Entertainment
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
10
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/628f99f0574bc57ebe55fd60/sampai-kapan-toleransi-umat-beragama-bertahan
Cangkeman.net - Isu klasik yang dihadapi oleh pemeluk agama adalah adanya pendapat tentang kebenaran dan keselamatan hanya habis dibagi oleh kelompok sendiri, yakni; seagama. Mengingat Indonesia memiliki lebih dari satu agama yang diakui oleh negara, pemikiran; “Agama kami yang benar, menyembah Tuhan yang sebenarnya dan keselamatan hanya ada di kami. Sementara agama lain; salah, sesat, dan peme
Lapor Hansip
26-05-2022 22:17

Sampai Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?

Sampai Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?

Cangkeman.net - Isu klasik yang dihadapi oleh pemeluk agama adalah adanya pendapat tentang kebenaran dan keselamatan hanya habis dibagi oleh kelompok sendiri, yakni; seagama. Mengingat Indonesia memiliki lebih dari satu agama yang diakui oleh negara, pemikiran; “Agama kami yang benar, menyembah Tuhan yang sebenarnya dan keselamatan hanya ada di kami. Sementara agama lain; salah, sesat, dan pemeluknya bergaransi tidak selamat hingga hari akhir”, akan menimbulkan konsekuensi berantai.

Perang klaim kebenaran dan menggombalkan janji keselamatan terjadi di sana-sini; baik di dunia nyata maupun dunia maya, tanpa mempertimbangkan bersikap menghargai kepercayaan yang dianut agama lain. Lucunya, mereka melakukannya atas nama Tuhan. Kejadian macam ini yang kemudian memunculkan rasa saling curiga antar-umat beragama.

Dari kecurigaan, bukan tidak mungkin melahirkan konflik antar-agama. Agama yang merupakan sebuah ajaran yang diklaim mengantarkan manusia menuju kedamaian lahir dan batin, justru dijadikan pembenaran atas sikap intoleran sampai kekerasan. Dari skala kecil hingga besar. Dari 'sekadar' sakit hati hingga jatuh korban jiwa.

Jauh sebelum Hindu dan Budha mengantarkan peradaban era klasik, nenek moyang kita memiliki kepercayaan sendiri, menyembah roh pelindung. Mereka percaya bahwa roh pelindung bermukim di tempat tertinggi, yakni; gunung. Maka, demi memudahkan untuk dekat kepada Yang Maha Pelindung, mereka membuat tempat ibadah; punden berundak-undak. Bangsa Babilonia menyebutnya ziggurat. Piramid menurut orang Mesir. Salah satu bangunan yang menyerupai punden berundak-undak adalah candi Kethek, di Karanganyar, Jawa Tengah.


Kemudian, gelombang pengaruh Hindu berlabuh di Indonesia. Lantas, apakah nenek moyang kita menanggalkan sepenuhnya kepercayaan lama dengan mengganti kepercayaan baru? Inilah yang menarik. Nenek moyang bangsa kita, atau secara spesifik, orang Jawa kuno, sadar akan potensi konflik yang terjadi akibat derasnya pengaruh Hindu. Mereka melakukan sesuatu demi menghindari pralaya (bencana) akibat perbedaan keyakinan. Sinkretisasi.

Sinkretisasi dapat dipahami dengan sebuah sikap akomodatif dalam mencari sebuah cara untuk mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan kebutuhan setempat. Dalam kasus ini, nenek moyang kita mencari sebuah cara untuk beradaptasi akibat pengaruh budaya luar tanpa meninggalkan budaya lokal.

Sinkretisasi bukanlah hal mudah. Dibutuhkan sikap fleksibel dan kreativitas tinggi dalam memadukan beberapa unsur. Dalam konteks ini, adanya budaya India masuk dan bersinggungan dengan local-genius di masyarakat Jawa Kuno. Dalam Kitab Tantu Panggelaran, bagian kisah Samudramanthana, proses Jawanisasi terhadap budaya India dijelaskan secara simbolis. Kisah pengadukan samudra versi Tantu Panggelaran berbeda dengan versi India.

Jika proyek Samudramanthana yang terekam dalam kitab Mahabharata bagian Adiparwa, bertujuan untuk mencari Tirta Amerta dan berhubungan dengan sistem kosmologi serta simbol para dewa menurut Hinduisme, Samudramanthana menurut Kitab Tantu Panggelaran mengisahkan pemindahan sebagian badan gunung Mahameru (Himalaya) ke Jawadwipa untuk menyelamatkan Pulau Jawa yang masih mudah terombang-ambing di tengah samudera. Proyek ini dilakukan oleh; para dewa, resi, bidadara, gandarwa, yang dipimpin Batara Guru.

Sampai di sini dapat disimpulkan; sinkretisasi antara Hindu dan local-genius, bukan proses Indianisasi, yang terjadi malah proses Jawanisasi. Artinya, bukan pengaruh India yang mengubah tatanan masyarakat Jawa Kuno, melainkan pengaruh India diadaptasikan ke local-genius.


Kesimpulan di atas juga disimbolkan dengan kejadian; rombongan tewas setelah menenggak air mengalir dari potongan badan gunung Mahameru. Rupanya, air mengandung wisya Kalakuta. Batara Guru yang menyaksikan kejadian tersebut, ikut mencicipinya. Membuat lehernya hangus. Julukan Nilakanta menurut Samudramanthana versi Tantu Panggelaran bermula dari sini. Dengan kekuatan Batara Guru, diubah Kalakuta menjadi Tirta Amerta. Air kehidupan itu dipercikkan ke jenazah rombongan sehingga mereka hidup kembali, dan berpulang ke Pulau Jawa.
Perubahan wisya menjadi air suci merupakan simbol dari penyelarasan ajaran Hindu ke dalam kepercayaan orang Jawa Kuno. Rombongan hidup kembali setelah mendapat percikkan air suci oleh Batara Guru, menyimbolkan; adanya transformasi budaya baru menuju budaya lokal. Hal ini bertujuan agar budaya baru tidak “semena-mena”, karena melalui proses penyesuaian. Rombongan kembali ke Pulau Jawa dapat dipahami; proses transformasi bertujuan untuk mengembangkan budaya Jawa itu sendiri.

Saat rombongan tiba di Jawadwipa, mereka meletakkan hasil pekerjaannya di ujung barat pulau Jawa. Namun, tindakan tersebut hampir melahirkan mahapralaya (bencana besar) di bhumi Jawa. Bagian barat pulau Jawa nyungsep sementara bagian timur terangkat. Kemudian badan Mahameru dipotong lagi. Pangkal Mahameru yang di bagian barat menjadi Gunung Kelasa.

Akibat proses pemotongan itu, menyebabkan badan Mahameru berguguran dan menjadi beberapa gunung di Pulau Jawa, yaitu; Gunung Katong, Gunung Wilis, Gunung Kampud, Gunung Kawi, Gunung Arjuna, dan Gunung Kemukus. Ada sebuah pesan tersirat; budaya asing yang masuk, harus disesuaikan dengan kebudayaan setempat.

Terakhir, puncak Mahameru menjadi Gunung Pawitra. Di masa modern, Gunung Pawitra dikenal sebagai Gunung Penanggungan, berlokasi di Provinsi Jawa Timur. Selain tempat para dewa bermukim, di gunung inilah pusat kosmologi ala Jawa Kuno berpusat. Maka, tak heran, di Gunung Penanggungan terdapat ratusan ritus kuno yang hingga saat ini belum sepenuhnya terkuak. Kitab Negarakertagama bahkan menyebut, Gunung Penanggungan merupakan satu dari tujuh gunung suci para pertapa.


Bahkan, ada juga yang berpendapat, Gunung Penanggungan menjadi alasan Kerajaan Mataram Kuno memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur. Pemindahan itu dipimpin oleh Mpu Sindok yang kemudian hari mendirikan wangsa Isyana. Entah klaim itu betul atau tidak, namun, dalam Prasasti Pucangan (1042 M), Gunung Penanggungan merupakan tempat Pangeran Airlangga bersembunyi dalam lindungan para resi dan komunitas ke-dewaguru-an.

Airlangga merupakan tokoh penting. Setelah Kerajaan Mataram Kuno tamat akibat serangan yang dilakukan Lwaram dan Sriwijaya, Airlangga kemudian membangun kerajaan Kahuripan yang menjadi tunas kerajaan besar di Jawa Timur. Dari Dahanapura (Kerajaan Kediri), Singhasari, dan Majapahit.

Memang, baik sinkretisasi atau sekadar bersikap toleransi, bukan berarti tidak pernah terjadi konflik antar-umat agama pada era Jawa Klasik. Pada tahun 1222 Masehi, raja terakhir Dahanapura; Kertajaya, meminta disembah oleh rakyatnya. Keinginannya mirip dengan Firaun pada masa Nabi Musa.

Sejauh ini, saya tidak menemukan kepastian penyebab Kertajaya menginginkan demikian. Tentu saja keinginan sang penguasa Kadiri ditolak banyak pihak. Padahal di masa itu, agama Hindu-Siwa, Hindu-Wisnu, dan agama Budha, hidup berdampingan. Namun, karena keinginan penguasa, mengantarkan sebuah konflik di kemudian hari. Mereka yang menolak memutuskan hijrah ke Tumapel (Malang). Menjagokan laki-laki beragama Hindu-Siwa. Perang Ganter pun terjadi. Kertajaya dikalahkan oleh pemberontak dari Tumapel, menyebabkan Kerajaan Dahanapura tamat.

Setelah kejadian Perang Ganter, aliran sinkretisme semakin menguat. Agama Hindu, utamanya Hindu-Siwa melebur dengan agama Budha. Melahirkan agama baru, yakni; Siwa-Budha. Memang, tidak semuanya menganut agama tersebut. Ada yang tetap mempertahankan agama lamanya. Namun toleransi antar-umat beragama tetap terjalin. Bahkan sampai era Majapahit.

Ada yang menyatakan sinkretisme merupakan aliran sesat. Saya tidak menyangkal bahwa sinkretisme merupakan bentuk pola pikir yang ekstrim dan radikal. Jika pluralisme 'hanya' menghilangkan eksklusivitas setiap agama sehingga berfokus pada pemikiran bahwa; semua agama benar, dan setiap agama punya jalan keselamatan masing-masing, sinkretisme meleburkan beberapa jenis kepercayaan, dan bukan tidak mungkin menghasilkan agama baru, seperti Siwa-Budha.


Namun, kita harus memberikan penilaian adil kepada para pendahulu kita yang melakukan sinkretisme. Mereka melakukan sinkretisasi untuk mempertahankan local-genius dan sikap toleransi antar-umat beragama. Hingga akhirnya berbagai macam peninggalan mereka bisa dinikmati hingga saat ini.

Misal, ketika mendatangi candi hindu, kebanyakan bangunan itu menghadap gunung. Hal ini terjadi akibat proses sinkretisasi antara budaya hindu dengan kepercayaan kuno. Pun demikian candi yang bernapaskan hasil sinkretisasi agama lain; seperti candi Siwa-Budha yang banyak tersebar di wilayah Jawa Timur. Contohnya, Candi Singhasari dan Candi Jajawi.

Ketika berkunjung, kita akan sadar begitu banyak unsur kepercayaan tersemat dalam satu bangunan. Seolah-olah, para pendahulu sangat bangga menunjukkan hasil upaya mereka dalam mempertahankan local-genius dan toleransi antar-umat beragama. Bahkan, dalam Kakimpoi Sutasoma merekamnya sangat romantis:

“Konon, wujud Siwa dan Budha berbeda. Namun keduanya sama-sama mengajarkan kebenaran. Bhinneka tunggal ika tana hana Dharma mangrwa. Mereka memang berbeda (wujudnya) namun tetap satu (tujuan). Karena tidak ada Dharma (kebenaran) yang mendua.”

Bhinneka tunggal ika kemudian dijadikan semboyan bangsa kita. Dalam hubungan sosial-masyarakat, sejatinya kalimat ini bisa diterapkan lebih luas lagi. Indonesia bukan hanya agama saja yang beragam, tapi juga; suku, etnis, budaya, dan lain sebagainya. Banyaknya keragaman namun sesungguhnya kita tetap satu; Bangsa Indonesia.

Toleransi. Sebuah sikap yang dibangun oleh generasi terdahulu, lalu diwariskan ke generasi selanjutnya. Jika punya waktu luang, sempatkan membaca sastra kuno, sejarah, atau mengunjungi berbagai candi yang tersebar diberbagai wilayah. Sekadar merayakan dan mengingat sikap toleransi antar-umat beragama. Ketika melakukannya, mungkin juga mengingat bahwa para pendahulu kita pernah hidup berdampingan dan saling menghargai. Sudah seharusnya sikap itu tetap dipertahankan di masa kini hingga mendatang.



Tulisan ini ditulis oleh Angga Prasetyo di Cangkeman pada tanggal 22 Maret 2022.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
emineminna dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Masuk untuk memberikan balasan
the-lounge
The Lounge
42.7K Anggota • 907.7K Threads
Sampai Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?
26-05-2022 22:38
Entah
Tergantung gmn orgnya


Kalau agamanya ngajarin untuk memusuhi sesama


Gak butuh 1 bulan untuk membuat kekacauanSampai Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Sampai Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?
26-05-2022 23:49
Quote:Sampai Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?


Kuncinya ada di pemimpinnya. Kalau pemimpinnya moderat dan bertoleransi, ya bakal langgeng rukun semuanya.

emoticon-Nyepi
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Sampai Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?
27-05-2022 06:41
Tapi toleransi di sini udah mulai pudar
{thread_title}
0 0
0
Sampai Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?
27-05-2022 06:46
selama masih ada kasus video porno

selama itu juga masih ada persatuan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Sampai Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?
27-05-2022 11:32
toleransi umat beragama akan terancam jika ada politik identitas dan perebutan kekuasaan.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia