ih.sulAvatar border
TS
ih.sul
Short Story #23 : Arwah di Kereta Api


Semua orang memiliki kisah unik tentang cinta pertama. Ada yang jatuh cinta pada tetangganya, ada yang jatuh cinta pada gurunya, ada juga yang jatuh cinta pada artis di layar kaca. Meski begitu kisah cinta pertamaku sedikit aneh. Aku tidak jatuh cinta pada manusia, melainkan arwah penunggu di kereta api.

Kereta api itu adalah satu-satunya akses dari desa menuju kota. Orangtuaku sering menggunakannya untuk menjual hasil panen ke pasar di kota besar. Aku sering ikut dengan mereka dan karena itulah aku mengenal arwah penunggu yang disebut orang-orang dengan nama Si Nona.

Dia tampak seperti gadis remaja cantik bergaun putih dengan rambut hitam lebat. Wajahnya khas wanita Belanda dengan mata biru yang indah. Kulitnya begitu putih sampai-sampai awan terlihat kelabu. Walaupun aku tahu dia adalah arwah gentayangan, kutak bisa menahan diri untuk jatuh hati padanya.

Ayahku bilang hanya sedikit orang yang bisa melihat Si Nona. Dari cerita yang beredar Si Nona merupakan gadis keturunan Indo-Belanda yang mati saat penjajah Jepang datang. Entah bagaimana arwahnya bergentayangan di kereta api dan menolak pergi. Sudah banyak ustad dan pemuka agama lain mencoba mengusirnya, tapi Si Nona terus bergeming. Karena dia tidak mengganggu akhirnya keberadaannya dibiarkan begitu saja.

Si Nona bergentayangan di gerbong terakhir kereta. Dia duduk di kursi terakhir, paling jauh dari pintu. Orang-orang yang sudah tahu tentangnya akan menghindari kursi itu. Kadang ada juga yang menduduki Si Nona, tapi akan buru-buru pindah karena perasaan yang tak nyaman. Tak peduli pagi siang dan malam, dia terus duduk di sana dengan mata yang tak menatap apa pun.

Semakin aku melihatnya semakin aku jatuh cinta. Setiap kali menaiki kereta aku akan duduk di hadapannya. Menghabiskan dua jam perjalanan hanya memandangi wajahnya tak pernah membuatku bosan. Ayah menganggapku gila, tapi itulah cinta.

Dan seperti layaknya cinta, aku tertarik padanya, aku ingin mengenalnya lebih jauh, aku ingin bersamanya lebih lama. Tanpa sadar mulutku sudah terbuka dan pertanyaan itu keluar begitu saja.

“Hai, namaku Haikal. Namamu siapa?”

Bukannya Si Nona, malah ayahku yang menjawab pertanyaan tersebut dengan teriakan yang tak mengenakkan. Ayah mengira aku sudah gila gara-gara Si Nona dan sejak saat itu dia tak lagi pernah membawaku ke kota menaiki kereta.

Sedih rasanya, tapi dalam hati aku tahu ayah melakukan hal yang benar. Yang hidup tak seharusnya jatuh cinta pada yang sudah mati. Tak peduli secantik apa Si Nona, dia tetap akan menjadi sesuatu yang tak bisa kuraih.

Akhirnya aku pun berhenti naik kereta. Si Nona adalah cinta pertama yang indah, tapi cinta pertama hanyalah cinta monyet. Perasaan itu akan hilang seiring waktu berjalan.

Dalam tahun tahun berikutnya, aku sudah sepenuhnya lepas dari pesona Si Nona. Aku masih mendengar cerita tentangnya sesekali, tapi rasa untuk bertemu dan berbicara dengannya sudah tidak ada. Aku melanjutkan hidup, meneruskan pendidikan, bahkan mendapat pacar.

Namun ternyata takdirku dengan Si Nona tidak sependek itu. Setelah lulus Sma aku memutuskan melanjutkan kuliah di kota. Melihatnya lagi setelah sekian lama memberikan perasaan campur aduk, tapi ini adalah perasaan yang harus aku hadapi. Tanpa ragu aku duduk di depannya, menatapnya seperti biasa.

Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Dia tidak menua sedikit pun. Alisnya yang panjang, mata birunya yang cerah, serta bibirnya yang kuyakin merah merona saat dia hidup, semuanya sama persis seperti yang ada dalam ingatanku.

Aku pun teringat pertanyaanku sepuluh tahun yang lalu. Ingin rasanya menanyakan pertanyaan itu lagi, tapi aku harus menahan keinginan itu. Dia cuma hantu, dia tidak nyata, apa pun yang dia dan aku lakukan sama sekali tidak akan terhubung.

Penumpang kereta turun satu per satu, meninggalkan aku dan Si Nona berdua saja. Aku fokus membaca buku sambil sesekali melirik Si Nona. Ternyata pesonanya memang sulit dilawan. Untunglah aku hanya akan naik kereta ini dua kali setiap enam bulan.

“Namaku … Hania.”

Nyaris saja aku menjatuhkan bukuku. Jika bukan karena mulut Si Nona yang bergerak sedikit aku pasti akan bertanya-tanya dari mana suara itu datang. Namun, tak salah lagi, Si Nona baru saja berbicara. Bukan cuma berbicara, dia menjawab pertanyaanku sepuluh tahun yang lalu.

“Kau … bicara?”

Sejenak kukira aku berhalusinasi karena Si Nona tidak menjawab lagi, tapi kemudian dia mengangguk. Rasanya seperti penantian puluhan tahun yang terbayar tuntas. Jantungku berdebar-debar, tapi aku mencoba tidak terlalu memikirkannya. Tak ada yang spesial, itulah yang kukatakan pada diriku sendiri.

“Sayang aku harus pergi. Padahal banyak yang ingin kubicarakan.”

Kereta berhenti di stasiun terakhir. Aku menatap Si Nona dan dia balik menatapku. Rasanya sungguh bimbang, tapi jarak antara kenyataan dan ilusi adalah jarak yang tak bisa dihapus meski oleh cinta sekalipun.

“Sampai jumpa, Hania.”

“Sampai jumpa … Haikal.”

Aku berbalik dan turun dari kereta. Bahkan di tengah suara bising keributan stasiun, suaranya terdengar begitu indah.

***


Layaknya magnet, Si Nona seolah terus menarikku ke arahnya tak peduli seberapa keras aku menolak. Setiap kali pulang ke rumah atau kembali ke perantauan aku mendapati diriku duduk di hadapannya. Kami saling tatap, dan baru mulai bicara saat penumpang lain sudah turun.

Awalnya cuma pertanyaan basa-basi seperti cuaca yang cerah atau kereta yang terguncang, tapi lama kelamaan aku mulai bertanya tentang dirinya.

“Kenapa kau terus bertahan di kereta?”

“Aku tak tahu. Kurasa aku hendak pulang, tapi tak pernah sampai. Aku suka di sini, tapi memang ini bukan tempatku.”

“Apa tak ada orang lain yang pernah kau ajak bicara?”

“Tidak. Tak banyak yang bisa melihatku dan kebanyakan yang bicara padaku cuma mencoba mengusirku. Cuma kau yang mengajakku berkenalan.”

“Jadi itu berarti kau akan tetap di sini … selamanya?”

Dia tidak menjawab pertanyaan itu. Kurasa itu adalah pertanyaan yang dia sendiri tak tahu jawabannya.

Pembicaraan dengannya amatlah menyanangkan. Meski aku berusaha menolak, tapi aku tahu aku masih mencintainya. Namun, melihatnya tetap tak berubah dari tahun ke tahun seolah menciptakan dinding yang menjaga perasaan itu tak melebar ke mana-mana.
Aku manusia dan dia adalah arwah yang tak bisa pergi ke akhirat. Fakta itu tak akan berubah.

***


Tahun berganti, musim berubah. Aku berhasil lulus tepat waktu dan mendapat pekerjaan di kota lain. Itu berarti percakapan kami kali ini akan menjadi yang terakhir sampai waktu yang tidak ditentukan.

“Kau sudah di sini sejak jaman penjajahan. Apa lima atau sepuluh tahun terasa lama bagimu?”

“Aku tak lagi merasakan waktu. Setiap hari terasa sama. Hari di saat kau mengajakku berkenalan, aku merasa itu baru saja terjadi.”

Baginya aku yang sekarang dan diriku lima belas tahun yang lalu tidaklah berbeda. Bagiku dirinya lima belas tahun yang lalu dan dirinya sekarang juga tidak berbeda. Kami seolah terjebak dalam pusaran waktu yang bertentangan dengan hukum alam. Entah mengapa itu membuatku sedih.

“Pasti sakit rasanya, tak punya tempat pulang dan tak tahu indahnya waktu. Hania, apa kau ingin pergi dari tempat ini?”

Dia terdiam. Jika dia masih bisa merasakan sedih maka ekspresi di wajahnya saat ini adalah bukti yang nyata. Aku tak tahu apa-apa tentang akhirat, tapi aku ingin membantunya. Aku ingin membuatnya bahagia. Memang sakit jika aku tak lagi bisa bertemu dengannya, tapi itu juga bagian dari cinta. Apalah arti cinta, jika hanya satu orang yang merasa bahagia?

“Terima kasih, tapi … aku tak ingin pergi. Aku tak tahu sejak kapan, tapi kereta api ini adalah rumahku. Terus berjalan tanpa akhir, melihat semuanya berubah melalui mata yang tak bisa mati. Semua itu sudah terasa normal. Aku akan tetap ada di sini sampai akhirnya tiba waktu untuk pergi.”

Jawabannya seperti sebuah kesimpulan dari penelitian panjang. Siapalah aku untuk menolak apa yang dia inginkan? Ada sedikit bagian dari diriku yang merasa lega, tapi tak bisa kupungkiri bahwa hidupku hanya akan menjadi duka jika terus bersamanya.

“Apa pun yang terbaik untukmu, Hania. Sampai jumpa, kita pasti akan bertemu lagi.”

***


Butuh lima tahun sampai akhirnya aku memiliki alasan untuk kembali menaiki kereta itu. Beberapa bagian kereta sudah direnovasi, bagian luar juga sudah dicat ulang, tapi Si Nona Hania tidak terlihat berbeda sedikit pun.

“Tempat ini perlahan-lahan berubah. Kira-kira jika gerbong ini dihancurkan apa kau akan menghilang?”

“Aku tak tahu, tapi kurasa tidak. Meski gerbong dan relnya diganti, aku merasa jiwaku akan tetap tertancap di gerbong yang baru. Jiwaku tidak tertancap pada tempat khusus, tapi pada kereta itu sendiri.”

Meski samar aku bisa melihatnya tersenyum. Dia menatapku dengan mata sedikit menyipit. Warna biru iris matanya sama sekali tidak memudar.

“Kau … sudah benar-benar dewasa sekarang.”

“Ya, aku pria dewasa sepenuhnya. Anak kecil yang mengajakmu berkenalan 20 tahun yang lalu sudah banyak berubah.”

“Dua puluh tahun … rasanya seperti kemarin.”

Masa lalu terasa sangat jauh karena itu tidak akan datang. Masa lalu hanya akan pergi, tak pernah datang. Namun, tak peduli sejauh apa masa depan, rasanya akan tetap sangat dekat karena kita tahu itu akan datang.

“Aku tak pernah mencapai umurmu,” ucap Hania sembari menatap ke luar jendela. “Kira-kira apa yang akan kulakukan jika seumuran denganmu? Mungkin menikah dan punya anak. Aneh, membayangkan itu saja rasanya aneh. Rasanya seperti kehidupan orang lain.”

Bahkan bagiku itu tetap terasa aneh. Namun, semua akan terasa aneh jika kita hanya melihat dari luar. Ada banyak hal yang hanya bisa dimengerti jika dialami sendiri. Karena itulah keberanian untuk mengambil langkah perlu untuk dimiliki.

“Hania …,” aku ragu untuk sesaat. Rasanya aneh, benar-benar aneh. “Aku … akan menikah.”

***


~Waktu adalah musuh kita semua.
~Dialah yang telah merenggut semua saat-saat indah.


Revolusi industri telah merubah segalanya. Mobil-mobil memenuhi jalan tol, internet dan smartphone di genggaman semua orang, dan kereta api tersisih digantikan kereta cepat.

Haikal merasa semua berubah dengan begitu cepat. Dia merasa tertinggal. Di usianya yang tak lagi muda dia merasa tak lagi bisa mengikuti semuanya.

Kereta api yang dulu merupakan satu-satunya transportasi dari desa ke kota kini sudah berganti menjadi kereta cepat dan itu pun bukan satu-satunya. Lebih banyak orang memilih menggunakan mobil, tetapi Haikal merasa ingin menaiki kereta cepat untuk pulang ke kampung halamannya.

Dia masuk ke gerbong terakhir yang padat. Dia terkejut, sedih, tapi juga sedikit lega. Kursi yang biasanya menjadi tempat duduk Si Nona kini diduduki oleh orang lain. Mungkin dia sudah pergi meninggalkan dunia ini. Atau mungkin dia ada di kereta lain.

Haikal sudah nyaris tak mengingat kapan dia pertama kali bertemu Si Nona. Semakin umurnya bertambah semakin banyak kenangan yang tersimpan dalam kepalanya dan itu membuat kenangan lama memudar. Dia menjalani hidup yang bahagia. Anak-anaknya sudah besar dan mandiri sekarang. Dia akhirnya bisa pulang ke kampung halaman dan beristirahat.

“Kau sudah jadi sangat tua.”

Haikal membuka mata yang nyaris jatuh tertidur. Saat melihat ke sekeliling ternyata hari sudah sore, kebanyakan penumpang sudah turun.

“Hania?”

“Ya, Haikal. Aku masih di sini. Aku cuma malu menunjukkan diri pada orang lain.”

Haikal menyipitkan mata untuk melihat kembali sosok cinta pertamanya yang sama sekali tidak berubah. Penglihatannya sudah semakin memburuk, tapi dia tahu sosok Hania masih sama cantiknya sejak pertama kali dia melihatnya.

“Kenapa malu? Kau tak pernah malu sebelumnya.”

“Semakin sedikit orang yang bisa melihatku. Legenda Si Nona kini cuma mitos belaka. Kalau ada yang mengaku melihatku mereka hanya akan dianggap aneh dan gila. Entah kenapa aku tak mau itu terjadi.”

“Kau jadi lebih lembut sekarang. Aku tak menyangka bisa melihat kebaikan hatimu.”

“Mungkin itu karena kau tak menghabiskan banyak waktu denganku.”

Haikal tersenyum, lalu terdiam. Andai dia punya lebih banyak waktu, dia akan senang melakukan itu.

“Kereta ini benar-benar berjalan cepat.”

***


Waktu memang akan terus berjalan, tapi pada akhirnya waktu seseorang akan habis. Haikal sudah bisa melihat butiran pasir terakhir di jam kaca. Dia tidak takut, dia tak merasa ada hal yang perlu dia sesali dalam hidupnya. Semua berlalu seperti kilasan mata. Kini dia bisa menutup buku dengan orang-orang yang dia sayangi di sekelilingnya.

“Tak perlu sedih, anakku. Kematian hanyalah gerbang menuju hidup yang lebih baik. Jangan pernah takut mati, takutlah jika kau menyesal sampai-sampai enggan untuk pergi.”

Jika bisa Haikal ingin mengucapkan kalimat itu pada Si Nona. Terperangkap antara hidup dan mati dalam waktu yang abadi. Jika Haikal punya penyesalan maka Si Nona adalah satu-satunya penyesalan itu. Dia menyesal tak bisa membantu Si Nona, dan kini dia harus meninggalkannya juga.

“Jika aku diberi satu kesempatan, aku ingin menaiki kereta api itu lagi.”

Tak ada yang mengerti apa maksud Haikal dan mereka tak punya kesempatan untuk bertanya. Haikal akhirnya menutup mata dan tak pernah membukanya lagi.

***


Gadis itu tengah tersesat. Dia melihat kiri dan kanan tapi tak melihat ayahnya di mana pun. Dia terus berjalan dan mencari. Tanpa sadar dia sudah berada di gerbong terakhir kereta. Tak ada orang lain di sana. Ayahnya pasti sudah terlewat.

Ohh, tidak. Ada seseorang. Ada seorang wanita pucat yang duduk sendirian di kursi paling jauh dari pintu. Dengan penasaran gadis itu pun mendekat. Betapa terkejutnya dia saat melihat wanita itu sedang menangis.

“Kakak, kau kenapa?” tanya gadis itu.

“Oh? Kau bisa melihatku? Aku senang.”

Gadis itu tak mengerti maksudnya. Sekarang setelah dia lihat lebih jelas, wanita di depannya ternyata nyaris transparan. Bahkan semakin lama dilihat wanita itu semakin tembus pandang.

“Kakak kenapa? Sakit ya?”

“Aku? Tidak. Ini karena … satu-satunya orang yang masih mempercayai keberadaanku hampir pergi. Aku sudah mengenalnya sejak lama sekali. Aku … merindukannya.”

Gadis itu menggeleng tak mengerti. Meski demikian dia merasakan kesedihan dari wanita di hadapannya.

“Aku juga merindukan Kakek. Makanya kami datang ke kampung naik kereta ini.”

Wanita itu terdiam. Perlahan-lahan kakinya mulai menghilang. Sedikit demi sedikit tubuhnya akan lenyap tanpa jejak.

“Katakan Nak, siapa namamu?” wanita itu bertanya.

“Namaku Hania,” jawab gadis itu. “Kakekku yang berikan.”

Si Nona tersenyum ramah. Dia ingin membelai kepala gadis itu, tapi tangannya tak lagi ada di tempat seharusnya.

“Kau akan pulang ke rumah, Hania,” ucap wanita itu. “Aku selalu ingin pulang, tapi tak tahu ke mana aku harus pergi. Tapi sekarang aku merasa akhirnya punya tempat untuk pulang. Selama ada orang yang menyayangimu, kau selalu punya tempat untuk pulang.”

Dari kaca jendela, sinar matahari senja merambat masuk. Segalanya memang berubah, tapi cahaya matahari masih sama indahnya seperti saat-saat yang mereka habiskan bersama. Rasanya seperti mimpi yang amat panjang. Mimpi yang sebentar lagi akan berakhir.

“Jika aku diberi satu kesempatan, aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya.”

Tangan dan kakinya sudah menghilang. Perlahan-lahan tubuh dan dadanya pun lenyap. Meski demikian, Hania masih bisa mendengar kalimat terakhirnya sebelum sosok transparan wanita itu menjadi satu dengan udara.

“Aku sangat menyayanginya.”

Hania tak yakin apakah dia cuma berhalusinasi, tapi hatinya merasakan kesedihan yang mendalam. Rasanya seperti seseorang yang berharga telah pergi. Meski dia sama sekali tak mengenal wanita itu, Hania berharap wanita itu bisa pulang dan berkumpul bersama orang-orang yang menyayanginya.

***TAMAT***
Diubah oleh ih.sul 26-02-2024 09:53
gembogspeedAvatar border
riodgarpAvatar border
viensiAvatar border
viensi dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.9K
21
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
icon
31.4KThread41.4KAnggota
Terlama
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.