- Beranda
- Stories from the Heart
Kau Pinang Aku dengan Bualanmu (Part I)
...
TS
oulaaa
Kau Pinang Aku dengan Bualanmu (Part I)
Belajar menulis sebuah fiksi yang mudah-mudahan bisa menjadi cerita yang menarik. Menunggu kritik dan saran guna mengasah kemampuan. Apabila ada kesamaan nama, cerita, tempat atau yang lainnya, mohon dimaafkan. Terima kasih.
PART I
PERKENALAN
Pantai itu akan menjadi saksi.
Meski jika bisa kuulangi lagi rentetan cerita lama yang menyakitkan, akan hadir begitu banyak cameo yang bisa dijadikan saksi meski tak satupun dari mereka aku kenal.
*************************************************************************************
"Gimana bisa begitu siy, Ta? Kok lo jadi gampang banget nyerah dan ngasih hati lo buat orang yang baru banget lo kenal?"
Aku hanya bisa menundukkan kepala dan mengaduk segelas mix yoghurt berriesdidepanku. Gelengan kepala kuberikan sebagai jawaban untuk pertanyaan Lisa, sahabatku. Ia baru saja menggelar sidang untukku, untuk kisah cinta terakhirku yang sesungguhnya telah lama usai dan tak perlu dibuka kembali lembaran ceritanya.
"Trus, lo baru cerita itu semua ke gue sekarang?" How come, Tita?"
Kudengar intonasi suaranya meninggi tertahan. Pertanyaan-pertanyaan Lisa tidak dapat aku jawab. Aku masih tertunduk diam.
"Lo harus jelasin ke gue. Gimana ceritanya sampe lo bisa jatuh cinta sama dia. Sama laki-laki yang...... ", Tita tidak melanjutkan kalimatnya.
Ini membuatku yang sejak tadi terdiam akhirnya mengangkat kepala dan menjawabnya singkat, "Karena itulah gue gak sanggup cerita ke elo, Sa."
"Sekarang sanggup? Kenapa? Kenapa baru sekarang? Karena gue paksa lo buat cerita?", Lisa terlihat sangat kesal.
"Kalo dari dulu lo cerita ke gue, at least gue akan melakukan sesuatu untuk mencegah semua itu, Ta. Gue gak akan biarin lo jatuh cinta ke dia. Gue yang akan bantu lo berfikir dengan logika dan bukan hati lo. Tapi seudah 4 tahun lo putus sama dia, baru lo cerita ke gue. Itu juga karena gue yang nanya duluan ke elo, Ta. Karena gue ketemu dan ngobrol bareng Shelma and the gank yang kebetulan lagi liburan di Semarang. Mereka bilang kalo lo keliatan beda beberapa tahun belakangan. Lo udah lama gak pernah keliatan muncul buat latihan nari di sanggar. Lo gak pernah lagi jalan-jalan ato sekedar nyari cemilan sore bareng mereka. Buat mereka hidup lo sekarang ini keliatannya cuma buat kerja."
"Mereka nanya kabar lo ke gue dan gue gak bisa jawab, Ta. Gue cuma bisa bilang kalo Tita baek-baek aja."
"Itu bikin gue sedih, Ta. Gue tau dari dulu kalo lo ada masalah gak pernah cerita, kalo gue gak nanya. Tapi gue pengen setelah gue pindah ke Semarang, lo tetep ceritain masalah lo apapun itu. Lo pernah janji kan?", suara Lisa mulai terdengar sendu.
Semakin merasa bersalah setelah mendengar kata-kata Lisa. Itu yang gue rasa.
"Gue minta maaf, Sa. Bukan niat gue mau nyembunyiin ini dari lo. Tapi karena memang gue saat itu gak bisa. Lo baru pindah ke Semarang. Beradaptasi dengan kota yang baru, teman-teman baru dan yang pasti kerjaan baru lo yang punya tanggungjawab lebih. Gue gak mau ngebebanin lo dengan masalah percintaan gue yang seharusnya bisa gue handle sendiri, Sa."
Kulihat Lisa masih terdiam dan kali ini ia mengaduk vanilla milkshake yang menjadi minumannya. Aku masih menunggu kelanjutan sidang dari sahabatku satu-satunya ini sampai akhirnya aku mendengar suara menyapa, "Marietta Maximilianaaa... apa kabar? Tita...kan? Apa kabar?"
Sontak Lisa mendongakkan kepala menuju arah asal suara itu. Aku yang sejak tadi menunggu pertanyaan-pertanyaan lanjutan Lisa atas "kasus cinta lama" akhirnya ikut mengarahkan pandangan pada titik yang sama dan menemukan seraut wajah yang sejak 23 tahun lalu tidak lagi hadir dalam kehidupanku. Aku terkejut. Sangat. Mungkin saat itu wajahku terlihat seperti seekor ikan koki yang tengah berada di daratan. Menganga lebar mengharapkan air segera masuk ke dalam insangnya.
"Marietta Maximiliana..., lama tidak jumpa.", suara dengan logat khas itu kembali menyapa telingaku. Panggilan yang sudah lama tidak aku dengar. Ya, hanya sosok ini saja yang selalu memanggil dengan nama lengkapku ketika ia dan emosinya bersuara. Ketika ia sedang merasa sangat senang, ketika ia marah atau kesal atau bahkan saat ia menumpahkan padaku kesedihan-kesedihan yang sedang dirasakannya. Bagaimana mungkin pria ini bisa hadir tiba-tiba? Aku bertanya tanpa henti dalam hati.
Kurasakan tatapan tajam Lisa mengarah padaku. Tatapan seribu pertanyaan yang menunggu jawaban. Kudengar sendiri suara helaan nafas beratku. Belum selesai satu kasus, aku merasa akan mendapatkan sidang kedua untuk sebuah cerita cinta lain yang sudah hampir merayakan pesta perak keusangannya.
"Ooo.., hai, apa kabar Fred? Iya, lama tidak jumpa ya.", kuputuskan menjawab dulu sapaan yang sejak beberapa menit lalu menunggu balasan. Aku yang masih belum mampu mencerna dengan baik situasi ini membalas sapaan itu dengan nada yang kaku, tidak berhasil menemukan sapaan tepat yang harus diberikan. Aku mengulurkan tangan. Berharap mendapatkan sambutan jabat tangan, ternyata sosok hitam manis yang berdiri di depanku ini mendadak memelukku erat. Kudengar ia berbisik, "Beta rindu ose, Marietta."
Aku melihat mata Lisa terbelalak dan hanya mampu memberikannya seutas senyum paksa yang seolah berkata : nanti..., nanti akan aku berikan jawabannya. Aku berdoa dalam hati dan berharap Lisa segera memahami.
Fred melepaskan pelukan. Ia menjabat tanganku dengan kedua tangannya dan berkata, "Akhirnya semesta mempertemukan kita kembali, Marietta."
Aku masih merasa canggung dengan situasi ini, dengan sikap spontan yang diberikan Fred padaku setelah begitu lama aku tidak mendengar kabar tentangnya.
"Hai, saya Lisa. Maria Monalisa Subagia. Saya sahabatnya Tita.", kulihat Tita menolongku, yang masih belum mampu mentralisir kebingungan ini, dengan menyapa dan memperkenalkan diri pada Fred.
"Oooh, haloo..., saya Fred. Mauritzio Fred Pattiapon. Saya......, mmm.., saya..., saya teman SMA Tita.", kudengar jeda yang cukup panjang. Tak kusangka Fred akan kesulitan menemukan kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan relasi yang kami miliki. Tapi bagiku yang sedang kebingungan, ini waktu singkat yang segera kugunakan untuk menghela dan menarik nafas panjang perlahan lalu membiarkan oksigen mengalir menyegarkan pikiran. Berharap aku mampu dengan tenang menghadapi kisah lama yang sesunggguhnya adalah suatu misteri bahkan untuk diriku sendiri. Sebuah kisah yang tidak pernah selesai sebagaimana drama atau film percintaan umumnya. Sebuah kisah tentang perasaan mendalam yang pertama kali menoreh hati.
*************************************************************************************
Kisahku sepertinya tidak lepas dari pantai. Sejak kecil... pasirnya, ombak, batu karang dan lambaian nyiur di bibir pantai selalu menemani. Ketika aku mulai jatuh cinta dengan kata pendakian, kutemukan rasa yang berbeda. Bagian alam dengan daratan berlika liku, naik dan turun, rata dan bergelombang, dan dengan begitu banyak warna lain didalamnya.
Keduanya adalah teman seperjalanan.
Part II - Nostalgia
Part III - Bualan... Pinangan...
Diubah oleh oulaaa 01-07-2022 22:48
jiyanq dan bukhorigan memberi reputasi
2
1K
8
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya