Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
54
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/62924c2b3e896c237408a571/bangkitnya-kuntilanak
Bangkitnya Kuntilanak 2 (Teror Hantu Dewi) Cerita ini adalah sequel/lanjutan dari cerita Teror Hantu Dewi, jadi yang lihat thread ini tapi belum baca kisah sebelumnya mohon untuk membacanya terlebih dahulu, Klik Di Sini Selamat Membaca....
Lapor Hansip
28-05-2022 23:22

BANGKITNYA KUNTILANAK 2

Bangkitnya Kuntilanak 2
(Teror Hantu Dewi)

Cerita ini adalah sequel/lanjutan dari cerita Teror Hantu Dewi, jadi yang lihat thread ini tapi belum baca kisah sebelumnya mohon untuk membacanya terlebih dahulu, Klik Di Sini

Selamat Membaca....

BANGKITNYA KUNTILANAK
Diubah oleh mahadev4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cungkermania dan 9 lainnya memberi reputasi
8
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
19K Anggota • 28.5K Threads
Halaman 1 dari 3
BANGKITNYA KUNTILANAK
28-05-2022 23:23
Diubah oleh mahadev4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bejo.gathel dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
BANGKITNYA KUNTILANAK
28-05-2022 23:24

Bab 1. Kilas Balik

Udara malam mulai terasa dingin, namun tak membuat lelaki tua itu menyurutkan langkahnya menerobos lebatnya hutan. Sesekali ia terbatuk-batuk, kondisi tubuhnya memang sedang tidak fit. Ditangannya tergenggam sebuah senter kecil sekedar menerangi jalannya, di kejauhan terdengar lolongan anjing yang bersahut-sahutan, tetapi langkah-langkahnya begitu pasti pada tujuannya.

Orang-orang mengenalnya dengan nama Pak Purnomo, seorang warga desa Medasari, Rawajitu Selatan.

Pak Purnomo yang sekarang memang tak seperti saat mudanya dulu, kini ia mulai sakit-sakitan, padahal semasa mudanya dia dikenal sebagai seorang pendekar yang tak terkalahkan, dan di Pasar Pidada selama dalam pengaruh kekuasaannya tak ada yang berani berlaku macam-macam dengannya, Pak Purnomo tidak memiliki ilmu kebal, tetapi dia memiliki sebuah ajian yang telah sempurna dimilikinya, yaitu Ajian Pancasona. Siapapun yang memiliki ajian ini akan mampu membuat tubuhnya menyatu kembali setelah terluka atau terpotong. Ajian Pancasonanya telah sampai ditahap ke tiga, dimana sehancur apapun tubuhnya selama ada udara disekitarnya maka ia akan kembali menjadi wujud tubuh yang utuh dan hidup kembali.

Setelah berjalan kaki dengan terseok-seok Pak Purnomo akhirnya tiba di sebuah gua yang tak asing baginya, sudah sekian lama dia tak mengunjungi lagi gua ini, sebuah gua dimana dulu dia di tempa oleh gurunya yang bernama Wira Wisanggeni, yang lebih dikenal dengan panggilan Eyang Wisanggeni.

“Kenapa hanya berdiri saja di depan gua, Purnomo. Masuklah, sudah lama aku menunggumu.” Sebuah suara terdengar menggema dari dalam gua.

“Baiklah, Eyang. Aku akan masuk.”

Pak Purnomo menyingkirkan beberapa akar-akar pohon yang menjuntai di mulut gua lalu berjalan masuk. Sesampainya di dalam dilihatnya sang guru tengah duduk bersemedi di atas sebuah batu besar, ada yang aneh saat Pak Purnomo menyaksikan hal itu, karena batu besar yang menjadi tempat duduk sang guru terlihat berwarna merah membara dan mengepulkan asap, sementara empat buat batu yang berukuran lebih kecil menjadi penopang dari batu besar itu, sedangkan di bawah batu besar itu ada tumpukan kayu yang terbakar, kobaran api itulah rupanya yang membuat batu besar tempat duduk semedi gurunya menjadi berwarna merah membara.

Eyang Wisanggeni membuka kedua matanya perlahan, dan terlihatlah sorot matanya yang kini juga berwarna merah, tetapi perlahan berubah ke warna asalnya menjadi hitam seperti mata manusia pada umumnya.

Dia lalu menurunkan kedua kakinya dari duduk silanya dan melangkah ke arah Pak Purnomo, “Aku lihat kondisi fisikmu buruk sekali, Purnomo.”

“Iya, Eyang. Sebenarnya aku sedang sakit, tetapi karena Eyang memanggilku, tentulah ada urusan penting sehingga aku paksakan untuk tetap berangkat ke sini menemui Eyang.”

“Apa yang kamu pikirkan itu benar, Purnomo. Kalau tidak ada urusan penting tak mungkin aku memanggilmu lewat mimpi untuk datang ke gua ini.”

“Kalau begitu, urusan penting apa yang kini sedang Eyang hadapi?” tanya Pak Purnomo, terlihat jelas rasa penasaran yang terpancar di wajahnya.

Eyang Wisanggeni merentangkan tangannya ke depan, tiba tiba dari telapak tangannnya keluar asap putih yang makin lama semakin banyak dan berputar-putar membuat semacam lingkaran dihadapan mereka berdua. Dari kepulan asap itu lalu terlihat seraut wajah seorang pemuda gagah.

Pak Purnomo memandang wajah yang terlihat dari kepulan asap itu, diperhatikannya dengan lekat, “Siapa kiranya pemuda itu, Eyang?”

“Dia bernama Bagus Wicaksana, dialah yang pernah kumimpikan mampu mengalahkanku dan membunuhku, sayangnya dia memang cukup sakti, sehingga aku tak mampu melihat dimana keberadaannya, kalau bisa tentulah sudah sejak lama kutemui dan kuhabisi jiwanya.”

“Lantas, apa hubunganku dengan pemuda itu. Eyang?” tanya Pak Purnomo tak mengerti.

“Dalam beberapa hari ke depan aku mendapatkan terawangan bahwa dia akan datang ke desa Medasari tempat kamu tinggal.”

Asap yang menampakkan wajah pemuda bernama Bagus Wicaksana itu perlahan menghilang, Eyang Wisanggeni mengambil sebuah benda kecil dari dalam bajunya. Sebuah botol kecil berisi cairan berwarna hitam kental.

“Aku ingin meminta bantuanmu untuk melarutkan isi botol ini ke dalam minuman yang diminumnya, cairan hitam ini akan mengacaukan pikirannya dan melemahkannya, selanjutnya aku sendiri yang akan datang membunuhnya.”

“Hanya itu sajakah tugas yang harus kuemban, Eyang? Kenapa tidak biar aku saja yang menghabisinya?”

“Aku tidak meragukan kemampuanmu, Purnomo. Tetapi ini adalah urusanku sendiri, dia harus mati ditanganku. Ambil ini, dan pulanglah. Bukankah anakmu hari ini akan kembali dari Jakarta, aku merasa akan terjadi sesuatu dengan anakmu.”

Purnomo ingin bertanya lebih lanjut tetapi Eyang Wisanggeni telah bangkit dan berbalik, kembali ke arah batu dimana dia tadi duduk bersemedi.

Kini ada rasa cemas yang menggelayuti bathin Pak Purnomo, kalau saja tak diingatkan oleh gurunya tentang kepulangan anaknya yang bernama Dewi Anggraini hari ini maka masih banyak hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan.

Pak Purnomo berjalan setengah berlari meninggalkan gua tempat gurunya, ia sangat khawatir akan keselamatan putrinya, Dewi setelah mendengar peringatan Eyang Wisanggeni tadi.

===

Secara tiba-tiba Pak Purnomo menghentikan langkahnya, telinganya kini awas mendengarkan semua suara yang ada di sekitarnya, dia yakin betul bahwa selama dia berjalan dan terkadang berlari tadi ada satu sosok yang mengikutinya secara diam-diam. Pak Purnomo membalikkan tubuhnya.

Tepat seperti dugaannya itu, karena kini dihadapannya berdiri sesosok lelaki setengah baya, memakai ikat kepala dengan motif batik, dipipinya terdapat semacam goresan panjang, seperti bekas luka.

Pak Purnomo langsung sadar siapa kiranya sosok yang sejak tadi mengikutinya itu, “Sukiyat, masih hidup kau rupanya ….”

Pak Purnomo cepat mengenali sosok itu dari luka di wajah dan ikat kepalanya, sosok itu memang Sukiyat adanya, saudara seperguruan dari Sena Wiraguna, Murid dari Datuk Linjau Buana alias Ki Rekso, kembali terbayang kejadian beberapa tahun silam saat Pak Purnomo berhasil membunuh Sena dan melukai Sukiyat dengan sebilah keris di wajah Sukiyat. (Kisah Pertempuran Pak Purnomo dengan Sena Wiraguna akan di ceritakan di cerita yang lain)

“Tentu saja, Purnomo, kalau pun aku mati, tentu aku akan menjadi setan gentayangan sebelum berhasil membunuhmu terlebih dahulu. Kedatanganku kali ini akan membalaskan kematian saudaraku, Sena, yang kau bunuh dengan keji itu.”

Pak Purnomo tak ingin berurusan lebih lama lagi dengan Sukiyat, dia langsung memasang kuda-kuda, bersiap akan serangan mendadak dari Sukiyat.

Memang tak butuh waktu lama, selesai berkata Sukiyat langsung merangsek ke depan dengan serangan bertubi-tubi berupa pukulan yang mematikan ke arah Pak Purnomo, tetapi walau Pak Purnomo kini telah sepuh dan sakit-sakitan, bukan berarti ia mudah untuk dikalahkan, gerakan-gerakan silatnya masih lincah dan gesit memapasi serangan-serangan dari Sukiyat.

Puluhan jurus sudah mereka lalui, Pak Purnomo sendiri semakin cemas, karena pikirannya jelas tak fokus untuk bertarung karena ia memikirkan nasib putrinya, Dewi Anggraini. Hingga pada satu kesempatan Sukiyat pun berhasil menyarangkan beberapa tendangan ke wajah dan perut Pak Purnomo.

Pak Purnomo terjengkang ke belakang dan tampak sekali dengan susah paya berusaha untuk bangkit, sementara hari sudah lewat tengah malam, langit yang semula bertaburan bintang gemintang itu kini berganti pekat karena tertutup awan gelap.

Sementara di kejauhan Sukiyat menengadahkan tangannya ke langit, tiba-tiba hujan lebat pun turun, dan sebuah petir menyambar tepat dikedua lengan Sukiyat, namun anehnya tubuh Sukiyat bukannya gosong justru kini seperti dialiri oleh medan listrik.

“Mampus kamu, Purnomo! Terimalah ajalmu hari ini dengan ajianku, Gelap Ngampar!” Baru saja Sukiyat berkata-kata, secara tiba-tiba di arahkannya kedua lengannya kepada Pak Purnomo, seketika itu juga keluarlah petir dari tangannya yang langsung menghantam tubuh Pak Purnomo. Pak Purnomo Sendiri tak sempat mengelakkan serangan itu, hingga tanpa bisa dicegah lagi tubuh Pak Purnomo langsung hancur terpanggang panasnya petir yang keluar dari tangan Sukiyat.

“Hahaha … Tidak sia-sia aku memperdalam ilmuku ke tanah Jawa, ternyata begini dahsyatnya akibat dari serangan Ajian Gelap Ngampar yang kupelajari,” kata Sukiyat seraya tertawa terbahak-bahak karena kini musuh besarnya telah berhasil dia musnahkan tanpa berbentuk lagi.

Sukiyat lalu berjalan pergi meninggalkan tepian hutan, menyeruak lebatnya hujan malam itu. Namun yang tak disadari oleh Sukiyat adalah bahwa perlahan-lahan potongan daging dari tubuh Pak Purnomo itu bergerak saling mendekat, sampai akhirnya menyatu sempurna kembali menjadi sosok Pak Purnomo tanpa ada sedikit pun luka yang ada di tubuhnya.

Tetapi walau pun tubuh Pak Purnomo telah kembali utuh dan hidup kembali, dia tetap tak bergerak, dia seperti pingsan, mungkin itu karena efek dari keganasan serangan Ajian Gelap Ngampar.

Tubuhnya yang terbaring di pinggiran hutan itu menjadi basah kuyup oleh lebatnya hujan malam itu, sementara di suatu tempat, pada waktu yang sama, putri tercintanya Dewi Anggraini telah diperkosa beramai-ramai oleh Ilung dan kawan-kawannya serta dibunuh dan ditinggalkan begitu saja digubukan tengah sawah.

===
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Araka dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
BANGKITNYA KUNTILANAK
28-05-2022 23:44

Bab 2. Bangkitnya Kuntilanak

Sengatan Matahari serta hembusan angin di pinggiran hutan itu mulai terasa panas di kulit Pak Purnomo, perlahan ia membuka matanya dan merasakan silaunya cahaya matahari yang kini menerpa seluruh tubuhnya, terasa betapa sekujur tubuhnya menjadi sakit semua, perlahan ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi, tetapi ingatannya terasa buntu, sementara pakaiannya kini telah menjadi compang-camping, banyak bekas robekan di sana-sini.

Pak Purnomo berusaha untuk bangkit, walau sesekali dia terjatuh karena keseimbangannya yang belum pulih, juga tenaganya, tubuhnya terasa begitu lemah. Setelah berhasih berdiri sempurna ia mulai berjalan dengan terseok-seok, untuk kembali pulang ke Desanya, Desa Medasari.

Sepanjang jalan sedikit demi sedikit ingatannya menjadi pulih, begitu pun dengan tenaganya, maka dipercepat langkah kakinya agar segera tiba di rumah, perasaan aneh kini berkecamuk dihatinya. Pak Purnomo tak menghiraukan kejadian semalam manakala dia dibuat terpental dan tubuhnya hancur bermentalan, berkat ilmu Pancasona yang dipelajarinya dari Eyang wisanggeni dan telah mencapai tahapan sempurna, maka tubuhnya yang telah hancur itu kembali menyatu dan membuatnya hidup kembali, dalam tahapan akhir ilmu Pancasona yang dimilikinya memang selama masih ada udara disekitarnya maka dia akan kembali menjadi utuh meski tubuhnya hancur tercerai-berai. Pak purnomo justru mengkhawatirkan akan putrinya, Dewi Anggraini yang seharusnya kemarin sudah sampai kembali di Desa Medasari.

Antara keluarga Pak Purnomo telah menjalin kesepakatan dengan keluarga Pak Suharno untuk menikahkan anak mereka, Dewi Anggraini akan dinikahkan dengan Aryo Prasetyo, Putra pertama Pak Suharno.
Ucapan gurunya semalam terkait putrinya itulah yang membuat Pak Purnomo resah, ia tak bisa menduga-duga kejadian apa yang menimpa putrinya, semakin dipikir semakin dalam saja rasa resahnya.

Semuanya terjawab saat Pak Purnomo tiba didepan rumahnya, sebuah bendera dari kain berwarna kuning telah berkibar di halaman rumahnya, tanpa mempedulikan pertanyaan orang-orang yang saat itu berkumpul di teras rumahnya, Pak Purnomo menerobos masuk, di dalam rumah dia mendapati istrinya yang tengah menangis pilu, juga anak angkatnya, Devi Mareta, yang juga terisak-isak di sebelahnya. Pandangan mata Pak Purnomo menjadi berputar-putar dan berkunang-kunang, detik berikutnya dia sudah tak ingat apa-apa lagi, sementara orang-orang di situ melihat sendiri bagaimana tubuh Pak Purnomo ambruk tak sadarkan diri.

Putranya yang bernama Sadewo tak terlihat saat itu, karena memang Sadewo bersama Pak RT Mangun, Badri dan Barjo tengah berangkat ke kota, selain untuk mengurusi otopsi jenazah Dewi juga mereka harus memberikan laporan lengkap tentang kejadian kematian Dewi di kantor Polisi.

===

“As Salaamu’alaikum,” suara seorang lelaki tua dengan wajah teduh, di sebelahnya berdiri seorang pemuda gagah dan tampan.

“Wa ‘alaikumus Salaam,” jawab Pak Purnomo, dia lalu beranjak dari duduknya di kursi teras, menyalami tamunya yang tak lain adalah calon besannya, yaitu Pak Suharno, yang datang bersama calon menantunya yang bernama Prasetyo.

“Aku turut berduka cita atas kematian Dewi, Kang, Aku benar-benar tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini,” kata Pak Suharno.

“Iya, malang betul nasib Dewi, padahal hanya tinggal menghitung hari dia akan menikah dengan putra sampeyan, Prasetyo,” kata Pak Purnomo, nada suaranya bergetar, seakan bercampurnya emosi kesedihan dan kemarahan yang begitu dalam dari hatinya.

“Bersabarlah, Kang. Semua yang datang dari Allah, pasti akan kembali kepada Allah. Sebagai manusia kita punya daya apa? Hanya bisa berencana dan berbuat, tetapi hasil akhir sepenuhnya kehendak Allah.”

Pak Purnomo hanya mengangguk-angguk, dia tahu bahwa apa yang diucapkan oleh calon besannya itu adalah benar, tetapi dia pun tak bisa membohongi hatinya bahwa ia menaruh dendam kesumat pada orang-orang yang telah berlaku keji memperkosa dan membunuh putri tercintanya.

Secepatnya dia telah menyiapkan rencana untuk membalaskan dendamnya, dan obrolannya dengan Pak Suharno serta calon menantunya siang itu sudah tak lagi menjadi perhatiannya, dia menantikan datangnya malam, ia ingin secepatnya bertindak agar para pelaku kejahatan itu mendapatkan ganjarannya.

===

Malam harinya jenazah Dewi datang dari kota usai diotopsi, hasilnya baru akan keluar beberapa hari kemudian. Kembali suara tangisan tedengar dari dalam rumah, sementara malam itu Pak Purnomo diam-diam pergi meninggalkan rumah tanpa diketahui oleh istri dan anaknya.

Tujuan Pak Purnomo malam itu ternyata adalah pesawahan tempat dimana Dewi ditemukan meninggal dunia, di lengan kanannya tergantung sebuah buntalan kain berwarna hitam. Langkah kakinya begitu pasti, meski agak tersendat jalannya, karena tanah di Rawajitu apabila turun hujan benar-benar menjadi sangat becek, dan hujan semalam telah membuat tanah di Desa Medasari menjadi becek keseluruhan.

Langit malam ini terlihat begitu gelap pekat, suasana dinginnya udara pun semakin membuat warganya enggan untuk keluar rumah, yang terdengar hanyalah riuhnya suara jangkrik di sepanjang jalan yang dilalui oleh Pak Purnomo.

Gubukan di tengah sawah, di mana jenazah Dewi ditemukan oleh Barjo dan badri pagi tadi kini telah di kelilingi oleh Police Line/Garis Polisi. Warna kuningnya yang terang itu begitu nyata terlihat dengan tulisan berwarna hitam, “Dilarang melintas garis Polisi”.

Pak Purnomo melompati garis itu dan berdiri tepat di depan gubuk di tengah sawah. Ditatapnya bagian dalam gubukan sawah itu, dimana masih terdapat darah kering dari jenazah Dewi. Pak Purnomo mengambil sebuah kapas, ditetesinya dengan sedikit air lalu diusapkan pada darah itu, kini kapas dalam genggaman Pak Purnomo menjadi merah oleh darah Dewi.

Buntalan kain warna hitam yang tergantung dipundaknya lantas diturunkan dan di buka. Ada sebuah tempat bakar kemenyan kecil, serta beberapa bahan lainnya yang kemudian di racik menjadi satu oleh Pak Purnomo lalu dibakarnya. Saat itu juga kepulan asap putih perlahan keluar dari ramuan yang dibakarnya.

Dari mulutnya yang tampak berkomat-kamit jelas menandakan Pak Purnomo tengah membaca sebuah mantra, tanpa disadarinya suasana di sekitarnya pun telah berubah. Tak lagi terdengar suara jangkrik malam yang terdengar nyaring di sepanjang jalan, berganti lolongan anjing yang terdengar memilukan.

Penduduk sekitar area sawah yang belum tertidur tentulah ikut merasakan keganjilan yang terjadi malam itu, dan rasa takut mulai menyerang mereka, semua orang tahu bahwa siang tadi Dewi baru saja ditemukan meninggal dalam keadaan tidak wajar, dan para penduduk Desa Medasari pun seakan memaklumi bahwa kematian Dewi yang tidak wajar itu akan berbuntut dengan kejadian-kejadian tidak wajar lainnya.

Terdengar suara cekikikan yang begitu jelas di telinga, tetapi Pak Purnomo tetap memejamkan matanya dan terus membaca mantra, sementara dikejauhan terlihat sesosok bayangan putuh yang melayang di atas pesawahan, terbang ke arah gubukan sawah tempat Pak Purnomo berdiri sambil membaca mantra.

Suara tertawa perempuan itu semakin lama semakin menjauh, anehnya justru sosok bayangan putih yang melayang itu malah semakin dekat ke arah Purnomo. Hingga akhirnya suara tertawa itu hilang dan yang tersisa kini hanya rintihan lolongan anjing yang masih bersahutan di kejauhan.

Pak Purnomo membuka matanya, dihadapannya kini berdiri sesosok makhluk bergaun putih lusuh, wajahnya keriput pucat dengan matanya yang bolong dan memancarkan cahaya angker kemerahan.

“Hai Nyai Puspasari, hari ini aku menagih janjimu,” kata Pak Purnomo kepada sosok makhluk dihadapannya.

“Apa yang harus kulakukan untuk membalas budi baikmu, Purnomo?” jawab makhluk itu dengan suaranya yang serak menyeramkan.

“Bunuh semua orang yang telah membunuh anakku, Dewi, juga orang-orang yang punya niat buruk kepada anakku, aku akan menanam benda ini bersamaan dengan jenazah putriku, dengan itu nanti kamu akan bisa merasakan apa yang dirasakan putriku, dan mengetahui orang-orang yang punya niat buruk, serta telah melakukan perbuatan keji pembunuhan putriku,” kata Pak Purnomo. Tangannya mengacungkan segumpal kapas berlumur darah Dewi.

“Baiklah, Purnomo. Akan kupastikan mereka semua mampus ditanganku. Apa masih ada yang lain lagi?”

“Tidak, dan sekarang kamu boleh pergi, aku memberimu waktu tujuh hari sejak kematian putriku untukmu menjalaskan tugas ini.”

“Baiklah, sebelum tujuh hari aku akan menyelesaikan tugas ini. Aku pergi sekarang.” Belum sempat Pak Purnomo menjawab Sosok itu perlahan menghilang dari pandangan Pak Purnomo.

Pak Purnomo membenahi barang-barang yang tadi digunakannya memanggil makhluk Kuntilanak tua bernama Nyai Puspasari, secepatnya ia harus segera kembali ke rumah untuk menghapus kecurigaan para warga Desa yang malam ini tengah berkumpul dirumahnya.

Malamnya memang teror pun dimulai, diawali dengan diganggunya Devi Mareta saat menjelang tidur, lalu shubuhnya Prasetyo didatangi juga, dan terakhir Barjo dan Badri saat pulang shubuh dari rumah Pak Purnomo.

Teror yang mencekam Desa Medasari telah di mulai, oleh Kuntilanak Tua bernama Nyai Puspasari yang menyerupai Dewi, dengan bantuan dari Pak Purnomo, orang tua Dewi sendiri.

===
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Araka dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
BANGKITNYA KUNTILANAK
29-05-2022 10:23
Lagi gan emoticon-Takut
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus
BANGKITNYA KUNTILANAK
29-05-2022 15:46
jejak dulu.
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BANGKITNYA KUNTILANAK
29-05-2022 19:38
Bakal seru nih

emoticon-Leh Uga
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BANGKITNYA KUNTILANAK
29-05-2022 22:20

Pak Purnomo

Pak Purnomo menyingkirkan beberapa akar-akar pohon yang menjuntai di mulut gua lalu berjalan masuk. Sesampainya di dalam dilihatnya unduh video tiktok sang guru tengah duduk bersemedi di atas sebuah batu besar, ada yang aneh saat Pak Purnomo menyaksikan hal itu
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
0 1
-1
BANGKITNYA KUNTILANAK
29-05-2022 23:07
Asiiik ada lanjutannya.. semangaat ts emoticon-Jempol
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BANGKITNYA KUNTILANAK
29-05-2022 23:48
Lanjut gan
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BANGKITNYA KUNTILANAK
30-05-2022 00:37
Lanjoettt
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BANGKITNYA KUNTILANAK
30-05-2022 22:38

Bab 3. Buntalan Kain Hitam

Barjo dan Badri berpamitan pulang pada Sadewo, rencananya mereka akan menunaikan Sholat Shubuh di Musholla Nurul Falah, Sadewo lebih memilih menunaikan Sholat Shubuh di rumah saja. Masih ada beberapa orang penduduk yang terlelap dibangku, maklumlah, tradisi di Desa Medasari memang jika ada yang meninggal maka akan ada beberapa penduduk yang begadang sampai pagi, ada yang mengaji surah Yasin, tetapi tidak sedikit yang datang hanya sekedar untuk mengobrol dengan tuan rumah, menjadikan suasana malamnya terasa ramai, sehingga sedikit banyak bisa mengurangi kepedihan hati setelah di tinggal mati oleh orang yang dicintai.

Pak Purnomo sampai shubuh menjelang belum juga tidur, padahal sudah beberapa kali Sadewo mengingatkan kepada bapaknya itu untuk beristirahat saja, mengingat kondisi tubuh bapaknya yang memang sering sakit-sakitan, tetapi Pak Purnomo bersikeras untuk tetap terjaga, alasannya tidak enak jika ada tetangga sebayanya yang datang tidak dia temani ngobrol.

Tak terasa hari mulai semakin terang, satu persatu penduduk sekitar rumah Pak Purnomo mulai kembali berdatangan, sedianya hari ini akan dilangsungkan pemakaman jenazah Dewi Anggraini.

Tepat pukul 9 pagi Ustadz Mukhlis datang, beberapa warga yang kebetulan duduk di teras rumah menyalaminya, bebrapa malah berusaha mencium tangan Ustadz Mukhlis, namun di tepisnya.

“As Salaamu’alaikum.”

“Wa alaikumus salaam.” Hampir semua yang ada di teras menjawab salam Ustadz Mukhlis.

Sadewo muncul dari dalam rumah, “Silahkan masuk, Pak Ustadz.”

Ustadz Mukhlis mengikuti Sadewo dari belakang. Tampak jenazah Dewi masih ditutupi oleh kain jarik disekujur tubuhnya.

“Ini sudah dimandikan dan dikafani?” tanya Ustadz Mukhlis.

“Belum, Pak Ustadz, masih menunggu Mbok Sinah untuk memimpin memandikan jenazah.”

“Coba disusul saja Mbok Sinah, takutnya dia lupa.”

Baru saja Ustadz Mukhlis berkata, dari pintu depan muncul Mbok Sinah. Maka prosesi memandikan jenazah Dewi pun segera dilangsungkan. Bu Sari tidak ikut memandikan jenazah Dewi karena kondisi fisiknya yang ngedrop sejak mengetahui kematian Dewi, hanya Devi Mareta, anak angkatnya yang ikut memandikan jenazah bersama beberapa orang ibu-ibu lain dengan dipimpin oleh Mbok Sinah.

Sadewo bersama beberapa orang penduduk laki-laki sudah berangkat ke pemakaman umum Desa Medasari untuk mengurusi penggalian lubang kubur, turut serta Barjo dan Badri. Tak ada yang menaruh curiga melihat wajah keduanya terlihat pucat pasi, karena warga mengira mereka hanya kurang tidur saja. Sudah menjadi kesepakatan antar Barjo dan Badri bahwa mereka akan merahasiakan kejadian yang mereka alami Shubuh tadi saat mereka berjumpa dengan Hantu Dewi, yang mereka khawatirkan nantinya hanya akan menjadi fitnah bagi keluarga Pak Purnomo.

===

Prayit, Parto dan Sukirno dengan cekatan menggali tanah kuburan yang cukup becek itu, di sebabkan hujan yang cukup deras usai shubuh tadi.

Rombongan yang membawa jenazah sudah tiba, dibagian depan keranda tampak Prasetyo dan Sadewo yang memanggul, sementara dua pemuda desa lainnya memanggul bagian belakang. Keranda di turunkan, Pak Purnomo yang berada paling depan dari rombongan keranda jenazah langsung melompat, semula Sadewo ingin ikut turun ke dalam lubang kuburan namun di cegah oleh Pak Purnomo, malah Parto diminta untuk naik dan digantikan oleh Pak Purnomo sendiri,

Bertiga, Pak Purnomo, Prayit dan Sukirno menerima jenazah Dewi dari bawah yang di angkat oleh Sadewo, Prasetyo dan Parto, sementara posisi Pak Purnomo tepat berada di bagian kepala jenazah Dewi.

Pak Purnomo lantas mengumandangkan adzan dan iqomah, lalu satu persatu papan penutup jenazah diturunkan, Prayit dan Sukirno melepas ikatan pada kafan Dewi, yang selanjutnya papan-papan itu diatur miring sedemikian rupa sehingga menutupi jenazah dewi yang sudah dibaringkan menghadap kiblat itu.

Mulai dari bagian kaki sampai ke arah kepala, papan-papan itu di susun dengan begitu rapi, namun tanpa sepengetahuan Prayit dan Sukirno, sebelum Pak Purnomo menutup papan terakhir dibagian kepala, dengan cepat tangannya masuk ke dalam dan menarus sebuah buntalan kain hitam tepat dibagian atas kepala Dwi, begitu cepat gerakannya hingga tak seorang pun yang melihatnya. Buntalan kain hitam itu tak lain adalah segumpal kapas yang telah dilumuri darah kering Dewi, yang sudah dibacakan mantra, yang mana nantinya dengan perantaraan kain itulah Kuntilanak tua bernama Nyai Puspasari akan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Dewi semasa detik-detik akhir hidupnya dan membuat Kuntilanak itu nantinya mampu memburu para pembunuh Dewi.

Selanjutnya Sadewo, Parto, dan Prasetyo mulai menimbun kembali lubang kuburan yang telah sebagiannya tertutup papan itu, acara penguburan jenazah Dewi pun berlangsung lancar tanpa ada kendala maupun keanehan yang terjadi, seperti yang di perkirakan oleh beberapa warga Desa Medasari, mengingat kematian Dewi adalah kematian yang tak wajar.

Ustadz mukhlis lantas membacakan talqin mayit dan berdoa, kemudian menyampaikan ucapan penutup yang sekaligus meminta bapak-bapak dan ibu-ibu, baik yang hadir dipemakaman maupun yang tetap berda di rumah pak Purnomo untuk bisa hadir dalam acara tahlilan malam harinya sampai malam ke tujuh nanti.

===

Jalan Nuri, Desa Sidang Iso Mukti, tepatnya di sebuah rumah kecil berdindingkan papan yang letaknya hampir paling ujung jalan. Terlihat dua orang lelaki tengah duduk di halaman rumah yang teduh, karena dihalaman itu tumbuh pohon mangga yang rimbun daunnya. Dua orang lelaki itu tampak sebaya, yang seorang mengenakan pakaian biasa sementara yang seorang lagi memakai ikat kepala dan ada tanda goresan dipipinya.

“Kamu serius akan membalaskan dendam lamamu pada Tarman? Bukankah kejadiannya sudah lama sekali, Yat. Kupikir malah kamu sudah melupakan dan telah mendapatkan penggantinya,” tanya Mardi pada kawan lamanya yang sejak kemarin pagi datang dan menginap di rumahnya.

“Apa yang sudah diperbuat Tarman itu sangat tidak pantas! Bagaimana mungkin dia mengkhianati temannya sendiri? Selama aku merantau ke Jawa untuk memperdalam ilmuku, dia dengan lancangnya malah menikahi kekasihku, Indri!”

“Tapi, Yat, kalau kamu berkelahi dengannya pasti akan membuat Desa ini geger dan kamu akan cepat terlacak oleh Polisi?”

Sukiyat tertawa terbahak-bahak, “Dia mengkhianatiku dibelakangku, maka kini aku akan membunuhnya dengan cara kutikam dari belakang.”

Mardi mengernyitkan dahinya, “maksudmu?”

“Aku akan menyentetnya malam ini, lalu besok aku akan pergi ke Menggala, karena aku ada janji dengan seseorang yang menjanjikanku menjadi orang kaya raya ... Hahahaha ....”

Jauh dalam lubuk hatinya, Mardi sangat tak setuju dengan tindakan Sukiyat yang berencana menyantet Tarman malam ini, bagi Mardi, Tarman dan Sukiyat sudah dianggapnya saudara sendiri, dan dia pun tahu kalau sebenarnya Indri tak pernah menaruh hati kepada Sukiyat, kalau pun ia meladeni Sukiyat selama ini, itu karena dia tidak enak saja kepada Mardi dan Tarman yang tak lain adalah tetangganya, dan Mardi tahu bahwa dari gerak gerik Tarman dan Indri bahwa keduanya sudah sama-sama menaruh rasa cinta sejak lama.

Kalau dari segi fisik dan ketampanan maka Mardi sendiri bisa menilai kalau Tarman kalah jauh dengan Sukiyat, Tetapi Sukiyat memang sikapnya telah berubah drastis, dari seorang pemuda biasa yang baik menjadi pemuda yang sombong sejak dia kenal dan bergaul dengan Sena Wiraguna yang kini telah mati.

Kini Mardi jadi berpikir keras, bagaimana caranya akan memberi tahu sahabatnya, Tarman, bahwa kini nyawa Tarman tengah terancam oleh Sukiyat.

===
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Araka dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
BANGKITNYA KUNTILANAK
30-05-2022 23:33
Ninggal jejak dulu
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BANGKITNYA KUNTILANAK
31-05-2022 03:46
Terima kasih kepada seluruh pembaca cerita ini, yang telah membuatnya jadi hot thread 😊🙏

BANGKITNYA KUNTILANAK
profile-picture
no_doubt memberi reputasi
1 0
1
BANGKITNYA KUNTILANAK
31-05-2022 06:58
😏 kanalitnuk ya.... 😅 jd kangen sm Nyai R
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BANGKITNYA KUNTILANAK
31-05-2022 17:24

Bab 4. Dendam Dari Masa Lalu

Sampai menjelang malam, Mardi tak punya kesempatan meninggalkan rumah barang sejenak untuk memberitahukan sahabatnya yang bernama Sutarman agar berlaku waspada, karena ancaman dari Sukiyat sore tadi untuk menyantet Tarman bukanlah basa-basi kosong, terbukti malam ini meskipun waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari.

Sukiyat masih belum tidur juga, dia duduk di ruangan tengah seraya menghisap rokok, pandangannya menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.

Penerangan di ruangan tengah itu hanya diterangi sebuah lampu ssentir biasa yang cahayanya redup, karena listrik di Desa Sidang Iso Mukti bukanlah berasal dari PLN melainkan dari mesin diesel milik warga desa, diesel itu akan mulai dinyalakan pada pukul 6 sore dan dipadamkan tepat pukul 12 malam.

Mardi yang tak mau ambil resiko jika ternyata niat buruk Sukiyat benar-benar dijalankan sejak sore telah mengungsikan istri dan anaknya ke rumah orang tuanya di Jalan Cendrawasih. Maka kini Mardi telah bersiap menghadapi resiko terburuk apapun yang akan menimpa dirinya akibat aksi buruk temannya, Sukiyat.

===

“Kok durung turu to, Mas? (kenapa belum tidur, Mas?)” tanya Indri yang melihat suaminya tengah duduk di ruang belakang rumah, sedangkan Indri sendiri terbangun karena habis buang air kecil.

“Entahlah, Dik. Sejak sore perasaan mas kok tidak enak begini, jantung mas juga berdebar terus menerus. Mas jarang mengalami keadaan sepert ini. Kalau begini biasanya akan terjadi peristiwa yang tidak mengenakkan.”

Indri mendekati dan merangkul suaminya, Sutarman. Ditatapnya suaminya dengan pandangan lembut seakan ingin menenangkan, “Mungkin itu hanya perasaan mas saja, memang udara malam ini terasa berbeda, lebih panas dari malam-malam biasanya, mungkin itu yang buat perasaan mas jadi nggak enak.”

Tarman tersenyum, “Kamu benar, Dik. Mungkin ini hanya perasaan mas saja, kalau begitu kamu duluan saja tidur, mas belum mengantuk, nanti mas menyusul.”

Indri pun beranjak bangun dan kembali ke kamar, membiarkan suaminya duduk sendirian di ruang belakang.

Tarman merasakan udara malam itu berubah menjadi semakin panas, butiran-butiran keringat mulai membasahi keningnya, sementara detak jantungnya semakin keras saja, maka Sutarman memutuskan untuk mengambil wudhu.

belum lagi Tarman meneyelesaikan wudhunya di halaman belakang rumahnya, tiba-tiba selarik sinar berwarna merah dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhnya, membuat tarman bergulingan di tanah seraya menahankan rasa sakit yang secara tiba-tiba menjalari dadanya.

"Keparat! Siapa orangnya yang berani main belakang menyerangku? dadaku terasa sakit sekali. ini pasti santet!"

Sutarman mencoba berdiri, meski sesekali terjatuh akhirnya dia berhasil bersiri dan berjalan terhuyung-huyung untuk masuk kembali ke dalam rumahnya. tetap lagi-lagi selarik sinar merah itu datang dan menghantam punggung tarman, tubuh tarman langsung terjengkang ke depan dan menghantam pintu dapur, hingga membuat pintu dapur yang terbuat dari papan itu rusak dan terpental ke dalam rumah.

Sutarman berusaha untuk kembali bangkit, namun tiba-tiba seperti ada satu tangan yang begitu kuat menarik kakinya, Sutarman tertarik ke belakang dan terpental di antara semak belukar yang tumbuh di halaman belakang rumahnya.

Mulut Sutarman kini telah berlumuran darah segar, pandangan matanya mulai gelap, sementara rasa sakit yang menyerang dalam tubuhnya semakin menjadi-jadi. dalam pandangan samarnya Sutarman kembali melihat bayangan bola api berwarna merah meluncur deras dari atas langit menuju ke arahnya. sekali lagi sinar terang merah itu menghantam tepat ke dada Sutarman yang membuat Sutarman kali ini tak berkutik lagi, napasnya telah terhenti dan nyawanya tak bisa tertolong lagi.

Sementara Indri Oktaviani, istri Sutarman yang mendengar suara jeritan suaminya dari arah halaman belakang segera terbangun dan berlari, yang didapatinya hanyalah sosok mayat sang suami yang kini telah tampak gosong di seluruh kulit tubuhnya, serta aliran darah segar yang masih terus mengalir dari mulut mayat Sutarman.

Indri hanya bisa menangis dan menjerit histeris, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. jeritan histeris AIndri tentu saja spontan membangunkan beberapa warga desa Sidang Iso Mukti yang rumahnya tak jauh dari rumah Indri.

Malam itu juga warga desa menjadi geger dengan kematian Sutarman yang tak wajar, kematian mendadak karena di santete ileh seseorang. Sungguh hal yang sulit diterima oleh para warga, khususnya Indri sendiri karena selama ini Sutarman dikenal sebagai warga yang baik dan tak punya musuh seorang pun, sehingga warga desa menaruh rasa hormat dan segan kepada Tarman.

Sementara di antara kerumunan warga desa itu tampak pula Sukiyat yang menatap mayat Sutarman dengan perasaan puas, karena kini dendam pribadinya telah terbalaskan, malam itu juga Sukiyat pamit kepada Mardi, sekaligus mengancam untuk tetap tutup mulut tentang siapa yang menyantet Tarman, Mardi yang menyadari kesaktian Sukiyat jauh berada di atasnya hanya bisa mengangguk lemah.

Kemudian Sukiyat berjalan menembus gelapnya malam, meninggalkan sahabatnya Mardi yang masih menatap ke arah perginya Sukiyat dengan tatapan penuh amarah.

===

Desa Medasari kini seakan menjadi sebuah desa yang mati, karena saat hari mulai berganti malam tak ada warga desa yang berani keluar rumah, mereka sangat takut jika harus berjumpa dengan sosok Kuntilanak yang meneurut kabar yang beredar adalah sosok hantunya ALmarhumah Dewi yang tak tenang lalu bergentayangan memburu orang-orang yang telah memperkosa dan membunuhnya.

Beberapa hari yang lalu warga sempat heboh dengan penuturan Kang Mitro yang mengaku berjumpa dengan sosok Kuntilanak saat pulang dari sawah, kemudian keesokannya terdengar kabar kematian Ilung Tato, seorang Preman Pasar Pidada di sebuah hotel di kota, sebuah kematian tragis karena terlempar dari kamarnya di lantai atas dengan jantung yang sudah hilang.

Belum selesai kehebohan kematian Ilung Tato, kemarin malamnya warga kembali dikejutkan dengan berita ditemukannya mayat Yondi di pinggiran sawah dengan kepalanya yang terpelintir ke belakang. Semakin lengkaplah kengerian dirasakan oleh para warga desa Medasari.

Namun dalam dinginnya malam, tampak seorang lelaki yang dengan gagah berjalan santai memasuki Desa Medasari yang sunyi itu, meski hanya di terangi dari cahaya bintang-bintang malam, namun dia seakan hapal betul desa itu hingga langkahnya pasti menuju sebuah rumah.

“Jarot! Jarot! Ini aku, Sukiyat. Buka pintunya!” suara lelaki yang ternyata adalah Sukiyat, tak lama pintu dibuka dengan perlahan, wajah Jarot tampak pucat pasi, sebelum dia mempersilahkan tamunya untuk masuk, matanya tampak begitu awas memandang ke halaman depan rumahnya, seakan dia begitu takut ada satu makhluk menakutkan yang berdiri di sana. Tetapi tak terlihat apa-apa, hanya kegelapan malam dan suara jangkrik yang terdengar.

“Kamu beneran Sukiyat, kan? Kenapa datang jam segini? Ini sudah larut sekali, sebentar lagi hari akan pagi.”

“Iya, aku Sukiyat, kamu pikir aku siapa? Ngomong-ngomong mukamu kenapa pucat begitu? Seperti dikejar setan saja.”

“Memangnya kamu nggak dengar berita yang akhir-akhir ini heboh di Desa ini?” tanya Jarot bingung.

“Nggak. Berita apa sih?”

“Ah sudahlah, hari masih malam, sebaiknya kamu tidur saja di kamar itu, nanti pagi akan kuceritakan semuanya.” Jarot menunjuk pintu kamar tak jauh dari posisi dia berdiri, lalu Jarot bergegas ke kamarnya untuk kembali tidur, sementara Sukiyat masih tak habis pikir dengan kejanggalan yang terjadi di desa Ini.

Suara lolongan anjing di kejauhan terdengar lamat-lamat, suara yang akan mampu mendirikan bulu roma pendengarnya dan menciutkan nyalinya.

Tak lama Sukiyat pun sudah terlelap dalam alam mimpinya.

===
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Araka dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
BANGKITNYA KUNTILANAK
01-06-2022 01:48
Pertamaxemoticon-Menangemoticon-Menang
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BANGKITNYA KUNTILANAK
01-06-2022 03:25
Ninggal jejak 👣👣👣
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BANGKITNYA KUNTILANAK
01-06-2022 09:22

Bab 5. Santet Kembang Bayang

Sebuah mobil Pajero Sport exceed keluaran tahun 2014 melaju diantara rimbunan perkebunan sawit, sesekali sang pengemudi mobil menatap wanita yang duduk di sebelahnya dengan tatapan cemas.

“Sabar, Bu. Bapak juga sebenarnya sudah lelah ke sana sini demi pengobatan putri kita, bapak berharap ini jadi usaha terakhir kita berikhtiar demi kesembuhan putri kita dari penyakit anehnya itu,” kata lelaki yang mengenakan kemeja hitam, wajahnya tergurat rona kecemasan, kedua matanya terlihat sedikit merah, dan tampak cekungan berwarna semu kehitaman di area sekitar matanya.

“Aku gak habis pikir, Pak. Apa salah kita sampai-sampai putri kita terkena penyakit aneh begitu.” Wanita itu mengusap keningnya yang berkeringat.

Ketika waktu menuntjukkan pukul 4 sore, mobil yang membawa sepasang suami istri itu akhirnya tiba di sebuah rumah tempat tujuan mereka. Rumah itu memiliki halaman yang luas, tetapi rumahnya sendiri hanyalah sebuah rumah berukuran kecil yang dinding-dindingnya terbuat dari papan dan sudah terlihat beberapa diantara mulai lapuk dan berlubang.

“Apakah kita nggak salah alamat ini, Pak?”

“Kalau menurut alamat yang tertulis di sini jelas nggak salah lagi, ini rumah orang pintar yang di ceritakan oleh sahabat bapak kemarin.”

Kedua orang itu turun dari pajeronya, lalu melangkah ke arah pintu rumah. Tercium aroma setanggi yang di bakar dari dalam rumah, aroma yang begitu khas seperti yang selama ini mereka dapati juga dari rumah-rumah orang pintar yang pernah mereka datangi untuk mengobati sakit putri mereka, namun dari semua orang pintar yang telah mereka kunjungi itu tak satu pun yang berhasil menyembuhkan sakit putri mereka, yang terjadi kadang di antara orang pintar itu ada yang muntah darah bahkan sampai pingsan di depan mata mereka, hingga akhirnya seorang teman lamanya yang katanya pernah berobat dari penyakit anehnya yang lama tak kunjung sembuh, dan sosok yang mengobatinya adalah seorang lelaki setengah baya yang tinggal di dalam rumah dihadapan mereka saait ini.

“As salaamu’ alaikum.” Kata lelaki berkemeja hitam itu seraya mengetuk pintu rumah bercat kapur putih.

“Wa ‘alaikumus salaam. Masuk saja, pintunya tidak terkunci.” Sebuah suara berat sedikit serak menjawab dar dalam rumah.

Suara pintu berderit, kedua tamu yang berasal dari jauh itu pun masuk.

“Silahkan duduk. Langsung saja, katakan apa keperluan kalian datang kemari?” ujar lelaki yang saat itu duduk di salah satu kursi di ruang tamu tersebut.

“Apa benar Bapak ini yang di panggil Kang Sukir?” tanya sang lelaki dengan nada penuh kehati-hatian.

“Ya benar, Saya Sukirman. Orang-orang biasa memanggil saya Kang Sukir. Jadi Bapak dan Ibu bisa memanggil saya dengan panggilan Kang saja, biar akrab. Tidak usah terlalu segan kepada saya,” jawab Kang Sukir dengan nada suara yang leboh lembut, sesungging senyuman terukir di wajahnya.

“Begini, Kang. Langsung ke intinya saja. Sudah hampir satu tahun ini putri kami tidak bisa turun dari tempat tidurnya, kondisi fisiknya awalnya biasa-biasa saja, tetapi kalau dia turun dari tempat tidur maka wajahnya akan spontan memucat dan lemas, kalau dipaksakan maka ia akan muntah darah. Jadi … maaf, akhirnya putri kami makan minum serta buang hajatnya hanya di kamarnya saja. Sudah puluhan orang pintar kami datangi untuk meminta bantuan menyembuhkan, tetapi semuanya gagal, Kang. Jadi maksud kedatangan kami ke sini tidak lain untuk meminta bantuan Kang Sukir, andai saja putri kami bisa kami bawa kemari niscaya akan kami bawa, kang. Tetapi …. Maka dengan penuh harap kami memohon dengan sangat agar kang Sukir bersedia membantu kami.” Usai menjelaskan tentang apa yang menjadi keperluannya pak Rudi menyerahkan selembar kartu namanya kepada Kang Sukir.

Sepasang suami itu terdiam, menunggu jawaban dari Kang Sukir, keduanya sedikit terlihat khawatir kalau Kang Sukir menolak permintaan mereka.

Kedua alis Kang Sukir berkerut nyaris saling bertaut, matanya tajam menatap bergantian ke wajah sepasang suami istri itu, lalu perlahan dia memejamkan matanya, hal itu tidak berlangsung lama karena selanjutnya Kang Sukir kembali membuka matanya dan menghembuskan napas panjang.

“Maaf sebelumnya, nama bapak dan Ibu?”

“Saya Rudi Hartono dan ini istri saya Sinta Amelia, sedangkan Putri kami bernama, Vira Saraswati.”

Sukirman mengangguk-anggukkan kepalanya. “Saya akan bantu kalian, tetapi ….” Sukirman terdiam tak melanjutkan kata-katanya, dari penampilan mereka sudah jelas bahwa tentulah mereka bukan orang biasa, kalau tidak anggota Dewan paling tidak tamunya kali ini tentulah seorang pengusaha kaya raya.

“Oh iya, saya mengerti, Kang. Katakan saja berapa biaya yang harus kami persiapkan?” kata Rudi Hartono.

Sukirman senang mendengarnya, dan tanpa basa-basi Sukirman pun menyebutkan nominal yang harus mereka siapkan. Awalnya mereka terkejut karena tak menyangka dengan jumlah yang Sukirman minta.

“150 juta, itu jumlah yang saya minta. Tetapi tenang saja, saya tidak meminta itu sekarang, cukup transfer saja ke nomor rekening ini sejumlah 50 juta, itu bukan buat saya, tapi untuk mereka, dan insya Allah doa mereka juga yang akan membantu kesembuhan Vira putri kalian. Sisanya yang 100 juta akan saya minta jika saya benar-benar berhasil menyembuhkan putri kalian. Bagaimana? Jika kalian setuju saya akan berangkat malam ini juga ke tempat kalian. Tapi kalau kalian keberatan, ya saya pun tidak akan memaksa, silahkan cari orang pintar lain saja, saya bukan sedang bertransaksi jual beli, jadi saya tidak menerima tawar menawar,” ucap Sukirman dengan nada pelan namun cukup tegas, di serahkannya selembar kartu nama, dalam kartu itu memang tertulis sebuah Yayasan Yatim Piatu, berikut alamat dan nomor rekeningnya.

“Baik, Kang Sukir. Tetapi maaf, seandainya kang Sukir tidak berhasil menyembuhkan bagaimana?”

“Pak Rudi, tolong di catat baik-baik ya. Tugas saya hanya berikhtiar dan berdoa untuk kesembuhan Putri Anda, tetapi apakah nantinya putri Anda akan sembuh atau tidak itu bukan kewenangan saya, tetapi Hak mutlak hanya di tangan Allah Swt. Jadi kalau ternyata putri Anda tidak sembuh, maka saya tidak akan meminta sepeser pun kepada Anda, dan soal uang 50 juta yang saya minta itu, anggaplah itu sebagai shadaqah Anda sendiri, bisa dimengerti?”

“Iya, Kang. Kami mengerti. Maaf jika pertanyaan saya tadi terkesan lancang, karena kami benar-benar ketakutan jika harus kehilangan putri kami satu-satunya.”

“Ya ya. Saya bisa mengerti apa yang Pak Rudi dan Bu Sinta rasakan. Mohon maaf, karena saya masih ada keperluan lain, jadi sebaiknya bapak dan ibu bisa pulang sekarang. Seusai urusan saya, baru saya akan berangkat ke Bandar Lampung.”

Akhirnya Pak Rudi dan istrinya berpamitan pulang, Pajero Sport Exceed itu pun melaju meninggalkan rumah Sukirman dengan membawa harapan baru, harapan kesembuhan bagi putri mereka, Vira Saraswati.

===

Malam harinya Sukirman kembali kedatangan tamu, dua orang laki-laki, yang tidak lain adalah Pak hendarto dan anak lelakinya, Agung Bagaskara. Sukirman tak enak hati untuk menerima apalagi meminta uang untuk pengganti bantuannya, karena secara tidak langsung jasa pak Hendarto begitu besar bagi Sukirman pribadi, betapa Pak Hendarto dan keluarganya sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.

Tetapi tak bisa dipungkiri kalau masalah yang dihadapi oleh tamunya sore tadi jauh lebih mendesak, maka Sukirman memutuskan untuk menggunakan ilmu Pengganda Jasad yang dimilikinya untuk membantu masalah yang dihadapi keluarga Pak Hendarto, lagi pula karena masalah yang dihadapi ini terkait dengan Kuntilanak, maka Sukirman bisa meminta bantuan sahabatnya, Yudistira untuk mewakilinya berangkat ke Medasari.

Setelah Pak Hendarto dan anaknya pulang, Sukirman bergegas mengambil sepeda motornya dan berangkat malam itu juga ke rumah sahabatnya, Yudistira.

===

Tangan kekar Sukirman meraih kotak rokok Sampoerna Kretek di meja, kemudian dengan kedua tangannya memilin-milin rokok tersebut dan membuang tembakau yang keluar dari ujungnya. Itu sudah menjadi kebiasaan Sukirman sebelum menikmati rokok kegemarannya tersebut, tentu saja hal itu Sukirman lakukan agar hisapannya nanti tidak terlalu padat. Yudistira menatap wajah sahabat lamanya itu dengan pandangan menyelidik, seakan dia merasa ada hal yang tengah Sukirman sembunyikan darinya dan Yudistira bisa rasakan itu.

“Memangnya Kuntilanak macam apa yang akan kamu hadapi sampai-sampai kamu bela-belain tengah malam menjemputku, Kang?” Yudistira menangkupkan jari-jemari kedua tangannya, badannya sedikit memutar dan kini menghadap ke arah di mana Sukirman duduk. Yudistira menunggu dengan tetap menatap Sukirman tajam.

“Kuntilanak biasa, tetapi soal bantai membantai Kuntilanak itu lan sudah jadi spesialis kamu toh? Rasanya gak adil kalau aku membantainya sendiri.”

“Alasan saja kamu, Kang. Ngomong-ngomong tujuan kita kemana?”

“Medasari, besok malam. Kita berangkat sore saja.” Ekspresi wajah Sukirman datar-datar saja, seakan menghadapi Kuntilanak yang kini meneror Desa Medasari adalah hal remeh yang tak perlu dipikirkan dalam-dalam.

“Bukankah di Medasari ada orang sakti juga, Kang. Kalau aku tak salah ingat namanya ….” Yudistira mencoba mengingat-ingat kembali sosok sakti yang pernah ia Jumpai di Desa Medasari.

“Pak Purnomo.” Sukirman menyela.

“Nah itu maksudku.”

“Masalahnya Kuntilanak yang akan kita hadapi adalah jelmaan almarhumah putrinya sendiri yang jasadnya dikuasai sesosok Kuntilanak lain. Aku belum bisa menerka darimana asal makhluk itu, tetapi pasti ada dalang dibalik kehadiran sosok Kuntilanak yang mengendalikan jasad Dewi. Pak Purnomo sendiri seolah diam saja dan tak percaya kalau anaknya gentayangan menjadi hantu.”

“Maksudmu … Dewi Anggraini, Kang?” Yudistira sontak terkejut demi mendengar penuturan sahabatnya itu, “Bukankah Dewi kabarnya bekerja di Jakarta?”

“Iya, tapi sudahlah, hari sudah hampir Shubuh, sebaiknya kamu tidur dulu, lumayan walau hanya satu atau dua jam paling nggak bisa membuat tubuh kita akan jauh lebih segar esok hari. Setelah semua ini berakhir nanti akan kuceritakan kisah selengkapnya.” Sukirman mematikan rokoknya yang masih tersisa setengah batang itu, lalu menuju kamarnya dan meninggalkan Yudistira yang masih duduk di kursi dengan kening berkerut penuh tanda tanya. Yudistira pun akhirnya bangkit menuju kursi panjang, membaringkan tubuhnya dan beberapa menit kemudian dia pun sudah tertidur pulas.

===

Sejak pukul satu siang Yudistira tidur di kursi panjang setelah berbincang tentang masa-masa yang pernah mereka berdua jalani dulu. Sukirman sendiri di dalam kamar tengah duduk bersila sambil memejamkan mata, bibirnya berkomat-kamit merapalkan mantra Pengganda Jasad, sebuah Ilmu yang jarang sekali Sukirman pergunakan sepanjang sepak terjangnya selama ini, karena memang titik lemah dari Ilmu Pengganda Jasad yang dimilikinya adalah dia harus membagi setengah dari energi tubuhnya kepada sosok dirinya yang lain itu, butuh waktu paling tidak sampai sebulan sebelum energinya benar-benar bisa kembali pulih secara utuh seperti sedia kala.

Kalau pun kali ini Sukirman terpaksa mengeluarkan ilmunya itu karena dia dalam kondisi terjepit di antara dua masalah besar yang sama-sama pentingnya, Sukirman bisa saja mengutus sahabatnya sendiri untuk melawan Kuntilanak yang meneror Desa Medasari, tetapi mengingat orang yang meminta bantuannya adalah orang yang punya jasa besar yang membuatnya jadi sesakti sekarang, maka mau tak mau dia mesti datang juga ke Desa Medasari meski bukan sebagai wujud asli dirinya.

Perlahan-lahan di hadapan Sukirman tampak satu sosok yang benar-benar mirip dengan dirinya, hingga sosok itu mewujud dengan sempurna barulah Sukirman membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam.

“Aku memerintahkanmu untuk pergi bersama sahabatku, Yudistira, ke Desa Medasari. Datangi makam Dewi Anggraini dan bunuh Kuntilanak yang menebar teror itu, aku akan berangkat ke Bandar Lampung sekarang untuk sebuah urusan besar.”

“Baiklah, Tugasmu akan kulaksanakan dengan sebaik-baiknya,” kata Sosok Sukirman yang lain.

“Bagus, sekarang aku harus bersiap-siap berangkat sebelum Yudistira terbangun dari tidurnya dan tahu kalau kamu bukanlah diriku yang sebenarnya.”

Sosok Sukirman yang lain itu hanya mengangguk, dia hanya mematung menyaksikan Sukirman asli memasukkan beberapa lembar pakaian dalam sebuah tas, setelah semua persiapan dirasa cukup Sukirman lalu keluar kamar, sejenak dipandanginya sosok Yudistira yang masih terlelap, “Maafkan aku, Sahabat. Aku percaya bahwa kamu bisa memusnahkan makhluk jahat itu.”

Sukirman lalu keluar dari rumahnya, setelah menutup pintu dia melangkah dengan tegap berjalan cepat ke arah pasar, di mana dia akan mencari sebuah mobil travel yang akan membawanya ke kota Bandar Lampung. Sebuah petualangan baru telah menantinya di sana (tentang kisah bagaimana Petualangan Sukirman di Kota Bandar Lampung akan saya buat di cerita tersendiri dengan judul yang sama dengan bab ini).

===

Sukiyat yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumah sahabatnya, Jarot, segera meletakkan sendok makan yang tengah di pegang, matanya tampak berbinar-binar hingga kegiatan makannya langsung terhenti, dia bangkit lalu membuka pintu rumah, sebuah Jeep Wrangler Rubicon berwarna Dark Metallic sudah terparkir di sana, dua lelaki berbadan besar memakai jas hitam dengan kaca mata hitam keluar dari dalam jeep.

“Apakah Anda yang bernama Sukiyat?” tanya salah seorang kepada Sukiyat yang masih berdiri di depan pintu rumah, menatap takjub pada mobil jeep dan pakaian yang dikenakan 2 orang pengendaranya itu.

“Benar sekali. Saya Sukiyat.”

“Kalau begitu kita berangkat sekarang ke Menggala.”

“Maaf, saya tadi sedang makan, apa tidak sebaiknya saya selesaikan dulu?” pinta Sukiyat.

“Sebenarnya urusan kami sangat mendesak, kami hanya diperintahkan Bos untuk menjemput Anda.”

“Kalau begitu, ayo masuk dulu.”

Kedua lelaki itu masuk ke dalam rumah mengikuti Sukiyat, selesai makan Sukiyat lalu masuk ke kamar Jarot yang saat itu masih tidur, membangunkannya kemudian berpamitan pergi meninggalkan rumah Jarot bersama dua lelaki berjas hitam. Jeep pun melaju meninggalkan kepulan debu tanah, dilepas tatapan Jarot yang sayu karena masih mengantuk. Jarot lalu menutup pintu rumah dan melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.

===

Pukul sebelas pagi jeep yang membawa Sukiyat berhenti di halaman parkir yang luas di sebuah hotel ternama di Menggala, tak terasa perjalanan selama tiga jam lebih itu pun akhirnya tiba di tujuan. Ketiga orang itu keluar dari jeep lalu masuk ke dalam hotel, setelah menaiki tangga mereka menuju sebuah kamar dan mengetuknya. Pintu kamar terbuka, seorang lelaki yang mengenakan setelan jas yang sama mempersilahkan mereka masuk, di ujung kamar yang menghadap balkon terlihat seorang pria duduk membelakangi mereka, di tangannya tergenggam sebuah cerutu.

“Sukiyat, kemarilah. Kalian bertiga silahkan keluar dari kamar ini.” Dua lelaki yang tadi mengantar Sukiyat dan satu lagi yang membukakan pintu tadi membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan kamar yang kini hanya ada lelaki yang duduk di Balkon kamar hotel, Sukiyat berjalan mendekati lelaki itu.

“Selamat datang Sukiyat, silahkan duduk,” ujar lelaki itu, dia membalikkan badannya, tampaklah seraut wajah lelaki yang tampak ramah, sebagian rambutnya sudah memutih, dia lalu meraih sebuah botol minuman dan menuangkan isinya ke dalam sebuah gelas lain yang sudah tersedia di meja.

“Terima kasih karena kamu datang juga hari ini memenuhi undanganku, sekali lagi aku juga mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu tempo hari, kalau kamu mau bergabung dengan kami, tentu saja kami akan merasa senang,” ucap lelaki itu seraya menghisap cerutunya.

“Saya bersedia bergabung. Lalu apa yang harus saya kerjakan?”

Lelaki itu tertawa kecil, “Aku senang mendengarnya, tapi aku ingin melihat kepandaianmu yang lain, yaah ... paling tidak sekedar memantapkan saja bahwa aku tidak salah pilih merekrutmu ke dalam keluarga besar kami.”

Sukiyat kaget, ada sedikit kemarahan di hatinya mendengar ucapan lelaki itu yang seakan secara tidak langsung meremehkan kemampuannya.

“Baiklah, sekarang perhatikan botol ini,” Sukiyat mengambil botol minuman yang masih berisi setengah itu lalu melemparkannya ke udara di depannya, masih dengan kedua matanya menatap lelaki itu dengan cepat Sukiyat mengarahkan telunjuk kanannya ke arah botol tadi terlempar, detik berikutnya botol tersebut langsung hancur berkeping-keping di udara, seakan ada sebuah peluru yang mengenainya.

Lelaki itu tertawa terbahak-bahak seraya bertepuk tangan dengan keras, ia benar-benar merasa puas dengan apa yang baru saja dilihatnya.

“Selamat bergabung dengan Geng Naga Halilintar.” Lelaki itu menyalami Sukiyat.

Tiba-tiba sebuah suara dering telepon berbunyi, lelaki itu meraih ponselnya, “Halo, ya ya, aku akan segera ke sana.”

Lelaki itu bangkit, “Sukiyat, maaf tidak bisa menemanimu siang ini, tetapi nanti akan ada seseorang yang datang untuk melayanimu, kamu bisa sepuasnya bersenang-senang dengannya. Semua biaya sudah aku tanggung, aku mungkin akan kembali agak malam. Ok?”

Tanpa menunggu jawaban Sukiyat, lelaki itu lalu berjalan ke arah pintu. Tak lama kemudian Sukiyat mendengar suara mobil pergi meninggalkan parkiran hotel.

Setelah puas menikmati pemandangan dari balkon kamar hotel, Sukiyat beranjak untuk membaringkan tubuhnya, namun seketika pintu kamar ada yang mengetuk.

Sukiyat pun membuka pintu kamar, lagi-lagi Sukiyat dibuat terpana dengan apa yang dilihat, sesosok perempuan berwajah cantik, tinggi, bertubuh langsing dengan rambut sebahu, memakai pakaian berwarna hijau cerah, begitu sexy, membuat Sukiyat tanpa sadar menelan air liurnya.

“Selamat siang, Mas Sukiyat. Boleh aku masuk?”

===

Sepanjang jalan Sukirman hanya termenung, matanya menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan tatapan kosong, apa yang akan Sukirman hadapi nanti di Bandar Lampung mengingatkannya kembali kepada almarhumah istrinya, Murniati. Bedanya adalah dulu istrinya meninggal karena terkena santet Getih Sewu, sementara yang ini, Sukirman sudah bisa menyimpulkan, adalah Santet Kembang Bayang, sebuah santet yang tidak kalah ganas dibandingkan dengan santet Getih Sewu.

===
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Araka dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
BANGKITNYA KUNTILANAK
02-06-2022 00:11

Bab 6. Luthfi Chaniago di Medasari

Hari ini adalah hari keenam sejak ditemukannya mayat Dewi, keganjilan demi keganjilan serta teror demi teror terus-menerus menghantui warga Desa Medasari. Setelah kematian dua orang preman Pasar Pidada yang misterius dan cukup mengenaskan, yaitu Ilung yang mati terlempar dari sebuah kamar hotel di Menggala dan Yondi yang mati dengan leher terpuntir ke belakang di pinggiran pesawahan.

Warga Desa Medasari juga digegerkan kembali dengan kematian Nella Ariana yang meninggal karena tertabrak sebuah mobil, keesokan harinya ditemukan pula dua mayat di Pemakaman Desa Medasari.

Pak Hendarto yang mengenali salah satu mayatnya, yaitu Yudistira langsung memberikan keterangan kepada Polisi yang hari itu sedang menyelidiki area TKP tempat ditemukan kedua mayat tersebut, dan Pak Hendarto menduga bahwa mayat yang seorang lagi meskipun dalam keadaan gosong tersambar petir, dia memiliki firasat kuat kalau itu adalah jenazah Sukirman. Kepada pihak kepolisian Pak Hendarto menjelaskan bahwa kedua orang itu adalah tamunya, namun Pak Hendarto menutupi alasan kedatangan mereka berdua ke rumahnya, karena dia tak mau terbongkar tentang pertemuan dirinya dengan Sukirman pada malam sebelumnya untuk meminta bantuan mengusir Kuntilanak yang telah mengganggu keluarganya.

Hari keenam itu pula mayat Nella dimakamkan, sementara mayat Sukirman dan Yudistira untuk sementara disemayamkan di rumah Pak Hendarto, beberapa warga sudah diutus untuk menemui keluarga dari Sukirman dan Yudistira.

===

Sukirman duduk di teras sebuah rumah besar di sebuah perumahan Elit yang terletak di Teluk Betung, Bandar Lampung. Seorang wanita yang tak lain adalah salah seorang pembantu di rumah itu keluar dan menyuguhkan segelas kopi di meja dekat Sukirman.

Jari-jari Sukirman menelusuri daftar kontak di smartphonenya, sebuah nama, sahabat lamanya yang bernama Luthfi Chaniago.

“As salaamu ’alaikum. Tumben nih, Kang. Ada apa ini? Pasti ada hal penting yang mau Kakang sampaikan.” Suara khas Luthfi Chaniago dengan logat minangnya terdengar.

“Wa ‘alaikumus salaam. Iya, aku bisa minta bantuanmu? Itu pun kalau kamu tidak sedang sibuk,” jawab Sukirman meminta kepastian.

“Katakan saja, Kang. Sebagai saudara, tentulah akan saya upayakan untuk membantu, sesibuk apapun keadaan saya saat ini.”

“Terima kasih sebelumnya. Begini, Luthfi. Aku minta kamu untuk berangkat ke Desaku, Desa Medasari untuk melihat dan membantu sosokku yang lain yang kuutus bersama sahabatku, Yudistira, untuk melawan sesosok Kuntilanak Tua. Aku punya firasat kurang enak, karena kamu tahu sendiri, jika aku mempergunakan ilmu Pengganda Jasad, maka seluruh energi dan kemampuanku akan berpindah separuhnya. Aku tak mengkhawatirkan diriku yang lain itu tetapi aku mengkhawatirkan sahabatku, Yudistira. Lain halnya jika yang berangkat ke Medasari adalah asli diriku sendiri.”

“Memangnya Kang Sukir sendiri saat ini berada di mana?” tanya Luthfi.

“Aku ada pasien mendesak di sebuah kota kecil Teluk Betung, Bandar Lampung. Ada seseorang yang sakit terkena Santet Kembang Bayang.”

“Baiklah, Kang. Saya akan berangkat ke Medasari sekarang juga, mudah-mudahan tak terjadi apa-apa dengan sahabat Kakang.”

“Terima kasih banyak, Luthfi.”

Telpon ditutup, Sukirman menghembuskan napas panjang, dia kini merasa lebih lega. Dari dalam rumah keluar sepasang suami istri, yang tak lain adalah Pak Rudi Hartono dan Istrinya, Sinta Amelia.

===

Sebuah motor Suzuki Hayabusa berwarna hitam melesat dengan kecepatan tinggi menuju Desa Medasari, pengendaranya terlihat begitu gagah dengan setelan jaket hitam dan jeans hitam, sedangkan di punggungnya ada sebuah benda berukuran panjang terbungkus kain berwarna hitam.

Sosok yang tak lain adalah Luthfi Chaniago dengan pedang sakti bernama Pedang Sutra Pelangi. Dalam waktu dua jam setengah motor itu pun mulai memasuki Rawajitu Selatan, sementara itu hujan turun dengan lebatnya.

Luthfi melirik jam tangannya. Pukul 8 malam. Bergegas Suzuki Hayabusa yang dikendarainya melaju ke arah pemakaman umum Desa Medasari.

Terlambat, sesampainya di dalam pemakaman umum Desa Medasari, yang Luthfi Chaniago temui hanyalah dua mayat, “Celaka, mereka kalah bertarung dengan Kuntilanak Tua itu, apa yang harus kukatakan kini kepada Kang Sukir?”

Luthfi Chaniago melangkah ke arah motornya dan segera meninggalkan Pemakaman, sesampainya di pinggiran Desa dilihatnya sebuah warung yang masih buka, Luthfi pun memutuskan untuk berteduh sejenak sambil menikmati segelas kopi untuk menghangatkan tubuhnya.

Luthfi memarkirkan motornya di depan warung makan Pak Harjo.

“Minta kopinya, Pak. Satu.”

“Ya, Mas. Mas ini dari mana hujan-hujan begini?”

“Dari rumah seorang saudara, Pak. Di Desa Medasari ini.”

Sambil mengaduk kopi pesanan Luthfi, Pak Harjo kembali bertanya, ”Kalau boleh tahu, siapa nama saudaranya? Soalnya saya warga asli Desa Medasari, Mas. Saya paham betul dengan semua warganya.”

“Pak Hendarto, Pak. Tadi saya ke rumahnya, Beliau sepertinya sedang tidak berada di rumah, jadi daripada saya menunggu sendirian di sana, saya memilih untuk muter-muter Desa saja, eh nggak tahunya malah turun hujan lebat.”

Saat itu juga ada satu sosok lain yang sedang minum kopi di sana, wajahnya langsung menunjukkan rona kaget, sosok itu terlihat masih muda dengan mengenakan ikat kepala. Dia adalah Johan, satu dari empat orang yang turut andil dalam kematian Dewi Anggraini.

Johan menatap Luthfi dengan penuh selidik, luthfi sendiri bukannya tak tahu ada orang yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan tajam, seketika Luthfi menoleh ke arah Johan, “Sejak saya datang tadi, Mas ini terus-terusan memandangi saya, memangnya ada yang aneh, ya?”

Johan tak menyangka kalau lelaki berjaket kulit hitam yang sejak tadi dipandangnya akan bertanya dan menatap dirinya dengan pandangan yang tak kalah tajam.

“Mmm … nggak, nggak apa-apa, cuma saya merasa asing saja, soalnya sampeyan baru pertama kali terlihat di Desa ini, lalu mengaku masih saudara dengan Pak Hendarto. Kalau saya perhatikan sampeyan ini logatnya minang, sementara yang saya tahu Pak Hendarto itu orang Jawa.”

Tentu saja Luthfi sempat kaget menerima pertanyaan yang tak diduga itu, tetapi dia berhasil menguasai dirinya dan menjawab, “Saya memang saudara jauh Pak Hendarto, jadi nggak ada hubungan darah langsung.”

Johan bisa merasakan kalau pemuda yang kini duduk tak jauh darinya bukan seorang pemuda biasa, terlihat jelas dari tatapan matanya yang begitu tajam sehingga Johan tak berani menatap balik Luthfi berlama-lama.

“Ini kopinya, Mas,” kata Pak Harjo yang lalu meletakkan gelas berisi kopi ke depan Luthfi.”

Johan yang semakin merasa tidak enak hati itu lalu bangkit dan menyodorkan uang kopinya pada Pak Harjo dan segera pergi dengan motornya.

“Tadi itu siapa, Pak?”

“Oh, dia itu Preman di Desa ini, Mas. Dia dan tiga kawan lainnya sering kali memalaki para pedagang di pasar Pidada.”

Sementara Luthfi tengah menikmati kopi hangatnya, saat itulah sebuah ambulan muncul memasuki Desa Medasari. Kedatangan ambulan itu membuat Pak Harjo langsung syok dan bergumam, “Ya Allah, siapa lagi yang menjadi korban Kuntilanak itu?”

“Pak, tadi Bapak bilang korban Kuntilanak? Bisa tolong jelaskan?” tanya Luthfi penasaran.

“Maaf, Mas. Saya tidak berani mengatakan apapun, saya nggak mau disamperin sama makhluk itu, saya minta Mas juga secepatnya meninggalkan Desa Medasari malam ini juga, sebelum ada kejadian buruk yang nantinya menimpa Mas,” kata Pak Harjo dengan sangat gugup.

Mendengar hal itu, Luthfi jadi tambah penasaran, namun dia tak sampai hati untuk memaksa mengorek keterangan dari sang pemilik warung, mengingat wajahnya sudah tampak begitu pucat karena ketakutan.

Luthfi tampak berpikir keras, sementara itu dari kejauhan ada satu sosok lelaki yang wajahnya tertutupi oleh sebentuk topeng dari kain, hingga hanya matanya saja yang tampak, sosok bertopeng itu menatap lekat pada Luthfi Chaniago.

“Luthfi Chaniago, lama tak ada kabar tentangnya, bagaimana dia bisa berada di Desa Medasari? Apa dia juga punya sangkut paut dengan Kuntilanak itu?” gumam sosok bertopeng , tak lama sosok itu pun berlalu pergi.

===
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Araka dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
kumpulan-cerpen-horor
Stories from the Heart
pkl-di-rumah-sakit
Stories from the Heart
cahaya-di-persimpangan
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia