Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

ih.sulAvatar border
TS
ih.sul
Short Story #66 : 24 Jam Sebelum Aku Mati
Short Story #66 : 24 Jam Sebelum Aku Mati

“Will, umurmu tinggal 24 jam lagi.”

Apakah ada orang di dunia ini yang bisa tidur jika mendapat kabar seperti itu? Aku sudah bersiap untuk tidur, tapi malaikat penjagaku memberi kabar yang membuat tidur kehilangan artinya.

“Apa kau bilang?”

“Umurmu tinggal 24 jam lagi. Setelah itu, kau mati.”

Dengan senyumannya yang biasa dia menyampaikan kabar seperti yang sudah-sudah. Aku masih belum bisa mempercayai apa yang kudengar. Di umurku yang masih 24 tahun ini sama sekali tak pernah terpikir bahwa aku akan mati. Bukankah ini terlalu cepat?

“A-aku … mati … kenapa?”

“Tak ada yang bisa menghindari kematian, Will. Kau mati karena memang sudah waktunya bagimu. Tak ada alasan lain.”

Athena memang tak pernah berbohong padaku. Sejauh yang kuingat dia sudah ada di sisiku. Hanya aku yang bisa melihatnya. Dia selalu melindungi dan menunjukkan jalan padaku.

Jika dia berkata aku akan mati, maka aku pasti mati.

“24 jam,” aku berbisik dengan tubuh lemas ambruk di kasur. Rasa kantuk lenyap sudah. Begitu banyak hal melayang memasuki pikiranku. Apa yang harus kulakukan di hari terakhir hidupku ini?

“Athena, apa ada hal yang kusesali dalam hidupku?”

“Tentu ada. Kau menyesal tak menyatakan cinta ke Gina saat Smp.”

“Aku sudah melupakan itu. Yang lain?”

“Hmm … kurasa tidak ada. Kau selalu mengambil jalur terbaik yang kuberikan.”

“Kau benar. Hidupku … sempurna.”

Athena melayang mengelilingi kamar sementara aku sibuk mengingat kembali hidupku. Sejak kecil aku adalah anak yang brilian. Secara akademik maupun sosial tak ada yang kurang dariku. Saat masih Smp aku sudah menghasilkan satu juta pertamaku dari hasil menulis blog dan saat Sma aku sudah membeli mobil sendiri.

Aku tidak kuliah dan memilih terjun ke pasar saham. Hasilnya untung besar. Bahkan sampai sekarang aku tak pernah benar-benar merugi. Semua berkat Athena, seorang malaikat penjaga yang bisa melihat masa depan.

Pertama kali aku menyadari hanya aku yang bisa melihat Athena adalah saat berumur 5 tahun. Kukira dia adalah arwah gentayangan yang menghantuiku, tapi dengan cepat kami menjadi teman baik. Sanyak orang menganggapku gila karena tampak seperti aku bicara sendiri, tapi aku berhasil melalui semua itu dengan baik.

Seiring aku bertumbuh Athena tetap menjadi gadis kecil berumur 5 tahun. Aku tak tahu kenapa dia ada dalam hidupku, tapi aku bersyukur memilikinya. Dia mencegah segala keburukan mendekatiku dan dia jugalah teman yang selalu ada kapan pun aku membutuhkannya.

“Aku harus apa sekarang?”

Aku akan mati. Aku tak yakin apakah aku sedih atau takut, kematian sungguh misterius. Saat ibuku meninggal hal itu terjadi begitu mendadak sehingga kesedihan menguasaiku, tapi jika aku sudah tahu kapan aku akan mati ternyata tak ada air mata yang keluar.

Jika aku memang tak punya penyesalan lalu apa yang harus kulakukan untuk mengisi hari terakhir hidupku? Mungkin aku harus membereskan segala masalah yang belum selesai, menghubungi keluarga, dan menulis surat wasiat.

Ini sudah malam, tak elok menghubungi seseorang. Karenanya aku pun bangkit dan duduk di meja kerjaku. Aku harus menulis surat wasiat. Kira-kira apa saja yang perlu kutulis di sini?

“Kematian itu kadang ironis, betul tidak?” tanya Athena yang duduk di atas kepalaku. “Saat kau mati keluargamu akan memperebutkan kekayaanmu. Untuk menghindari itu manusia mencetuskan surat wasiat. Bagaimana denganmu, Will? Selama ini kau yang jadi tulang punggung keluargamu. Kira-kira apa mereka bisa hidup layak setelah kau tiada?”

“Betul juga. Aku harus buat deposit yang cukup biar mereka bisa hidup dari bunganya setiap bulan.”

“Hehe, itu benar-benar sifatmu.”

Tak mungkin ada orang yang mau keluarganya menderita setelah kepergiannya. Aku pun mulai mencairkan semua uang digitalku dan membuat akun bank. Kira-kira berapa banyak yang harus kusimpan? Haruskah aku membagi semua uangku sama rata?

“Athena?”

“Seharusnya sih kau kasih lebih banyak ke saudara dan sepupumu. Kalau ayahmu … yah, umurnya tak akan sepanjang yang lain, kan?”

“Menurutmu apa aku harus berikan seluruh uangku ke mereka atau beri sebagian untuk amal?”

Kali ini Athena terdiam. Biasanya dia selalu memberi jawaban spontan, tapi kali ini aku tak tahu apa yang dia pikirkan. Mungkin satu-satunya penyesalanku yang tersisa adalah tidak mencari tahu lebih banyak tentangnya.

“Bagaimana kalau kau memutuskan sendiri apa yang mau kau lakukan hari ini?”

“Ha?”

“Ini hari terakhirmu, Will. Kau tak perlu menjadi sempurna. Kenapa tidak lakukan saja apa yang kau mau tanpa memikirkan terlalu jauh?”

Dengan kata lain, dia tak ingin memberiku petunjuk lebih jauh. Namun benar apa yang dia katakan. Toh aku akan mati. Bahkan jika pasar saham hancur besok pun itu tak lagi akan mempengaruhiku.

Aku terdiam, berpikir, dan akhirnya kembali berbaring di tempat tidur. Sebenarnya tak banyak yang perlu kutulis dalam surat wasiat. Ayah … dan adikku.

Kurasa aku harus mulai dari ayahku lebih dulu. Beliau sudah tua, tak banyak yang perlu dipersiapkan untuknya. Meski demikian Ayah memiliki jiwa petualang. Sekarang saja mungkin dia sedang mengembara di hutan Amazon. Entah dari mana dia mendapatkan energi untuk berpetualang jauh-jauh ke Brazil melintasi separuh dunia.

Separuh dunia?

“Di Brazil harusnya masih siang kan?”

Athena mengangguk. Langsung saja aku mengambil ponsel dan melakukan panggilan luar negeri. Mungkin aku akan bertanya apa yang Ayah inginkan, mungkin aku juga harus meminta maaf entah untuk apa pun itu. Setidaknya, aku ingin pergi dengan kesan yang baik.

Namun panggilan itu tidak pernah terhubung. Aku tak tahu apakah ada sinyal di hutan Amazon, tapi tampaknya percuma saja menghubunginya. Jika aku tak bisa menghubunginya dan tak punya cukup waktu mencarinya ke Brazil maka aku harus menerima fakta bahwa momen terakhir yang kuhabiskan bersama Ayah adalah dia menelpon meminta uang ke Brazil.

“Kau nggak terlalu dekat dengan ayahmu, kan? Apa kau sedih?” tanya Athena.

“Entahlah, kurasa aku sedih … aku harusnya sedih kan? Kami memang nggak dekat, aku sibuk dengan duniaku sendiri.”

“Tapi kau memberinya banyak uang untuk jalan-jalan ke luar negeri. Kurasa dia akan menangis keras saat tahu kau mati.”

“Haha, kuharap begitu.”

Kurasa aku memang harus meninggalkan lebih banyak uang untuk hobi travellingnya.
Selanjutnya, adikku. Saat ini dia masih kuliah, tapi aku belum bisa melihat kapan dia akan menyelesaikan kuliahnya. Karena aku tak pernah kuliah aku berencana hadir di wisudanya dan memberinya buket bunga paling besar, tapi kapan sebenarnya dia akan lulus?

Sama seperti Ayah, dia juga punya hobi jalan-jalan ke luar kota. Apakah dia masih memikirkan kuliahnya? Kurang dari satu tahun lagi dia akan dropout dari kampus. Padahal aku sudah membayar setiap semester, sayang sekali jika dia tidak lulus.

“Adikmu itu tidak akan pernah lulus. Dia lebih sibuk main cewek ke sana kemari.”

“Jangan bilang begitu. Dia cuma perlu didukung. Masih ada waktu, aku yakin dia bisa.”

“Kalau nggak percaya telpon aja dia sekarang. Kalau beneran mahasiswa harusnya udah biasa begadang kan?”

Aku tak bisa membantah perkataan Athena. Sudah lama juga aku tidak menghubungi adikku. Kalau dipikir-pikir aku bahkan tak tahu di mana dia sekarang.

“Halo Ki? Apa kabar?”

Terdengar suara seperti kumur-kumur dari ujung sana. Setelah suara kumur-kumur terdengar denting kaca sebelum suara Kiki terdengar jelas.

“Haa?”

“Halo Ki, kau di mana sekarang?”

“Di mana? Di hatimu ….”

Aku dan Athena saling tatap dengan ekspresi muntah.

“Kau mabuk ya?”

“Iya iya, hari Rabu aku balik.”

“Kiki, kau di mana sekarang?”

“Hah? Lembang?”

“Palembang?”

“Iya iya, ngembang.”

Pembicaraan terus berlanjut tanpa arah sampai akhirnya aku meutus panggilan secara sepihak. Tak bisa kugambarkan betapa kecewa diriku saat ini. Kukira kami dididik dengan cukup baik, tapi tak kusangka adikku jadi pecandu alkohol. Apa semua uang jajan yang kuberi padanya habis untuk miras sampai-sampai dia sering sekali minta uang lebih?

“22 jam lagi,” ucap Athena. “Mungkin sebaiknya kau tidur saja. Mungkin di pagi hari keadaan akan lebih baik. Kau juga bisa langsung menemui adikmu.”

“Tidur? Aku ….”

22 jam lagi aku akan mati dan ternyata aku tak bisa menemukan hal yang lebih penting selain tidur. Keluargaku tak bisa dihubungi. Teman? Aku hanya punya sedikit teman. Aku memutus banyak hubungan karena mereka tak pernah mengembalikan uang yang mereka pinjam. Yang tersisa hanya teman bisnis.

“Hidupku … benar-benar sepi, ya?”

***


Untuk orang yang tak punya banyak waktu lagi, ternyata aku tidur dengan pulas. Matahari sudah meninggi, cuaca berubah panas dengan cepat. Saat aku keluar dari kamar mandi Athena memberitahu bahwa waktuku tersisa 12 jam lagi.

Aku kembali menghubungi Ayah tapi tetap tak ada jawaban. Aku mencoba menghubungi Kiki, tidak diangkat. Meski disebut keluarga tapi ternyata kami sudah hidup sendiri-sendiri. Tak ada lagi sosok ibu yang memaksa kami berkumpul setidaknya sebulan sekali.

“Jadi kau mau ke mana hari ini?” tanya Athena.

“Pulang kampung. Sedikit nostalgia tak ada salahnya kan?”

Aku lahir dan tumbuh besar di sana. Aku masih sering datang untuk berziarah, tapi tempat ini sudah banyak berubah. Lebih banyak mobil dan bangunan tinggi, tapi dibandingkan kota besar tempat ini tetap tak ada apa-apanya. Penduduknya jadi lebih sepi, mungkin anak muda sibuk merantau. Aku pernah punya mimpi untuk membangun daerah ini menjadi lebih maju, tapi ternyata tak ada waktu untuk itu.

Aku memarkirkan mobil di lahan kosong dan memasuki area pemakaman umum dengan seikat bunga di tangan. Meski keluarga yang lain tak bisa dihubungi, aku selalu merasa terhubung dengan ibuku. Dia adalah yang paling pengertian. Saat orang lain mengejekku gila, cuma dia yang percaya dengan keberadaan Athena. Bahkan dialah yang memberi Athena nama.

Sungguh tidak adil, kenapa orang sebaik dia mati paling cepat?

“Ibumu selalu baik padaku,” ucap Athena. “Kadang aku merasa dia ibuku juga.”

“Tanpa dia kau tak akan ada. Sudah jelas ibuku ibumu juga.”

“Dia selalu memintaku menjagamu. Kurasa aku sudah memenuhi janjiku.”

“Ya … kurasa dia sudah siap menungguku.”

Jika yang namanya surga itu ada, apakah ibuku menungguku di sana? Apakah Athena juga akan ikut ke surga? Tak lama lagi aku akan tahu jawabannya.

Tiba-tiba saja ponselku berdering memecah kesunyian pemakaman. Untunglah akhirnya Kiki menelepon. Aku sudah mulai khawatir pembicaraan terakhir kami akan menjadi drama pemabuk gila.

“Halo Ki? Kau di mana?”

“Kak, tolong aku Kak. Aku nggak sengaja nabrak orang.”

Suara paniknya menusuk tanpa menjawab pertanyaanku. Mendadak saja rasa panik menguasaiku.

“Nabrak gimana? Kau di mana sekarang?”

“Aku di Palembang Kak.”

“Kau ngapain di—Ahh, udahlah. Aku ke sana sekarang ya.”

“Eh, nggak usah Kak. Ini korbanya mau damai, tapi dia minta seratus juta. Tolong dong Kak, please!”

Aku melirik ke arah Athena, tapi dia diam saja. Dia memang bilang tak akan membantuku lagi. Aku pun menggaruk kepala yang mendadak gatal.

“Yaudah, langsung Kakak transfer.”

“Makasih banyak ya Kak.”

Baik Ayah maupun Adik, kenapa hubungan kami terasa cuma berputar di sekitar uang? Aku ingin melakukan hal-hal yang indah dikenang bersama mereka di hari terakhirku, tapi semua tidak sesuai harapan. Mengapa … mengapa mati bahagia terasa begitu sulit?

“Jadi, apa lagi yang mau kau lakukan?” tanya Athena begitu aku mengirim uang itu ke Kiki.

“Masih ada 8 jam tersisa.”

Aku menatap layar ponselku dan menunggu. Namun, tak ada balasan apa pun darinya. Akhirnya aku pun mematikan ponselku begitu saja.

“Persetanlah. Kau ingat restoran bintang lima di pinggir danau? Aku lapar. Aku mau makan sepuas-puasnya.”

***


Sebelumnya aku merasa tak ada hal yang ingin kulakukan sebelum aku mati, tapi setelah mencicipi makanan yang sangat enak aku merasa ingin menonton opera. Selesai dengan opera aku pergi ke restoran cepat saji dan memborong semua makanan mereka untuk dibagikan ke gelandangan.

Malam yang dingin membuatku ingat bahwa aku belum pernah mencoba ice skating. Tanpa menunda lagi aku pergi ke mall dan mencoba arena ice skating yang mereka punya. Pulang dari ice skating aku membeli semua buku di Gramedia dan menyumbangkannya ke perpustakaan.

Satu keinginan membawaku pada keinginan yang lain dan tanpa sadar aku sudah melakukan begitu banyak hal dan menghabiskan ratusan juta. Hal konyol dan tidak produktif ini sama sekali tak mungkin kulakukan dalam keadaan normal, tapi aku menyukainya. Aku tak akan keberatan menghabiskan malam dengan menghabiskan seluruh uangku, tapi ternyata waktu semakin tipis.

“Kenapa pulang?” tanya Athena saat aku kembali ke apartemen.

“Ada beberapa hal yang perlu diurus.”

Selama ini aku fokus mengumpulkan uang dan lebih banyak uang, tapi baru kali ini aku menghambur-hamburkan uang seolah tak ada hari esok. Uang yang kuhambur-hamburkan ternyata membuat banyak orang gembira. Para gelandangan itu berterima kasih, pengurus perpustakaan berterima kasih. Bahkan dua orang perampok itu sampai menangis saat aku memberikan dompetku begitu saja pada mereka. Uang sungguh bisa mendatangkan keajaiban.

Aku akan mati, tapi uang-uang ini masih punya kegunaan yang lebih berarti dibanding mengendap di bank.

“Ooh? Kau yakin?” tanya Athena lagi saat mengintip layar laptopku. Uang yang tadinya ingin kudepositkan ke keluargaku kualirkan pada beberapa yayasan sosial.

“Mereka orang dewasa, mereka pasti bisa nyari uang sendiri. Harus.”

Aku menjual seluruh asetku dan menyumbangkannya dengan harapan itu bisa membantu lebih banyak orang. Lebih banyak orang yang lebih membutuhkan uang itu daripada digunakan untuk jalan-jalan entah ke mana.

“Berapa lama lagi?”

“Sepuluh menit.”

“Ahh ….”

Kira-kira berapa lama mereka akan menemukan mayatku? Aku memesan jasa kebersihan dan membiarkan pintu tidak terkunci. Setidaknya dengan ini semua urusan sudah selesai. Aku tak perlu memikirkan apa pun lagi.

Aku mematikan lampu dan berbaring di tempat tidur. Gelap, semuanya gelap. Kematian juga pasti sama gelapnya.

“Athena. Sebenarnya … kau ini apa?”

“Aku ini bagian darimu, Will. Aku cuma halusinasi dari bagian kecil di otakmu. Aku bukan manusia, bukan juga arwah. Aku … adalah kau.”

“Ya, dan kau selalu ada untukku.”

Dalam 24 jam ini aku belajar hal yang penting. Daripada mencari orang yang tidak ada, kenapa aku tidak fokus saja pada orang yang selalu menemaniku? Athena selalu ada di sini, tapi aku sibuk mencari orang lain. Apa yang kudapatkan dari orang lain? Tidak ada. Hubungan kami hanya sebatas uang.

“Keluargaku itu miskin, jadi aku selalu mengira hubungan akan lebih baik jika ada uang. Tapi ternyata aku cuma fokus pada uangnya, aku tak sadar kalau uang bisa jadi bencana.”

“Itulah salahmu. Kau bekerja keras agar keluargamu bisa bahagia, tapi mereka jadi tak tahu arti kerja keras. Akhirnya mereka cuma menganggapmu sebagai sumber uang.”

“Tapi aku tetap peduli pada mereka. Kurasa nanti mereka akan menjual apartemen ini. Kuharap itu cukup.”

“Kuharap juga begitu.”

“….”

“….”

“Athena, kau di situ?”

“Iya. Lima menit lagi.”

“Maaf ya. Harusnya dari semalam aku menghabiskan semua waktu denganmu.”

“Kita sedang menghabiskan waktu sekarang, kan?”

“Iya.”

“….”

“….”

“….”

“Athena, kau di mana?”

“Di sini. Tepat di sampingmu.”

“Aku tak pernah bisa menyentuhmu. Kau penasaran rasanya pegangan tangan?”

“Sedikit. Pasti rasanya menyenangkan.”

“….”

“….”

“Athena, aku mengantuk.”

“Tidurlah, Will. Aku tak akan ke mana-mana.”

“Hmm. Terima kasih, kau memang selalu ada untukku.”

“Karena aku teman terbaikmu.”

“Selamat malam.”

“Ya. Selamat malam.”

***TAMAT***
Diubah oleh ih.sul 20-05-2024 11:17
indrag057Avatar border
viensiAvatar border
YoayoayoAvatar border
Yoayoayo dan 12 lainnya memberi reputasi
11
1.1K
16
GuestAvatar border
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the HeartKASKUS Official
31.6KThread42.8KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.