Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
30
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/628fc648665c1c471962e4a3/shelter-1-gunung-dempo-badai-dan-sosok-misterius
(Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel / Sindonews.com) Sudah 7 purnama tidak berbagi cerita tentang kisah mistis nonfiksi ke agan-agan, rasanya gatal banget jemari untuk kembali nulis ini. Ternyata masiih banyak yang nungguin tulisan ane, terharu plus jadi bersemangat lagi nulis cerita horror yang ane dan temen2 ane alami.. Karena banyak yang request (ceileee,, sebanyak apa sih), ane akan melanjutkan pe
Lapor Hansip
27-05-2022 01:26

Shelter Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius

icon-verified-thread
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel / Sindonews.com)

Sudah 7 purnama tidak berbagi cerita tentang kisah mistis nonfiksi ke agan-agan, rasanya gatal banget jemari untuk kembali nulis ini.

Ternyata masiih banyak yang nungguin tulisan ane, terharu plus jadi bersemangat lagi nulis cerita horror yang ane dan temen2 ane alami..

Karena banyak yang request (ceileee,, sebanyak apa sih), ane akan melanjutkan petualangan menulis di mari..

emoticon-Shakehand2emoticon-Shakehand2emoticon-Shakehand2

Nah kebetulan, ane ada cerita yang masih hangat-hangatnya di memori otak ane tentang cerita mistis naik gunung. Kali ini, Gunung Dempo di Kota Pagar Alam Sumsel. Ceritanya gak terlalu horror, tapi daripada gak cerita sama sekali,, hehehe…

Mungkin ane akan nulis agak berbeda, gak pake ane dan ente ya. Karena banyak yang bacain cerita ane di channel sebelah, terasa agak ganjal aja ketika mendengar kata ‘ane’ atau ‘ente’.

Banyak juga yang protes, yang gak ngerti istilah di Kaskus, pasti asing dengan bahasa kebiasaan kita ya.. hehehe..

emoticon-Ultahemoticon-Ultahemoticon-Ultah


Prolog

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. travel.okezone.com)

Sudah 10 tahun silam, aku menginjakkan kaki di Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel. Mendaki bersama dua orang teman pria yang saat itu kita sedang semangat-semangatnya.

Namun sayang, kondisi cuaca yang sedang badai-badainya, membuat kita gak sampai ke puncak. Boro-boro ke puncak,  kita bahkan terdampar di jalur yang gak bakal enak untuk ditempati.

Kenalan lagi yuk…

Aku, Ryu, emoticon-Keep Posting Gan

Cewek yang hobi naik gunung, tapi gak tahan dingin, gak tahan kena air hujan di atas gunung, gak bisa jalan cepet tapi maunya jalan mulu biar gak dingin dan sering naik gunung barengan cowok terus. Jarang banget naik gunung bareng cewek.

Soal masak memasak di gunung, gak usah ditanya dan diragukan lagi. NOL BESAR !! hahahah.. Karena biasanya, tandem aku naik gunung itu adalah koki-koki dadakan yang masakannya enak-enak saat di gunung.

Walau cowok, tapi mereka lebih ‘gemulai’ saat memainkan racikan makanan di atas gunung.


Koboyemoticon-Traveller

 Pendaki gunung yang usianya di atas aku, kisaran 6 tahunan. Tapi karena dia anaknya gaul dan anak punk dengan tubuh yang minimalis untuk ukuran cowok, wajahnya gak terlihat tua dari usianya.

Dia juga udah sering naik turun Gunung Dempo, dia termasuk senior angkatan tua di Komunitas Pecinta Alam (KPA) di Sumsel. Pokoknya saat naik gunung bareng aku, dia jadi andalan deh, walau baru kali ini aku naik gunung dengan dia.

Dan satu lagi, Sleng. emoticon-Wow

Yaa,,, fans garis keras Slank. Si pria yang usianya lebih tua dari Koboy, tiap hari aku panggil kakak. Tapi di cerita ini, kita sebut saja si Sleng, biar enak nulisnya.

Sleng ini anaknya emang Slengekan. Tapi aku gak nyangka banget, ada hal-hal yang di luar prediksi aku, ketika berangkat sama dia. Overall, dia dasarnya kakak yang baik, walau…. Yaa, nanti deh aku ceritain di sini semuanya…

Ini pendakian pertama aku bareng Koboy dan Sleng. Koboy sering banget naik Dempo, saat masih masa kolonial Belanda kali, hahahaha lebay. Tapi si Sleng, katanya pernah naik Gunung Dempo, tapi cerita berbeda diutarakan oleh Koboy.

Dia bilang, Sleng baru perdana ini naik gunung. Entah yang mana yang benar, aku masa bodo aja dah…

Pendakian aku, Koboy dan Sleng terjadi pada tahun 2012, sekitar bulan Agustus-September 2012. 10 Tahun silam, jika dihitung saat aku menulis cerita ini..

Dan inilah ceritaku….


Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius

Pendaki Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. rri.co.id)


CERITANYA :

1. LEMAH

2. Petanda Apakah Ini ??

3. Siapa Itu??

4. Sepii..

5. November 2021

6. Air Wudhu


Jangan lupa disundul ya gan... cendolnya juga.. hehehe..
emoticon-Ultahemoticon-Ultahemoticon-Ultahemoticon-Toastemoticon-Toastemoticon-Toastemoticon-Toast


Diubah oleh nefri.ryu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Masuk untuk memberikan balasan
supranatural
Supranatural
5K Anggota • 17.4K Threads
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
27-05-2022 01:42
Lemah

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
Pintu Rimba Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. kompasiana.com)

Saat itu, aku bersama Koboy dan Sleng naik ke Gunung Dempo dengan kondisi hujan rintik. Entah kenapa, aku merasa tidak bersemangat ketika sudah sampai ke Shelter 1. Badanku begitu berat untuk kembali melangkahkan kaki mendaki ke atas.

Tak seperti biasanya, ada perasaan yang tidak enak ketika melanjutkan perjalanan. Apalagi aku juga bingung, kenapa tiba-tiba tubuhku terasa sangat capek dan tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan.

Padahal aku termasuk cewek yang rajin olahraga jogging, sebelum mendaki pun aku selalu lari 5 kali putaran di Kambang Iwak (KI) Palembang.

Saat mendaki bersama 2 orang teman priaku saja satu tahun sebelumnya, aku selalu meninggalkan mereka, hingga berjalan sendirian ke puncak Gunung Dempo. Menunggu berjam-jam kehadiran mereka, sampai aku kebasahan karena kehujanan.

Namun kali ini berbeda sekali. Tubuhku seperti tak punya tenaga lagi, benar-benar lunglai. Akhirnya, aku meminta kepada Koboy, untuk nge-camp saja di Shelter 1.



“Boy, kita sampai sini saja ya, aku udah gak kuat lagi nih,” ucapku ke Koboy dengan wajah yang berpeluh keringat.

“Ah gimana sih kamu nih, anak Mapala tapi sampai sini aja. Kamu kan sering naik Dempo, masa Cuma sampai Shelter 1 doang,” sindir Koboy sembari memberiku tumbler minuman.

“Gak tahu kenapa, rasanya berat sekali tubuhku ini. Capek banget. Ditambah sepanjang jalan dari Pintu Rimba ke Shelter 1 ini, aku gedeg banget dengan Sleng. Dia seenaknya saja nyuruh-nyuruh kita bawa barangnya. Itu kali ya, yang buat tubuhku menolak untuk melanjutkan perjalanan,” jawabku dengan sepenuh hati.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
Pendaki beristirahat di Shelter 1 Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Detik.com)

Memang, sepanjang perjalanan dari Pintu Rimba ke Shelter 1, Sleng benar-benar menguji kesabaranku banget. Mulai dari dia yang gak mau bawa kerilnya, sepatunya yang copot dititipnya ke Koboy, hingga berjalan sendirian meninggalkan kami.

Aku memang baru naik bareng Koboy dan Sleng, tapi aku gak nyangka aja kalau Sleng seenaknya saja berbuat gitu ke aku dan Koboy. Namun memang saat itu, aku masih menahan emosiku. Tak elok rasanya, ribut hal-hal kecil di pendakian. Tapi si Sleng emang ngelunjak, buat aku badmood aja.

“Udah yuk, jalan lagi. Shelter 2 di atas tuh, gak jauh-jauh amat. Nanti kelamaan istirahat, kita kemalaman di jalan lho,” ajak Koboy melanjutkan perjalanan.

Aku dengan tubuh tergopoh-gopoh, kembali mengangkut kerilku yang tak seberat keril Koboy. Kalau si Sleng, jangan diceritainlah. Mengingatnya aja udah bikin aku sebel sampe sekarang (hehee..)

Angin menderu begitu kencang, udara dingin terasa menusuk-nusuk hingga ke tulang. Tak hanya tubuhku menggigil, gigiku pun ikut bergetar hebat saling menggeretak setiap sudut. Entah kenapa, cuaca saat itu memang tak bersahabat.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
Jalur pendakian di Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. nyero.id)

Sleng masih saja berulah. Yang membuat emosiku hampir berada di ujung ubun-ubun. Hujan tiba-tiba turun begitu derasnya, membuat kami kelabakan. Aku, Koboy dan Sleng langsung bergerak mengambil jas hujan masing-masing yang diletakkan di posisi paling atas keril.

“Hujan.. hujan.. buruan pake jas hujan sebelum basah,” kata Koboy menginstruksikan kami berdua.

Berbeda dengan baterai yang melemah ketika tak diisi baterai. Sendi-sendi tulangku malah melemah ketika terkena hujan di atas gunung. Jangan ditanya gimana lemahnya, gak ada tenaga dan semuanya terasa ngilu dan menolak untuk digerakkan. Ya, itulah kelemahan tulang-tulang imutku ini..

Siang atau sore, tak terlihat dari atas langit, karena cuaca yang menghitam ditambah suara angina yang bergemuruh. Pepohonan yang menjuntai tinggi, membuat kami seakan dipeluk alam, hanya oksigen dingin yang terasa di helaan nafas.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
27-05-2022 01:59
Petanda Apa Ini ??


Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
Jalur pendakian Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. Infosumsel.id)

Sekitar pukul 16.30 WIB, kami masih berada di jalur menuju ke Shelter 2. Padahal untuk mencapai ke Shelter 2, tak butuh waktu hingga 5 jam ke sana. Saat itu, jalanku begitu pelan seperti bekicot, pelaaannnn sekali…

Aku yang sudah tak kuat lagi, memohon-mohon dengan Koboy dan Sleng, untuk menuntaskan perjalanan ini dan kembali lagi ke Shelter 1. Aku tak tahu, ada apa gerangan dengan tubuhku, benar-benar menolak untuk diajak jadi Ninja Hattori, mendaki gunung lewati lembah..hehe..

“Boy, Sleng, aku beneran gak kuat lagi nih. Kita turun aja yuk, perasanku gak enak-enak nih,” pintaku ke mereka.

Namun, wajah yang sudah kelelahan, ditambah cuaca yang tak bersahabat, tak menggerakkan hati kedua temanku. Rasa kesal menggelayuti hatiku, benar-benar mengumpat sejadi-jadinya di benakku.

“Ayo dong dikit lagi, masa sampe sini aja,” ucap Sleng yang bikin kewarasanku sebagai temannya sudah menghilang. Tapi aku masih tetap bersabar dengan sisa 5 persen kesabaranku. Hanya Koboy yang masih terus menyemangatiku.

Alam seakan bersahabat denganku. Tuhan pun mengabulkan permintaanku. Perjalanan kami pun terhenti dengan seketika. (Wah,, aku ngetiknya sambil deg-degan ini).

Saat Sleng berada di baris terdepan, angin datang begitu kencang, sangat kencang mungkin saat itu. Tiba-tiba…

Brukkkkk…….

Pohon besar tumbang tepat di depan Sleng. Nyaris hanya beberapa sentimeter lagi, Sleng bisa saja tertimpa pohon besar itu. Entah apa yang akan terjadi, jika dia beberapa langkah lagi berjalan.
Apalagi saat itu, tak ada sama sekali pendaki yang kami temui sepanjang perjalanan. Hal yang aneh memang kurasakan, selama aku mendaki Gunung Dempo.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
Hutan Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. landscapeindonesia.com)

“Ini sudah pohon keempat yang tumbang. Sepertinya alam memberi sinyalnya ke kita untuk berhenti mendaki,” ucapan Koboy seketika menjadi pelipur laraku.

“Alhamdulillah,” syukurku seketika mengalir dari bibirku yang sudah menggigil.

“Sepertinya ini sudah gelap, kita gak mungkin melanjutkan perjalanan ke atas dan gak mungkin juga turun ke bawah. Apalagi hujan deras, mending kita nge-camp di sini saja,” kata Koboy.

Alhasil, kami membuka tenda di tengah hujan deras. Bukan lahan yang luas yang kami huni, tapi di areal jalan setapak tempat para pendaki berjalan, yang kami pakai untuk membuka tenda. Untungnya, ada sedikit lahan yang kami gunakan, agar benar-benar tidak mengganggu jalur pendakian para pendaki saat nanti naik ke atas.

Setelah tenda berdiri, aku bergegas masuk ke tenda duluan. Tubuhku langsung kurebahkan ke tenda yang hanya memuat 2 orang itu. Aroma keringat yang begitu khas di tubuhku, tak kuhiraukan. Aku hanya ingin memejamkan mata sekejap, sembari mengingat hangatnya selimut di kamarku.

“Ryu, bangun…bangun,” suara Koboy langsung membangunkanku dari cerita indah, yang hampir masuk ke dalam dunia tidurku.

“Ada apa sih, baru aja mau merem sebentar,” keluhku.

“Air minum kamu masih ada gak?,” tanya Koboy dari balik tenda.

“Ada sebotol besar dan kecil, kenapa?,” tanyaku penasaran.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
Nge-camp di jalur Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. adrian10fajri.wordpress.com)


“Kita ini berada di tengah jalur dan gak ada sumber air. Stok airku dan Sleng udah habis, sisa punyamu berarti yang masih tersisa sampai pagi,” ucap Koboy.

“Waduh, segini Cuma,” aku langsung menunjukkan botol air mineralku.

“Yaudah, kita bertahan dengan air itu sampai pagi, baru nanti kita turun. Pakai seperlunya saja,untuk masak dan minum,” pinta Koboy.

Sebelum mereka masuk, aku meminta mereka menunggu di luar, karena aku akan mengganti baju. Tak lama itu, mereka berdua masuk dan berganti pakaian kering.

Kami memasak dengan bahan yang super banyak dibawa, stok bahan makanan yang seharusnya untuk 3 hari, harus kami pilih-pilih untuk bisa dimasak malam itu juga. Dengan racikan masakanku yang ala kadarnya, kami akhirnya makan dan berbagi air putih sedikit demi sedikit.

Untuk kencing, yaa.. aku harus memanfaatkan air seminim mungkin. Begitulah ribetnya kaum perempuan ya.. hehehe..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
27-05-2022 02:09
Siapa Itu ??

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Dok. Bolmora.com)


Udara dingin menemani obrolan kami tentang banyak hal, di dalam tenda yang harus empet-empetan duduk. Banyak hal yang kami bahas, salah satunya Koboy yang kepo dengan pacarku di Pulau Jawa. Si gondrong yang kupanggil mesra dengan sebutan ‘Ay’.. Ayam kaleee….

Mungkin sekitar pukul 9 malam. Saat mataku sudah mulai melayu, tiba-tiba kami mendengar ada suara langkah kami berderup.

“Ada pendaki naik tuh,” ucap Koboy.

“Wah, malam-malam gini masih ada ya,” Sleng yang baru perdana naik, takjub dengan pendaki yang sampai malam hari kuat mendaki di kegelapan.

Langkah kami itu semakin mendekat, dan mendekat ke arah tenda kami. Wajar bagiku, karena tenda kami berada di tepian jalur pendaki ke puncak. Koboy langsung membuka resleting pintu tenda, berharap dia bisa meminta air dari pendaki itu.

Namun saat dia menengokkan kepalanya ke luar tenda, tak berapa lama kepalanya langsung mundur dan segera mungkin menutup resleting tenda.

“Rame ya,” tanyaku dengan wajah penuh harap.

“Cuma beberapa,” jawab Koboy singkat.

“Trus, kenapa gak kamu tegur. Kan bisa saja dia mampir bentar, terus kita bisa minta sedikit airnya. Air minum kita udah tipis banget nih,” Sleng mengucap tanpa jeda.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Dok. jember.jatimnetwork.com)

Koboy terdiam sejenak..

“Itu sepertinya anak kampung sini. Mereka beberapa orang Cuma,” ucap Koboy.

Kami masih hening, menanti kelanjutan informasi yang ingin Koboy katakana. Tubuhnya yang menghadap pintu tenda, langsung berbalik ke arah kami.

“Mereka gak bawa keril, cuma tas ransel biasa,”

“Mereka juga gak pake alas kaki, cekeran saja,”

“Kepalanya kayaknya botak-botak kayak TNI,” ucap Koboy sambil ketawa kecil.

Aku dan Sleng kayak latah, langsung ikut tertawa tipis. Walau aku tahu, ada hal yang mungkin disembunyikan oleh Koboy.

Tapi ya… aku paham. Di gunung, apapun yang terlihat tak biasa, tidak boleh diungkapkan langsung, ditahan dulu ceritanya, sampai nanti bisa diceritakan ketika berada di bawah gunung..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
27-05-2022 12:42
Sepi..

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
Pendaki Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok.blog.eigeradventure.com)


Koboy seakan sudah khatam, bagaimana mengubah suasana yang mencekam menjadi hangat. Dia mengalihkan topik pembicaraan para pendaki di malam hari itu, menjadi ceritanya dan Sleng, yang pernah menjadi anak punk jalanan hingga bisa sampai ke Pulau Jawa sana.

Ya, aku paham, paham betul bagaimana dia me-manage perjalanan ini agar yang menjadi prioritas adalah selamat, bukan puncak.

Setelah bercengkrama panjang, kami akhirnya tidur dengan posisi ‘susun dencis’, gak ada jeda lagi, karena saking kecilnya tenda kami.

Jangan harap ada cerita horror sepanjang malam itu. GAK ADA Guys… Alhamdulillah, hehehee.. Kami pun dibangunkan dengan pancaran mentari yang membuat embun memudar dan masuk ke sela-sela sleeping bag aku dan kedua temanku.

Aku orang yang pertama kali terjaga, dengan belek di mata yang langsung aku lap pakai sudut lengan jaketku. Aku langsung membangunkan kedua temanku, agar kita segera bergegas untuk turun. Sepertinya tak enak berlama-lama dengan kegagalan ini.

“Yuk bangun bangun, aku mau pips dulu di belakang, jangan ngintip ya,” ucapku yang entah terdengar mereka atau tidak.

Aku langsung beranjak keluar dari SB dan mengarahkan tubuh ke depan pintu tenda. Kubuka resleting tenda, yang terlihat hanya batang pohon besar yang tak seberapa jauh dari kami.

Tak ada pemandangan yang indah kala itu. Ya, karena kami memasang tenda di jalur yang sempit. Untung bisa juga…

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Dok. @t0h1d)

Singkat cerita, kami pun turun dan tak bertemu satu orang pun pendaki yang naik atau turun di jalur Gunung Dempo. Herman juga ya, biasanya ada ketemu satu-dua orang pendaki.

Ya, mungkin karena masuk musim hujan, dengan fenomena badai yang sedang parah-parahnya. Tak ada juga kelanjutan lagi, tentang cerita tentang ‘pendaki gundul’ itu dari Koboy..

Namun, 9 tahun kemudian… aku benar-benar merasakan hal yang mungkin dirasakan Koboy di tahun 2012 lalu. Di kondisi yang sama, badai dan sosok misterius yang menemani kami di Shelter 1….

Quote:Jalur Gunung Dempo itu memang gak main-main. Walau ketinggiannya masih kalau jauh dari gunung-gunung di Pulau Jawa, tapi maksimal banget dah perjalanannya. Jalanan terjal, basah, bebatuan dan pepohonan.

Nyium dengkul saat naik Gunung Dempo itu, udah hal yang lumrah. Yang kami sebut bonus itu, yaa beneran bonus utk bisa beristirahat. Karena hanya sedikit tempat istirahat yang luas.

Ke Gunung Dempo juga buat temenku yang sering bolak balik Gunung Rinjani, jadi nangis saat perdana ke Dempo. Betapa berat jalurnya, terutama bagi pertama mendaki Dempo. Jadi, jangan hanya menilai gunung itu dari keindahan dan ketinggiannya saja, semua gunung harus dihargai dan dijaga keasriannya...


Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
Kaskukers - Ruli Amrullah

profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
29-05-2022 12:48
lanyut gan...
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan nefri.ryu memberi reputasi
2 0
2
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
02-06-2022 14:56
cerita mistis dibumbui sedikit kisah birahi pasti seru gan...ada serem nya plus ada hornie nya...sory oot emoticon-Ngacir emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan nefri.ryu memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
03-06-2022 07:18
Surga bagi pecinta alam.....setelah mendaki menikmati indahnya pemandangan alam......yang memanjakan mata.
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan nefri.ryu memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
06-06-2022 19:28
Akhirnya ngethread lagi disini
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
11-06-2022 23:48

November 2021

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Dok. kompas.com)

9 Tahun berlalu, sejak terakhir saya ‘gagal’ muncak ke Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel. Ada rasa rindu sekaligus ‘janji’ di dalam hati ingin mendaki gunung tersebut.

Karena sudah bertahun-tahun tak mendaki gunung, saya pun tak ingin jumawa dengan pengalaman pendakian ke berbagai gunung di Indonesia. Tak bisa, hal itu tak bisa menjadi patokan seseorang untuk mendaki gunung, apalagi sudah ‘libur’ dari dunia pendakian.

Saya akhirnya berangkat bareng keempat teman, yang pasti semua para pria tangguh. Kenapa gak ajak cewek saja?? Ada sih temen cewek yang mau ikut, tapi perjalanan tersebut akan menjadi pengalaman pertama baginya, jadi saya tak bisa memprediksi apa yang terjadi.

Terlebih keempat teman saya itu juga, baru perdana mendaki bareng saya. Jadi saya juga tak tahu bagaimana managemen mereka ketika mendaki gunung.

Sebut saja nama mereka Ajun, Kampa, Moha dan Abri. Kami sudah mengenal satu sama lain, namun untuk pendakian, pasti akan berbeda vibes-nya. Mereka juga tak tahu, bagaimana cara aku mendaki gunung. Jadi benar-benar perdana kami mendaki bareng.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Dok. tempo.co)

Minggu pagi, kami berangkat dari Kota Palembang menuju Kota Pagar Alam. Butuh waktu sekitar 8 jam menuju ke kota dengan udara yang sejuk tersebut. Biaya bus Rp 70rb per orang, termasuk harga yang normal jika harus rental mobil.

Minggu sore, kami sudah sampai di rumah Mak Arif, rumah warga yang akhirnya jadi basecamp para pendakian. Mak Arif begitu ramah, apalagi dia sudah sangat akrab dengan Ajun, yang sering bolak balik ke rumahnya dan mendaki Gunung Dempo.

Senin pagi, sekitar pukul 06.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung 4. Menuju ke sana, kami menumpang mobil ke anaknya Mak Arif, Kak Iwan, yang hanya mengambil uang jasa sebesar Rp 20ribuan / orang. Tak butuh lama sampai ke Kampung 4 dan kami langsung mempersiapkan pendakian.

Sekitar pukul 10.00 WIB, kami berdoa bersama dan memulai pendakian dari jalur kebun teh menuju ke Pintu Rimba. Jangan ditanya gimana capeknya, beuh.. capek banget, apalagi si Moha, baru perdana mendaki gunung.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Dok. Petani ADV)

“Wah, capek juga ya, baru sampe di Pintu Rimba. Bagaimana sampai ke atas ya, pasti berat tuh,” celetuk Moha yang buat Ajun kegerahan.

“Husstt.. jangan bilang gitu, pamali. Jalani aja, harus niat baik,” ketus Ajun.

Kami hanya istirahat beberapa menit saja, lalu melanjutkan perjalanan dengan trek yang menanjak. Untungnya, hari itu tidak turun hujan, sehingga jalurnya tidak basah dan becek.

Barulah setengah perjalanan menuju ke Shelter 1, Kampa yang berada di depanku, langsung menghentikan langkahnya. Aku sempat ingin bertanya, kenapa dia yang awalnya bersemangat, tiba-tiba berhenti di tengah jalur pendakian.

“Assalamualaikum mbah,” ucap Kampa yang buat aku langsung mengurungkan niat untuk bertanya..

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Dok. Tribunnews)

Kampa yang aku kenal, memang memiliki kemampuan untuk melihat dunia gaib dan bisa berinteraksi dengan makhluk astral. Jadi, ketika dia bilang begitu, aku sudah paham. Teman-teman pun juga mengerti. Apalagi Ajun, yang memiliki kemampuan yang sama.

“Izin mbah, kami hanya numpang lewat. Itu saudaraku juga mba,” ucap Kampa sembari menunjuk Moha.

Moha yang berada di sampingnya, terlihat kebingungan. Kenapa Kampa menunjuknya. Namun karena Moha ini orangnya agak slengekan, jadi dia tak begitu peduli.

Aku semakin merasa agak bergidik, ketika Kampa mendekati Moha dan mengusap-usap kerilnya dengan komat-kamit di mulutnya yang tak bersuara. Hening sejenak, tiba-tiba dipecahkan dengan suara Ajun yang mengajak kami untuk terus jalan.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Formasi kali ini diubah. Aku dan Abri berada di bagian depan, sedangkan Kampa dan Moha di tengah, Ajun yang berpengalaman mendaki Dempo, menjadi formasi terakhir.

Karena saya dan Abri masih terus berjalan, ketiga teman saya lama-kelamaan tak terlihat. Kami sempat beristirahat hingga menegguk air minum yang kubawa di samping kerilku.

“Ryu, kok mereka lama sekali ya?,” tanya Abri
“Mungkin nungguin Moha, kan dia tadi pelan jalannya,” jawabku singkat.

Aku berusaha mengajak Abri berjalan terus, namun dia sepertinya ingin menyusul ketiga temanku karena merasa cemas. Akhirnya, aku membiarkan dia meninggalkanku sendiri di tengah hutan itu.

Sekitar 10 menit kemudian, terdengar suara teriakan

“Uuuuuwwww,” suara yang terdengar seperti suara Abri.
“Uwwwww,” aku menjawabnya.

Lalu hening…

Karena takut sendirian, aku akhirnya turun ke bawah dan mencari keberadaan keempat temanku. Ternyata, Ajun mengalami cidera kaki hingga tak bisa membawa keril yang bermuatan 100 liter itu.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Dok. Nyero.id)

“Kakiku keseleo nih, Ryu. Jadi maaf ya, agak lambat jalannya,” ucap Ajun sembari mengurut-urut kaki kirinya yang terkilir sehabis tersandung akar pohon.
“Iya gakpapa, kerilnya kasih ke Moha aja, tukeran aja kalian,” jawabku, yang melihat keril Moha hanya berukuran 45 liter.

Lalu, kami berjalan berangsur-angsur, dengan formasi yang diubah kembali. Ajun dan Moha berada di depan, aku dan Kampa mengiringinya di belakang, sedangkan Abri yang terlihat lebih gagah, berada di posisi belakang.

Sekitar pukul 1 siang, kami akhirnya sampai ke Shelter 1. Aku dan Abri, langsung mendirikan tenda, sedangkan Ajun langsung beristirahat di tanah sembari meluruskan kakinya. Moha dan Kampa sendiri, langsung turun ke sumber air untuk mengisi pasokan air minum kami.

Dua unit tenda dengan sukses kami dirikan. Tiba-tiba, hujan langsung turun dengan derasnya. Kami bergegas masuk ke dalam tenda masing-masing.

“Waduh… tendanya bocor,” kata Ajun yang beristirahat di dalam tenda berukuran 4 orang.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Dok. Youtube)

Aku langsung memakai jas hujan dan berusaha memperbaiki bagian tenda yang bocor. Moha dan Abri, berusaha memindahkan barang-barang ke tenda satunya, sedangkan Kampa… yaa, lupa deh dia ngapain…

Setelah tenda sudah aman, kami berlima bergabung di tenda besar dan mendiskusikan jadwal perjalanan.

“Gimana kalo kita turun lagi ke bawah, terus kita sewa tenda. Tenda ini gak aman kalo dibawa ke puncak,” celetuk Ajun.

“Waduh, gak lah. Nanggung kali kalo turun lagi, terus naik. Beda lagi,” protesku dengan permintaan Ajun.

Setelah berdiskusi lama, akhirnya kami bersepakat, jika yang naik ke puncak adalah Abri dan Maho. Ajun merasa dia tak sanggup naik lagi.

Selain kakinya terkilir, penyakit kelenjeran dia kumat lagi dan merasa nyeri jika di cuaca dingin. Kampa juga seakan mengiyakan, apalagi dia mengaku kakinya sakit karena bekas pen yang dipasang di kakinya, mulai ngilu.

Saya pun gak bisa egois, meninggalkan mereka berdua saja dalam keadaan sakit. Akhirnya, saya merelakan Abri dan Maho yang naik berdua saja, dengan membawa tenda kecil dan sedikit logistik.

Malam hari di Shelter 1..
Saya kira, kondisi akan aman-aman saja. Ternyata, saya, Ajun dan Kampa, mengalami hal mistis yang buat kami terdiam dalam malam…

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
(Dok. Pikiran Rakyat)

Lanjut gak nih??? emoticon-Toast emoticon-Traveller emoticon-Traveller emoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
12-06-2022 11:13
Lanjut dong
profile-picture
profile-picture
nefri.ryu dan black.03 memberi reputasi
2 0
2
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
12-06-2022 11:23
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
12-06-2022 12:21
Ninggalin jejak dulu, sepertinya menarique nihemoticon-ceyem
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan nefri.ryu memberi reputasi
2 0
2
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
12-06-2022 19:25
Joss...!!! Ane pantengin yak nih trit.
Kebetulan udah lama kaga nemu trit soal pendakian
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan nefri.ryu memberi reputasi
2 0
2
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
12-06-2022 19:26
Quote:Original Posted By sukhhoi
Mari ramaikan @69banditos @indrag057 @makgendhis @aan1984 @aryanti.story

Hadir Pak Boss! Siap gelar tiker bari nyeduh kopi
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan nefri.ryu memberi reputasi
2 0
2
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
12-06-2022 19:38
Terimakasih sudah hadir mas drag @indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
13-06-2022 23:07
Lanjutkan sis
profile-picture
profile-picture
nefri.ryu dan indrag057 memberi reputasi
2 0
2
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
19-06-2022 01:54

Air Wudhu..

Wuih… saya akhirnya melanjutkan tulisan ini, Minggu dini hari, pukul 1.31 WIB. Kebayang gak, di kamar sendirian, saya harus mengingat kembali kisah horror di saat itu. Agak sedikit mikir keras. Untung ditemani si Bule, kucing nakal saya dan sealbum lagu The Doors yang begitu jadul.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius

Okeh, markijut.. Mari Kita Lanjut…

Saya sebisa mungkin di sana, tidak meninggalkan solat wajib. Walau memang butuh niat yang ekstra, di tengah dinginnya udara, harus bersentuhan dengan air di kulkas. Cerita ini bukan untuk memamerkan ya, tapi dari sinilah bermula ceritanya.

Setelah Maho dan Abri melanjutkan perjalanan di saat hujan sedang berdamai dengan kondisi kami. Tiba-tiba hujan deras kembali mengguyur Gunung Dempo. Kami bergegas masuk ke tenda, yang belum sepenuhnya kami percayai untuk mengamankan kami bertiga di tengah hutan belantara saat itu.

Tapi Alhamdulillah, tidak ada lagi air yang masuk ke dalam tenda, walau rembesan dari balik tenda masih terasa.

Ohya, sebelum turun hujan, sebelum Maho dan Abri berangkat. Saya melihat ke arah jalur turun ke sumber air. Saat itu, saya melihat ada sosok bayangan hitam yang melintas. Ya, saya hanya bisa memalingkan wajah saja dari pandangan sebelumnya, agar tidak parno’an lah.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius

Oke. Waktu magrib pun sudah tiba. Untuk ke luar dari tenda, tidak memungkinkan, dengan rintikan hujan yang masih deras dan angin yang begitu kuat menampar-nampar tenda kami.

Saya hanya bisa membuka sedikit pintu tenda dan mengulurkan tangan dan kaki, untuk membasuh wudhu. Kanpa yang berada di samping saya, membantu menyenteri kaki dan tangan saya yang satu per satu dibasuh air yang begitu dingin.

Tiba-tiba.. Dia menyenter ke arah depan tenda kami.

“Astagfirullah…,” ucapnya dengan begitu keras.

Dia langsung menarik tubuh saya, yang seketika membatalkan wudhu saya yang tinggal dikit lagi. Botol air yang berada di tangan saya, seketika terlepas dari genggaman, airnya pun tertumpah begitu saja di depan tenda kami.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius

Setelah menarik tangan saya, Kampa bergegas menutup resleting tenda kami dengan lafadz istigfar yang tiada henti.

“Aduh, kamu ini. Jadi batal wudhu saya,” ketusku ke Kampa.

“Kamu gak usah marah-marah deh. Kamu gak lihat apa di depan kamu tadi ada apa?,” jawab Kampa dengan wajah setengah pucat.

“Aku gak lihat apa pun, gelap juga. Aku kan fokus berwudhu,” ucapku yang masih kesal.

“Aduh, aku gak bisa ngomong deh. Ntar aja lah tunggu kondusif,” Kampa menjawab singkat, walau dia tau aku begitu kesal dengannya.

Namun sebenarnya, kekesalanku tersebut hanya kamuflase saja. Aku hanya ingin menutupi rasa takutku yang begitu besar. Apalagi si Kampa ini, gak bisa menutupi rasa takutnya ketika melihat ‘sesuatu’ di luar tenda kami.

Ajun yang awalnya sudah tertidur, tiba-tiba terbangun mendengar perdebatan kami yang begitu berisik. Dia membuka resleting sleeping bag-nya dan duduk menghadap kami berdua.

“Kamu lihat juga ya, Kampa,” ucap Ajun yang membuat ketakutanku semakin menjadi.

“Iya,” Kampa menganggukkan kepala.

“Udah ya, gak usah dibahas sekarang deh,” aku berusaha untuk memotong percakapan mereka, yang bisa membuatku semakin ‘gila’.

Namun memang mereka berdua tuh muka badak ya. Masih saja ngobrol tentang apa yang mereka lihat di Shelter 1.

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius

“Itu si mbak baju putih kan,” tanya Ajun.

“Iya, tadi lewat dan ngelihatin kami berdua,” Kampa membenarkan.

“Dari tadi dia mondar mandir sih, tapi aku cuek aja lah. Masih sakit nih kelenjeran di bawah ketiakku,” seloroh Ajun.

Dan akhirnya, cerita horror itu pun mengalir terus seiring dengan hujan yang gak henti-hentinya. Sampai masakanku yang sudah kusiapkan, dianggurinnya saja sama mereka berdua.

Saya gak paham sama mereka berdua. Kan gak boleh cerita apapun tentang hal mistis yang dilihat di gunung, tapi mereka kayak santai aja. Gak tau apa kalau saya benar-benar di ambang stress menghadapi mereka berdua. Tapi apa mau dikata, kalah suara saya mah, hehhee..

Itu hanya bagian awal saja kami diganggu...
Ternyata sebelum dan setelah itu, ada beberapa kejadian yang Kampa, Ajun dan bahkan aku alami, yang tak akan pernah kulupakan..

Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius


Lanjut ya gan besok.. malam ini gak asyik kayaknya nulis horor ginian...
emoticon-Traveller emoticon-Traveller emoticon-Traveller



profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Shelter 1 Gunung Dempo, Badai dan Sosok Misterius
20-06-2022 12:09
Haduh.. selera musiknya
profile-picture
nefri.ryu memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia