Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

ih.sulAvatar border
TS
ih.sul
Short Story #73 : Tukang Parkir
Short Story #73 : Tukang Parkir

“Yak! Yak! Dikit lagi dikit lagi!”

Hari ini pun Joni bekerja keras demi selembar uang dua ribu yang terus menerus datang tanpa henti. Belum pernah rasanya dia sebahagia ini dalam bekerja. Dia cuma perlu duduk-duduk di sudut lapangan dan menunggu ada motor yang hendak keluar. Satu motor wajib bayar dua ribu. Mobil lima ribu. dalam satu hari saja Joni bisa mendapat sampai lima ratus ribu.

Memang tak selamanya uang mengalir mulus. Kadang ada saja orang yang menolak memberinya uang.

“Yaelah! Saya cuma parkir lima menit masa harus bayar?”

“Yaelah! Dua ribu doang. Emang kau bisa miskin kalau ngasih dua ribu?”

Jika orang itu menolak memberi uang Joni akan mencengkram motor mereka kuat-kuat agar tidak kabur. Biasanya pengendara akan menyerah dan memberinya uang. Sejatinya memang tak banyak orang yang suka memulai keributan.

Keberadaan Joni di sana terasa sangat mengganggu bagi banyak orang. Banyak yang memilih untuk tidak lagi parkir di sana, tapi itu terbukti menyulitkan karena tempat itu benar-benar strategis. Kalau tak mau jalan jauh ya terpaksa harus parkir di sana.

Dan bukan cuma Joni. Puluhan atau bahkan ratusan tukang parkir liar sudah memenuhi kota. Entah itu di minimarket atau di persimpangan jalan, mereka terus memantau dan menyerbu setiap kali ada yang mengeluarkan kendaraan dari lahan parkir.

Akhirnya orang-orang pun mulai membuat petisi membasmi parkir liar. Meski demikian pemerintah seolah takut dengan para tukang parkir itu. Banyak yang curiga mereka sebenarnya membayar upeti ke pejabat atau polisi setempat.

Namun akhirnya harapan baru pun datang dalam wujud Pak Bokir si calon bupati. Dia dengan tegas berkampanye memerangi parkir liar. Kampanye itu bukan sekedar omongan semata, dia membawa beberapa orang bodyguard turun langsung ke lapangan dan mengusir tukang parkir itu. Dia juga menunjuk tukang parkir baru yang menjaga motor secara gratis, tak perlu bayar dua ribu.

Kemunculannya yang mengusir para tukang parkir liar itu mendapat sambutan positif yang akhirnya mengantarnya menjadi bupati berikutnya.

Semua berjalan sesuai rencana.

***


Beberapa bulan sebelumnya ….

“Jadi kalian cukup jaga lahan parkir terus minta dua ribu ke semua yang parkir di sana. Ingat, mereka harus bayar. Jangan kasih gratis!”

Joni tak terlalu mengerti dengan politik, tapi dia paham garis besar yang harus dia lakukan. Mereka cuma perlu jadi tukang parkir dan menyebar ketidaknyamanan lalu Pak Bokir akan muncul sebagai pahlawan untuk mendulang suara di pilkada. Singkatnya, Joni dan yang lain perlu berperan sebagai orang jahatnya.
Joni rela melakukan apa pun asal dibayar dan dia dibayar lumayan untuk pekerjaan ini. Dia benar-benar menikmati pekerjaannya sebagai tukang parkir. Karena itulah saat dia diusir oleh orang suruhan Leonardo dan saat Bokir berhasil jadi bupati, Joni merasa ada yang tak beres dalam dirinya.

***


“Yak yak! Terusss!”

Joni melihat tukang parkir itu dengan tatapan dingin. Dia ingat saat dirinya melakukan hal yang serupa. Bedanya, dia tak menolak saat pengemudi menyodorkan uang dua ribu padanya. Kebetulan Joni sedang uring-uringan karena butuh duit. Uang yang dia dapat dari Bokir dan dari parkir liar dia gunakan untuk berdagang sembako, tapi dagangannya tidak laku hingga akhirnya bangkrut. Sekarang dia bekerja sebagai kuli bangunan, tapi pekerjaan yang berat membuatnya tak betah.

Ingin rasanya Joni kembali jadi tukang parkir. Tinggal duduk doang uang langsung datang. Tak perlu modal tak perlu usaha. Benar-benar pekerjaan idaman.

Pikiran-pikiran itu terus menghantui kepalanya dan semakin hari perasaan itu semakin kuat. Akhirnya, saat Joni tidak melihat tukang parkir yang biasa absen, dia langsung maju menggantikan.

“Yak yak, mundur dikit lagi. Oke, dua ribu.”

“Lo? Kok bayar sih? Mas yang biasa jaga parkir di mana?”

“Mulai sekarang saya yang jaga parkir. Udah nggak usah banyak tanya. Sini dua ribu.”

“Loh Mas, itu ada tulisannya parkir gratis. Jangan maksa dong.”

“Yaelah. Emang dua ribu bakal buat kamu miskin? Gitu aja pelit banget!”

“Wah, Mas ini tukang parkir liar rupanya. Mau saya viralin?”

“Apa? Lapor polisi sana! Aku nggak takut! Bupati itu kawanku!”

Percecokan itu berlangsung dan mengundang perhatian banyak orang. Karena kalah desakan akhirnya Joni pun melangkah pergi. Meski demikian besoknya dia kembali lagi. Kali ini Joni langsung cekcok dengan petugas parkir resmi yang bertugas di sana.

“Oi minggir! Mulai sekarang aku yang jaga parkir di sini!”

Petugas parkir itu langsung ciut, terutama saat melihat Joni membawa pentungan yang lumayan besar. Petugas parkir itu pun mundur, tapi dia segera menghubungi atasannya.

Selama beberapa jam ke depan Joni sukses mendapat uang mudah dari para pengendara. Meski demikian keadaan sudah berubah, lahan parkir tak lagi sejinak dulu. Orang-orang sudah belajar untuk melawan. Meski tak melawan langsung, mereka mengajukan komplain pada satgas masyarakat. Tak sampai tengah hari Joni sudah didatangi beberapa pria bertubuh besar berwajah seram.

Joni kenal orang-orang itu. Mereka adalah orang yang dulu mengusirnya sebagai tukang parkir. Dengan kata lain mereka orang-orangnya Bokir. Joni langsung merasa lega. Bagaimanapun dia juga bagian dari kemenangan Bokir, tak mungkin mereka tega padanya.

Namun ternyata mereka langsung menyuruhnya enyah dan berhenti memungut uang parkir. Mendengar itu Joni langsung naik pitam.

“Oi, mau kubongkar busuknya bos kalian itu? Kalau orang-orang tau semua ulang tukang parkir dulu itu cuma akal-akalan dia, kalian pikir dia bisa aman aja gitu?”

Mereka saling berpandangan. Tepat saat Joni mengira dia menang sebuah pukulan keras langsung menghantam ulu hatinya.

“Anda ditangkap karena mengganggu ketentraman masyarakat. Ikut kami ke kantor polisi sekarang juga.”

Joni masih mencoba mengatur napas tapi kedua orang itu sudah menyeretnya. Tanpa bisa melawan dia langsung dijebloskan ke dalam jeruji besi. Tanpa sidang dan tanpa kepastian, Joni merasa otaknya mulai menjadi gila.

Ternyata ini cara mereka membungkam orang. Joni tahu dari beberapa kenalannya yang juga dijebloskan ke penjara karena alasan serupa. Mereka memanfaatkan tukang parkir liar lalu memenjarakan mereka agar tutup mulut. Habis manis sepah dibuang.

Kini Joni benar-benar kehilangan segalanya. Menjadi tukang parkir membuatnya enggan bekerja keras dan di sinilah dia sekarang, di balik jeruji besi yang merenggut kebebasannya. Andai saja dulu dia berusaha mencari pekerjaan normal, andai dulu dia tidak ikut-ikutan intrik politik, andai dia tak tergoda kembali lagi menjadi tukang parkir ….

Namun semua sudah terlambat. Godaan uang dua ribu itu benar-benar sudah membuatnya miskin.

***TAMAT***
Diubah oleh ih.sul 18-06-2024 17:07
gErOnImO2008Avatar border
si.matamalaikatAvatar border
viroviro1983402Avatar border
viroviro1983402 dan 18 lainnya memberi reputasi
19
1.4K
24
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the HeartKASKUS Official
31.8KThread43.6KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.