Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

ih.sulAvatar border
TS
ih.sul
Short Story #51 : Siksa Kubur


Hari ini Ustad Ahmad meninggal dunia. Beriringan dengan adzan Subuh berita kematiannya disiarkan melalui speaker masjid dan membuat seluruh kampung gempar. Padahal kemarin Ustad Ahmad terlihat sehat-sehat saja. Dia juga belum terlalu tua. Ternyata umur memang cuma Tuhan yang tahu.

Ustad Ahmad adalah sosok paling dihormati di desa, bahkan lebih disegani dibanding pejabat setempat. Dia mendirikan pesantrennya sendiri dan sering memberi bantuan pada orang miskin. Dia juga seorang pendakwah terkenal yang sering diundang ke mana-mana. Seluruh hidupnya hanya ditujukan di jalan agama. Karena itulah semua warga berdoa di hari kematiannya.

Sesuai ajaran agama jenazahnya pun dikebumikan sesegera mungkin. Seluruh warga menunda aktivitas mereka dan ikut membantu proses pemakaman. Entah siapa yang mengusulkan, tapi tiba-tiba pemakaman itu menjadi ramai dan meriah. Tak ada yang sedih. Ustad Ahmad sering mengajarkan bahwa kehidupan surga jauh lebih baik dibanding dunia dan karena tak ada yang meragukan ibadah sang ustad semua percaya Ustad Ahmad sudah di tempat yang lebih baik.

Akhirnya warga pun berpatungan dan menjadikan hari itu sebagai hari bersantai bagi semua penduduk kampung. Setelah pemakaman mereka berkumpul di lapangan besar dan menyantap sajian dari keompok pengajian ibu-ibu. Ustad Husein yang merupakan murid beliau naik ke panggung dan membacakan sejarah, prestasi, hingga seluruh amal baik beliau semasa hidup.

Pengajian dan shalawat terus berkumandang hingga malam. Mario, salah satu penggali kubur yang menggali lahan untuk Ustad Ahmad, pulang dengan perut kekenyangan. Tanpa repot-repot mengganti baju dia langsung jatuh tertidur.

Tidurnya sangat lelap sampai-sampai matahari sudah meninggi saat dia terbangun. Jika tidak dibangunkan istrinya dia mungkin akan tidur sampai sore. Dengan malas-malasan dia sarapan dengan lauk sisa hajatan dan bersiap pergi ke ladang meski terlambat.

“Hmm … handphone ku di mana ya?” Mario bertanya-tanya.

“Di teras belakang, mungkin. Kan Abang biasa ngopi di situ.”

Mario mengecek ke belakang dan baru ingat dia sama sekali belum minum kopi sejak kemarin jadi tak mungkin handphonenya ada di sana.

“Coba misscall dong Dek,” pintanya. Istrinya menurut dan mengeluarkan ponselnya. Nada panggilan menyambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terputus. Mario sama sekali tidak mendengar nada dering ponselnya dari mana pun.

“Waduh! Apa hilang pas hajatan ya?” dia bertanya-tanya.

“Atau waktu gali kubur,” istrinya menambahkan. “Yaudah, nanti pulang dari ladang cari aja. Hp butut gitu nggak bakal ada yang ngambil kok.”

Sambil menggerutu Mario pun pergi ke ladang. Dia melewati pesantren Ustad Ahmad dalam perjalanannya. Suasana di sana masih tampak berkabung. Tampaknya kegiatan belajar sedang diliburkan dan para santri berdiam di asrama. Hanya ada Yunus yang sedang menyapu di gerbang pesantren.

Yunus adalah anak yatim piatu yang diangkat Ustad Ahmad sebagai pengelola pesantren. Tak ada yang tahu siapa orangtuanya. Rumor yang beredar dia diletakkan begitu saja di depan gerbang pesantren belasan tahun yang lalu.

Mario bergegas menyelesaikan pekerjaannya di ladang dan mulai mencari ponselnya yang hilang. Benar kata istrinya. Ponselnya yang butut tak akan menarik perhatian siapa-siapa jadi kecil kemungkinan ada yang mencurinya. Ponsel itu pasti terjatuh di suatu tempat.

Mario mengingat-ingat lagi kapan terakhir dia memakai ponselnya. Dia ingat mendapat telpon dari Ustad Husein saat sedang menggali. Mario pun mulai mencari ke kuburan Ustad Ahmad. Meski cuma ponsel butut tapi ada banyak nomor penting di ponsel itu.

Mario berusaha menemukan ponselnya sebelum matahari terbenam, tapi hasilnya nihil. Tanah di sekitar kuburan Ustad Ahmad bersih tanpa tanda-tanda ponsel. Kalaupun benar ponselnya jatuh di sini pasti sudah ada yang mengambil dan membuangnya.

Mario melirik gundukan tanah makam sang ustad. Bisa saja ponselnya terjatuh dan ikut terkubur di dalam sana. Apakah dia tega membongkar makam Ustad Ahmad untuk sesuatu yang tidak pasti?

Dan kemudian Mario mendengar suara samar dari makam di depannya. Suaranya seperti sangat teredam, tapi Mario mengenali suara nada dering ponselnya. Tak salah lagi, ponselnya benar-benar terkubur di makam Ustad Ahmad.

Mario menoleh kiri dan kanan. Area pemakaman tampak sepi. Memang jarang ada yang datang kalau sudah gelap. Mungkin tak akan masalah kalau dia menggali sedikit. Toh makamnya masih baru. Tak akan ada yang tahu asalkan dia merapikannya nanti.

Akhirnya Mario pun mulai menggali dengan kedua tangannya sendiri. Untunglah tanah makam itu lembek dan kering, dia jadi bisa menggali dengan cepat. Dia bisa mendengar suara ponselnya masih teredam jadi dia menggali lebih dalam.

Mario nyaris mengutuk saat akhirnya dia mencapai kayu penutup liang lahat. Tampaknya ponselnya jatuh ke dasar bersama dengan jenazah Ustad Ahmad. Ahh persetanlah, pikirnya. Sudah basah sekalian saja menyelam.

Akhirnya dia pun membuka papan kayu tersebut. Dia menoleh dan menutup sebelah mata agar tak perlu melihat wajah Ustad Ahmad. Untunglah dia berhasil menemukan ponselnya. Sekarang Mario cuma perlu memperbaiki makam dan segera pulang.

“Tolong ….”

Mario merasa seperti di dalam mimpi. Dia merasa ada sesuatu yang sudah membuatnya berhalusinasi sehingga tubuhnya tak merespon apa yang tengah dia lihat. Dia mencoba menenangkan diri. Semua baik-baik saja. Tak ada apa pun yang terjadi.

Namun kemudian suara teriakan paling mengerikan membuat Mario ikut berteriak. Secara refleks dia meloncat dan merangkak keluar dari liang lahat. Dia mencoba berlari tapi terjatuh. Suara teriakan itu tak mengecil sedikit pun seolah-olah yang punya suara sama sekali tak perlu menarik napas.

Namun kemudian suara adzan berkumandang dan secara ajaib suara teriakan itu berhenti. Mario masih merasa shock dengan apa yang dia lihat dan dengar. Semua terasa tidak nyata sampai-sampai dia meragukan apa yang baru saja terjadi.

Itu pasti cuma imajinasi,pikirnya. Tak mungkin yang seperti itu ada.

Mario menemukan kembali tenaga untuk berdiri tegak. Dia melihat liang kubur yang harus segera dia perbaiki. Dia bisa saja langsung pergi, tapi dia tahu apa yang dia lihat akan menghantuinya seumur hidup. Karena itulah Mario memberanikan diri melangkah mendekati liang lahat Ustad Ahmad. Napasnya memberat. Seluruh bagian tubuhnya memberontak seolah memberitahunya untuk segera pergi. Tapi Mario membuka mata lebar-lebar dan melihat apa yang ada di dasar makam.
Ustad Ahmad balik menatapnya.

Perut Mario langsung bergejolak penuh dengan kejijikan. Dia tak salah lihat. Ustad Ahmad, hidup, meminta tolong padanya.

“Tolong … minta anak-anakku berdoa.”

Wajah itu bukan lagi wajah ustad penuh senyum yang dikenal Mario semasa hidup. Kulit wajahnya terkelupas dan penuh nanah. Darah bercucuran tanpa henti dan ekspresi sang ustad tampak seperti sudah mengalami penderitaan seumur hidup.

Mario tidak mengatakan apa-apa. Dia sudah cukup melihat. Segera dia menaruh kembali papan kayu dan memperbaiki tanah kuburan Ustad Ahmad. Saat adzan berhenti berkumandang dia bisa mendengar suara teriakan yang sangat memilukan, tapi dia terusmengubur tanah dan bergegas pulang ke rumah.

Berhari-hari Mario dihantui mimpi buruk. Dia tak berani menceritakan apa yang dia lihat pada siapa pun. Dia mencoba melupakan tapi setiap detail wajah Ustad Ahmad terus saja terbayang dan itu membuatnya ketakutan. Dia masih mengingat apa yang Ustad Ahmad katakan padanya, tapi apa maksudnya itu?

Istri Ustad Ahmad sudah meninggal beberapa tahun lalu dan dia cuma punya satu anak yang kuliah di luar negeri. Mario sama sekali tidak melihat anak itu, tampaknya dia tidak pulang meski ayahnya meninggal. Mario merasa ada yang tidak dia ketahui. Dia harus mencari jawaban. Dia harus melenyapkan semua ketakutan ini dari dalam dirinya.

Mario pun memutuskan mendatangi Ustad Husein di pesantren. Malangnya ustad tersebut sedang ada jadwal di luar kota.

“Maaf Bang. Kalau ada pesan biar nanti saya sampaikan,” Yunus meminta maaf padanya. Menurutnya Ustad Husein baru akan kembali seminggu lagi. Mario tidak bisa menunggu satu minggu.

“Anu … kau tau nggak nomor telepon anak Ustad Ahmad?”

Yunus menyipitkan kedua matanya curiga. “Memang buat apa, Bang?”

Mario ragu-ragu sejenak. Dia tak terlalu mengenal Yunus tapi dia bukan orang yang banyak omong. Mario merasa cemas, tapi setelah dipikir-pikir dia sama sekali tidak melakukan kejahatan.

Akhirnya Mario pun menceritakan semua yang telah dia alami di makam Ustad Ahmad. Yunus mendengarkan tanpa menyela. Dia tidak menunjukkan ekspresi apa pun meski cerita Mario terdengar seperti karangan siksa kubur dari film horor.

“Pak ustad dapat siksa kubur rupanya,” bisik Yunus pelan saat Mario selesai bercerita. Ada yang aneh dari anak itu. Dia terlalu tenang, terlalu tidak peduli padahal Ustad Ahmad sudah membesarkannya sejak dia kecil.

“Ustad Ahmad minta anak-anaknya berdoa. Apa maksudnya anak-anak? Bukannya anaknya cuma satu?”

“Satu … satu gudang?”

Alis Mario mengerucut mendengar perubahan nada suara yang mendadak itu. Ada getaran dendam di udara dan itu membuar Mario bergidik.

“Ustad Ahmad diidolakan satu kampung, tapi nggak ada yang tahu siapa dia di dalam. Semua orang memuja dia, tak ada yang berani menentang orang yang paling paham agama.”

“Maksudmu, dia sebenarnya orang jahat … gitu?”

Yunus mengangguk. Sikap santri pendiam berwajah datar menghilang digantikan sosok seorang anak yang tampak begitu kecewa dengan orang dewasa. Di wajah yang biasa tanpa ekspresi itu kini ada kejijikan yang begitu kentara.

“Ustad Ahmad punya banyak anak. Aku nggak punya bukti, tapi aku udah lihat sendiri. Setiap tahun ada saja santriwati yang melahirkan di pesantren ini.”

Mario yakin dia salah dengar, tapi Yunus tetap bicara tanpa mempedulikannya.

“Dia sering keluar kota, menjual barang-barang kharomah dengan harga mahal padahal itu cuma barang buatan penduduk kampung. Banyak penjabat mendekatinya untuk mendapat suara. Di kampung ini dia memang tampak sederhana, tapi di luar dia punya rumah bertingkat dan mobil mewah. Tak ada yang mulia dari orang macam itu. Dia cuma orang licik yang memanfaatkan orang-orang dungu.”

Giliran Mario yang diam tak berkata apa-apa. Dia menolak untuk mempercayai sesuatu yang mengada-ngada seperti itu, tapi setelah melihat makam Ustad Ahmad dia sama sekali tak bisa membantah Yunus. Dia tak tahu mana yang harus dia percaya.

“Waktu aku menggali kubur itu … Ustad Ahmad berhenti teriak waktu adzan maghrib. Itu kau yang adzan kan? Apa jangan-jangan ….”

Mario tidak melanjutkan dan Yunus pun cuma memilih diam. Meski demikian dia berkata, “Bang Mario. Ada tiga amalan yang terus mengalir meski kita sudah mati. Ilmu yang bermanfaat, sedekah, dan doa anak yang soleh. Aku akan terus berdoa. Abang juga banyak-banyak ibadah. Ajari anak-anak Abang mengaji.”

Dengan satu lambaian tangan Mario tahu dia disuruh pulang. Mario pergi dengan kepala yang jauh lebih berat. Dia sudah mempelajari sesuatu yang tak ternilai harganya. Mario tak tahu akan jadi apa nasib Ustad Ahmad di alam kubur, tapi seseorang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya semasa hidup. Itulah yang paling dia ingat dari ceramah Ustad Ahmad.

Akhirnya Mario pun memutuskan pulang, mengambil wudhu, dan mulai mengaji.

***TAMAT***
rinandyaAvatar border
bonek.kamarAvatar border
jembloengjavaAvatar border
jembloengjava dan 12 lainnya memberi reputasi
13
5.2K
17
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the HeartKASKUS Official
31.6KThread42.4KAnggota
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.