orang yang sebenarnya berharga buatku.

SMA itu waktunya bingung. Waktu yang penuh dengan pilihan, dengan kegelisahan akan masa depan. Dan kadang, perasaan juga ikut terlibat dalam bingungnya kita. Aku bukan cowok keren yang punya banyak penggemar, apalagi yang selalu jadi pusat perhatian. Aku cuma cowok biasa yang suka futsal, yang kadang bisa lupa kalau ada orang yang peduli, bahkan sampai mereka merasa kecewa.

Tapi, kisah ini bukan cuma soal aku yang bingung memilih antara Fio dan Raisha. Ini tentang bagaimana kita sering kali baru menyadari sesuatu ketika sudah terlambat. Tentang bagaimana perasaan itu bisa datang begitu saja, dan kita harus siap menghadapinya, meski kita nggak siap sama sekali.

Di balik kebingunganku akan masa depan, aku harus bisa memahami bahwa hidup bukan cuma soal rencana matang, tetapi juga soal perasaan yang kita jaga. Dan mungkin, ini adalah waktunya buat aku memilih, untuk tahu siapa yang lebih dari sekadar teman. Siapa yang sebenarnya bisa aku ajak berbagi masa depan, bukan hanya sekadar masa SMA.

Ini adalah cerita tentang cinta, persahabatan, dan kebingungan di masa remaja. Tentang bagaimana kita menghadapi perasaan yang nggak kita rencanakan, dan tentang bagaimana kita belajar untuk tidak mengabaikan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Spoiler for Notes:
Diubah oleh frostgee 16-01-2025 23:36
bukhoriganAvatar border
bukhorigan memberi reputasi
1
31
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.2KAnggota
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.