nqoyyimah428Avatar border
TS
nqoyyimah428
Kulamar Dia untukmu
Prolog

Kulamar Dia Untukmu




"Pinanglah dia, untukku!" 

Raihan akhirnya mengucapkan kalimat itu setelah selama tiga puluh menit ia dan Rahmi hanya saling diam dan duduk berdampingan di sofa yang terletak di kamar tidur itu.

Rahmi tak menyangka, bahwa ia sendirilah yang harus melamar putri ustad Alwi, seorang pemilik yayasan pendidikan terkemuka di kota itu.

Seketika jantung Rahmi terasa berhenti berdenyut. Darah seolah berhenti mengaliri setiap pembuluh darahnya. 
Hingga rasanya tidak ada suplai oksigen yang mengaliri otaknya. Rahmi tidak dapat berpikir hingga dadanya terasa sesak.
Tangannya terasa kaku dan dingin ketika bertautan.
Rahmi meremas jemarinya lebih erat, agar ia bisa mengandalikan gerakannya. Rahmi takut sekali menyerang pria itu, sebagai reaksi dari kekecewaan dan kemarahannya.

Lelaki yang menjadi suaminya ini sepertinya senang membuat luka di hatiku. Tidak terlihat memang, tapi sangat menyakitkan. 
Lelaki yang duduk tenang dengan wajah dingin itu sementara Rahmi mati-matian menahan luapan amarah untuknya.

"Lamarlah dia sendiri!" Balas Rahmi dengan suara bergetar, menahan geram dan marah.

"Kau yang akan menjadi kakak madunya, dia yang meminta syarat itu dariku."
Mas Raihan berkata dengan nada dingin.

"Dia tidak ingin orang menuduhnya jadi perusak." Raihan lagi mengemukan alasannya.

"Tapi aku istrimu, Mas!" seru Rahmi dengan suara bergetar. Sekuat tenaga ditahannya airmata yang sudah menggenang di pepupuk matanya.

Demi permintaan wanita, itu dia rela menyiksa istrinya seperti ini. Apakah hati laki-laki ini terbuat dari batu? Atau bahkan dia tidak punya hati?

Apa tidak ada rasa kasihan yang terselip di hati pria itu. Pria yang sudah 4 bulan ini menjadi suami sekaligus imamnya. Lelaki yang bersedia menjaganya sebagai amanah yang harus dijaga dan di bimbing.
Pernikahan bukan main-main. Meski Rahmi adalah makmum, dia harus menjaga perasaan dan harga diri Rahmi, istrinya. 
Tapi apakah dia sekarang sedang menunjukkan superioritasnya sebagai suami? Atau karena rasa tidak sukanya padaku hingga ia bisa tega ini padaku. 
Raihan memang tidak pernah menyukai, apalagi mencintai Rahmi sebagai istrinya. Ia tak pernah bicara manis, bahkan ia menunaikan hak Rahmi sebagai istri.
Tapi Rahmi tetap bersabar dan berharap, semoga suatu saat ia bisa menggenggam hatinya.

Rahmi dan Raihan memang menikah karena permintaan Ibu dari Raihan.
Pria itu terpaksa tunduk dengan permintaan ibunya yang sedang sakit, dan Rahmilah yang setiap hari merawat beliau setiap hari.

Rahmiya, santri yang mengabdi di keluarga ini karena ia adalah santri yatim piatu yang di asuh oleh Umik Salma, mertuanya.

Beliau yang memberinya makan, pendidikan bahkan pakaian yang dikenakannya.

Rahmi menjadi anak asuh yang sekaligus merawat Umik yang sudah sepuh. Itu wujud pengabdian Rahmi sebagai balas jasa, meski beliau tidak pernah menuntutnya 

"Kamu sudah dewasa, kalau kamu menikah dan dibawa pergi dari sini, siapa yang menjaga umi ini, Nak?"

Rahmi menunduk mendengar itu. Tiba-tiba hatinya berdebar, khawatir.

"Saya tetap disini, Umik, saya akan merawat Umik terus." Ucap Rahmi sambil mengusap minyak herbal itu ke kaki beliau. 

"Kalau begitu, menikahlah dengan Raihan. Dia akan menjagamu disini nanti kalau umik sudah meninggal."

Ucapan lembut itu justru seperti dentuman hebat di hatiku. Menikahi mas Raihan? Pria yang sering ia perhatikan tapi tak pernah sedikitpun mereka berbicara. Meski Rahmi sering bertemu muka dengan Raihan karena kesibukan mengurus umi yang sedang sakit. 

Lelaki yang sering menjadi bahan gunjingan santri putri karena ketampanan dan kecerdasannya. Mereka bilang ia pria yang kalem dan dingin. Rahmi juga mengakui sikap yang ia tunjukkan pada setiap orang itu.

Dan sekarang Rahmi justru melabelinya sebagai pria arogan yang dingin dan tidak punya hati. Karena sikap itu yang selalu ia tunjukkan padaku.

Tidak ada artinya pengabdian Rahmi pada keluarga ini. Pria itu tidak pernah melihatnya, kecuali ia hanya menganggap Rahmi sebagai pelayan ibunya.

Ia tidak pernah menganggap Rahmi sebagai istri. Mereka jarang bicara, tidur terpisah meski satu kamar. Mereka bukan seperti pasangan pengantin baru umumnya.


"Bagaimana kalau aku tidak setuju?" Rahmi bertanya pelan dengan menahan seluruh emosinya.

Aku ingin tahu apakah pria yang sudah berikrar menjadi suaminya itu akan mengabaikan keberatannya demi keinginannya untuk menikahi Nadia, wanita yang sudah lama dicintainya, tapi tidak pernah mendapat restu dari ibunya.

"Apa alasanmu tidak setuju aku menikah lagi?" Sentaknya marah
Rahmi sedikit menciut. Baru kali ini ada pria yang membentaknya.

"Saya juga ingin tahu alasan Mas menikah lagi?" Rahmi balik bertanya sambil menantang mata Raihan.

"Karena aku sudah lama mencintai Nadia, dan kau tahu bagaimana pernikahan kita terjadi."
Suara Mas Raihan terdengar menekan.

"Dan aku punya hak untuk itu." lanjut Raihan setengah bergumam.

"Apa Mas bisa adil?" 

Dia langsung terdiam, tertegun dengan pertanyaan Rahmi.
Tentu Raihan tidak bisa menjawab. Manusia memang akan condong  pada yang dicintai. Dan ia sudah mengatakan mencintai wanita itu. Lantas sebagai apa fungsi Rahmi nanti?
Rahmi juga manusia egois, yang tidak ingin terluka lebih dalam lagi. 

Raihan telah memiliki ratu yang bertahta di hatinya. Dan Rahmi bukan siapa-siapa. Ia hanya budak yang menunggu waktu untuk disingkirkan saja. 
Apa dia bisa memandang Rahmi sebagai istrinya nanti saat ada Nadia di samping Raihan nanti?

"Lantas apa yang kamu inginkan?" 

Ia bertanya lagi, apa ia akan peduli dengan keinginanku?

"Saya akan melamar wanita itu untukmu, setelah itu saya akan mundur." Suara Rahmi tercekat disitu. 

"Baiklah ...." Suara itu terdengar lirih.

"Beri aku waktu sebentar," Pinta Rahmi dengan nada setegar mungkin.

"Kenapa?"
Ia memalingkan wajah menatap istrinya. Begitu tidak sabarnya?Raihan memang sudah menunggu lama, sampai 40 hari ibunya berpulang, dia baru berani mengutarakan keinginannya untuk menikahi pujaan hatinya.

"Uruslah perceraian kita dulu, baru saya mau melamar wanita itu."

"Baiklah kalau itu keinginanmu."
Kemudian ia berdiri, beranjak meninggalkan kamar mereka.

Gampang sekali memutuskan ikatan suci ini. Apa yang bisa Rahmi pertahankan lagi? Sekuat apapun ia berusaha mempertahankannya akan sia-sia karena yang satu tidak ingin bertahan.

Rahmi merasakan pedihnya kenyataan bahwa ia bukan istri yang pantas dipertahankan oleh pria ini. Dunianya terasa sempit seketika.

Rahmi bangkit dari duduknya Waktunya mempersiapkan segalanya. 
Siapa yang sudah jahat kepada kita, tidak usah ditangisi. 
Tak usah mengasihi orang yang yang tak menyayangi kita.


     Rahmi kini duduk di kursi yang mewah yang ada di ruang tamu yang cukup luas itu.

Rahmi meremas jarinya yang dingin karena menahan gemuruh di dada. Meski sudah memantapkan hati selama beberapa minggu ini, ia ternyata masih belum bisa menguasai hatinya.

Nadia, wanita itu duduk dengan anggun di depannya. Gadis itu memakai dress yang begitu serasi dengan kulit putihnya. Wanita itu tiada cela. Setiap apa yang ada diwajahnya tampak seperti sempurna tertata. 
Pantas saja suaminya terpesona dengannya. 

Ia tersenyum kepada Rahmi, ramah.
Nadia mungkin melihat ketegangan di wajah Rahmi. Dan bahkan tercermin di tingkah laku Rahmi.

Ustad Alwi masuk, diikuti seorang wanita sepuh yang masih terlihat anggun dan cantik di usianya. Mereka duduk di sofa di samping putrinya itu. Pria tua itu sangat kalem dan berwibawa sekali.

Kegugupan Rahmi sirna ketika melihat senyum lembutnya itu. Rahmi ingat almarhum ayahnya, beliau memiliki senyum yang sama, meneduhkan.

"Apa benar tujuan Nak Rahmi kesini untuk meminang Nadia?" Beliau bertanya pelan. Suaranya terdengar begitu berwibawa.

"Iya, Ustad, saya melamar Mbak Nadia untuk suami saya."

"Kenapa kamu melamar putri kami untuk suamimu?" Ia ini bertanya begitu tenang.

"Karena suami saya mencintainya dan bukankah putri anda juga memiliki perasaan yang sama kepada suami saya."

Ucapan Rahmi seketika membuat wajah Nadia memerah, ia salah tingkah.

Ustad Alwi dan istrinya pun tampak saling pandang dengan wajah masam.

"Apa kau tahu, Nak, kau sedang melamar calon madumu, Nak?" 

Wanita sepuh itu bertanya, menegaskan tujuannya berada di rumah mewah ini.
Rahmi melihat mimik prihatin di wajah itu.

"Iya, saya tahu itu, Umi!" 

Mereka berpandangan. Tampak istri ustad Alwi menghela nafas beberapa kali.

"Apa suamimu yang menyuruhmu, Nak?" Wanita itu bertanya pelan.

Rahmi mengangguk.

"Apa kau siap di poligami?" Ia menyambung pertanyaannya.

"Itu yang mau saya tanyakan pada pada mbak Nadia, apakah dia mau dipoligami?"

Rahmi bertamya sambil menatap Nadia. Wanita itu balik menatapnya.

"Tidak! Saya tidak mau di poligami."
Jawabnya serius. 

"Berarti saya harus mundur." Jawab Rahmi yakin.
Lihat! Ia sudah menyiapkan hatinya sampai bisa setenang ini, itu membutuhkan waktu, tidak sehari dua hari untuk melatih mentalnya.

"Tidak, tidak ada yang perlu mundur Mbak." Nadia berkata tegas.
Gadis ini terlihat percaya diri sekali

"Mohon maaf, Mbak, saya sudah dalam pinangan orang lain."

Nadia berkata lembut sambil tersenyum.
Rahmi termangu menatap gadis itu.

"Lantas kenapa kamu meminta agar aku melamarmu sebagai madu?"
Aku mencecar gadis yang tampak terkejut itu.
Mata semua orang tertuju pada gadis yang tampak salah tingkah itu.

"Dulu, aku memang pernah mengatakannya." Nadia bercerita dengan nada pelan.
Wanita itu tampak menyesal.

"Tapi aku sadar dan tidak ingin merusak rumah tangga orang lain," lanjut Nadia sambil menatap Rahmi seolah gadis itu ingin meyakinkannya.

"Kami sudah lama tidak saling berkomunikasi dan aku memutuskan menerima pinangan orang lain,"
Imbuh Nadia sambil tersenyum kecil.

"Insyaallah kami akan segera menikah."

Rahmi terdiam sejurus. Apakah gadis ini berbohong, supaya bisa menolak lamarannya.

"Kami mengundang Mbak Rahmi dan Mas Raihan di acara pernikahan kami nanti." Gadis tinggi semampai itu berdiri, ia mengambil sesuatu dari meja kecil yang terletak dipojok ruangan itu.

Ia mendekat dan mengangsurkan kertas tebal itu kearah Rahmi.

'Undangan pernikahan.'

"Kalau begitu saya pamit, Ustad, akan saya sampaikan hal ini pada suami saya." Akhirnya Rahmi berpamitan dengan perasaan sedikit tenang.

Tentu undangan itu akan Rahmi sampaikan sebagai jawaban dari Nadia untuk pinangan mas Raihan untuknya.

"Minumlah dulu, Nak!"

Ustad Alwi berkata sambil tersenyum dan menatap dengan pandangan yang tak bisa dibacanya.
Rahmi mengangguk dan tersenyum, Lega sekali.
Rahmi berpamitan dan ingin segera pulang ke rumah.


     Rahmi berjalan memasuki teras rumah khas bangunan jawa itu. Tiba-tiba pintu jati berukir itu terbuka. Mas Raihan berdiri di antara pintu itu dengan wajah yang tampak penasaran. Ia antusias menyambutnya. Tentu karena ia ingin mendengar kabar dari Rahmi.

Rahmi memilih mengabaikannya dan terus menerobos masuk ke dalam rumah.

"Duduklah!" 

Rahmi menurut dan mengikutinya duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu itu.
Mata Rahmi menatap tajam melihat ada map mika yang tergeletak di meja.

Ia segera meraihnya begitu Rahmi melihat ada tulisan besar yang tercetak di kertas yang ada di dalam map bening itu 'akta cerai.'
Terasa ada yang meremas hatinya saat ini.

Cepat sekali surat itu jadi. Apa ia langsung mengurusnya begitu kami selesai bicara waktu itu.

"Apa kau sudah bertemu Nadia?" Mas Raihan bertanya pelan sambil duduk di hadapan Rahmi.
Rahmi menggenggam erat map itu.

"Ya, dia menitipkan ini untukmu."

Segera mengangsurkan undangan dari Nadia yang baru ia keluarkan dari dalam tas.
Mata Raihan membulat dan bibirnya terbuka. Ia benar-benar terkejut luar biasa rupanya. Bahkan sampai Rahmi pergi dari tempat itu, Raihan tidak menyadarinya.
Rahmi pergi jauh dimana ia akan dihargai di situ. Ia sudah mendapatkan kebebasannya, dan akan harus mempergunakannya dengan baik.


Bisa anda temui novelnya di Innovel

https://m.dreame.com/novel/L/1YnD8Ax...BclLHeg==.html


Atau klik di kbm App

https://kbm.id/book/detail/86ba64cc-...8-c3833bb39d91

Tersedia e booknya di google play.






 















0
936
0
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Buku
Buku
icon
7.7KThread4KAnggota
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.