Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

ih.sulAvatar border
TS
ih.sul
Short Story #48 : Gadis Perpustakaan
Apakah kau orang yang percaya takdir? Aku pribadi tak percaya dengan yang namanya takdir. Sesuatu terjadi dan orang-orang menganggapnya takdir padahal segala hal mungkin saja terjadi di dunia ini. Orang-orang yang menggunakan kata takdir biasanya ingin membuat suatu kejadian terasa lebih sakral dan istimewa. Jika segala hal bisa disebut takdir maka aku yang memakai kaus kaki kiri lebih dulu juga merupakan takdir.

Meski demikian kata takdir memang terasa romantis. Jika itu bisa membuatku mendapatkan wanita yang kucintai, aku tak keberatan mempercayainya. Itulah yang ada di pikiranku saat pertama kali melihatnya.

Di lantai dua perpustakaan, duduk di meja pojok yang sepi dan sunyi, dia membaca dengan postur yang begitu anggun. Rambut panjangnya terurai di punggung kursi, sedikit bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi. Cahaya yang masuk melalui jendela yang sedikit terbuka jatuh tepat di dadanya, meninggalkan wajah cantiknya dalam lindungan bayang.

Dia membalik kertas dengan begitu hati-hati menggunakan jarinya yang lentik. Sampul buku tua hitam begitu kontras dengan kulit putihnya. Di depannya ada tumpukan buku yang sebagian terbuka dan sebagian lagi menunggu giliran.

Dirinya yang duduk dikelilingi rak buku tampak seperti lukisan yang begitu sempurna sampai-sampai aku tak berani mendekat karena akan merusak keindahan itu. Dia tampak seperti peri dari negeri dongeng dan perpustakaan ini adalah dunianya. Jika takdir memang ada maka ini adalah momen paling sempurna untuk menjadi contohnya.

Aku jatuh cinta.

Tanpa tahu nama maupun sifatnya, dia sudah mencuri hatiku.

***


Aku suka melukis. Namun aku tidak sembarangan melukis, aku hanya melukis pemandangan yang memang layak diabadikan. Gadis itu adalah salah satunya.
Sejak pertama kali aku melihatnya aku tahu bahwa aku harus mengabadikan momen ini. Aku pun menduduki kursi dengan jarak yang sempurna dan mengeluarkan peralatan lukisku. Meski hanya pensil dan buku gambar, aku merasa ini akan jadi lukisan terbaik yang pernah kubuat.

Namun satu hari benar-benar tak cukup untuk menciptakan lukisan seindah yang kuinginkan. Saat matahari terbenam dan dia mulai berkemas aku pun mengemas barang-barangku. Aku bertanya-tanya apakah dia akan datang lagi besok. Aku tak punya keberanian untuk mendekat dan bicara padanya. Jika aku bicara padanya, maka dia tak akan lagi menjadi gadis yang berasal dari negeri dongeng.

Mungkin takdir memang menjalankan tugasnya. Saat aku kembali mengunjungi perpustakaan esok harinya dia sudah ada di posisi yang sama. Aku tak bisa melihat jelas apa yang dia baca, tapi ekspresi wajahnya benar-benar menikmati waktu yang dia punya.

Hari berganti hari, buku berganti buku. Meski pakaian dan cuaca berubah, dia tetap membaca dengan anggun dan mempesona. Lantai dua perpustakaan yang sepi seolah menjadi aula suci tempatku menyembah dan mengaguminya.

Terkadang aku bertanya apa yang sebenarnya dia cari dan kenapa dia kembali setiap hari, tetapi apa pun itu aku berharap dia tak pernah menemukannya agar dia bisa terus berada di sana. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan jika dia berhenti datang. Aku ingin waktu berhenti agar bisa mengagumi keindahannya selamanya.

Namun yang namanya keindahan tak mungkin tak menarik perhatian orang lain. Tidak sepertiku yang bisa menghargai keindahan, ada orang-orang yang tak peduli dan masuk dalam dunia dongeng meskipun tahu mereka tak pantas ada di sana.

Saat ada yang mendekatinya aku merasakan perasaan kompleks yang membuat panas. Pria itu tanpa ragu duduk di hadapannya dan langsung mengajak bicara. Gadis itu tersenyum, tapi memasang ekspresi terganggu. Namun pria itu terus mencoba melakukan pembicaraan searah hingga puncaknya dia menyodorkan ponselnya, meminta nomor gadis itu.

Gadis itu tidak terlihat ingin, tapi pria itu terus memaksa. Di situlah aku memutuskan dia sudah merusak terlalu jauh. Aku berdiri dan langsung duduk di sebelah gadis itu.

“Oi! Cewek ini udah ada yang punya. Cari cewek lain sana!”

Dianugrahi wajah seram terbukti berguna. Tak banyak yang mau cari masalah denganku dan orang ini juga sama. Dalam sekejap dia langsung pergi. Kuharap dia tak memanggil teman-temannya.

“Umm … terima kasih.”

Gadis itu menundukkan kepala sedikit sembari berterima kasih dengan amat formal. Dia punya suara yang indah dan setelah dilihat dari dekat dia punya mata biru yang mempesona. Lensa kontak?

“Sama-sama.”

Aku sudah melanggar aturanku sendiri untuk tidak mencoba memasuki dunianya. Kini dia tak lagi terlihat seperti makluk dari dunia dongeng. Dia adalah manusia. Namun … sama indahnya.

“Namamu?” suaraku keluar tanpa sadar.

“Hmm?”

“Maksudku, namamu siapa kalau aku boleh tahu?”

“Ohh … namaku …. Erta.”

“Nama macam apa itu?”

Mulutku spontan mengucapkan apa yang ada di pikiranku. Itu memang nama yang aneh tapi kau tak boleh mengucapkan itu langsung di depan orangnya.

“Ma-maaf, maksudku—”

“Nggak apa-apa kok. Itu memang nama yang aneh.”

Aku tak tahu apakah dia benar-benar tersinggung atau tidak, tapi perasaanku jadi tidak enak. Di saat seperti ini harusnya aku mengucapkan sesuatu yang lucu tentang diriku, tapi aku tak bisa memikirkan apa yang harus kukatakan.

“Kalau kau?” dia bertanya.

“Apa?”

“Namamu. Siapa namamu?”

“Ohh, namaku Aries.”

“Aries? Apa kau lahir di bulan April?”

“Bukan. Itu karena ibuku ngidam kambing saat hamil.”

Dan Erta pun tertawa.

Pembicaraan kami menjadi lebih panjang dari yang kuharapkan. Kalau sekarang aku kembali ke mejaku untuk melukis apakah itu masih akan terasa wajar?

“Ahh, aku harus pulang sekarang,” dia berkata. Di luar sinar matahari mulai meredup. Ternyata hari ini telah berakhir.

“Besok kau datang lagi, nggak?” tanyaku saat dia mengemasi tasnya. Aku tahu pertanyaanku aneh. Dari sudut pandangnya aku pasti terlihat seperti penguntit yang ingin mempelajari tindak-tanduknya. Namun aku ingin tahu. Aku masih ingin menyelesaikan lukisanku.

“Oh ya, aku pasti datang,” ucapnya dengan senyum lebar penuh kepastian. “Sampai jumpa besok.”

Aku merasa ada sesuatu di balik senyuman itu. Sama sepertiku yang memiliki motif tak sehat, aku merasa ada makna tersembunyi di balik kata-katanya. Namun, aku tidak peduli. Tak ada ruang untuk kecurigaan dalam diri ini karena yang ada hanya perasaan hangat yang membuatku tak bisa melupakan wajahnya.

Ahh, cinta memang menakutkan.

***


Hujan.

Hujan bisa berarti banyak hal. Kesedihan, pembersihan, gelap sebelum terang. Hujan juga berarti orang-orang kesulitan keluar rumah dan tidak datang ke perpustakaan. Bahkan latar belakang paling indah pun tak ada artinya tanpa tokoh utama yang berada di tengah semuanya. Ini sudah lewat dua jam dari biasanya. Haruskah aku pulang?

Aku melihat kembali buku gambarku. Sudah belasan lembar sketsa tapi tak ada satu pun yang layak disebut lukisan. Mungkin keahlianku memang tak sanggup menuangkan pemandangan itu ke atas kertas. Seperti pendaki amatir yang mencoba menaklukkan Everest, setengahnya pun tidak terdaki.

Sebenarnya apa yang hendak aku lakukan? Apa aku berniat menunjukkan lukisanku pada dunia? Atau aku hanya ingin mencari kepuasan dengan mencuri sedikit keindahan alam? Aku merasa bangga bisa menemukan pemandangan indah yang tak ada bandingannya di dunia ini, tapi apa artinya jika lukisan yang bisa kuhasilkan hanyalah produk cacat yang tak bernilai?

“Hai Aries! Maaf aku telat.”

Ada tetesan air yang jatuh dari rambutnya saat dia berjalan mendekatiku. Hujan yang deras memang bisa membuat siapa pun basah meski sudah menggunakan payung. Aku senang melihat seragam putihnya, tapi …

“Kau … masih Sma?!”

Aku tidak mempercayai apa yang kulihat, tapi dengan santainya dia menjawab, “Iya. Tapi tenang, aku udah punya ktp kok.”

Keindahan itu kini terasa tabu. Erta tersenyum seolah tahu konflik di dalam kepalaku dan dia menikmatinya. Tampaknya aku sudah menemukan wanita yang licik. Untunglah dia bukan wanita yang polos, lugu, dan tidak bersalah. Dia cacat, sama seperti semua manusia pada umumnya.

“Kalau gitu aku akan ke sana,” ucapnya menunjuk kursi yang biasa dia duduki. “Aku akan membaca.”

Dan aku akan melukis.

Kami tak banyak bicara. Hari demi hari kami hanya bertukar ucapan hai dan sampai jumpa. Meski demikian aku merasa semakin memahami tentang dirinya. Apa yang dia suka, apa yang dia benci, dan apa yang akan dia lakukan, aku merasa memahami semuanya. Dan mungkin karena itu jugalah aku merasa waktu-waktu yang kami habiskan akan mendekati akhir.

Butir-butir pasir berjatuhan tanpa kutahu apa sebabnya. Tanganku terus menggerakkan pensil hanya untuk dihapus dan dibuang. Waktu yang berharga itu terbuang sia-sia. Jika aku memang mencintainya maka aku seharusnya duduk di dekatnya dan bicara menikmati masa-masa yang singkat ini, tetapi tanganku tak bisa bergerak.

Aku tahu hasilnya akan sia-sia saja, tapi dengan bodohnya aku tak bisa melepas pensil ini. Betapa bodohnya.

“Sudah selesai?”

Saat aku mengangkat kepala dan menatap matanya yang berdiri di hadapanku, aku tahu ini akan jadi terakhir kalinya. Namun … namun ….

“Maaf,” aku berbisik. “Ini terlalu jelek.”

Aku bisa melihat kekecewaan di matanya. Aku tak bertanya sejak kapan dia tahu aku melukisnya. Itu sesuatu yang kuketahui secara alami. Aku melukis dengan beban tanggungjawab, tapi akhirnya gagal memenuhi ekspektasinya.

“Butuh berapa lama lagi?” dia kembali bertanya sembari duduk di sebelahku. Belum pernah rasanya kami sedekat ini. Kira-kira seperti apa dia melihatku melalui kedua mata biru itu?

“Aku tak tahu,” jawabku jujur. “Aku cukup bangga dengan skillku, tapi setelah melihatmu aku sadar ada banyak hal yang perlu kupelajari. Memberimu hasil yang setengah-setengah terasa seperti penghinaan. Jika saja aku punya lebih banyak waktu ….”

Aku tidak melanjutkan kalimatku. Semua orang diberikan jumlah waktu yang sama setiap harinya. Meminta lebih banyak adalah bentuk nyata dari menginginkan ketidakadilan. Waktu sudah habis dan ini adalah akhirnya.

“Besok … aku akan merantau.”

Dia menatap keluar jendela, melihat sesuatu yang jauh di sana. Mungkin kota di ujung pulau atau malah di luar pulau. Dia akan pergi ke tempat yang jauh di luar jangkauan.

“Waktu aku pertama melihatmu, sebenarnya aku takut. Kau tiba-tiba menggambar sesuatu, kau menggambarku tanpa ijin. Aku hampir saja pergi karena tak nyaman, tapi saat melihat tatapan seriusmu aku terpukau akan betapa kerennya itu. Kau mendedikasikan hidup dan waktumu bagiku, tak sopan rasanya kalau aku pergi begitu saja. Karna itulah aku berkata pada diriku sendiri, aku akan datang setiap hari sampai kau menunjukkan gambarmu padaku. Sayangnya, aku tak bisa memberimu lebih banyak waktu.”

Meski sulit diterima oleh hati yang egois, semua orang memiliki batas kesabaran. Terkadang kesabaran itu memang harus dibatasi agar tidak merusak masa depan yang sudah direncakan. Mengetahui bahwa Erta memikirkanku sudah membuatku bahagia. Ingin rasanya aku tersenyum lebar, tapi aku sudah mengecewakannya.

“Kau … terlalu cantik,” suaraku pelan tapi jelas terdengar. “Kukira kau peri dari dunia dongeng, tapi kau juga manusia sepertiku. Aku terlalu bodoh karena tak mengerti apa yang kau inginkan, tapi apa sebenarnya yang kuinginkan darimu? Apa aku ingin kau menjadi peri atau tetap menjadi manusia? Beberapa bulan tak cukup untuk mencari tahu.”

Lega rasanya karena bisa berkata jujur. Setelah berbulan-bulan bertukar pesan tanpa suara, baru kali ini aku benar-benar merasa terhubung dengannya. Berkata sejujur-jujurnya apa yang kurasa, tak perlu kiasan maupun pembuktian.

“Sangat disayangkan,” dia membalas. “Sejujurnya aku tak keberatan duduk di sana selamanya. Jika itu benar-benar yang kau mau.”

Itu tawaran yang menggoda, tapi bukan itu yang aku inginkan.

“Tidak perlu,” aku menggeleng. “Aku mencintaimu. Kurasa aku perlu melihat lebih banyak dibanding sekedar dinding yang ditutupi buku.”

“Ahha! Aku senang kau akhirnya jujur.” Senyumnya mengembang cantik sekali. Itu bukanlah senyum yang bisa dilukis dari kejauhan. Itu senyum yang hanya bisa dilihat jika aku cukup dekat. “Kurasa aku juga cinta. Klise, tapi begitulah adanya.”

“Begitu rupanya. Meski cuma beberapa jam, mau pacaran denganku?”

“Tentu.”

Kami bangkit dan berjalan keluar dari perpustakaan. Hanya ada satu jam sebelum matahari terbenam. Apa yang sepasang kekasih lakukan jika hanya punya waktu satu jam?

Anehnya kami tidak membicarakan hal itu. Kami hanya berjalan menyusuri trotoar dan saling membicarakan diri kami.

“Apa kau percaya takdir?” aku bertanya, tahu betul ini pertanyaan yang konyol.

“Apa itu penting?” Erta balas bertanya. “Kurasa itu tak akan merubah apa-apa. Selama kita mau melakukannya, itulah takdir. Iya kan?”

Jawabannya sederhana. Tak peduli seindah apa pertemuan kami jika salah satu dari kami memilih meninggalkan perpustakaan di hari itu maka semua ini tidak akan terjadi. Pada akhirnya, kamilah yang memutuskan masa depan kami.

“Kapan kau akan pulang?” aku bertanya lagi.

“Kalau aku mau aku bisa pulang tiap libur semester.”

“Apa kau mau?”

“Kalau kau mau.”

“Okay. Enam bulan lagi.”

Enam bulan adalah waktu yang singkat. Terutama jika ada sesuatu yang ingin kau raih. Aku tak tahu apakah aku bisa menjadi pelukis yang lebih baik dalam enam bulan, tapi jika gagal akan ada enam bulan lagi, dan enam bulan lagi.

Ada beberapa keindahan yang layak diperjuangkan sampai mati. Suatu hari nanti, pasti, aku akan membuatnya duduk di perpustakaan itu lagi. Itu bukanlah takdir. Itu adalah sesuatu yang harus aku wujudkan.



***TAMAT***
YoayoayoAvatar border
ilanzaAvatar border
jembloengjavaAvatar border
jembloengjava dan 13 lainnya memberi reputasi
14
6.6K
9
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the HeartKASKUS Official
31.6KThread42.4KAnggota
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.