TS
wawanadalah21
Prokes Berbasis CSHE, Pengawal Balapan di Tengah Pandemi
Menggelar balapan motor kelas dunia di tengah pandemi Covid-19 yang masih belum beranjak benar, memang bukan hal yang bisa dianggap ringan. Butuh disiplin dan penerapan protokol kesehatan yang serius. Salah satunya dengan menerapkan protokol kesehatan berbasis CSHE, yaitu Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability.
Prokes berbasis CHSE ini sebenarnya bukanlah prokes yang baru dimunculkan karena adanya perlombaan balap motor World Superbike (WSBK). Prokes ini mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020, serta panduan yang telah ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) maupun WTTC (World Travel & Tourism Council) dalam rangka pencegahan dan penanganan COVID-19.
CHSE itu sendiri sebenarnya merupakan program Kemenparekraf yang berupa penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan).
Penerapan program ini dengan melakukan sertifikasi CHSE untuk para pelaku usaha di industri pariwisata dan ekonomi kreatif, termasuk di antaranya usaha pariwisata yang meliputi jasa transportasi wisata, hotel/homestay , rumah makan/restoran, hingga Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions (MICE).
Prokes CSHE juga berlaku pada setiap usaha atau fasilitas lain yang terkait dengan pusat informasi wisata, tempat penjualan oleh-oleh dan cinderamata hingga toilet umum yang berada di kawasan wisata.
Selain itu, Kemenparekraf juga menerapkan aturan prokes berbasis CSHE ini di lingkungan masyarakat dan wilayah yang menjadi bagian dari kawasan wisata atau berdekatan dengan lokasi wisata.
Melihat semua ketentuan Kemenparekraf tersebut, sudah pasti KEK Mandalika dimana Sirkuit Mandalika yang menjadi tempat perhelatan WSBK itu harus menerapkan Prokes berbasis CSHE ini.
Penanganan Kesehatan di Sirkuit Mandalika
Terkait dengan aturan penerapan CSHE ini, adalah Wahyu Amri, Koordinator Kesehatan WSBK 2021 yang bertanggungjawab terhadap persiapan yang dilakukan Sirkuit Mandalika dalam menyelenggarakan ajang balapan internasional tersebut.
Untuk penanganan kesehatan di area dan luar sirkuit, Wahyu telah membagi kawasan menjadi 3 ring dengan melibatkan tim kesehatan sebanyak 356 orang.
Ketiga ring tersebut adalah Medical Center (MC) yang berada di dalam sirkuit , 13 Ground Post, 8 ambulance advance, 2 unit helicopter untuk evakuasi medis dari MGPA dan Basarnas. Di ring 1 ini, Wahyu melibatkan 30 orang dokter spesialis, 17 orang dokter umum, 57 orang perawat dan tenaga penunjang lainnya.
Sedangkan untuk ring 2 berada di area penonton dengan berbagai fasilitas seperti tenda medis, minik klink , tenda isolasi, ambulance advance dan ambulance trasporter lengkap dengan tenaga kesehatannya.
Sementara ring 3 meliputi sekitar sirkuti Mandalika yang melibatkan beberapa stakeholder dan fasilitas kesehatan dengan tenaga medis yang siaga melayani.
Kalau melihat persiapan sebagaimana yang disampaikan Wahyu, tentu saja kita merasa optimis kalau Sirkuit Mandalika bisa menjadi pelopor Sport Tourism di Indonesia.
Hal ini juga diyakini oleh Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kementrian Komunikasi dan Informatika, Septriana Tangkari yang tetap semangat mendukung pelaksanaan event bergengsi ini.
Menurut dia , penerapan CHSE di WSBK sangat penting agar membuat wisatawan merasa aman dan nyaman.
Prokes berbasis CHSE ini sebenarnya bukanlah prokes yang baru dimunculkan karena adanya perlombaan balap motor World Superbike (WSBK). Prokes ini mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020, serta panduan yang telah ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) maupun WTTC (World Travel & Tourism Council) dalam rangka pencegahan dan penanganan COVID-19.
CHSE itu sendiri sebenarnya merupakan program Kemenparekraf yang berupa penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan).
Penerapan program ini dengan melakukan sertifikasi CHSE untuk para pelaku usaha di industri pariwisata dan ekonomi kreatif, termasuk di antaranya usaha pariwisata yang meliputi jasa transportasi wisata, hotel/homestay , rumah makan/restoran, hingga Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions (MICE).
Prokes CSHE juga berlaku pada setiap usaha atau fasilitas lain yang terkait dengan pusat informasi wisata, tempat penjualan oleh-oleh dan cinderamata hingga toilet umum yang berada di kawasan wisata.
Selain itu, Kemenparekraf juga menerapkan aturan prokes berbasis CSHE ini di lingkungan masyarakat dan wilayah yang menjadi bagian dari kawasan wisata atau berdekatan dengan lokasi wisata.
Melihat semua ketentuan Kemenparekraf tersebut, sudah pasti KEK Mandalika dimana Sirkuit Mandalika yang menjadi tempat perhelatan WSBK itu harus menerapkan Prokes berbasis CSHE ini.
Penanganan Kesehatan di Sirkuit Mandalika
Terkait dengan aturan penerapan CSHE ini, adalah Wahyu Amri, Koordinator Kesehatan WSBK 2021 yang bertanggungjawab terhadap persiapan yang dilakukan Sirkuit Mandalika dalam menyelenggarakan ajang balapan internasional tersebut.
Untuk penanganan kesehatan di area dan luar sirkuit, Wahyu telah membagi kawasan menjadi 3 ring dengan melibatkan tim kesehatan sebanyak 356 orang.
Ketiga ring tersebut adalah Medical Center (MC) yang berada di dalam sirkuit , 13 Ground Post, 8 ambulance advance, 2 unit helicopter untuk evakuasi medis dari MGPA dan Basarnas. Di ring 1 ini, Wahyu melibatkan 30 orang dokter spesialis, 17 orang dokter umum, 57 orang perawat dan tenaga penunjang lainnya.
Sedangkan untuk ring 2 berada di area penonton dengan berbagai fasilitas seperti tenda medis, minik klink , tenda isolasi, ambulance advance dan ambulance trasporter lengkap dengan tenaga kesehatannya.
Sementara ring 3 meliputi sekitar sirkuti Mandalika yang melibatkan beberapa stakeholder dan fasilitas kesehatan dengan tenaga medis yang siaga melayani.
Kalau melihat persiapan sebagaimana yang disampaikan Wahyu, tentu saja kita merasa optimis kalau Sirkuit Mandalika bisa menjadi pelopor Sport Tourism di Indonesia.
Hal ini juga diyakini oleh Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kementrian Komunikasi dan Informatika, Septriana Tangkari yang tetap semangat mendukung pelaksanaan event bergengsi ini.
Menurut dia , penerapan CHSE di WSBK sangat penting agar membuat wisatawan merasa aman dan nyaman.
0
359
0
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sports
24.4KThread•17.9KAnggota
Komentar yang asik ya