Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
16
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61a83570ea100463317be2c6/mertua-si-pahit-lidah-17
Mertua Si Pahit Lidah Part 17   Kudengar suara Kak Ruli yang heboh memancing reaksi semua tetangga Mamak. Dasarnya Kak Ruli ini mungkin memang gaptek atau apa lah. Dia sengaja menunjukkan foto-foto suamiku bersama si Ranti itu kepada semua tetangga Mamak. Bwahahahah, bagus! Aku tak perlu repot-repot lagi sekarang. Ada orang yang membongkar semuanya sampai sekampung bisa tahu rahasia suamiku. “Y
Lapor Hansip
02-12-2021 09:54

Mertua Si Pahit Lidah (17-19)

Mertua Si Pahit Lidah



Part 17

 

Kudengar suara Kak Ruli yang heboh memancing reaksi semua tetangga Mamak. Dasarnya Kak Ruli ini mungkin memang gaptek atau apa lah. Dia sengaja menunjukkan foto-foto suamiku bersama si Ranti itu kepada semua tetangga Mamak. Bwahahahah, bagus! Aku tak perlu repot-repot lagi sekarang. Ada orang yang membongkar semuanya sampai sekampung bisa tahu rahasia suamiku.

“Ya ampuun! Rupanya diam-diam si Bondan ada main sama si Ranti, ya?”

“Waduh! Sebenarnya aku pun udah curiga sama si Ranti ini.”

“Kasian lah si Nina ya, lakiknya rupanya selingkuh!”

“Wajar aja selingkuh, kan si Nina jahat sama mertuanya!”

“Tapi kok mau si Bondan ini sama Ranti? Orang si Ranti pun tukang selingkuh, nya?”

“Makanya cocok mereka sama-sama tukang selingkuh!”

Aku hanya tertawa saat mendengar dengung-dengun suara tetangga yang heboh. Sampai lewatlah si Pak Kades dengan sepeda motornya dan langsung diserbu oleh ibu-ibu rempong.

“Pak, Pak! Berenti dulu. Ini ada warga kita yang ketahuan selingkuh!” ujar salah satu Ibu-ibu rempong.

“Ah! Yang betol lah, Buk!”

“Betol, Pak! Adekku ini pasti udah di guna-guna sama si Ranti.” Kak Ruli yang tak kenal dengan Ranti pun ikut bicara.

“Man, mana?”

“ini, Pak!” Kak Ruli langsung menunjukkan foto-foto di akun facebook mereka.

Tiba-tiba Mamak langsung keluar dari rumah.

“Ada apa ini sibuk-sibuk?” tanyanya penuh rasa penasaran.

“Mak! Tengok ini, Mak. Bondan punya selingkuhan!” ujar Kak Ruli dengan polosnya.

“Mana mungkin! Jangan fitnah kau!” bentak Mamak tak terima.

“ini buktinya, Mak!” Kak Ruli meberikan ponselnya pada Mamak. Aku masih mengintip mereka dari celah pintu jendela kamar depan. Hihihi. Tak perlu susah-susah aku membongkar rahasia mereka.

Terlihat Mamak menyeret Kak Ruli untuk masuk ke dalam rumah. Sementara ibu-ibu penggunjing masih sibuk berkerumun.

“Kami gak mau dikampung kita ada pasangan selingkuh, Pak! Secepatnya harus diselesaikan!” ujar mereka serempak.

“Setujuuu …!” sahut yang lain.

“Tapi ini kasusnya delik aduan, Ibu-Ibu. Kalau istri sah nya yang mengadukan dan merasa tidak senang, baru bisa saya proses!”

“Oo, gak bisa gitu, Pak. Jelas ini sudah perbuatan yang menyalahi norma di kampung kita! Kalau kita tahu dan sudah ada bukti seperti ini, kita harus secepatnya bertindak. Ayok kita ke rumah Nina!” Tanpa dikomando mereka langsung menggeruduk rumahku. Aku sengaja meminta Riri untuk tetap diam di dalam kamar. Aku berikan semua mainannya agar dia tenang. Lalu aku berpura-pura menangis. Akting dimulai.

“Nina … Nina! Keluar dulu!” ujar pendemo secara bersamaan.

Aku berjalan gontai kelar rumah dengan sambil pura-pura menghapus air mataku. Pak Kades langsung di dorong masuk oleh ibu-ibu itu. Kedua mertuaku juga dipanggil. Berkumpullah kami semua di dalam rumahku.

“Sekarang Nina ceritakan, apakah benar suaminya itu terduga selingkuh?”

“Tadi kan aku bikinkan pesbuk untuk Kak Ruli. Pas udah jadi, muncul saran pertemanan, aku klik klik aja gak kutengok. Rupanya itu salah satunya pesbuk Bang Bondan sama selingkuhannya, si Ranti. Huhuhuuuu ….” Aku berkata sambil melirik pada Mamak. Dia juga terlihat gusar sekali.

“Mana Bondan?” tanya Bapak mertua dengan nada dan wajah yang kesal.

“Aku gak tau, dia pergi,” jawabku sambil pura-pura terisak.

“Cobak telepon dulu, dia! Suruh pulang! Biar selesai masalah kita ini!” Bapak semakin terlihat gusar. Aku yakin Mamak juga begitu, pasti juga takut rahasianya terbongkar.

Aku pun langsung menghubungi nomor ponsel Bang Bondan. Tak lama kemudian dia pun pulang.  Terlihat wajahnya sangat gelisah dengan keadaan rumah yang sangat ramai. Bukti dari jejak digital itu membuatnya tak bisa berkutik saat di sidang oleh beberapa aparat desa yang juga ikut hadir karena sengaja dipanggil.

“Bondan! Bikin malu keluarga saja kau!” bentak Bapak marah. Bang Bondan hanya bisa tertunduk pasrah. Apalagi saat aku memaksanya untuk mengakui hubungannya dengan si Ranti.

“Apa perlu si Ranti juga kita panggil?” tanya Pak Kades.

“Setujuuu … “ sahut semua tetangga dengan suara riuhnya. Aku yang paling teraniaya disini, hanya bisa pura-pura menangis.

Entah siapa yang menjemput Ranti, sampai akhirnya Ranti juga dihadirkan untuk disidang.

“Sekarang kita dudukkan dulu semua permasalahannya. Apa benar kalau Bondan dan Ranti punya hubungan?” ujar Pak Kades.

“Mamak itu nya yang maksa aku, Pak!” ujar Bang Bondan membuat pengakuan.

Serentak semua orang yang hadir langsung menyoraki Mamak.

“Apa nya kau ini, Dan? Kok Mamak yang kau tuduh?” ujar Mamak mengelak.

“Jadi Abang gak betulan sukak sama aku?” ujar Ranti tak kalah geram.

“Bingung aku, Pak. Setiap hari binik sama Mamakku tengkar teros! Jadi aku cari pelarian!”

“Bicara yang jelas kau Bondan! Tadi kau bilang dipaksa mamakmu, sekarang kau bilang karena cuma pelarian! Yang mana yang betol?” tanya Pak Kades dengan tegas.

“Iya, aku salah. Mamak setuju kalok aku main belakang sama Ranti karna dia kaya.” Bang Bondan melirik sedih ke arahku.

“Jahat kau ya, Bang? Jadi selama ini Abang cuma main-main aja samaku?” ujar Ranti setengah berteriak. Pastinya dia sangat marah karena tahu sudah dimanfaatkan.

“Sekarang Nina, cemana?” tanya Pak Kades.

“Nina mau pisah aja sama Bang Bondan, Pak. Nina gak sudi punya suami pelit tukang selingkuh.”

“Na! Jangan lah ngomong gitu! Abang gak mau kita pisah! Cemana nanti anak kita kalok gak ada Bapaknya?”

“Harusnya Abang mikir itu sejak dulu. Selama ini mana tanggung jawab Abang sebagai Ayahnya Riri?”

“Bang! Mana janjimu untuk nikahi aku?” ujar Ranti menyela.

“Udah, Bang! Nikah aja sama Ranti!” Aku berkata sambil pura-pura menangis.

“Na! Bapak gak mau kelen pisah!” Bapak mertua ikut menangis melihatku.

“Biarkan aja kenapa, Pak! Kan nanti kita dapat Ranti yang lebih kaya!” ujar Mamak. Tak pelak kata-katanya langsung disambut sorak-sorai penonton.

“Huuuuh! Dasar mertua matre!” ujar mereka serempak.

Kena sudah mereka bertiga. Masuk dalam satu perangkap. Biar sanksi dari masyarakat saja yang membalasnya.

“Nina! Jangan lah ambil keputusan tanpa pikir panjang!” Bang Bondan berlutut di hadapanku.

“Untuk apa lagi kita sama-sama, Bang? Terus Abang kira keputusan Abang selingkuh itu keputusan yang Abang pikirkan masak-masak?”

“Udah, Dan! Bagusan kau sama si Ranti aja!” Mamak mengompori Bang Bondan.

“Cemana nya Mamak ini? Kok malah dukung pelakor?” tanya Kak Ruli bingung.

“ini semua gara-gara kau Ruli! Ngapain kau sebar-sebarkan sama orang-orang foto si Bondan sama si Ranti?”

“Loh, mana tau aku, Mak! Ini kan namanya selingkuh!”

“Harusnya kau diam aja tadi!”

“Kok jadi aku yang salah!”

“Diam dulu kelen semua!” bentak Pak Kades. Membuat semua yang ada disini langsung terdiam.

“Biar si Nina ini ngomong dulu! Mamak si Bondan ini pun salah, tau anaknya selingkuh malah di dukung! Bikin malu kampung kita aja!”

“Na! Ampun lah Abang, Abang janji ngak lagi-lagi selingkuh.”

“Teros cemana sama si Ranti? Jangan-jangan udah hamil dia Abang buat?”

“Iya, aku memang hamil anak si Bondan!” jawab Ranti tiba-tiba. Membuat semua yang ada disana terkejut dan semakin geram.

“Ah! Jangan bohong kau!” bentak Bang Bondan tak terima.

“Terus maksudmu apa ngomong gitu?” tanya Ranti sinis.

“Bisa aja kau hamil sama orang lain!”

“Huuuh! Dasar Bondan laki-laki tak bertanggung jawab!” Lagi-lagi sorak-sorai penonton membuat suasana kembali riuh.

“Udah, gini aja! Sekarang Abang pilih aku apa si Ranti? Kalau Abang pilih dia, silahkan nikahi dia! Kalau pilih aku, Abang harus ikut aturanku.”

“Ya Abang pilih kau, lah!”

“Bang! Cemana dengan anak yang ada dalam perutku ini?” tanya Ranti merengek.

“Kita cek dulu, kau betul hamil apa nggak! Aku punya testpack!” ujarku kemudian. Seketika wajahnya terlihat tegang dan salah tingkah.

“Kalau kau terbukti hamil, aku serahkan suamiku sama kau. Tapi kalau nggak terbukti, tolong kau jauhi keluargaku!”

“Cemana dengan duit yang udah aku keluarkan selama ini? Untuk Bondan dan Mamaknya?”

“Ya itu urusan kalian! Selesaikanlah masing-masing!” ujarku lagi. Mamak menatap mataku dengan rasa penuh kebencian.

“Kita test sekarang?” tanyaku menantang.

“Udah, Na! Cepat suruh test dia sekarang! Biar aku yang jagakan dia di dalam kamar mandi!” Seorang Ibu tetanggaku berbadan besar langsung mengajak  Ranti untuk mengetes urinenya di kamar mandi. Aku mengambil testpack cadangan milikku di dalam kamar dan menyerahkan pada mereka.

“Kami tunggu hasilnya sekarang. Kalau kau hamil, ambillah suamiku!” ujarku santai.

Ranti dengan ragu-ragu terpaksa mengikuti kemauanku karena dia sudah terjebak kata-katanya sendiri. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya mereka berdua keluar dari kamar mandi. Si Ibu berbadan besar yang kutahu bernama Buk Kom itu langsung saja menunjukkan hasil test urine si Ranti.

“Hmm … Masih jodoh kau sama Nina, Dan! Negatip hasilnya!” ujar Buk Kom dan langsung disambut sorak sorai tetangga.

“Sekarang sudah jelas. Ranti kami minta untuk tidak lagi membuat masalah di kampung ini. Ini kedua kalinya kamu berbuat selingkuh dan diketahui warga!” Pak Kades menunjuk Ranti yang tertunduk malu.

“Oke. Aku gak akan ganggu Bang Bondan lagi asalkan dia kembalikan semua duit yang pernah aku kasi sama dia! Urusan kita belum selesai, Bang!” Ranti beranjak dan langsung berlari keluar dari rumahku disambut sorakan dari para tetangga.

"Dasar pelakoor …!”

Setelah semuanya kembali tenang, aku mulai membicarakan hal serius lainnya.

“Ada satu lagi. Nina mau Bang Bondan tanda tangan ini!” Aku memberikan sebuah surat perjanjian untuk tidak meminta harta gono-gini jika suatu saat Bang Bondan selingkuh lagi. Surat ini sudah aku persiapkan jauh-jauh hari.

“Apa ini, Na?” tanya Bang Bondan bingung.

“Nina udah lama tau kalau kalian selingkuh! Makanya Nina siapkan ini untuk jaga-jaga. Rumah ini akan jadi hak milik Nina sepenuhnya. Jika suatu saat Abang berbuat lagi, maka Abang gak punya hak serupiahpun atas harta yang kita punya!”

“Loh! Gak bisa gitu, Na! itu namanya kau memanfaatkan Bondan!” ujar Mamak menyela.

“Mamak diam! Ini urusan rumah tangga kami!” Mamak kembali mendapat sorakan dari para tetangga. Teman-temannya menggosip sekarang beralih membelaku.

“Abang setuju? Kalau tak setuju gak apa-apa jugak. Abang pergi lah sama perempuan itu! Tapi ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pengkhianatan. Atasan Abang akan tau semua ini.”

“Iya, iya! Abang setuju asal kau mau maafkan Abang.” Bang Bondan langsung menandatangani surat yang aku berikan. Surat bermaterai itu sudah sah ditandatangani. Aku akan menyimpannya baik-baik.

Setelah semua rembukan selesai, warga pun langsung bubar kecuali mertuaku dan Kak Ruli.

“Bodoh kali si Ruli.” Mamak kembali merepet.

“Kok bisa Kak Ruli jumpa pesbuk si Ranti?” Bang Bondan bertanya sambil meremas rambutnya sendiri.

“Mana Kakak tau! Nina itu yang buatkan pesbuknya.”

“Mamak pun ntah ngapa belikan hape untuk Kak Ruli. Kan ancor berantakan semua rencana kita!” Bang Bondan berkata kesal.

“Bondan! Kok kau masih belum tobat Bapak tengok?” Bapak mertua menghardik anaknya.

“Malu aku, Pak. Kalok Kak Ruli gak punya hape kan gak akan kebongkar semuanya!”

“Kau aja yang gak tau diri! Kurang apa si Nina sama kau, Dan? Mamak ini pun satu! Tau anaknya salah malah dibela! Bapak jauh lebih malu kelen buat! Gak ada mukak Bapak di depan orang-orang!” Baru kali ini aku melihat Bapak mertuaku marah besar.

“Rumah ini mau Nina jual, Pak! Udah ada kawan Nina yang mau beli. Nina mau kami pindah jauhan aja biar gak saling mengganggu,” ujarku menengahi.

“Bah! Gak bisa gitu, lah!” ujar Bang Bondan kaget.

“Kalau Abang gak mau pindah silahkan. Ikut sama Mamak!” jawabku santai.

“Kalok kelen pindah artinya Mamak gak dapat jatah bulanan lagi dari si Bondan! Itu kan tujuanmu, Na?”

“Tenang aja Mamak. Jatah Mamak tetap Nina kasi. Nina gak sejahat Mamak ingin menghancurkan rumah tangga anaknya demi harta!”

“Jangan kurang ajar mulutmu!” hardik Mamak tak terima.

“Udah terbukti, Mak. Jadi kalau memang Mamak mau Bang Bondan sama si Ranti, silahkan! Tapi Bang Bondan tak berhak atas harta Nina. Semua sudah ada dalam perjanjian yang ditandatangani Bang Bondan tadi. Dan satu lagi, Bang Bondan gak akan pernah lagi bisa jumpa sama anaknya!”

“Na! jangan gilak kau!” jawab Bang Bondan.

“Abang lebih gilak! Apa pernah Abang peduli sama kami? Kalau Riri sakit, apa pernah Abang antar kami ke dokter? Mana bukti perhatian Abang sama keluarga?”

“Iya! Abang memang salah! Tapi jangan kau mau pisahkan anak sama Bapaknya!”

“Bapaknya sudah memisahkan diri sejak lama, Bang! Abang lebih asyik dengan dunia Abang sendiri!”

“Abang suntuk, Na! Kalau di rumah yang Abang dengar cuma kau sama Mamak berantam terus!”

“Makanya kita pindah. Pertama, aku udah gak mau idupku diatur dan direpeti mertua! Kedua, biar Abang juga gak ada kesempatan lagi dekat-dekat sama si Ranti. Mau Abang kulaporkan sama Atasan Abang biar Abang dipecat? Aku punya bukti kuat!”

“Jangan! Oke, kita pindah!’

“Bondan!” bentak Mamak lagi.

“Maaf, Mak. Kali ini aku ikut Nina. Aku gak mau dipecat, Mak! Makan apa nanti Mamak kalok aku dipecat?”

“Lembek kau jadi laki-laki!” bentak Mamak lagi.

“Mamak cobak berenti ngomong!” Bentak Bapak.  Belum sempat melanjutkan ucapannya tiba-tiba Bapak mertuaku memegangi dada bagian kirinya dan jatuh terbaring di lantai.

“Ya Allah, Bapak ….”


Diubah oleh penacinta
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mayor.brock542 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Masuk untuk memberikan balasan
Mertua Si Pahit Lidah (17)
02-12-2021 09:55


Part  18


 


Bapak langsung kejang-kejang di lantai. Wajahnya pucat dan telapak kakinya dingin. Mamak dan Kak Ruli hanya bisa manangis histeris melihat Bapak seperti itu.


“Bang! Cepat mintak tolong Pak Yono pinjam mobilnya! Kita harus bawak Bapak ke rumah sakit!” Meski seperti orang bingung, Bang Bondan menurut juga pada kata-kataku. Aku, Mamak, dan Kak Ruli bersama-sama mengangkat tubuh Bapak dan membaringkannya di sofa. Saat mobil tetangga datang, orang laki-laki langsung membawa Bapak masuk ke dalam mobil.


Aku menyusul mereka dengan sepeda motor saja. Kulihat tetangga kembali heboh mengetahui Bapak pingsan. Kutitipkan Riri pada Mak Uwo. Lalu aku meluncur ke rumah sakit. Sampai di sana ternyata Bapak sedang berada di dalam UGD. Tubuhnya dipasangi berbagai macam alat yang aku tak tahu apa namanya. Terlihat mata Bapak terpejam. Mamak dan kedua anaknya duduk berdampingan di depan ruang UGD.


“Bang! Cemana? Apa kata dokter?”


“Katanya serangan jantung!” jawab Bang Bondan kasar.


“Ya Allah … “


“Kau lah penyebabnya, Nina! Gara-gara kau, heboh orang sekampung! Tengok! Sekarang Bapak sakit kayak gini puas ya kau?” Mamak malah merepet tak tentu arah.


“Dari dulu semua masalah memang aku penyebabnya, Mak! Aku aja teros yang Mamak salahkan! Cobak sesekali dipakek pikiran baik Mamak itu! Masa sulit kayak gini pun kok masih bisanya menghujat menantu!”


“Kau ya, kalok sampek Bapak kenapa-kenapa, gak akan Mamak maapkan, kau!”


“Udah, lah, Mak! Sekarang kita urus dulu Bapak! Gak usah lah berantam di sini! Pening kepalaku!" sergah Bang Bondan dengan nada kesal.


“Kalok udah kayak gini, kan Mamak jadinya yang susah.” Mamak beranjak dan berjalan entah kemana.


Aku menghempaskan diri dan duduk di samping Kak Ruli.


“Kok jadi kayak gini kejadiannya, Na?”  ujarnya lirih.


“Entah, lah, Kak. Kakak lihat aja sendiri macam mana aku. Kayak gitu, lah. Tiap hari jadi sasaran. Berdo’a aja lah kita semoga Bapak gak kenapa-kenapa.”


Bang Bondan masih mondar-mandir karena gelisah. Hari sudah malam, aku terpaksa pulang karena kasihan pada Riri. Keesokan paginya aku kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Bapak. Mereka bertiga masih bertahan di rumah sakit. Ternyata Bapak sudah dipindahkan ke ruangan perawatan.


“Cemana keadaan Bapak, Bang?” Aku bertanya pada Bang Bondan yang sedang duduk di luar ruangan rawat.


“Masih kayak gitu, lah. Belum sadar kali!” jawabnya pelan.


“Apa kata dokternya?”


“Serangan jantung. Tapi untung cepat dibawak ke rumah sakit jadi masih bisa diselamatkan.”


“Ya udah, kalok gitu ini sarapan untuk Mamak. Aku mau lanjut ke sekolah.”


“Hmm,” jawabnya singkat. Ia masih saja asyik dengan ponselnya. Kuintip ke dalam ruangan, Mamak dan Kak Ruli masih tertidur di bawah ranjang perawatan Bapak. Memang peraturannya hanya boleh maksimal dua orang yang menjaga pasien yang sedang sakit. Aku menatap sekilas ke arah Bapak. Terlihat napasnya tak teratur, namun matanya tetap terpejam. Kasihan sekali Bapak.


Bang Bondan pasti terpaksa libur karena Bapak sakit. Sementara aku harus tetap bekerja. Sepulang sekolah aku sempatkan untuk menjenguk Bapak dengan membawakan makanan dan pakaian ganti untuk Bapak, Mamak, dan Kak Ruli. Setelahnya aku pulang untuk mencucikan pakaian mereka dan memasak makanan untuk makan malam.


Sampai akhirnya Bapak diizinkan pulang setelah cukup lama dirawat di rumah sakit. Meskipun kondisinya sangat lemah, namun Bapak masih bisa berbicara. Untuk bergerak kemana-mana Bapak harus menggunakan kursi roda. Wajahnya selalu muram, menolak makan jika tidak aku yang menyuapinya. Pagi ini sebelum berangkat sekolah, aku sempatkan memasak bubur untuk Bapak. Aku sedikit kesiangan karena aku juga kelelahan. Sementara Kak Ruli sudah pulang sejak beberapa hari lalu. Praktis sekarang cuma Mamak dan Bapak saja yang ada di rumah.


“Na … Nina! Cepatlah sikit! Udah lapar itu Bapakmu!” Mamak berteriak di pintu belakang.


“Tunggu bentar, Mak! Masih panas buburnya. Sambil ganti dulu Nina biar gak telambat ke sekolahan.”


“Banyak kali alasanmu! Kalok mati nanti Bapakmu itu, kau itu yang salah!”


“Bagus-bagus lah Mamak ngomongnya!” Kupelototi saja Mamak sambil membawa mangkuk bubur keluar dan berjalan ke rumah Mamak. Aku suapi Bapak sampai semua bubur habis.


“Jangan kau tinggal mangkok kotornya itu! Gak sempat Mamak nyuci.”


“Iya!” jawabku singkat. Aku malas sekali berdebat pagi-pagi.


“Sekalian bawakkan baju kotor Mamak sama Bapak! Cucikan dulu dalam mesin cucimu!”


“Gak sempat, Mak! Aku mau langsung berangkat.”


“Kalok gitu, jangan dikunci rumahmu. Nanti kalok Bapakmu udah tidur, Mamak mau numpang nyuci.”


“Iya!” Kutinggalkan saja mereka berdua dan langsung berangkat ke sekolah setelah seperti biasa menitipkan Riri terlebih dahulu.


***


Sore harinya, aku pulang hampir maghrib karena ada dua jadwal les privat yang harus aku kejar. Sampai di rumah lagi-lagi aku dipaksa mengelus dada. Dapur berantakan, bahan makanan berserakan. Kulihat isi kulkas juga sudah ada yang hilang. Memang bulan ini gaji Bang Bondan sudah mulai diberikan padaku. Saat Mamak butuh apapun, silahkan ambil saja. Karena sebentar lagi aku pun akan segera pindah. Belum selesai aku membereskan bawang dan garam yang berhamburan, aku lagi-lagi dikejutkan dengan teriakan Mamak.


“Na! Masakkan makanan lagi untuk Bapak!”


“Iya!” jawabku datar.


“Kok asam mukakmu? Gak senang kau ngurus mertua?”


“Nggak! Ini kenapa beserak-serak gini, Mak?”


“Mamak tadi mau masak nyarii jahe di tempat bawangmu gak ada!”


“Ya memang gak ada! Kenapa nyariknya di tempat bawang? Jahe itu kutarok kulkas biar gak cepat kering.”


“Udah ketemu!”


“Lain kali kalok ambil apa-apa jangan diserak-serak lah, Mak!”


“Halah! Beserak sikit aja sibuk kau.”


“Bulan depan kami pindah! Rumah ini udah dipanjar!”


“Hah? Apa?”


“Iya! Kami mau pindah ke dekat tempatku ngajar. Riri udah mulai masuk play grup. Jadi cari rumah yang dekat sekolahannya Riri jugak.”


“Loh loh loh, kok enak-enak aja mau pindah? Jadi siapa nanti yang ngurus Bapak?”


“Ya Mamak, lah!”


“Kau ini, ya? Bikin orang tua setres aja, pun! Udah habis duit Mamak untuk bayar biaya rumah sakit Bapakmu! Jatah dari Bondan pun  udah gak kau kasih. Sekarang kau mau pindah? Memang mau bikin mati Mamak sama Bapak kau, ya?”


“Rumah ini udah terlanjur aku jual dari sebelum Bapak sakit. Jadi bukan salahku. Keadaannya memang gak pas. Tapi itu lah memang!”


“Sengaja kau ya? Biar Mamak susah ngurusi Bapakmu sendirian?”


“Nanti kami sering-sering datang. Lagian Bapak gak rewel, kok. Cuman makan tidur mandi.”


“Gak rewel katamu? Kau aja yang gak tau cemana Bapak kalok kau gak ada.”


“Namanya orang sakit, udah tua pulak. Ya kayak gitu, lah. Udah macam anak kecil. Sabar-sabar aja lah Mamak!”


“Enak aja kau ngomong! Pokoknya Mamak gak setuju kalok kelen pindah!”


“Gak setuju cemana? Rumah ini udah dipanjari kok!”


“Batalkan!”


“Gak bisa!”


“Kalok gitu biarkan si Bondan nikah lagi! Biar ada istrinya yang ngawani Mamak!”


“Bah! Kalok dia nikah lagi ya kami pisah! Gak ada hak nya sama harta yang ada.”


“Kok kau enak-enak aja bikin aturan?” Mamak menunjuk wajahku sambil berkacak pinggang.


“Laki-laki kalok udah selingkuh itu gak akan bisa dipegang omongannya, Mak! Aku cuman mau melindungi anakku dan juga hartaku! Jangan sampek dikuasai sama pelakor! Hujan panas aku kerja biar bisa punya, enak-enak aja kalok pelakor yang menikmati!”


“Nasibmu lah itu! Kau pun jadi binik gak becus!”


“Gak becus kata Mamak?”


“Memang iya!”


“Jadi masih mau Mamak ngawinkan Bang Bondan sama si Ranti itu?”


“Jelas, lah! Dia kaya! Kalok udah kimpoi mereka, gak akan Ranti nagih-nagih duet itu lagi sama Mamak.”


“Hahahah! Baru tau aku ada mertua yang nyuruh mantunya ngalah sama pelakor. Dia memang kaya, Mak! Tapi dia gak setara denganku!” Aku berlalu dari hadapan Mamak dan mengurung diri di dalam kamar.


“Nina! Cemana makan Bapakmu?”


“Bikin aja sendiri! Aku capek! Mau tidur!”


“Udah maghrib kau mau tidur? Betol-betol kau, biar kesambet setan kau sekalian!”


“Udah!” balasku dari dalam kamar. Tak lama kemudian terdengar suara sepeda motor Bang Bondan pulang.


“Dan! Tengok binikmu itu! Udah gak mau dia bikinkan makan untuk Bapak!”


“Aku capek lho, Mak! Mamak bikin sendiri kan bisa?” jawab Bang Bondan.


“Kan itu udah tugasnya! Dia yang masak dan ngasi makan Bapak!”


“Udahlah biarkan aja dia. Aku malas kali pulang-pulang dengar ribut-ribut gara-gara sepele.”


“Binikmu bilang rumah kelen ini udah ada yang kasih panjar, apa iya?”


“Iya kurasa. Aku gak ikut ngurus itu.”


“Jadi kalok kelan pindah siapa yang bantu Mamak?”


“Ya Mamak aja lah sendiri. Kan cuman berdua aja. Makan apa yang ada. Kalok ada duet tetap kami kasi nanti.”


“Gak bisa gitu, lah! Baru sebentar punya duet banyak! Sekarang udah habes lagi untuk berobat Bapakmu!”


“Jangan ngilang-ngilangi, Mak. Itu emas Mamak masih banyak, kok. Udahlah! Aku mau mandi. Kerjaan di kantor numpuk, sampek rumah diajak ribut teros!” Bang Bondan membanting sepatunya di dapur. Lalu ia mengambil handuk di dalam kamar dan keluar lagi menuju kamar mandi.


“Diatur lah binikmu itu!”


“Iya! Udah Mamak pulang aja sana! Nanti diantari nya itu lauk sama si Nina. Aku malas udah ribut-ribut!”


“Awas kalok gak diantari, ya!”


Mamak pun pulang ke rumahnya. Aku juga sebenarnya kasihan pada Bapak jika nanti aku pindah. Tapi ini adalah jalan terbaik. Meskipun aku belum sepenuhnya percaya pada Bang Bondan, tapi aku berusaha menata kembali rumah tangga kami2rd> yang pernah retak.


Malam sebelum jam delapan, aku membawakan sayur bening bayam ke rumah Mamak. Memang Bapak terlihat sudah lapar, Mamak hanya memasak untuk dirinya sendiri. Makanan  Bapak memang tidak lagi bisa sembarangan. Mamak yang tak telaten akhirnya membebankan tugas itu padaku. Kalau bukan karena Bapak yang baik padaku, aku sudah pindah sejak kemarin. Untung saja temanku mau menunda untuk menempati rumah kami selama satu bulan ini.


Aku sudah membeli sebuah rumah baru di kota. Ukurannya memang tergolong kecil jika dibandingkan dengan rumahku yang sekarang. Namun aku lebih mementingkan kenyamanan hidupku daripada harta. Harta bisa dicari, tapi ketenangan, kitalah yang menentukan. Untuk apa menahan diri dan hati untuk tetap bertahan di lingkungan yang sangat tidak sehat.


Esok paginya, aku mulai berkemas barang-barang yang akan aku bawa pindah. Aku memasukkan beberapa barang ke dalam kardus besar. Mamak datang mendorong Bapak dari pintu depan.


“Na! Jangan pigi, Na!” ujar Bapak berurai air mata.


“Gak apa-apa, Pak. Nanti Nina sering kemari jugak, kok!” ujarku sambil berlutut di depan kursi roda Bapak.


“Nanti siapa yang suapi Bapak makan? Kalok Mamakmu yang suapi, dia gak sabar! Disogok-sogokkannya sendok sampek Bapak tersedak!”


“Astaghfirullahal’adziim, jangan gitu lah, Mak!”


“Pulaknya makannya lambat kali! Kerjaan Mamak pun masih banyak bukan cuma mau ngurusi Bapak aja!”


“Kerjaan Mamakmu cuman markombur nya itu di warung depan!”


“Bapak ini, pun. Udah untung mau Mamak ngurusi. Sepala Bapak ikut Nina aja sana! Biar gak ada beban Mamak!” ujar Mamak sambil melengos dan melipat kedua tangan di dada.


“Kalok Nina gak kerja, bisa Nina ngurus Bapak. Tapi Nina kerja, Pak. Mamak pun sabar-sabar lah sikit sama Bapak!”


“Disabar-sabari pun Bapakmu sekarang pinter merepet kok!”


“Na! cepat mati nanti Bapak kalok kau gak ada.” Bapak masih berusaha merayu.


“Nggak,lah, Pak! Jangan ngomong gitu!”


“Betol, lah! Mamakmu gak ada sabarnya ngurus Bapak. Padahal nggaknya Bapak mau kayak gini. Siapa yang mau sakit cobak?”


“Kalok mau salahkan, salahkan si Nina ini, Pak. Gara-gara dia kan semua jadi terbongkar! Harusnya Mamak udah tenang karna tiap bulan dapat duet dari Bondan sama Ranti.”


“Duet dari Ranti itu uang haram!” geram Bapak.


“Bah! Haram cemana? Mana ada uang haram. Ngawur aja Bapak ini!”


“Mamak kok masih bahas si Ranti lagi? Mau kali Mamak dia jadi mantunya Mamak?” tanyaku geram.


“Kau itu lokek sama mertua, gak macam si Ranti, tau?”


“Mamak mu ini memang mulutnya parah, Na! Ampun-ampun Bapak nasehati, gak masuk itu dikupingnya! Mantul!”


“Kalau memang Mamak mau ganti menantu ya gak apa-apa. Mungkin Mamak pingin ngerasai cemana rasanya punya mantu orang kaya.”


“Jangan ngelulu Mamakmu itu, Na! Semakin dilulu semakin betingkah itu dia! Semakin gak sadar kalo udah tua.”


“Udahlah Bapak gak usah recok. Tadi katanya mau mintak jalan-jalan. Sampek sini Mamak pulak yang direpeti!”


“Nina jangan pindah, ya!” ulangnya sekali lagi.


“Gak bisa, Pak. Mintak pengertian Bapak la Nina, ya! Kalok masih bertahan kami di sini, Bapak tau lah sendiri. Ini demi kebaikan rumah tangga kami. Kalok Nina mikir pendek, udah gak mau lagi sebenarnya Nina pertahankan, Pak. Tapi Nina mikir ke Riri sama Bapak.” Bapak menunduk menahan air matanya.


“Iya lah, kalok memang itu yang paling baek menurutmu.” Akhirnya Bapak pasrah pada keputusanku.


“Sehat nya itu nanti Bapak. Biar bisa sekali-sekali Bapak main ke rumah baru kami.”


“iya. Do’akan lah ya!”


“Iya, Pak!” Kucium telapak tangan Bapak yang sudah keriput termakan usia.


“Hmm! Bakalan pening lagi Mamak. Arisan ntah cemana la ini nanti bayarnya.”


“Kami bayarkan. Kalok udah siap, Mamak gak usah lagi ikut-ikut arisan. Lebih baik nabung sendiri di rumah.”


“Mana mungkin bisa nabung sendiri. Makan cukup aja sukor!”


“Udah Mamak sama Bapak tenang aja! Nina cuma pindah badan aja! Biar tenang. Duit-duit itu jangan lah terlalu dipikirkan.”


“Mana ada orang idup gak butuh duit. Nasib kami lah, ditinggal sama anak-anaknya dimasa tua. Kecil dulu disayang-sayang, sekarang gak ada yang ngerti sama orang tua.”


“Makanya Mamak jangan jahat sama mantu! Sekarang tau kan rasanya ditinggal?”


Mamak hanya terdiam dan merengut dengan ucapan Bapak barusan.




profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mertua Si Pahit Lidah (17)
02-12-2021 09:55


Part 19

Sebuah mobil bak terbuka yang aku sewa untuk mengangkut semua barang-barangku akhirnya tiba. Aku mengurus semuanya sendirian. Bang Bondan entah pergi kemana. Padahal dia sudah janji akan membantu mengurus pindahan kami hari ini. Beruntung perabotan yang kami punya belum terlalu banyak, jadi semua bisa lebih cepat di angkut ke atas mobil dibantu oleh Bapak pemilik mobilnya.

“Mesin cuci itu tinggal aja, Na! Biar gampang Mamak kalok mau nyuci!” ujar Mamak.

“Hmm … Ya udah, kutinggal aja.”

“Kau kan bisa belik lagi.”

“Iya.”

“Itu isi kulkas semua keluarkan aja dulu biar gak berat ngangkatnya!”

“Iya, udah, Mak!”

“Dimana sayurannya? Mau kau bawak jugak? Tinggal aja udah!”

“Dijadikan satu dalam wadah. Udah naik ke atas mobil!”

“Halah, barang remeh kayak gitu pun gak mau ngasikan aja sama mertua.” Mamak bukannya membantu mengangkat barang, malah asyik memilih apa yang dia inginkan untuk diminta.

Dasar mood ku juga sedang malas meladeni, kubiarkan saja Mamak mengambil barang apa yang dia mau. Selagi tak terlalu penting aku biarkan saja. Bapak sudah diantar pulang sejak tadi, jadi Mamak bebas melakukan apa saja tanpa diketahui oleh Bapak.

Sebelum pergi, aku berpamitan pada semua tetangga, dan juga kepada Mak Uwo pengasuh Riri. Aku meinta maaf karena sudah tak lagi menggunakan jasanya untuk mengsuh anakku.

“Udah betol itu keputusanmu, Na! Kalok perempuan lain yang ngalami kejadian kayak kau, belom tentu tahan dia. Yakin banyak yang langsung mintak pisah sama suaminya. Belum lagi ujianmu dari mertua.”

“Uwo kok tau ujianku dari mertua?” tanyaku malu.

“Di kampung ini siapa yang tak tau mulut Mamak mertuamu itu? Udahlah sabar-sabar aja kau, ya! Kalau repot kali kau, bawak aja Riri kemari. Udah kayak cucuku sendiri si Riri ini, Na!”

“Iya, lah, Wo. Lagian gak pala jauh nya kami pindah. Setengah jam sampek. Makanya aku pun masih berat sebetulnya ninggalkan Bapak. Kasian, sakit masian dia.”

“Ya kalok ada waktu, di jenguk. Jangan putus silaturahmi, ya!”

“Iya, Wo. Makasih banyak ya udah lama Uwo bantu aku jagakan Riri. Udah pinter ngaji dia semenjak sama Uwo.”

“Iya. Anak pintar dia itu, cepat nangkap kalok diajari ngaji, padahal ya sambil main-main.”

“Makasih banyak lah ya, Wo! Pamit dulu kami!” Kucium tangan Uwo dan dia balas mencium pipi anakku. Rasa haru menyeruak saat meninggalkan orang baik di kampung ini.

Sebenarnya hatiku berat, namun harus tetap kuat demi masa depanku dan Riri. Pasal perselingkuhan suamiku, aku tak memberi tahu kedua orang tuaku. Pastinya mereka akan marah jika tahu. Aku tak mau tiba-tiba Bapakku sakit seperti Bapak mertuaku kemarin. Biarlah, aku akan bertahan. Bukan berarti aku masih sangat cinta, cinta itu sudah mulai pudar. Jika sekali lagi Bang Bondan melakukan kesalahan yang sama, aku pasti akan meminta pisah. Cerai!

***

Sampai malam hari, aku membereskan barang-barangku sendiri. Rasanya lega. Bisa terbebas dari rongrongan orang-orang yang tak menganggapku ada. Hanya diambil manfaatnya saja. Entah sudah jam berapa, Riri sudah tertidur karena mengantuk. Rumah ini memiliki dua kamar tidur. Sementara sebelum punya kasur, Riri tetap tidur dikamar kami. Biarlah, walaupun rumah baruku ini kecil, sempit, tapi hatiku senang.

Bang Bondan datang dengan wajah sumringah. Tentu saja sumringah, sebab rumah ini sudah aku bereskan. Dia hanya tau beres.

“Kok baru datang Abang?”

“Iya, tadi ada bisnis sama kawan. Abang diajak kerja sama jualan kereta (motor) bekas. Besok kalok jalan usaha itu, kan lumayan. Tadi aja udah laku dua. Ini Abang dapat komisi sejuta!” dia mengeluarkan uang dari saku celananya.

“Alhamdulillah.”

“Alhamdulillah kali. Ini untukmu separo!” dia menyerahkan uang itu padaku.

“Untuk apa?”

“Ya terserah untuk apa aja. Abang mau berubah, Na! Kau bantu lah Abang!”

“Aku cuma bisa bantu do’a, Bang! Selebihnya Abang harus minta ampun sama Allah!”

“Iya! Mau tobat Abang,” ujarnya pelan.

“Aku mau maafkan Abang karna aku peduli sama Bapak, cuman Bapak yang ngerti samaku.”

“Janji Abang! Gak akan ngulangi lagi!”

“Buktikan aja!”

***

Hari baruku telah dimulai. Mamak dan Bapakku sudah tahu kalau akhirnya aku pindah ke rumah baru. Mereka mendukung apa saja yang terbaik untuk keluarga kecilku. Sesekali aku mengunjungi Mertuaku di rumah mereka. Seperti biasa, Mamak selalu mengeluh tak punya ini dan itu.

“Kelen datang kok gak bawak apa-apa, sih? Kalok jenguk orang tua itu bawaklah makanan kek, apa, kek!”

“Ini kan bawak martabak, Mak!” jawab Bang Bondan.

“Gas Mamak abes! Beras udah mau abes! Semua abes! Duet pun abes!”

“Jatah Mamak seminggu lima ratus ribu lho, Mak! Kok gak bisa untuk belik gas aja?” tanyaku heran.

“Lima ratus aja pun kau sebut-sebut! Belom untuk arisan, yang nyumbang lagi!”

“Ya dicukupkan lah, Mak.”

“Semenjak kelen pindah, payah lah pokoknya Mamak.”

“Makanya, bagus-bagusin mantu! Sekarang baru Mamak tau rasa, kan?” ujar Bapak.

“Bukan masalah siapa yang jadi mantunya, masalahnya mantu ini lain sifatnya! Sukak bikin susah!”

“Udahlah, ayok kita pulang, Bang!” ujarku sambil bersiap untuk pergi.

“Nanti lah dulu, belum gem ini Abang mainnya!”

“Dari tadi orang ngomong apa manakan nyimak itu si Bondan! Hape aja yang ditengok!”

“Daripada main perempuan, bagusan aku main hape, Mak!”

“Nina! Kapan kau mau kasi kami cucu laki-laki?” Pertanyaan Mamak kali ini sungguh membuatku bingung.

“Belum mikir nambah anak, Mak. Riri masih kecil!”

“Kapan lagi? Mamak sama Bapak udah tua! Pingin nimang cucu penerus Marga!”

“Halah! Nggak usah kau dengarkan Mamakmu itu, Na!” ujar Bapak membelaku.

“Bapak ini masik aja teros bela mantunya yang satu ini!”

“Dia baek sama Bapak!”

‘Tapi sama Mamak, nggak!”

“Orang Mamak tukang merepet!”

“Udah berantamnya, Mak, Pak? Apa perlu ku kasi tongkat masing-masing biar baku hantam?” tanya Bang Bondan kesal.

“Udahlah, Bang! Pulang aja kita! Udah malam. Riri udah ngantuk! Riri salami dulu Opung! Pulang kita.” Riri dengan malas tetap beranjak menuruti perintahku untuk menyalami Kakek Neneknya. Kemudian kami pun pamit pulang.

“Hari sabtu kasi Mamak seratos! Mau nyumbang Mamak!” ujar Mamak mengingatkan sebelum kami pulang.

“Ada duit Abang sekarang?” tanyaku pada Bang Bondan.

“Ada!”

“Udah, kasi aja sekarang!” perintahku.

Bang Bondan langsung merogoh koceknya dan memberikan uang seratus ribu pada Mamak.

“Ini, Mak! Takutnya gak ada duit pulak kami sabtu besok!”

“Iya gitu! Dari tadi kan enak! Gak pala datang pun minggu depan gak apa-apa. Asalkan duetnya datang!”

“Pulang dulu kami, Mak! Assalamu’alaikum!” ujarku sebelum motor yang kami gunakan berlalu.

“Kum salam!” jawab Mamak kemudian ia menutup pintu.

Semenjak malam itu, aku sedikit malas menyambangi rumah mertuaku. Malam minggu aku gunakan untuk jalan-jalan keliling kota. Kadang sama Bang Bondan, kadang hanya kami berdua. Seringnya Bang Bondan memilih untuk tetap ke rumah mamak di akhir pekan. Aku tak masalah, karena setauku Mamak memang lebih senang jika uang yang datang daripada mantu dan cucunya.

***

Riri sudah mulai bersekolah. Aku terharu melihatnya memakai seragam di play grup tempatnya bermain dan belajar. Riri anak yang mandiri, tak cengeng dan juga mudah menangkap pelajarang. Jika teman sebayanya masih banyak yang ditunggui oleh orang tuanya di sekolah, berbeda dengan Riri. Dia mengerti jika orang tuanya harus bekerja.

Tak terasa sudah dua bulan kami pindah. Punya lingkungan baru yang lebih adem. Jarak rumah di kompleks ini lumayan rapat, namun suasananya lebih enak. Tak ada tetangga yang kepo atau rusuh dengan kehidupan tetangga lainnya. Jika selama ini kita mengira kalau hidup di kota itu keras, berbeda dengan di kampung yang yang erat rasa kebersamaannya, itu sudah tak berlaku sekarang. Justru di kampung malah hidup lebih keras. Punya diomongin, gak punya dikucilkan. Berbeda dengan kehidupan di kota, orang lebih fokus pada urusannya masing-masing, tak sempat lagi kalau harus ikut mengurusi urusan orang yang memang bukan urusannya.

Sampai suatu malam, Bang Bondan terlambat kembali dari rumah Mamak. Ia melihatku dengan sorot mata agak ketakutan saat aku membukakan pintu.

“Kok malam kali baru pulang?”

“Main catur sama Bapak.”

“Betol?”

“Iya! Kalok gak percaya tanyak lah Mamak!”

“Ya udah! Tapi kutengok mukak Abang agak lain. Kayak ada yang disembunyikan.”

“Bah! Perasaanmu aja nya itu!”

Aku curiga kalau bang Bondan ada apa-apa lagi dibelakangku. Aku mengecek WA kloningan, memang tak ada lagi pesan-pesan yang dikirim ke kontak si ulat bulu. Semoga saja memang Bang Bondan sudah benar-benar lepas dari jeratan si janda gatal itu. Kalau soal body dan paras, aku memang kalah jauh. Jika mengingat kesana, hatiku masih sakit. Ingin berdamai dengan diri sendiri, namun terasa sangat sulit.

Sampai keesokan paginya, tanpa sengaja aku menemukan noda lipstik wanita di kerah kemeja Bang Bondan yang dipakainya tadi malam. Langsung saja aku menghampirinya yang sedang asyik dengan game di ponsel dan rokoknya.

“Jawab aku, Bang! Lipstik siapa ini di kerah baju Abang?” bentakku dengan emosi tingkat tinggi.

“Lipstik apa, sih, Na?” Bang Bondan seketika menghentikan aktivitasnya saat tahu kalau aku sedang marah besar.

“Tengok ini!” ujarku sambil melemparkan kemeja miliknya.

“A a apa, sih?”

“Jawab!” bentakku lantang.

“I I iya, mana Abang tau! Paling lipstikmu, lah!” jawabnya tergagu.

“Jangan bohong! Belakangan Abang sering pulang telambat, Abang kemana?”

“Ke rumah Mamak! Betol!”

“Jangan bohong!” Bentakku sekali lagi.

“Kau kalok gak percaya tanyak aja sama Mamak!”

“Oke! Aku ke rumah Mamak sekarang!” Aku langsung mengambil kunci motor dan helm. Bang Bondan berusaha mencegahku.

“Ngapain kau kesana?”

“Mau tanyak sama Mamak, apa betol Abang kesana tadi malam!”

“Ngapain? Nanti kau direpeti lagi sama Mamak!”

“Gak masalah!”

Belum selesai aku bicara, terdengar dering telpon dari temanku.

“Tunggu Abang situ!” ancamku pada Bang Bondan.

“Halo, Assalamu’alaikum, Ta.” Rita adalah temanku yang membeli rumah kami dulu.

“Na! Maap ya sebelumnya, aku cuman mau ngasi tau. Rumahmu yang kubeli itu mau kujual lagi. Aku butuh duit, Na! Sebaiknya kujual sama orang apa samamu lagi, Na?” Rita bertanya dengan nada sedih.

“Kenapa rupaknya kok mau kau jual, Ta?”

“Sakit Mamakku, Na! Terpaksa kujual lah dulu yang ada. Udah ada yang minat orang kampung sini. Tapi aku tanyak kau lah dulu biar enak, siapa tau kau mau beli balek rumah ini. Kemaren kutanyak lakikmu, katanya belum ada duit.”

“Waduh! Aku ya memang gak punya duet lagi kalo sekarang, Ta! Siapa rupaknya yang mau beli rumah itu, Ta?”

“Orang kampung sini jugak, Na! namanya Ranti! Lakikmu kemaren itu yang bantu nawarkan sama orangnya.”

“Apa? Ranti?”

“Iya, Na!”

“Astaghfirullahal’adziim!” Seketika tubuhku lemas mendengar kata-kata Rita.

“Na! cemana, Na? Dia sanggup harga tinggi, Na! Aku butuh kali duitnya!”

“Ya udah, Ta. Cemana baiknya aja untukmu. Yang penting orang tuamu lekas dibawak berobat, ya!”

“Iya, Na! Makasih ya, Na!”

“Sama-sama, Ta. Maaf ya, Ta, aku gak bisa bantu.” Aku pun mengakhiri telepon dari Rita.

“Ini jawabannya, Bang?”

“E, Eh! Apa nya maksudmu?”

“Abang sengaja nawarkan rumah si Rita sama Ranti, iya, kan? Rupanya Abang masih punya hubungan sama dia. Jawab!”

“Ehm, anu, Na! Dengarkan Abang dulu. Abang kayak gitu biar dia berenti nagih duet ke Mamak. Abang Cuma pura-pura baek aja sama dia. Biar Mamak gak dimintak’I lagi.”

“Itu urusan Mamak kenapa dulu suka mintak duet sama Ranti!”

“Ya kan Abang jugak niatnya nolong si Rita.”

“Kalok aja Rita tau Ranti itu pernah jadi selingkuhanmu, mungkin dia gak akan mau jual rumahnya itu ke si Ranti! Tapi aku masih mikir kasian sama si Rita! Dia butuh untuk berobat orang tuanya. Sengaja Abang biar bisa dekatb lagi sama Ranti, kan?”

Aku teringat sesuatu. Aku mencari-cari kunci sepeda motor Bang Bondan. Kesana kemari namun tak juga aku temukan.

“Nyari apa kau, Na?”

“Mana kunci keretamu?”

“Untuk apa?”

“Bawak sini!” bentakku lagi.

“Gak tau dimana.”

“Jangan bohong!”

Aku mencari ke saku celananya. Dia mengelak dan berusaha menjauhkan tanganku yang hendak menjangkau  saku celananya bagian belakang.

“Kasikan apa aku rusak keretamu, Bang?”

“Gak ada apa-apa, Na!”

“Kalok memang gak ada apa-apa, lekas kasikan!”

“Udahlah, jangan! Abang gak ada apa-apa sama si Ranti itu!”

“Oke, bagus kubukak pakek parang aja jok keretamu itu, Bang!” Aku benar-benar emosi melihat tingkahnya pagi ini. Aku bersiap mencari parang di dapur untuk membuka paksa jok sepeda motor miliknya.

“Jangan!” cegahnya cepat.

“Makanya, bawak sini kuncinya!” Dengan terpaksa Bang Bondan memberikan kunci motornya padaku. Aku langsung menyambarnya dan menuju ke sepeda motornya yang masih terparkir di dalam rumah untuk aku periksa.

Langsung saja aku membuka jok motor dan mencari-cari apa saja yang bisa aku temukan. Di dalam lipatan jas hujan aku menemukan sebuah benda yang membuatku sangat murka! Mungkin dia mengira kalau hal ini sama sekali tak pernah terpikirkan olehku. Namun dia salah besar. Terbukti, Bang Bondan kembali berhubungan dengan si laknat Ranti! Aku mendapatkan buktinya!



profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mertua Si Pahit Lidah (17)
02-12-2021 09:56
0 0
0
Mertua Si Pahit Lidah (17)
02-12-2021 12:45
Gsssssssssss
0 0
0
Mertua Si Pahit Lidah (17)
03-12-2021 04:50
This was the most confusing shit I've read in a decade.
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Mertua Si Pahit Lidah (17)
11-12-2021 13:39
Mana nih lanjutannya, masuk ke link ga bisa dibuka. Payah !
0 0
0
Mertua Si Pahit Lidah (17)
21-12-2021 15:08
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
0 0
0
Mertua Si Pahit Lidah (17)
24-12-2021 23:38
Keburu lupa cerita nya
profile-picture
lengzhaiii memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Mertua Si Pahit Lidah (17)
26-12-2021 11:13
lanjut sini lah ceritanya.. ngapain pake link link emoticon-Marah
profile-picture
penacinta memberi reputasi
0 1
-1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sad-story-ombak-tak-bersuara
Stories from the Heart
sebelum-reda
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
shape-of-your-soul
B-Log Personal
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia