Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

riasardaniAvatar border
TS
riasardani
Kita Yang Berbeda Kasta
Kita Yang Berbeda Kasta
Bab1

"Kamu dan Abimanyu, bagaikan langit dan bumi, tidak serasi sama sekali. Berhentilah menjalin hubungan, karena sampai kapanpun, keluarga kami tidak akan memberikan restu."

Ucapan Ibu dari Abimanyu, membuat Nara terhenyak. Setelah seharian berada di rumah lelaki itu, menyiapkan segala acara penyambutan ke pulangan Abimanyu dari luar negeri. Nyaris semua masakan yang telah terhidang lezat, itu hasil racikan tangan Nara.

Bahkan dengan semangat yang membara, dia datang ke rumah lelaki itu sangat pagi, agar bisa menyiapkan yang terbaik dan berkesan.

Namun setelah lelaki itu tiba, dan berada di ruang tamu, Ibu Abimanyu memanggil Nara untuk bergabung duduk di ruang tamu.

Senyum sumringah Nara layangkan, kepada Abimanyu yang duduk bersandar disofa. Nampak jelas terlihat, Abimanyu kelelahan, karena perjalanan yang cukup jauh.

"Nara, duduklah, ada yang ingin saya bicarakan," ujar Ibu dari lelaki itu.

Nara pun duduk, binar kerinduan kepada Abimanyu memancar jelas di matanya. Nara memandangi lelaki itu dengan penuh kebahagiaan. Andai saja tidak di rumah orang tua lelaki itu, mungkin saat ini, Nara akan menghamburkan diri, memeluk Abimanyu, lelaki yang teramat dia rindukan itu.

Wajah Abimanyu nampak datar saja, tidak begitu terbaca jelas ekspresinya.

Berbagai macam ungkapan penolakan Ibu dari Abimanyu utarakan, tanpa rasa sungkan sama sekali.

Nara menatap pilu ke arah Abimanyu, yang hanya terdiam, sembari membuang pandangan, seakan tidak perduli, dengan apapun yang terjadi pada hatinya kini.

"Kamu hanya lulusan SMA, sedangkan Abimanyu lulusan S1. Bahkan, dia calon penerus perusahaan keluarga. Saya rasa, kamu harus cukup tahu diri. Bukan karena ekonomi saja yang berbeda, tapi pendidikan kamu yang begitu rendah. Tidak bisa menjadi kebanggan kami, yang ada, kamu hanya akan menjadi orang yang berakhir menikmati harta kami. Sudahlah, saya rasa, ucapan saya ini cukup jelas. Kamu dan Abimanyu, tidak kami restui. Makasih untuk hari ini, kamu bisa pulang."

Sungguh hubungan yang sia- sia, pengorbanan yang tiada berguna. Nara Kamila tidak mampu membagi suara, hanya ada perasaan sakit, yang menggerogoti hatinya.

Nara berdiri dengan linglung, melepaskan celemek yang masih menempel di tubuhnya dan meletakkannya dengan perlahan.

Abimanyu tidak bersuara apapun, bahkan lelaki itu ikut berdiri dan memilih menaiki tangga, menuju kamarnya.

Nara Kamila merasa terbuang, tidak dianggap dan bahkan dia sendiri tidak menyangka, bahwa akan berakhir seperti ini hubungan percintaannya. Lelaki itu bahkan tidak menyapanya sama sekali.

"Apa salahku? Dia bahkan tidak memperdulikan diri ini," batin Nara.

"Tolong jangan kembali lagi setelah ini, dan lupakan Abimanyu," tegas Ibu lldari lelaki itu.

Tidak ada pembelaan diri, Nara malah harus sadar diri. Segala yang diucapkan Ibu dari Abimanyu adalah benar adanya. Mereka berbeda dari segala- galanya.

"Terimakasih atas segalanya, Bu." Usai berkata, Nara keluar dari rumah besar itu, membawa sejuta luka di hatinya.

Nara berjalan kaki, menyusuri jalanan komplek perumahan mewah itu. Dia menangis, meraung dan menyalahkan dirinya sendiri, mengapa dia harus percaya dengan ucapan- ucapan manis Abimanyu dahulu.

Bahwa kasta, tidak akan menghalangi cintanya pada Nara.

"Bulshit, kamu tega sekali, membiarkan Ibumu menghinaku. Padahal selama ini, aku selalu menuruti apapun yang keluargamu minta, termasuk datang setiap Minggu, hanya untuk memasak makanan kesukaan mereka. Bahkan, aku selalu mau menjadi koki satu- satunya, ketika mereka mengadakan acara. Tapi aku tetap terbuang, hanya karena aku lulusan SMA," lirih Nara.

Nara duduk dikursi taman, meratapi nasibnya yang tiba- tiba terhempas, karena begitu tinggi berharap pada lelaki yang menjadi belahan jiwanya selama 7 tahun ini.

"Lulus SMA, kamu harus mencari uang sendiri, tidak perlu lanjut kuliah. Karena Mouren, sudah kami daftarkan di Harvard University. Uang dari Papah kamu, akan banyak di gunakan Mouren. Kamu harus mengalah, karena faktanya kamu tidak sepintar Mouren, jadi sadar diri itu penting," ucap Lida, Ibu tiri Nara saat itu.

Nara kembali menangis, merasa hidup benar- benar tidak adil padanya. Ayahnya pun saat itu, memaksanya harus mengerti, jika Mouren, jauh lebih pinter darinya, dan bisa mereka banggakan.

Jadilah, dia hanya lulusan SMA, namun Nara begitu giat menabung, dengan harapan ingin membangun usaha kelak, jika tabungannya sudah cukup.

Hanya saja, dia tidak menyangka, kekasih dan keluarga lelaki itu, memilih membuangnya, melupakan kebaikannya, hanya karena dia lulusan SMA.

Nara pulang ke rumah, dalam keadaan yang cukup kacau. Namun ketika langkahnya sampai di dekat ruang keluarga, dia mendengar percakapan Ibu tiri dan adiknya yang sudah berada di Indonesia selama seminggu ini.

"Ya, hari ini dia kembali, dan berjanji akan memutuskan hubungan mereka. Setelah itu, keluarganya akan datang kemari untuk meresmikan hubungan kami, Bu ...."

Nara terhenyak, mendengar obrolan kedua wanita itu.

"Siapa yang Mouren maksud?" batin Nara.
0
8
0
GuestAvatar border
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Komunitas Cerpen Cerbung Kaskus
Komunitas Cerpen Cerbung Kaskus
216Thread414Anggota
GuestAvatar border
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.