nqoyyimah428Avatar border
TS
nqoyyimah428
Cinta Yang Tak Berujung
Cinta Yang Tak Berujung
Oleh: Nurul Q


Menyusuri jalanan ini kembali. Desau anginnya menusuk hingga ke tulang.
Jalanan yang masih sama, berdebu dan dipenuhi taburan kelopak tabebuya yang berguguran di tanah.
Sesekali suara bising dari mesin kendaraan terdengar saat melintas, membuyarkan, kemudian melindas kelopak layu itu tanpa ampun.
Mereka tak hancur. Masih bersisa dalam serakan kecil.
Sama seperti patahan-patahan dalam hati yang berusaha kurangkum, dan menatanya kembali utuh seperti kepingan puzzle menjadi bentuk nyata namun meninggalkan bekas goresan dimana-mana.
Semakin nyata kepingannya, semakin banyak pula potongan kisah yang tersusun di dalamnya. Semakin terbentuk kepingan hatiku semakin nyata kembali sosok Arga di pelupuk mata.

Arga, one in a million.
Kenapa harus Arga yang muncul di antara kisah itu.
Sosok yang begitu angkuh dengan prinsipnya dan aku yang begitu teguh dengan keyakinanku.
Keyakinan konyol bahwa suatu saat hati Arga untukku.

Arga adalah siluet sempurna di rangkuman deskripsi tentang keindahan. Tak ada cacat cela. Too perfect.
Riap rambut kelamnya, netra gelapnya yang menatap dalam laksana akan menenggelamkan aku dalam samudera pesonanya. Too perfect.

Ketika aku terlalu menyelami Arga, aku disadarkan suara-suara yang mengajakku kembali, menarik kesadaranku, membetot seluruh perhatianku agar aku melepaskan Arga.
Arga yang telalu erat menyimpul hatiku dalam pesonanya.

"Menyerahlah!" Desis Arga dingin.
Suaranya menimbulkan patahan kecil di hatiku. Tak berdarah tapi membuatku tak berdaya.
Ia menahanku berdiri di jalanan ini dan mematahkan semua penantianku setelah sekian lama.
Ada yang merejam hatiku. Bukan orang jahat, dia hanya Arga, orang yang terlanjur mengikat hatiku dalam pesonanya. Dan bodohnya aku luruh seperti butiran gula larut dalam air minumanan Arga.

"Apa aku tidak punya kesempatan?" cicitku berkeras. Meski tak bisa meninggikan suara yang terasa tercekat dalam tenggorokan.
Arga menggeleng dengan angkuhnya.
Aga kenapa tak punya hati?
Aku hanya mencoba setia setelah merangkai janji suci meski itu tak ada artinya. Aku terikat pada kesetiaan dan prinsip tentang martabat seorang istri. Dan Arga yang terlalu berpegang pada janjinya pada sosok cintanya di masa lalu. Alasan yang terlalu egois yang dikemukan hanya untuk menjadi pembenaran bahwa sebenarnya hati Aga tak pernah untuk aku. Tak ada cinta untukku.

Aku tak bisa bicara lagi selain menikmati setiap luka di sela hembusan nafasku.
Pelan namun pasti menyisakan sesak di dada.
Lama aku berkubang dalam luka dan rindu sekaligus. Susah payah aku bertahan dan melangitkan doa dalam penantian mengharap kisah ini akan indah. Tak seperti guguran petal di bulan desember.

"Kau sendiri yang menyebabkan luka itu, bukan aku," kilahnya dingin.

"Aku tidak menciptakannya, Ga, mungkin Tuhan telah menggariskannya untukku. Bahkan kita sudah bersatu-"

"Jangan melibatkan Tuhan dalam setiap kesalahanmu."
Gumaman itu membuatku gusar. Aku menatapnya tajam, meski mata terasa panas karena menahan sesuatu yang lain di sana. Kenapa setiap ucapannya menyakiti, mengiris selapis demi selapis hatiku.

"Lantas semua ini apa? drama, lawakan atau sandiwara?"

"Pertanyaanmu seolah menyalahkan aku! Sepertinya aku yang berdosa di sini. Seolah aku adalah William Shakespeare yang tak menyatukan Romeo dan Juliet. Oh, sayangnya, kamu bukan Juliet."

Aku adalah Azza. Aku akan menjadi kutukan penyesalan di relung hatimu. Ketulusanku akan jadi setiap airmata sesal yang begitu mudah kau buat menetes dengan penolakanmu. Aku akan mengutukmu dengan rasa sakit luar biasa yang akan kau cecap setiap kau melihat sosok sepertiku.

Aku tak bisa bicara lagi selain menikmati setiap luka di sela hembusan nafasku.
Pelan namun pasti menyisakan sesak di dada.
Lama aku berkubang dalam luka dan rindu sekaligus. Susah payah aku bertahan dan melangitkan doa dalam penantian mengharap kisah ini akan indah. Tak seperti guguran petal di bulan desember.

"Kau sendiri yang menyebabkan luka itu, bukan aku." Kilahnya dingin.

"Aku tidak menciptakannya, Ga, mungkin Tuhan telah menggariskannya untukku.Bahkan kita sudah bersatu-"

"Jangan melibatkan Tuhan dalam setiap kesalahanmu."
Gumaman itu membuatku gusar. Aku menatapnya nanar, meski mata terasa panas karena menahan sesuatu yang lain di sana. Kenapa setiap ucapannya menyakiti, mengiris selapis demi selapis hatiku.

"Lantas semua ini apa? drama, lawakan atau sandiwara?"

"Pertanyaanmu seolah menyalahkan aku! Sepertinya aku yang berdosa di sini. Seolah aku adalah William Shakespeare yang tak menyatukan Romeo dan Juliet. Oh, sayangnya, kamu bukan Juliet."

Aku adalah Azza, perempuannyangbmengaharapkan sedikit cintanya. Karena simpati telah menawan dan menjeratnya dalam cinta yang tak terbalas.

Aku tak bisa bicara lagi selain menikmati setiap luka di sela hembusan nafasku.
Pelan namun pasti menyisakan sesak di dada.
Lama aku berkubang dalam luka dan rindu sekaligus. Susah payah aku bertahan dan melangitkan doa dalam penantian mengharap kisah ini akan indah. Tak seperti guguran petal di bulan desember.

"Pergilah, Ga. Aku tidak butuh kamu dalam hidupku."

Aku tersenyum sinis.
Nyatanya kau masih mematung menatapku. Kau memang munafik.
Ah, kau adalah jelmaan koin receh yang hanya berdenting saat jatuh. Setiap sisinya berbeda menunjukkan kekurangan dan kelebihanmu.
Kau hanya manusia, Arga.
Aku salah menduga. Pergilah! Aku sudah lelah berjuang.

Aku berlalu, dengan langkah berat seberat beban yang menggantung di hatiku. Aku terus melangkah melewati kelopak tabebuya yang berguguran di tanah kering itu. Kelopak yang berjatuhan karena angin mempermainkan mereka, menggerakkan daunnya dan menggugurkan kelopak yang tak lagi kuat melekat di rantingnya saat masa layunya tiba.

Keindahan itu berguguran seperti kasih sayang yang tak bertuan. Aga menolakku karena tak ada aku dalam relung hatinya. Dan ia lebih memilih melanjutkan kisah lamanya daripada merajut cinta baru yang telah tersimpul dalam ikatan yang suci.

"Berhentilah, menyerahlah. Cintailah hatimu, Sayang."
Bisikan sahabat yang mendorongku dalam dilema itu terngiang kembali.

"Move on, Za. Kita selalu ada untuk kamu." Dukungan mereka menguatkanku. Mendukungku saat kau berlalu untuk wanita masa lalumu.

Hancur jangan kau tanya. Aku bahkan tak berbekas seolah aku bukan butiran gula yang memberi rasa manis dalam pahit kopinya.
Aku hanya dicecap dan ditinggalkan seolah aku ampas kopi buka gula yang telah membuatnya menikmati secangkir cafein itu.

Aku bukan siapapun, hingga tak layak mendapat cinta dari Arga. Dia menyuruhku menyerah, kemudian pergi begitu saja tanpa menyisakan kenangan indah selain dari kekagumanku yang tertenun halus dalam setiap kenangan yang kupintal sendiri. Tanpa Arga seperti biasa.
Aku seperti seperti tukang tenun, memilih serat-serat itu, menata, kupintal setiap helai rasa sendiri hingga menjadi lembaran perasaan yang kuat dan halus dan menikmati sendiri.
Dan Arga tak peduli.

Aku menata hati dan menata hidup yang turut hancur bersama kepergian Arga. Aku hanya bisa meratap dalam sepi seraya mengais asa yang sebisa mungkin kuraih.



Kenapa setelah sekian tahun, sosok itu seolah kembali muncul. Pesonanya terlalu mengikat. Meski kuurai ribuan kali, nyerinya tetap terasa.

Aku tertawa hambar.
Aku pergi tapi hati seperti masih tertinggal di sini. Di jalanan yang dipenuhi kokohnya pohon yang berjajar ditepiannya. Begitu kokoh dan indah sekaligus misterius.
Seperti sosok Aga.

Setelah sekian tahun, aku ternyata masih saja melewati jalanan ini dengan sebongkah harapan. Arga akan berdiri di antara pepohonan sambil menatapku dingin seperti yang sudah-sudah.
Seolah Arga suatu saat akan muncul di sana mengulurkan tangan dan mengajak berjalan menyusuri jalanan yang tak berujung ini.

Ah, sepertinya milyaran nasehat temanmu tak ada yang masuk dalam pikiran atau hatimu, Za.

Aku merapatkan sweter tipisku. Rasanya tubuhku dingin dan makin membuat hatiku beku.
Aku termangu, seolah bayangan itu nyata setelah sekian tahun ia menghilang dan aku melewati hariku dengan sepi.
Menyesal sekali karena hayalanku tentang Arga malah tampak nyata. Arga masih seperti siluet yang berdiri kokoh dengan riap rambutnya yang masih sama.
Aku sepertinya mulai menjadi gila karena terlalu banyak berhalusinasi.
Aku membencimu, Aga. Membencimu!

"Azza!"
Argh, bahkan suaranya masih terdengar begitu nyata menyapa di telingaku.

"Za!" Bahkan seruan itu hampir saja mampu menyedot perhatianku.
Berjalanlah terus Azza, dia mungkin jelmaan jin yang muncul di senja kala.

Aku menahan langkah saat cengkraman tangan itu membuat lenganku terasa ngilu.
Aku menajamkan mata, memperbaiki kacamataku dan selanjutnya aku mematung tanpa bicara.

Kenapa setelah sekian tahun, sosok itu kembali muncul. Pesonanya terlalu kuat. Meski kuurai ribuan kali, nyatanya masih kuat mengikat dan nyerinya tetap terasa.

"Apa kabar, Za?"

Suaranya terdengar membius. Suara itu kenapa lembut terdengar menyusup di gendang telingaku. Sejak kapan suaranya menjadi lembut seperti itu.
Aku menatap tangannya yang memegang erat lenganku.
Tangan yang dulu begitu kasar menepis tanganku saat aku menggamit lengannya. Tangan itu juga yang selalu ia tarik cepat saat aku hendak menyentuh tangannya untuk kucium. Seolah tangannya terlalu suci untuk kusentuh.
Pelan pegangannya mengendur.

"Kabar baik, Arga."
Jawabanku membuatnya menatap takjub. Mungkin ia takjub karena tak menyangka aku akan bersikap biasa saja.
Aku bukan gengsi, tapi aku sungguh takut ditolak. Aku sungguh takut hatiku akan merasakan kambuhnya lara yang baru saja sembuh ini.
Siapa lagi yang menjaga hatiku?

Ia mematung, matanya beku menatap netraku yang juga menatapnya lekat.
Lama aku menunggu dan ia hanya bergeming.
Ia bahkan tetap termangu saat aku melangkah pergi.
Kami hanya kebetulan bertemu dan berpapasan di jalanan ini lagi.

Mampir ke KBM app ya, sudah part 24.

https://kbm.id/book/detail/ecfd47ff-...8-c3833bb39d91









sandrasetiawannAvatar border
sandrasetiawann memberi reputasi
1
755
0
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Buku
Buku
icon
7.7KThread4KAnggota
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.