- Beranda
- The Lounge
Perlukah Vaksin Generasi Baru untuk Hadapi Varian Baru Covid-19?
...
TS
harbisindo
Perlukah Vaksin Generasi Baru untuk Hadapi Varian Baru Covid-19?

Kemunculan varian baru virus Corona memancing pertanyaan penting soal perlu tidaknya vaksin baru. Hal itu mendesak karena varian baru virus Corona tersebut memiliki kemampuan penularan yang tidak kalah dengan varian Delta. Sejauh ini, sambil mewaspadai varian baru, para ilmuwan masih fokus pada varian Delta. Varian virus Corona yang lahir di India itu menyebabkan kekhawatiran lanjutan. Di banyak negara, Delta berhasil meningkatkan penularan, menyebabkan penyakit yang lebih parah dan mengurangi manfaat vaksin.
Shane Crotty, seorang ahli virologi di La Jolla Institute for Immunology di San Diego menyebutkan "kekuatan super" Delta adalah kemampuan menularnya. Sementara itu peneliti dari China menemukan bahwa orang yang terinfeksi Delta membawa virus 1.260 kali lebih banyak di hidung mereka dibandingkan dengan versi asli virus Corona. Beberapa penelitian di AS menunjukkan bahwa viral load pada individu yang divaksinasi lalu terinfeksi Delta setara dengan mereka yang tidak divaksinasi. Tetapi hal itu masih perlu penelitian lebih lanjut.
Virus Corona asli membutuhkan waktu hingga tujuh hari untuk menimbulkan gejala, Delta dapat menyebabkan gejala dua hingga tiga hari lebih cepat. Virus lain adalah Lambda yang diidentifikasi di Peru pada bulan Desember. Namun, varian Lambda sudah mulai surut secara global, selama empat minggu terakhir dibulan Juni menurut data GISAID, database yang melacak varian SARS-CoV-2. Varian paling baru adalah MU, yang sebelumnya dikenal sebagai B1621 dan pertama kali diidentifikasi di Kolombia pada Januari.
Pada 30 Agustus, WHO menetapkan varian MU sebagai varian bunga karena beberapa mutasinya, dan memberikannya nama dengan huruf Yunani. Mu membawa mutasi kunci, termasuk E484K, N501Y dan D614G, yang telah menyebabkan peningkatan penularan dan penurunan perlindungan kekebalan. Menurut Buletin WHO yang diterbitkan minggu lalu, varian Mu telah menyebabkan beberapa wabah yang lebih besar di Amerika Selatan dan Eropa.
WHO menyatakan terus memantau Mu untuk perubahan di Amerika Selatan, terutama di daerah tempat ia bersirkulasi bersama dengan varian Delta. Dalam jumpa pers pekan lalu, kepala penasihat medis Gedung Putih Dr Anthony Fauci mengatakan para pejabat AS mengawasinya, tetapi sejauh ini Mu tidak dianggap sebagai ancaman langsung.
Dengan ditemukannya beragam varian, sangat penting untuk lebih banyak orang yang divaksinasi. Kelompok besar orang yang tidak divaksinasi memberi virus lebih banyak kesempatan untuk menyebar dan bermutasi menjadi varian baru. Namun, saat ini vaksin hanya untuk mencegah penyakit dan kematian bukan untuk menghindari dari infeksi. Untuk mengalahkan SARS-CoV-2 kemungkinan akan dibutuhkan vaksin generasi baru yang juga memblokir penularan, menurut Dr Gregory Poland, pengembang vaksin di Mayo Clinic. Sampai saat itu, ujar Dr Gregory Poland dan para ahli lainnya, dunia tetap rentan terhadap munculnya varian virus Corona baru.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus berupaya mengantisipasi penyebaran virus Corona varian Mu dan beberapa varian lainnya yang berpotensi menyebar ke Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan untuk mencegah masuknya varian baru Covid-19 ialah melalui pengetatan kebijakan karantina dan testing bagi pelancong dari luar negeri.
"Pemerintah juga berupaya mencegah masuknya varian baru dari luar negeri melalui pengetatan kebijakan karantina internasional, entry dan exit testing serta persyaratan vaksinasi," kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi, dalam konferensi pers, Rabu (8/9/2021).
Nadia menyatakan pemerintah juga terus berkonsultasi dengan Badan Kesehatan Dunia, WHO guna memperbaharui informasi terkait varian MU atau B.1.621 sudah menyebar di 46 negara.
"Kami terus berkoordinasi di tiap pintu masuk negara untuk menyusun kebijakan mengantisipasi varian yang dikatakan memiliki kekebalan efek terhadap vaksinasi,” ujar Nadia.
Selain itu, lanjut Nadia, Kemenkes dan lembaga terkait selalu melakukan pemantauan dan sekuensi terhadap kasus yang masuk ke Indonesia. Sampai Agustus awal ada 5.835 hasil sekuensi yang telah diteliti dan dilaporkan. Dari total tersebut, 2.300 adalah varian Delta yang ditemukan di 33 provinsi di Indonesia.
“Kita juga melakukan pemantauan semua varian yang muncul baik itu varian of concern, yaitu Alfa, Beta, Gama dan Delta maupun varian of interest seperti Eta, Iota, Kappa, dan Lambda,” jelasnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengimbau jajarannya untuk mewaspadai penularan varian baru Covid-19 yaitu varian Mu yang disebut-sebut kebal terhadap vaksin Covid-19. Jokowi secara khusus meminta Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk lebih memperhatikan mobilitas masyarakat dan mewaspadai penularan varian baru Covid-19.
"Saya juga ingin perhatian kita semuanya yang berkaitan dengan perhubungan, mungkin Pak Menteri Perhubungan, yang berkaitan dengan varian baru, varian Mu. Ini betul-betul agar kita lebih waspada dan detail. Jangan sampai ini merusak capaian yang sudah kita lakukan," kata Jokowi saat memimpi rapat terbatas terkait evaluasi PPKM di Istana Merdeka, Senin (6/9/2021), seperti dikutip dari Youtube Setpres.
Selain itu, Jokowi mengimbau seluruh elemen masyarakat agar tetap waspada terhadap penularan virus Corona, khususnya varian Delta. Menurutnya, Covid-19 tidak mungkin hilang secara total, yang bisa dilakukan adalah mengendalikannya.
Sumber : Bisnisindonesia.id
Diubah oleh harbisindo 09-09-2021 15:49
0
752
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya