Female
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
157
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6278e747be4bce27597107b8/quotcuma-menghidupi-anak-orangquot-sebuah-kisah-nyata-yang-sedang-berlangsung
Halo agan-sista semua… semoga sehat semuanya… di sini saya hanya ingin berbagi pengalaman pernikahan yang sudah berlangsung 4 tahun dan juga secara tidak langsung curhat untuk ngurangin tekanan kepala, tentang pernikahan saya dengan istri saya yang saya sayangi, ga tau juga sebaliknya, hehe..
Lapor Hansip
09-05-2022 17:04

"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung

Past Hot Thread
Halo agan-sista semua… semoga sehat semuanya… di sini saya hanya ingin berbagi pengalaman pernikahan yang sudah berlangsung 4 tahun dan juga secara tidak langsung curhat untuk ngurangin tekanan kepala, tentang pernikahan saya dengan istri saya yang saya sayangi, ga tau juga sebaliknya, hehe..
 
Sedikit background saya dan istri saya.. Saya Ardi (nama pengganti) anak ke 4 dari 5 bersaudara , berasal dari keluarga sederhana, Bapak saya keturunan tionghoa (muslim KTP), ibu saya keturunan sunda (muslim lumayan taat).. nilai-nilai yang ditanamkan kepada saya adalah kemandirian, kejujuran, dan kerja keras. Dari kecil kami hanya hidup pas-pasan, untungnya bapak saya masih memiliki kemampuan usaha dengan membuka bimbingan belajar di rumah (masih berlangsung sampai sekarang, umur 70 tahun), sehingga semua anaknya berhasil lulus sarjana (Teknik semua). Semenjak SMP saya sudah diminta ngekost supaya bisa mandiri. Saya bukan muslim yang taat, tapi shalat minimal setahun 52x ditambah 2 yang pertahun, minimal tapi, ada kalanya saya juga shalat wajib, hehe.
 
Istri saya Ida (nama pengganti) anak pertama dari 3 bersaudara, (berdasarkan observasi saya, jadi ini persepsi saya, bisa salah) berasal dari keluarga berkecukupan, Bapak dan Ibunya keturunan Sunda (muslim idealis, tapi praktik hidupnya banyak kontradiksi dengan ajaran agama).. Nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya adalah kebersamaan, ketaatan pada agama. Saya tidak tau betul sejarah keluarganya, yang saya lihat, dari kecil (sepertinya) istri saya memang selalu dituruti keinginannya (fakta), selalu didukung mimpi-mimpinya, tidak pernah dimarahi (fakta). Semua anak-anaknya dikuliahkan, istri saya sudah selesai (dokter), kedua adiknya sedang kuliah (dokter, dan Teknik). Istri saya muslim yang kontradiktif juga, kalau bicara kehidupan seringkali ada nama Allah disebut, dikaitkan dengan takdir dan rejekinya, shalat di depan orang tuanya, absen kalo lagi sama saya, wkkwk.
 
 Saat ini umur saya 29, dan istri saya 28. Awal mula cerita kami terjadi jauh saat kami masih SMA, dulu kami satu kelas, kami sempat dekat namun tidak sampai pacaran.. kami ketemu lagi saat saya baru lulus kuliah, istri saya waktu itu masih koass.. kami awalnya cuma ketemu aja sama teman-teman lainnya, karena pada saat itu juga saya masih punya hubungan dengan mantan pacar saya (putus karena mantan saya terlalu fokus dengan materi, dan prinsip saya adalah materi bukan segalanya, karena bahagia berdasar dari dalam diri sendiri melalui rasa bersyukur, yang sampai saat ini masih saya jadikan prinsip dan masih saya pelajari karena memang sulit sekali untuk bersyukur)… istri saya, sejak SMA tidak pacaran lagi sampai akhirnya ketemu dengan saya, saya putusin pacar saya, dan saya serius dengan istri saya. Dulu 2 tahun pacaran dengan dia (dari awal 2016-2018, setelah putus dengan mantan, saya tidak nembak istri saya, saya hanya jalani serius saja, anggap saja pacaran ya) dia sangat perhatian, sangat ingin dengan saya, sampai saya yang agak risih awalnya.. tapi setelah dipikir-pikir, saya ingin pasangan yang seperti ini, orangnya juga dulu gak materialistis (mungkin karena berasal dari orang berada), karena itu saya mau serius dengan dia.. dari fisik istri saya ini biasa saja, kalau mau dibandingin, lebih banyak cewe-cewe yang mau sama saya daripada cowo-cowo sama dia (setengah bercanda ya, hehe). Pokoknya saya mau sama istri saya karena sifatnya, cinta saya juga ke dia hanya berdasarkan keyakinan kalau saya pada akhirnya akan mencintai dia karena rasa nyaman yang dia beri, karena dia akan ngikutin kehidupan saya, susah atau senang. Oya, awal ketemu dulu saya masih pengangguran, baru lulus kuliah, tapi ada perempuan yang mau sama saya segitunya, ini juga yang ngebuat saya yakin dia akan selalu ada untuk saya ketika situasi sulit. Setelah 4 bulan pacaran dan nganggur, akhirnya pertenganan 2016 saya diterima kerja di persuahaan yang udah cukup lumayan, walaupun lokasi kerjanya terpaut 3 zona waktu alias jauh, saya tetap ambil karena saya harus mandiri, ga enak juga sama orang tua kelamaan nganggur.. sejak saat itu lah saya LDR dengan dia, satu setengan tahun pacaran jarak jauh, dan akhirnya menikah di awal 2018. Waktu LDR sih beberapa kali saya bilang ke dia kalau saya pasti ga akan lama di perusahaan ini, karena terlalu jauh, kerjaannya gak sesuai ekspektasi dan saya ingin dekat dengan dia,,, respon dia waktu itu selalu mengiyakan, biar dekat. Singkat cerita, setelah menikah, sedikit demi sedikit semua berubah, berubah karena diri kami masing-masing + keluarganya..
 
Awal mula kami menikah sebetulnya diwarnai oleh orang tuanya yang minta menyegerakan, padahal saya berencana mau menyiapkan semuanya dulu, terlebih saya masih graduate program di kerjaan saya.. saya Cuma ingin keuangan keluarga kecil saya stabil nantinya, karena saya tau banget seperti apa kebutuhan dalam berkeluarga.. di saat itu belum ada persiapan matang acaranya seperti apa, karena minta disegerakan, dan jadwal saya pulang juga masih setahun 2x (karena masih graduate program), alhasil yang dilaksanakan adalah akad dulu (walaupun bagi saya itu sudah termasuk resepsi, karena ada tenda, banyak tamu undangan, seperti pernikahan pada umumnya yang dilakukan di rumah). Posisi tabungan saya waktu itu hanya sekitar 40 juta, tapi Ketika saya mau ikut menyumbang, orang tuanya menolak (pada dasarnya mereka sangat baik), dan akhirnya uang itu kami gunakan untuk honeymoon, aseek. Resepsi masih menggantung saat itu...
 
 Di awal pernikahan, saat itu istri saya melanjutkan studi kedokterannya dengan melaksanakan Internship di Rumah sakit di luar kota, jadi awal pernikahan itu, istri saya ngontrak rumah di kota tersebut sendirian.. walaupun LDM (long distance marriage), awalnya kami bahagia, dengan pertengkaran-pertengkaran kecil kami yang wajar, sudah lupa sih dulu ngeberantemin apa aja, yang pasti ini ga berlangsung lama.. hari demi hari kami masih berkomunikasi jarak jauh, saya belum cinta-cinta amat sama istri saya, tapi saya belajar mencintai dia apa adanya. Di pertengahan 2018, akhirnya saya dapat kontrak permanen dari perusahaan saya, dan saya bisa lebih sering cuti (setahun 6-7x), mulai saat itu saya merasa butuh dengan pekerjaan saya walaupun saya sebetulnya tidak nyaman dan ingin pindah, tapi apa mau dikata, kebutuhan rumah tangga yang ga habis-habis, kami yang masih boros, membuat saya bertahan, berkali-kali curhat dengan istri, kami hanya bisa sabar…
 
Pada suatu cuti setelah jadi karyawan permanen, saya pulang tidak bilang-bilang… malam hari saya sampai di rumah kontrakan istri saya, disaat itulah saya tau betapa ga teraturnya hidup istri saya Ketika saya dibukakan pintu oleh istri saya dan melihat “kapal pecah” (kiasan orang tua saya jaman dulu, haha). Mukena di atas tempat sampah, pembalut bekas yang sudah membusuk ada di sudutan kamar dan kamar mandi, mau jalan juga harus lompat-lompat supaya ga nginjak barang-barang, cucian piring sampai busuk berjamur.. karena capek, akhirnya saya terima dulu apa adanya, dan ikut bantu beresin walaupun saya sambil ngedumel.. Ga cuma itu, besoknya saya lihat ke dalam mobil, ibarat mobil sampah, semua barang jadi satu, dokumen penting, sampai sisa-sisa makanan ngumpul di situ.. semakin pusing saya lihat hal-hal seperti itu.. yang ada dalam pikiran saya, “kamu urus diri sendiri tanpa harus urusin suami aja masih belum bisa, gimana kamu mau rawat anak kalau seperti ini”. Cuti itu saya sering ngedumel biar istri saya ga seperti itu lagi, dan dia bilang iya… saya waktu itu belum tau “iya”nya dia itu ternyata cuma biar saya ga ngedumel terus.. akhirnya cuti saya habis, saya pun balik ke jobsite… di komunikasi kami, saya selalu ngingetin dia untuk hidup lebih teratur, merawat diri, merawat yang kami punya.. tapi seringkali cuma dijawab “iya” tanpa dilakukan.. hal ini membuat saya harus negasin ke istri saya, dan saat itulah hal pertama terbesar yang di pertengkaran kami terjadi, saat itu saya bilang ke dia “kalo kamu cuma iya-iya saja tanpa dilakukan, untuk apa kita menikah, ga ada Kerjasama, sama saja saya cuma menghidupi anak orang kalau seperti ini”. Analogi saya tersebut jelas bukan tanpa alasan, saya kerja jauh, dia ga perlu ngurusin saya, bahkan di rumah pun Ketika saya cuti, saya yang selalu bersih-bersih, cuci baju, cuci piring, dan pada akhirnya saya merasa tidak menemukan kontribusi istri saya dalam pernikahan ini. Namun di sisi lain, istri saya menanggapi ucapan saya dengan begitu sakit hatinya, sejak saat itu juga saya sudah mulai merasa istri saya makin jauh dari saya dan cenderung selalu memilih keluarganya ketimbang saya. Tapi waktu itu karena dia masih tinggal di luar kota dan jauh dari orang tua, keadaan jadi terasa biasa-biasa saja, komunikasi juga masih baik.
 
Karena saya yang sudah tau dia kalau diingatkan cuma “iya” saja, semenjak itu juga saya suka “menghukum” istri saya dengan cara mendiamkannya, karena saya tidak tau harus gimana supaya istri saya mau kerja sama,, dan ternyata dia begitu tersiksa dengan saya yang menghukum dia dengan diam. Namun alih-alih melakukan perubahan supaya saya tidak kecewa, dia tetap sama, masih belum bekerja sama.. sampai akhirnya saya capek sendiri ngedumel terus, setiap cekcok selalu dengan topik yang sama….
 
Singkat cerita, ¾ akhir 2018 saya cuti lagi, orang tuanya sudah mulai menanyakan kapan resepsi, jadi resepsi atau nggak, mau resepsi dimana, dllllll, yang bikin saya stress sendiri karena saya belum punya tabungan.. FYI, sebelumnya pada saat melamar istri saya, Bapaknya sempat berkata : “Akad akan jadi tanggung jawab saya, resepsi nanti tanggung jawab ardi”. Hal itu menempel di benak saya, karena saya yang harus bertanggung jawab. Berkali-kali diskusi dengan istri, menyarankan daripada kami resepsi, mending uangnya buat beli rumah,, awalnya istri saya masih belum bisa nentuin, tapi karena pertanyaan orang tuanya yang terus menerus keluar, istri saya memilih untuk resepsi.
 
Akhirnya setelah berfikir keras bagaimana caranya dapat uang ini, saya berdiskusi meminta tolong ke orang tua saya, kebetulan orang tua saya punya rumah yang tidak terpakai, dibeli orang tua saya dari uang pensiun ibu saya.. saat itu dealnya adalah menjual belikan rumah tersebut dari orang tua ke anak menggunakan KPR, jadi uang yang cair yang harusnya seluruhnya milik orang tua saya, saya pinjam Sebagian untuk biaya resepsi, saya masih ingat persis, harga rumah 300jt, DP tipu-tipu 60jt, pokok pinjaman 240jt, cicilan 5jt perbulan selama 5 tahun, lunas akhir 2023.. jadi dari 240jt yang dicairkan, 120jt diambil orang tua saya, 120jt saya pinjam untuk resepsi. Oktober 2018 saya confirm ke keluarga istri saya bahwa resepsi akan dilaksanakan desember 2018 dengan mengirim uang 120jt ke istri saya. Saya mengingatkan ke istri saya, bahwa ini adalah hutang yang harus kita bayar..
 
Resepsipun dilaksanakan, dengan uang seadanya, tapi ternyata istri saya sangat kalap Ketika memilih vendor, semua dia ingin yang terbaik, sampai MUA saja pakai yang terkenal dari bandung, yang dipakai lesti kejora dan risky bilar, gokil gak tuh… usut punya usut, biaya resepsi meledak di atas 300jt, saya ga tau detilnya karena saya juga malas tau, yang pasti sejak itu saya merasa ada hutang materi besar ke orang tua istri saya. Saya tipe orang yang sama sekali ga mau punya hutang ke orang, kalau punya hutang, saya harus ganti, namun disaat yang sama, saya tidak bisa ganti sebanyak itu, ditambah sudah ada cicilan KPR. Semenjak itu, saya semakin tidak mau menerima apapun dari orang tua istri saya.
 
2019 pun tercapai, di bulan januari saya mendapat info kalau istri saya hamil, senang sekali rasanya, betul-betul mulai merubah saya walaupun secara perlahan, saya mulai sedikit demi sedikit menahan dumelan ke istri saya, dan lebih fokus ke kandungan.. masih ada cekcok, saya masih suka dumel, saya juga menyesal sih dulu seperti itu.. kasihan juga istri saya hamil harus sendirian, diomel terus lagi, walaupun intensitas sudah berkurang… sampai saat ini saya masih belum tau kalau sakit hatinya istri saya terus mendalam yang dimulai dengan ucapan “cuma menghidupi anak orang”. Perlahan-lahan istri saya mulai membangun tembok..
 
September 2019, anak saya lahir, bahagianya saya dan istri saya, merasa semua akan membaik setelah adanya anak yang sangat kami cintai… tapi ada hal yang membuat saya sakit hati kepada orang tua istri saya, ketika keluar rumah sakit, saya disuruh untuk membawa mobil sendiri, sepanjang 1.5 jam perjalanan saya menangis di dalam mobil kenapa bukan saya yang membawa istri dan anak saya pulang? Sampai saat inipun, Ketika saya membuat tulisan ini, saya masih menangis, masih sangat jelas merasakan sakitnya diperlakukan seperti itu. Sekeras apapun menerima maksud dari mertua saya agar kalau istri saya butuh bantuan, ada ibunya yang bisa membantu,,, terus kenapa ga ibu mertua saya aja yang ikut ke dalam mobil yg saya kendarai, dan bapak mertua saya yang bawa mobil sendiri? Kenapa harus seperti itu? This is when I started to hate them, walaupun pada dasarnya mereka baik, tapi mereka secara tidak sadar terlalu banyak masuk ke keluarga saya, menjauhkan istri saya dari saya.
 
Anyway,, perlahan-lahanpun saya mulai mencintai lebih kepada istri saya, terlepas dari harapan-harapan saya thd istri saya yang tidak terpenuhi, cinta saya tetap bertumbuh.. tapi sayangnya tidak bagi istri saya… semenjak internshipnya selesai, saat hamil besar istri saya sudah tinggal di rumah orang tuanya lagi. Setelah melahirkan sampai saat ini dia masih tinggal dengan orang tuanya. Padahal, saya sudah bilang kalau rumah yang tadinya pura-pura dibeli untuk pinjam uang itu akan betulan saya beli dari orang tua saya, waktu itu uang penggantinya sudah mulai saya kumpulkan, dan pada akhirnya di 2020 saya membelikan mobil untuk orang tua saya seharga 180jt untuk menggantikan sisa uang pembelian rumahnya (total 300jt harga rumahnya) yang saya lakukan dengan mencicil 5jt perbulan sampai akhir 2023. Tapi istri saya menanggapi itu dengan berbeda, dia merasa saya memberi lebih banyak ke orang tua saya daripada ke dia. Padahal, saya sudah memberikan modal resepsi ditambah rumah untuk ditinggali, tapi sepertinya dia tidak bisa mikir sejauh itu.. saya pun sudah bilang, ciicilan2 ini akan berakhir di 2023, setelah itu kita bisa menikmati hidup… tapi itu tidak digubris, dan dia pun semakin menjauh..  Sejak saat itu, setiap ada masalah antara saya dan dia, dia cenderung ga mau menghadapinya, dia merasa nyaman dengan orang tuanya… saya semakin stress karena semua masalah kecil menggantung begitu saja tanpa ada solusi.. hari demi hari istri saya hanya fokus dengan anak kami, bukan hal yang salah, tapi dia meninggalkan saya sendiri di tempat yang jauh..
 
Lalu datanglah pandemi covid di maret 2020, istri saya yang saat itu merawat anak saya yang berumur 6 bulan pun menderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder) yang menyangkut kebersihan.. semua permukaan barang dia anggap kotor, dia tidak keluar rumah selama berbulan-bulan, anak sayapun jarang sekali menikmati udara luar meskipun hanya di halaman rumah orang tuanya, karena istri saya yang tidak mau kotor. Berbotol-botol alkohol dan hand sanitizer habis dipakai setiap harinya untuk menyemprot dan melumuri permukaan-permukaan barang dimanapun dia berada.. Ketika saya cutipun saya harus betul-betul higienis untuk masuk kamar, higienis dalam arti yang sangat-sangat berlebihan, 2020-2021 menjadi mimpi buruk bagi saya.. walaupun saya tau istri saya sangat menderita dengan OCDnya, tapi tidak ada yang tau betapa menderitanya saya hidup dengan pasangan yang memiliki OCD.. berkali-kali saya ajak dia untuk ke psikiater karena hidupnya sudah di luar normal, berkali-kali juga kami bertengkar hebat.. dia lebih mementingkan karir dokternya, karena dia takut histori Kesehatan mental dia akan menghambat karir dokternya.. di posisi saya waktu itu, semua serba salah, berkali-kali ingin menyerah, diapun sama..
 
Dengan OCDnya, hingga saat ini, saya sulit sekali menjalin komunikasi.. pertama, sebelum istri saya kerja sangat sulit dihubungi karena hidupnya tidak teratur,,  saya berusaha memaklumi karena istri saya capek merawat anak.. kedua, HP istri saya seringkali kehabisan baterai, dan setiap kehabisan baterai, HPnya hampir pasti susah dicharge, karena istri saya pasti melumuri HPnya pakai alkohol/hand sanitizer, jadi port chargingnya selalu basah,, HPnya mati rekor bisa sampai 2 hari, rata-rata 1 hari.. ketiga, di tempat saya kerja berbeda 2 jam dari di rumah, jam 7 pagi di tempat saya mulai kerja, di sana masih jam 5 subuh, istri saya rata2 bangun jam 8-9, itupun sekarang langsung kerja, dia pulang kerja jam 21.00, saya di sini udah tidur karena udah jam 23.00 malam, begitu terus setiap hari. Di hari dia off pun, bangunnya siang, hp baru dinyalain siang.. cape hati membangun komunikasi, lama-lama saya merasa dia sengaja melakukan ini untuk menghindari percakapan dengan saya. Keempat, Ketika sudah vcall atau telpon, cenderung mengalihkan ke anak, anak saya masih baru bisa ngomong, harus ngomong apa saya disuguhin anak terus, sekarang malah kalau vcall, anak saya suka ditinggal sendiri dengan saya, dan karena anak saya juga suka sibuk main sendiri, ya saya udah cukup seneng sih bisa dengar anak walaupun cuma bisa ngeliatin plafon rumah karena hp cuma ditaro begitu aja.. tapi lama-lama cape hati juga.. tapi bisa apa, kalau saya nuntut, pasti berdebat ujungnya..
 
Semua diperburuk dengan semakin memburuknya hubungan saya dengan orang tuanya, saya keluar dari grup-grup whatsapp keluarga besar mertua saya yang entah kenapa saya dimasukkan ke situ, sayapun keluar grup keluarga istri saya, karena saya sangat-sangat stress akan keadaan keluarga saya, keadaan istri saya yang lebih memilih dengan orang tuanya ketimbang saya. Bapak mertua saya marah besar, tapi saya sudah tidak peduli, karena yang saya mau dari dia cuma anaknya. Tapi seakan-akan harapan makin menipis, rumah yang saya belipun jadi tidak berguna karena tidak pernah ditempati istri saya.. kata-kata perpisahan sudah mulai keluar dari ucapan2 kami, yang semakin membuat saya putus asa..
 
Akhir 2021, istri saya mulai membaik, dia sudah mulai berani keluar rumah dan akhirnya mendapat pekerjaan yang lokasinya cukup jauh, setiap hari dia menghabiskan waktu 2-3 jam untuk PP, karena dia merasa tempatnya bekerja lebih dipandang daripada yang di kotanya sendiri. Berkali-kali saya ingin resign, tapi jawaban istri saya sekarang sudah beda, “jangan, nanti kita ga cukup”. Usut punya usut, setelah sekian banyak pertengkaran kecil, saya tau istri saya bekerja karena merasa apa yang saya kasih tidak cukup, padahal sebetulnya, tinggal sesuaikan aja lifestylenya, kalau ikutin lifestyle orang tuanya, ya jelas ga cukup lah… tapi istri saya ya begitu, belum bisa berubah untuk mengatur detil kehidupannya..
 
Komunikasipun makin memburuk… berantem pun masih di hal-hal yang sama… sampai di awal 2022 ini, hubungan kami makin di ujung tanduk, saya coba komunikasi lagi dengan orang tuanya, terutama Ibunya, tapi dasar Namanya anak sendiri, selalu dibela, saya yang harus terus ngalah, saya yang harus membuat dia nyaman… Ketika ngobrol itu juga, saya akhirnya sadar, saya ga akan bisa sejalan dengan pikiran orang tuanya. Asal agan sista tau, beliau bicara seperti ini : “ Ida itu kerja siang malam, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ida juga ga pernah cerita ke Ibu, karena Ida ingin menutupi kekurangan suaminya, supaya suaminya ga malu.. Ibu tau ardi banyak tanggungan, tapi dahulukan lah istri (tanggungan ini yang dimaksud adalah karena saya beli mobil untuk orang tua saya, padahal itu mobil jadi rumah dan modal resepsi untuk jagain gengsi keluarganya)”, dan saya terkedjhoet dalam hati, what the hell was she talking about????
 
Lanjut di bawah.....


Diubah oleh komokgilla
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 27 lainnya memberi reputasi
28
Masuk untuk memberikan balasan
wedding--family
Wedding & Family
2K Anggota • 9.1K Threads
Halaman 1 dari 4
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
09-05-2022 17:05
Saya akhirnya terlalu capek untuk mengemban ini sendiri,, dan kakak perempuan saya lah yang saya jadikan tempat cerita.. And Man, what a blessing to have such Sister. Saran yang kakak saya beri itu bagai siang dan malam kalau dibandingin sama ibu mertua saya. Bisa membuat saya lebih berpikir jernih dalam menanggapi situasi.. dan setelahnya, saya Kembali ke istri saya, lalu mengatakan “Bun, maaf ya, selama ini maksud ayah untuk kebaikan kok, mungkin cara ayah yang salah selama ini.. ibun kasih kesempatan ayah pakai cara yang lain ya?”, damn, walaupun saya tau itu bukan kesalahan saya sepenuhnya, saya masih mau mempertahankan ini. Saya berubah drastis, saya tidak pernah ngedumel, saya tidak pernah nyuekin lagi, saya tidak pernah marah-marah, saya tidak pernah protes lagi.. tapi ternyata,, istri saya masih tetap sama.. saya masih sulit komunikasi, istri saya makin ga peduli dengan saya, saya makin jarang tau kabar anak.. patah hati betul rasanya…

Saat ini, karena istri bekerja jauh, dan senang dengan pekerjaannya, akhirnya kami memutuskan untuk ambil rumah di area sekitar tempat kerjanya.. awalnya saya hanya mampu ambil yang 700jtan aja.. tapi ternyata dengan harga segitu hanya dapat rumah tanah yang betul2 minimalis.. saya juga ga mau sih,, akhirnya kami memutuskan ambil rumah yang harganya 1.2M, dengan kesepakatan dia ikut patungan nyicil 5jt sebulan, karena saya udah terlanjur punya cicilan 10jt perbulan saat ini, itupun perlu berantem sana sini supaya dia mengerti..

Saya tahu sih dia sebetulnya sayang sama saya, tapi ada tembok tinggi yang membatasi dia.. saya ingin sekali mengeluarkan dia dari lingkaran keluarganya, tapi sulit sekali,, satu-satunya cara adalah dengan menuruti keinginan dia untuk beli rumah di dekat tempat kerjanya, walaupun sangat mahal, terlebih dia saat ini baru saja mulai mengandung anak ke2 saya, semoga saya masih sanggup. 😊

Terakhir komunikasi kemarin malam, diskusi betapa beratnya kehidupan kami,, dia sudah berat untuk tetap Bersama saya, saya sudah berat untuk mempertahankan ini semua.. tapi masih saya pertahanin kok, demi keluarga dan anak-anak, walau kadang ragu apakah mungkin berhasil 😊


"Ga semua mertua yang baik itu yang dibutuhkan keluarga muda, di kasus saya, mertua saya malah menghancurkan keluarga saya tanpa mereka sadari"

Sebetulnya banyak yang ga tersampaikan di thread ini, nanti saya coba lengkapi supaya cerita pengalaman saya ini lebih komprehensif, semoga bisa berguna, setidaknya terhibur dengan cerita saya.. doakan juga saya kuat sampai ajal mempertahankan ini semua, kalau sampai gagal, saya kapok punya istri, mending saya kerja keras untuk anak-anak saja 😊

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bonus : hal-hal aneh dari keluarga mertua saya :

- Di ulang tahun ke-2 anak saya, september 2021, mertua saya menghadiahi anak saya mobil, sebetulnya saya ga mau juga pemberian-pemberian begitu, karena saya tau, maksud sebenarnya adalah untuk istri saya, karena istri saya kerjanya jauh.. tapi asal agan sista tau, mobil di rumah mertua saya sebelumnya ada 4, dan sehari-hari paling kepake 2 doang, sekarang ada 5, 1 harus diparkir di luar.. gaya hidup yang sama sekali saya ga mau ada di keluarga saya, terus-terusan terjadi karena orang tuanya. Celakanya, bapak mertua saya pensiun akhir tahun lalu, dan ternyata 2 dari 5 mobil itu masih nyicil, salah satunya adalah mobil yang dipakai istri saya. belakangan udah mulai curhat tuh kalo cicilannya udah mulai memberatkan, yang pada akhirnya sekarang cicilannya pakai gaji istri saya. saya cuek sih, toh biar istri juga merasakan perjuangannya, yang selama ini cuma tau dikasih aja.. cuma ya ilfeel aja sama mertua, ga pikir panjang, ga jelas banget.

- udah tau keuangan udah mulai sulit, pertengahan tahun ini mertua saya dan 2 adik ipar saya malah jalan-jalan ke turki. ya memang sih untuk mertua saya biayanya dikasih istri saya, tapi ga mikir prioritas apa ya? padahal beberapa kali mertua saya kelimpungan buat ngebiayain adik ipar saya sekolah kedokteran. cara hidup macam apa itu..

- sebelum pandemi, pada saat gencar-gencarnya pilpres 2019, teman-teman istri saya main ke kebon duren milik keluarga mertua saya, awalnya biasa saja, sampai saya ga sengaja mendengar ibu mertua saya bilang ke teman-teman istri saya : "gak tau tuh suaminya Ida kesambet , pilih jokowi".. anjrit, ga nyangka sih sedangkal itu.. ane tau sih mertua saya simpatisan FPI, 212, PROSAN, tapi saya ga nyangka aja sampe dia bilang seperti itu ke teman-teman istri saya.

- awal-awal pandemi, pembantu-pembantu di rumah mertua saya pada minta pulang semua, ga ada satu anaknyapun yang peduli akan baju2 kotor, cucian2 kotor, rumah yang makin hari makin acak-acakan.. dibiarin semua.. aneh sih..

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

UPDATE 17 Mei 2022

Wah, luar biasa memang komunitas kaskus.... seminggu ke belakang saya banyak pekerjaan, baru sempat lihat trit saya lagi, taunya udah jadi hot thread di forum ini, emoticon-doctor emoticon-doctor

Terima kasih banyak untuk semua masukkannya, baik yang positif dan negatif, I really appreciate it, Thank You!

Back to topic, saat ini komunikasi saya dan istri saya masih so-so... weekend lalu kejadian yang sama terulang lagi, rasanya udah kayak biasa aja kesini-sini.. jadi,, hari jumat siang, HP istri saya habis,, posisi dia lagi USG untuk kontrol kandungan anak saya yang ke-2,, dia sempet sih ngabarin saya via WA ibunya.. tapi ya that was it, baru bisa komunikasi lagi hari minggu sore via pesan instagram, ngabarin kalo HPnya ga bisa dicas (ada tanda kemasukan air pas dicas, biasalah, HP dilumurin hand sanitizer tiap hari). mau marah juga udah bosen dan males buang-buang energi, wkwk... yang penting dia, kandungan, dan anak saya baik-baik saja..

tadi siang saya kaget tuh istri saya nelpon via nomor toko jualan online istri saya, tumben-tumbennya nelpon saya... eh taunya minta duit, duit do'i abis buat bayarin tour orang tuanya ke turki, haha, yowes tak transfer... kalo dipikir-pikir, setiap ada kebutuhan apapun, saya selalu ada, karena saya memang mempersiapkan hal-hal tersebut untuk keluarga saya, tapi entah kenapa saya merasa kurang dihargai.. tapi yasudahlah, saya sudah mulai terbiasa.

anyway, saat ini saya sedang mendalami filosofi teras, alias stoicism,, dan ini sangat membantu.. bahagia, rasa syukur, ternyata harus berasal dari dalam, bukan dari luar.. saya sih masih belum sedalam itu ya implementasinya, masih perlu stimulasi dari luar, tapi udah mulai menurun alias ga terlalu banyak berharap, makanya, ketika anak, kandungan, dan istri saya baik-baik saja, itu sudah mulai cukup untuk saya... agan sista harus mencoba ini biar hidup ga kebawa stress terus... emoticon-Smilie

Sekali lagi saya sampaikan, thread ini saya buat memang untuk berbagi cerita, bagi saya ini bisa untuk ngurangin tekanan, bagi yang membaca bisa jadi perbandingan juga untuk agan-sista yang pengen tau kehidupan keluarga orang-orang,,, yang pada dasarnya ga ada yang sempurna... ada yang lebih mending dari saya, ada juga yang lebih parah dari saya, semua kembali ke diri masing-masing... emoticon-Smilie
Diubah oleh komokgilla
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aremdaun dan 18 lainnya memberi reputasi
19 0
19
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
09-05-2022 17:44
Akhirnya selesai baca..
Panjang juga ya..
Hehe..

Coba lebih mendekatkan diri ke yg Kuasa biar agan tenang..
Jangan terlalu di ingat2 kesalahan yg sudah lama..
Setiap orang pasti ada kesalahan..

Problem agan sekarang kalau saya lihat krn jarang ngumpul.. coba cari solusi bagaimana caranya bisa 1 rumah .. mungkin agan dulu yg ngalah berenti kerja sambil cari kerjaan yg 1 kota dgn istri .
Saya punya anak 3 dan istri tidak bekerja.. dr penghasilan tentunya jauh dibawah agan dan istri.. coba kurangi hutang..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
09-05-2022 18:46
Biasa ya lagi lagi masalah ekonomi, saya jg ldr gegara ekonomi
0 0
0
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
09-05-2022 20:50
Ane juga LDM.
suami pulang rumah acak2an, lantai kotor, baju kotor numpuk. Ga ada nasi.
Biasa aja sih ga pernah protes ga pernah ngambek.
Ortu ane juga biasa aja, ga pernah minta macem2 ma mantunya.
Ya lurus2 aja pernikahannya walau LDM.
Ane suruh cari bini baru di rantau biar ada yang ngurus. Tapi belum nemu kyknya.
profile-picture
madjoeki memberi reputasi
1 0
1
Lihat 14 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 14 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
09-05-2022 23:45
Ini cerita beneran nyata?
Tujuannya cuma buat menuangkan kisah hidup atau sekaligus minta saran & kritik?
Kalau pengen dikasih saran & kritik, boleh bahas hal2 yg cukup mengherankan bagi gw walau itu udah terlanjur terjadi? Karena menurut gw yg lu alamin sekarang itu hasil dr tumpukan & rentetan kejadian dr awal hubungan yg terus menerus menggulung jadi besar.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tulip.putih dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
10-05-2022 03:25
Kisah yg menarikemoticon-Cool
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
10-05-2022 07:04
Saya cukup prihatin... makany sih dr awal harusnya nyari yg setara, byk kasus jomplang begini nih kl keluarga cewe lbh kaya drpd cowo.

Tp gan, menurut saya sih. Kl agan blm bs memberi istri hidup yg berkecukupan, lbh baik jgn menuntut dia in it. It bs bikin ilfil bgt lho. Istilahny ud bokek, banyak nuntut pula.

Kata2 "cuma hidupin anak org" it bikin sakit ati bgt. Istri it bakal igt seumur idup. Istilahny kl di sepak bola, agan ud dpt kartu kuning tuh. Be careful.

Dan soal dia jorok, cukup tegor sekali aj, gan. Kl agan negor dia berkali2, it jg bikin ilfil sih. Kl emg dasarny kebiasaany begitu ya susah kl dipaksa berubah. Sebaikny agan yg adaptasi dgn dia. Agan ikut bantu2 ud bagus, tp ga perlu sambil ngoceh2.

Saya komen 2 it aj ya, hal2 yg lain sepertiny mslh mertua dn menantu. Too complicated



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erwin102361 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
10-05-2022 14:45
Fakta lho anak perempuan yg lahir dari keluarga islam fanatik, joroknya luar biasa...
Pembalut bekas mens emang dibuang ngga ditempat.
Bahkan kl bocor di ranjang, sprei pun ngga diganti.
Kl yg laki2, biasa joroknya, kaga pernah ganti kolor. Ampe bau hangser pun kaga diganti...
Kl penganut sarung, sarungnya yg kaga diganti...

Kl ocd aih, kebetulan dia dokter.
Dan saat pandemi, dia garis terdepan yg ngeliat parahnya pandemi.
Bagi ane sih, wajar lah kl parno antiseptik.

Kl mertua situ, speechless.
Terima aja apa adanya bahwa keluarga besar mertuamu islam fanatik yg joroknya luar biasa dan otaknya pas2an...

Cuma ati2 aja kl udah ke paham teroris.
Kl mau, paling jangan ketemu lg kl ada pertemuan keluarga besar mertuamu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
corobikang dan 2 lainnya memberi reputasi
2 1
1
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
11-05-2022 09:37
Definisi di jerat materi. Padahal kalo dari pandangan orang awam kebanyakan, hidup keluarga ente sudah jadi idaman banyak orang. Real kebahagian emang kesederhanaan...
profile-picture
sacfron memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
11-05-2022 12:21
di sini anda paling rasional dari semua keluarga besarnya, berat sih idup anda, ga kebayang hidup di keluarga kadrun yg toxic, tau kan kadrun itu ga bisa dibilangin, makin dibilangin atau kita makin ngalah, mereka akan merasa di atas awan, padahal kita mengalah buat masa depan yang lebih cerah, makin hari mereka akan semakin toxic karena dari awal base mereka tak menerima orang laen selaen kelompok mereka even menantu sendiri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
komokgilla dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
11-05-2022 14:28
Ane bacanya ya kesel juga. Entah kalian ngobrol tapi sama2 ga nyambung atau gmn...kok kayanya ngedumel di belakang hasilnya.
Beli rumah tpi ga dihuni...dikontrakin jadinya?
Terus kok ambil rumah lagi...mau dihuni siapa? Drpd beli rumah mending ngontrak sambil cari solusi..agan cari kerjaan yg dekat, istri jg usahakan cari yg dekat. LDM itu ada enak dan ga enaknya....enaknya krn memang masih berasa single...ga repot ngurusin pasangan, ga ribet tiap harinya emoticon-Big Grin
Ini masalah kesatuan visi yg belum tercapai. Idealnya memang nikah ya hidup dng keluarga inti, ga jauh2an mulu. Ya semoga istri agan sadar klo dirinya audah punya keluarga inti....bukan bayi mami papinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
komokgilla dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
11-05-2022 16:47
Panjang amat bre. Gw ga baca semuanya, tapi gw harap lu sama bini bisa nemuin titik terangnya kek apa. Gw bersyukur, ternyata rumtang gw kagak ada apa-apanya dibanding masalah orang lain.
profile-picture
komokgilla memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
12-05-2022 13:52
semoga bisa kembali pulih.. Saling pengertian dan kepala dingin di akhir jaman ini. Kuatkan iman dan tetap optimis.

emoticon-Cendol Gan
profile-picture
komokgilla memberi reputasi
1 0
1
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
13-05-2022 10:30
mau pengen hidup terasa lebih ringan dan bahagia?!

kembali lagi kepada Tuhan.... yg agan alami ini disebut "ketidakberkahan"

Kalo agan Muslim... mulai perbaiki Shalat, baca alquran, perbanyak sedekah

Klise kedengarannya... yaaa terserah




emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
13-05-2022 12:40
panjang amat emoticon-DP:

Tapi ada hal yang membuat gue bingung
1. Biaya resepsi 300 juta tapi elu cuma kasih 120 juta berarti 180 juta yang nombokin mertua lu kan? gitu kok sewot
2. istri lu bisa menyicil mobil ama memberangkat keluarganya buat wisata ke turki berarti penghasilannya besar, kalo gitu mah bukan elu yang menghidupi istri lu tapi sebaliknya istri lu yang menafkahi elu
profile-picture
profile-picture
komokgilla dan madjoeki memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
14-05-2022 14:37
Wah pernikahannya masih bermasalah, malah nambah anak, hmmmm... Keputusan yang... Ah sudah lah...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
komokgilla dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
17-05-2022 07:21
Kenapa dah gw nyangkut disini..

Itulah pentingnya pilih pasangan yg punya sifat keibuan..
masa bodo dibilang org, mao cari istri atau pembantu..

krn kebiasaan dari hidup rapih teratur tenang tp fleksibel, itu wajib dipunya seorg calon ibu.
alhamdulillah dah, bini gw gak betah liat sesuatu yg berantakan, auto gerak dia rapih2 sendiri.

Tentang keluarga mertua, memang enaknya dari pengusaha atau pedagang yaa, krn mereka paham benar ttg naik turun nya pengahasilan bulanan, gw sendiri berkali2 di semangati sama mertua.. emoticon-Malu

saran.. yaa kalo dah gak cocok mending jangan di paksa terus kan gan..emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
komokgilla dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
17-05-2022 07:38
Jadi intinya itu agan mau hidup sesuai standar penghasilan agan kan? Cuma istri ngak bisa ngikutin kemauan agan...masalah ini akan lama gan sampai mertua agan dan istri jatuh miskin baru mereka bisa ngikutin maunya agan...begitu kira kira..cmiw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
komokgilla dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
17-05-2022 07:42
Berat banget bray kisah perjalanan rumah tangga ente yaa, pdhl penghasilan dan modal udah lumayan
Ane yg baru mau jalan ke pelaminan dengan gaji yg jauh di bawah umr jd terguncang...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
komokgilla dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
"Cuma Menghidupi Anak Orang", Sebuah Kisah Nyata Yang Sedang Berlangsung
17-05-2022 07:51
Padahal klo dr cerita, penghasilan ente dan istri bner2 gede yaaa... bnar kata org. Duit makin banyak keinginan makin banyak..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
komokgilla dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Halaman 1 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia