Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

ih.sulAvatar border
TS
ih.sul
Short Story #64 : Reuni Penuh Benci


Ada yang bilang reuni itu hanyalah ajang pamer. Sebagai orang yang buka bisnis sewa Iphone aku bisa memastikan bahwa hal itu memang benar. Meski demikian bagi kami alumni kelas XII-IPA 4 reuni merupakan ajang hiburan yang pasti tak akan kami lewatkan.

Reuni tahunan ini merupakan kegiatan rutin yang meskipun tidak tertulis tapi pasti kami hadiri. Setiap tahun di tanggal 4 Januari kami akan berkumpul di warung Mie Gacoan yang dekat dengan Sma kami dulu. Alasannya cuma satu, melihat drama apa yang akan dibawakan Nia dan Yudi tahun ini.

Nia dan Yudi awalnya adalah sepasang kekasih, tapi mereka putus seminggu sebelum kelulusan untuk alasan yang benar-benar konyol. Sejak saat itu setiap kali bertemu mereka seolah berniat menyakiti satu sama lain. Keduanya akan saling membandingkan prestasi mereka dengan suara keras seolah seluruh dunia harus tahu siapa yang paling menyesal.

“Aku nggak kuliah, langsung keterima kerja di BRI,” ucap Yudis dengan sombongnya di reuni tahun pertama. Meski dia masuk berkat koneksi orang dalam, itu tetap prestasi yang patut diacungi jempol.

Nia yang duduk lima kursi jauhnya ternyata tak mau kalah. “IPK ku semester lalu empat sempurna. Dosenku langsung ngajak aku jadi asistennya buat penelitian. Udah dibayar, nilai dijamin bagus. Kayaknya bisa langsung kuliah ke luar negeri nih.”

Itu juga prestasi yang bagus. Meski begitu prestasi Yudi tampaknya lebih tinggi jadi Yudi pun memasang wajah sombong mendengar itu.

“Bulan lalu aku dapat bonus gede gara-gara berhasil narik perusahaan besar. Bosku langsung pengen ngejodohin aku sama anaknya. Ahh, hidup memang indah.”

“Pacarku sering ngantar aku pake Lamborgini. Padahal udah kubilang nggak usah, tapi dianya maksa. Katanya, “Tuan putri harus diantar kereta kencana.” Iiihhh, so sweet banget kan?”

Sayangnya prestasi Yudi tetap lebih tinggi sehingga di tahun pertama Nia harus menahan malu gara-gara menderita kekalahan. Kami kira dia tak mau datang lagi di reuni tahun depan, tapi ternyata dia datang dengan wajah sombong seolah baru saja menaklukkan dunia.

“Aku dapat beasiswa ke Jerman buat enam bulan. Semua kebutuhanku ditanggung. Dosenku bilang ini bakal masuk ke sks ku. Kayaknya aku bisa lulus tiga tahun doang nih. Kalau sukses kayaknya aku juga bisa kerja di Jerman.”

Nia masih saja memamerkan prestasinya di kampus padahal Yudi sudah memasuki dunia kerja dan menghasilkan banyak uang setiap bulannya. Tampaknya tahun ini Yudi menang lagi karena apa yang dia taruh di meja adalah kunci dari mobil mewah yang terparkir di luar.

“Lamborgini, Boss! Model terbaru. Beli sendiri, bukan punya pacar.”

Singkat, padat, menusuk. Tahun itu Nia kembali menahan tangis menyadari mantannya sudah puluhan langkah di depan dalam mendaki hidup.

Di tahun ketiga aku sangat yakin kalau Nia akan meledak frustrasi, tapi ternyata dia bisa tetap diam saat melihat apa yang Yudi pamerkan pada kami.

“Cantik kan? Aku sama dia rencana nikah tahun depan. Kalau memang saling suka buat apa lagi nunda-nunda? Aku udah rencana beli rumah juga. Pondok Indah atau Kelapa Gading ya?”

Tak ada yang mendengarkan apa yang Nia pamerkan di tahun itu. Kami semua tahu dia kalah telak. Mungkin di dalam hati dia sudah menyesal putus dengan Yudi.

Namun arah ombak mulai berubah di tahun keempat.

“Iya betul, proyek pemerintah. Aku juga nggak nyangka bisa langsung dapat proyek gede. Nggak tanggung-tanggung atasanku langsung promosiin aku. Padahal aku baru kerja enam bulan. Memang roda itu pasti berputar.”

Senyuman yang jelas-jelas menyindir Yudi itu membuat kami deg-degan menunggu respon dari Yudi. Nia berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam tiga tahun dan langsung diterima di perusahaan kosmetik besar. Kemajuan karirnya sangat di luar nalar.

Sebaliknya, karir Yudi tampaknya jalan di tempat. Bukan sekedar jalan di tempat, dia berjalan di atas treadmill sehingga dia terhempas keluar jalur. Semua berawal dari dia yang kehilangan klien hingga pertunangannya yang batal gara-gara itu. Rumah di Kelapa Gading pun kini tinggal kenangan.

Ternyata benar kata orang. Tak penting siapa yang mulai lebih dulu, yang penting adalah siapa yang naik paling tinggi. Meski Yudi punya pengalaman kerja tiga tahun lebih banyak Nia mengimbangi itu dengan pendidikan yang berkualitas. Sekarang keunggulan start duluan sudah hilang, Nia sudah memutar balik keadaan.

Di tahun kelima posisi mereka semakin jomplang. Saat Nia diangkat menjadi junior manager Yudi malah kehilangan pekerjaannya. Saat Nia menyombongkan pencapaiannya, apa yang dia beli, dan apa rencananya untuk tahun depan, Yudi cuma duduk diam di sudut tanpa mengatakan apa-apa.

Aku mulai berpikir kalau drama di antara mereka yang awalnya lucu kini malah jadi menyayat hati. Meski demikian kami semua sepakat bahwa rasa penasaran kami lebih besar dibanding rasa kasihan. Karena itulah tahun berikutnya kami kembali berkumpul.

Hidup Yudi sudah lebih baik. Meski tak lagi mengendarai Lamborgini tapi dia sudah dapat pekerjaan di bank kompetitor tempat kerjanya dulu.

“Aku cuma mulai ubah mindset aja,” jawabnya saat ditanya, “hidup ini jangan pakai standar orang lain, hiduplah dengan standar sendiri.”

Tampaknya dia sudah jadi lebih dewasa sedangkan Nia tetap memamerkan mobil barunya. Hubungan naik turun di antara mereka benar-benar menghibur. Mereka berdua bekerja keras demi kepuasan yang sebenarnya tak penting. Kira-kira sampai kapan kompetisi tanpa ujung ini akan bertahan?

Di reuni ketujuh, Nia mengumumkan kalau dia akan menikah. Ternyata dia masih berpacaran dengan pacarnya dari jaman kuliah. Kami semua mengucapkan selamat, tapi apa yang Yudi sampaikan jauh lebih menarik perhatian kami.

“Aku mau mulai bisnisku sendiri dan aku butuh pegawai. Kalau kalian ada yang tertarik langsung aja kontak aku.”

Persaingan Yudi dan Nia selalu menjadi topik tahunan sampai-sampai kami melupakan keadaan kami sendiri. Masih ada beberapa yang belum mendapat pekerjaan dan ada juga yang butuh pekerjaan yang lebih baik. Bisnis Yudi tampak menjanjikan sehingga sepanjang malam kami sibuk membahas hal itu. Sebelum pulang aku pun mantap mengirimkan cv ku ke Yudi.

Siapa yang menyangka kalau bisnis itu sukses besar? Dalam satu tahun saja kami sudah buka cabang di kota lain dan kemungkinan besar tahun depan kami akan buka cabang di luar pulau. Semua berjalan terlalu baik dan penuh kerja keras sampai-sampai kami melewatkan acara reuni kedelapan.

Dari yang aku dengar, Nia mengalami mutasi ke luar pulau akibat sebuah kesalahan dan pernikahannya pun terpaksa ditunda sampai dia bisa kembali ke cabang utama. Seperti yang dia bilang, roda memang selalu berputar.

Bisnis Yudi terus saja membesar sampai-sampai dia tak pernah lagi membahas tentang reuni. Reuni yang baginya cuma ajang mempermalukan Nia kini menjadi sebuah kesenangan yang tak perlu. Yudi sudah luar biasa sukses, tanpa perlu diberitahu pun kami semua sudah tahu itu.

Dan karena itulah aku harus mati-matian membujuknya ikut reuni kesembilan. Kisah mereka berdua sudah terlalu seru untuk dibiarkan selesai tanpa klimaks. Setelah sembilan tahun semua sudah benar-benar berubah. Warung Mie Gacoan langganan kami sudah punya room khusus karaoke dan bahkan menyajikan alkohol.

Seperti biasa Nia mulai menyombongkan keberhasilannya kembali ke cabang utama perusahaan. Kukira Yudi cuma akan mendengarkan. Toh siapa yang tak tahu pencapaiannya? Tapi ternyata dia mengucapkan sesuatu yang bahkan aku pun merasa terkejut.

“Bulan depan aku bakal nikah,” ucapnya tenang sembari meneguk secangkir bir dalam satu napas. “Calon istriku anak pemilik XXX. Kalau kami nikah perusahaan kita bisa ekspansi ke luar negeri. Pernikahan bisnis, tapi aku nggak ngeluh.”

Memang bosku ini luar biasa. Tampaknya cita-citanya menjadi salah satu pengusaha terbesar di negara ini sudah mulai menunjukkan jalan. Aku senang melihat perubahannya dari tahun ke tahun. Dia sudah benar-benar jadi orang dewasa yang hanya berkompetisi dengan dirinya sendiri.

“Yeeyyy, selamat. Semoga istrimu bahagia.” Nia yang tampaknya mulai teler mulai mencemoh. “Apa gunanya nikah tanpa cinta? Lihat Ryan! Dia cinta mati sama aku. Kami juga bakalan nikah bulan depan.”

“Oh ya? Baguslah kalau begitu. Kuharap kau bahagia.”

Yudi minum satu gelas lagi. Tampaknya dia juga mulai teler. Haruskah aku menghentikannya?

“Ryan itu hebat! Kau nggak ada apa-apanya. Kasian istrimu punya suami culun kayak kau.”

Kurasa itu sudah berlebihan, tapi kami semua cuma diam.

Sebenarnya satu hal masih mengganjal di pikiran kami. Apa benar mereka dulu putus cuma gara-gara ‘itu?’

“Iya iya. Kuharap suamimu bahagia punya istri yang nggak bisa menyusui anak-anaknya.”

Itu dia. Alasan mereka berdua putus adalah Yudi yang ‘mengeluh’ karena aset Nia yang … di bawah standar.

“HAAA?!! APA KAU BILANG? MEMANGNYA ITU SALAHKU?! SALAHKAN TUHAN SANA!”

“Aku nggak bilang itu salahmu. Aku cuma kasihan aja.”

“JANGAN KAU ASAL OMONG YA! TUBUHKU ITU SEKSI, KAU TAU NGGAK?! PUNYAMU TUH YANG KECIL!”

“HAAA?! KAU YANG ASAL NGOMONG! MAU KUTUNJUKIN?! SINI! ASAL KAU TAHU CEWEK MACAM KAU BISA KUBUAT LEMAS SEHARIAN!”

“AYOK! SIAPA TAKUT?! KAU YANG BAKAL MINTA AMPUN SAMAKU!”

“AYUK!”

“AYOK!”

“AYUK.”

“AYOK.”

Hening ….

Kami tak tahu apakah pantas untuk menginterupsi peperangan keduanya. Mungkin menambahkan alkohol dalam menu adalah keputusan yang amat fatal. Jika sudah seperti ini apa yang akan terjadi?

Keduanya masih saling tatap, tak ada yang mau mengalah. Hal berikutnya yang terjadi adalah keduanya kompak melangkah keluar dari ruang karaoke dan meninggalkan kami semua dalam keheningan.

Apa yang terjadi setelah itu? Sayangnya, butuh satu tahun sampai kami tahu akhir ceritanya.

***


Reuni kesepuluh. Siapa yang menyangka sudah sepuluh tahun berturut-turut kami melaksanakan reuni ini. Itu bisa diartikan sebagai pencapaian. Bisa juga diartikan sebagai sekumpulan orang tanpa kerjaan.

Alasan kami berkumpul setiap tahun adalah untuk mengetahui chapter terbaru dari drama Nia dan Yudi. Namun, mungkin ini akan jadi terakhir kalinya kami berkumpul. Kisah itu … sudah selesai.

“Selamat ya! Maaf aku nggak bisa datang.”

“Nggak apa-apa kok. Semuanya juga serba dadakan.”

Aku melihat Nia dan Lila di sudut ruangan. Meski sengaja datang cepat tapi ternyata ada yang datang lebih cepat dariku. Aku memutuskan menghampiri mereka. Sama seperti Lila, aku mengucapkan selamat pada Nia.

“Selamat ya! Anaknya ganteng, mirip bapaknya.”

Mendengar itu Nia cuma tersenyum.

Satu tahun yang lalu mereka berdua pergi dan menghabiskan malam di hotel. Entah apa saja yang mereka lakukan di bawah pengaruh alkohol, tapi anak ini adalah hasilnya. Setelah mengetahui Nia hamil pacarnya langsung memutus semua hubungan dengannya. Yudi juga sama. Bisnis kami gagal berkembang ke luar negeri gara-gara pertunangan yang gagal.

Lalu apa yang dilakukan kedua insan yang tengah berduka itu? Apalagi kalau bukan menikah? Mana boleh seorang anak lahir tanpa keberadaan bapaknya. Rasanya seperti membaca novel yang sangat panjang, tapi keduanya berakhir kembali ke titik semula.

Putus, naik, turun, lalu menyambung kembali. Sungguh perjalanan sepuluh tahun yang pantas diabadikan. Reuni demi reuni yang kami lewati menjadi titik penanda yang membuat mereka tak kehilangan arah.

Kira-kira apa yang akan terjadi jika kami tak pernah mengadakan reuni? Entahlah. Tak ada gunanya juga membayangkan itu. Yang jelas pasti hasilnya akan sangat berbeda.

Tak lama kemudian Yudi datang dan kami pun memulai reuni satu dekade ini. Mungkin bagi banyak orang reuni cuma ajang pamer kekayaan, tapi bagi kami reuni adalah sebuah kisah yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Reuni adalah sebuah titik untuk kita melihat kembali ke mana kita sudah melangkah.

Yudi dan Nia adalah bukti nyata. Mereka melangkah lebih dan lebih cepat dari siapa pun karena tak ingin kalah dari yang lain. Reuni membuat mereka sadar bahwa hidup harus seimbang depan dan belakang. Terkadang kita perlu melihat masa lalu untuk melangkah lebih mantap ke masa depan.

Mungkin endingnya memang aneh, tapi itulah hasil dari sebuah reuni. Mungkin keduanya selalu menantikan reuni karena memang ada perasaan yang ingin bertemu lagi.

***TAMAT***
Diubah oleh ih.sul 21-05-2024 17:32
itkgidAvatar border
spaghettimiAvatar border
aguzblackrxAvatar border
aguzblackrx dan 9 lainnya memberi reputasi
10
1.5K
30
GuestAvatar border
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the HeartKASKUS Official
31.6KThread42.7KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.